NUM 10

1302 Kata
"Iya, besok Bunda kabari. Rasanya tidak sabar lagi lihat besok," ucap Bunda dengan tersenyum. "Kok ada ya Bund, perempuan seperti itu. Kayak nggak ada laki-laki lain saja yang masih lajang," ucapku merasa sangat kesal. "Yah, godaan buat yang punya wajah tampan seperti Aris. Tapi, tidak sedikit kok pria tampan yang setia pada pasangannya, saking aja Aris juga gatel, minta di sunat lagi kayaknya," ucap Bunda geram. "Tangan tak akan bisa bertepuk tanpa di sambut satu tangan lainnya, kaya orang selingkuh, kalau Aris tak menyambut, tak mungkin terjadi juga perselingkuhan. Tak melulu salah dari pihak penggoda, yang tergoda juga bersalah. Istri juga harus introspeksi kenapa suami bisa sampai tergoda, kalau dirasa tidak ada yang kurang, dalam pelayanan dan lainnya, berarti emang lakinya yang kurang ajar, dan perlu di kasih pelajaran," ucap Bunda panjang lebar. Bunda benar, kalau saja mas Aris tidak terlalu berambisi dia tak akan sebutan ini. Andai saja, mas Aris kuat iman, dan tahan godaan aku pasti akan menjadi wanita paling beruntung, memiliki suami seperti itu. Tapi, kenyataannya aku hanya bisa berandai-andai. "Sudah tidur, biar esok datang lebih cepat," ucap Bunda lagi. Aku mengangguk setuju, kemudian bangun dari pangkuannya Bunda naik ke ranjang, menarik selimut dan dengan cepat dia terlelap. Aku masih saja sulit untuk tidur, mata ini enggan untuk dipejamkan, hanya menatap langit-langit kamar. Menyadari semua ini adalah kenyataan, bukan sebuah mimpi buruk yang ketika bangun hanya rasa kesal sesaat, kemudian semua kembali normal. Dadaku terasa sesak seketika, antara cinta, kesal, sakit, benci dan berbagai perasaan lainnya, berjejalan di dadaku. Aku bangun kemudian menurunkan kakiku dari ranjang, melangkah pelan keluar. Tak kulihat mas Aris di ruang tengah, sepertinya masih di kamar depan. Aku berjalan sangat pelan, mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Mas Aris masih nampak di depan laptopnya, dengan kedua tangan memegang kepala. Sesekali terlihat mengacak rambutnya. Biasanya aku suka menemaninya lembur, membuatkan kopi, dan memijat punggungnya. Rasanya hidup kami begitu sempurna. Ucapan cinta sebelum tidur dan juga dekapan hangat. Aku merindukannya, sangat. Diri ini tak yakin, apakah rasa cinta ini akan sesempurna seperti dulu, bila kami kembali bersama, hanya berdua, suatu saat nanti. Aku kembali ke kamar, merebahkan badanku, berharap lelap segera datang menjemputku. • • • "Lagi buat apa Bund?" tanyaku ke Bunda pagi itu, semua sudah terlihat di dapur. Ibu nampak berdiri di samping Indah, yang sibuk di depan kompor. "Oh, ini jamu spesial buat kamu, biar si Aris makin klepek-klepek," jawab Bunda, sambil mengerlingkan mata. "Bikin rapet, singset, maknyus pokoknya," tambah Bunda lagi. "Pait pasti ya?" "Dikit, buruan minum!" "Rena mandi dulu aja, Bun." "Ya, udah. Bunda taruh sini ya, Bunda mau ke warung, ada yang mau di beli." "Iya, Bund," jawabku. Aku dan Bunda bersamaan beranjak dari dapur, aku ke kamar mandi Bunda pergi kedepan. Sekarang giliran Ibu, menjalankan bagiannya. Sesuai rencana, Bunda akan pura-pura bingung mencari, minuman yang dia buat kan untukku. Yang sudah Ibu berikan pada Indah sewaktu aku mandi. "Sudah diminum?" tanya Bunda, selepas aku mandi. "Belum, ini baru Rena mau minum," jawabku. Ibu dan Indah terlihat bisik-bisik, pura-pura tak mendengar aku dan Bunda. "Loh, tadi Bunda kasih sini loh," ucap Bunda sambil pura-pura mencari. "Yah … terus gimana?" "Bunda ada simpan di kulkas kayaknya," ucap Bunda kemudian. Dikeluarkannya sebuah botol berisi cairan berwarna hijau. Kemudian memberikannya padaku. "Habisin!" "Pait, Bund," "Udah, habisin." Aku meneguk pelan, botol yang sebenarnya berisi jus alpukat itu. Kemudian pura-pura mual karena pait. "Nggak enak," ucapku kemudian. "Demi menyenangkan suami, biar nggak kalah sama bocah gatel, nggak tau diri," ucap Bunda menahan geram. Pagi itu,Indah tengah sibuk membuat sarapan dengan diawasi Ibu yang main tunjuk ini dan Itu. Setelah itu, Ibu sudah mempersiapkan banyak pekerjaan rumah, termasuk membersihkan kamar yang akan berganti dengan barang-barang baru. Mas Aris sudah mandi dan tengah bersiap di kamar, Bunda memilih pergi ke ruang tengah dan menyalakan tv. Mas Aris masih berdiri di depan lemari hanya mengenakan celana pendek saja. "Sayang, kemejaku yang berwarna biru muda mana ya?" tanyanya, sambil menyibak baju di gantungan. Aku beranjak mendekat tanpa berkata apapun, menyibak satu demi satu pakaian yang tergantung di dalam lemari. Kemejanya terselip di antara baju lainnya, aku menarik pelan dengan mengangkat tanganku. Mas Aris memelukku dari belakang, seperti yang biasa dia lakukan. Tapi, rasanya berbeda biasanya aku akan bersuara manja. Saat ini aku hanya terdiam. "Mas, rindu," ucapnya berbisik pelan di telingaku. Aku menanggapinya dingin, tak menolak ataupun meresponnya. "Bawahannya mau yang mana?" tanyaku kemudian. Tak ada jawaban, dadaku berdesir, sedikit meremang saat sebuah ciuman menyasar tengkukku. "Sayang, mas berapa lama lagi puasa? Sampai kapan Ibu dan Bunda di sini?" "Rena nggak tau," jawabku, aku menggigit bibirku menahan gejolak hasrat yang terpetik menggoda. "Bawahannya yang mana?" ulangku lagi. Mas Aris, masih tak menjawabku. Dia membalikkan tubuhku, hingga kami berhadapan. Dengan cepat bibir itu menyasar bagian yang sama, aku membalasnya. Sengaja mengangkatnya tinggi, baru kuhempaskan kemudian. Pasti kepalanya akan pusing sekali, ketika sedang di puncak syahwatnya, tapi, tak terlampiaskan. Benar saja aku bisa merasakan perubahan itu. Setelah merasa cukup aku melepaskan ciumannya, kemudian mendorong tubuh itu pelan melepaskan diriku dari pelukannya. "Sayang," ucapnya dengan nafas berat. Aku membalikkan badan dan menarik celana panjang dari lipatan. "Sudah siang," ucapku kemudian. Aku tak bisa menggambarkan kondisinya sekarang, yang pasti dia tersiksa sekali. "Kasihanilah suamimu ini," ucapnya, tangannya menarikku kembali dalam dekapannya. "Rena … Ren." Suara panggilan Bunda, terdengar bersamaan dengan ketukan di pintu. Nampak sekali kesal di wajah Mas Aris. Mas Aris melepas pelukannya, aku beranjak berjalan ke pintu, membukanya sedikit kemudian. "Ada apa Bund?" "Ambilkan Hp Bunda di atas meja rias," ucap Bunda kemudian. "Jangan lama-lama dikamar, bilang nggak mau, disosor Aris nggak bisa nolak juga," bisik bunda. "Bunda," seruku tertahan, Bunda mencibirku. Aku hanya memanyunkan bibir, berbalik mengambil ponsel Bunda dari atas meja rias. "Yang kuat," bisik Bunda lagi, sebelum beranjak dari depan pintu kamar. Aku kembali menutup pintu, mas Aris sudah mengenakan baju kerjanya. Terlihat tampan seperti biasa. Hanya sekarang tak membuatku klepek-klepek seperti dulu. Rasa sakit dan sebel yang kuat terasa. Aku membantunya merapikan pakaian yang dia kenakan. "Dah sana, Rena mau ganti baju," ucapku kemudian. "Mas, bantu." "Nggak," jawabku kemudian mendorong Pria bertubuh tinggi itu keluar kamar. Sebuah kemeja bergaris berwarna pink lembut, aku padukan dengan bawahan rok span di bawah lutut. Membiarkan rambut sebahu yang kumiliki terurai, memoleskan tipis sedikit make up di wajahku. "Aris sarapan!" panggil Ibu, aku yang baru keluar kamar pun langsung menuju ke ruang makan. "Bunda sarapan!" Panggilku ke Bunda. Ada nasi goreng, telur dadar dan capcay di meja. Indah masih nampak sibuk, sepertinya sedang mengolah bihun, makanan kesukaan Bunda. Peluh nampak di wajahnya. "Mas, mau makan apa?" tanyaku kemudian. "Hai, aku yang masak semua, biar aku yang melayani mas Aris." Indah mendekat dengan celana pendek selutut dan kaos yang nampak bercak keringat di beberapa bagian. "Biar Rena aja," jawab mas Aris, sekilas memindai istri mudanya itu "Awas, masakannya gosong," teriak Ibu, yang baru keluar dari kamar mandi. Dengan bersungut Indah kembali ke depan wajan di atas kompor, sengaja mengaduknya dengan membenturkan spatula ke wajan hingga terdengar jelas dentingnya. "Dah, matikan sayang! Pindah ke wadah yang warna hijau ya," ucap Ibu sambil menunjuk sebuah wadah di dekat Indah. Sesaat kemudian Indah membawa bihun yang masih panas itu ke meja makan. "Bau asem," celetuk Bunda, saat Indah menarik kursi dan ingin duduk. Ibu juga sengaja menutup hidungnya, padahal sebenarnya tidak terlalu bau juga. "Kamu kenapa?" tanya Ibu, saat melihat Indah meliuk-liukkan tubuhnya. 'Bruuut' Semua langsung fokus melihat kearah Indah, yang wajahnya terlihat langsung memerah. "Ya ampun, ini anak jorok banget, dah bau asem, nggak ada sopan santun lagi," ucap Bunda, menarik kursi dan berdiri. 'Bruutt ...bruutt ….' Indah langsung berlari ke kamar mandi. "Aris, buka matamu, gadis seperti itu yang kamu bandingkan dengan Rena anakku," cibir Bunda. Mas Aris mendorong kursi ke belakang, kemudian berdiri, mengurungkan niatnya untuk sarapan. Begitu juga denganku, aku mengikuti langkah mas Aris yang wajahnya semakin nampak kesal. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN