"Kita menata kembali kehidupan rumah tangga kita, memulai dari awal lagi, mas mau?"
Mas Aris terdiam.
"Itu, mau ditaruh dimana barang sebanyak itu," ucap Ibu yang tiba-tiba muncul di pintu.
"Barang apa lagi, Bu?" tanya Mas Aris.
"Mesin cuci, karpet tebal, sama meja makan. Yang tempat tidur, meja makan, meja rias, sama lemari aja nggak tau mau ditaruh mana," ucap Ibu kemudian
Mas Aris, mengacak rambutnya kemudian keluar, aku masih bergeming. Ibu mendekat, menaikkan dagunya.
"Rena lelah, Bu," ucapku. Ibu mengusap lenganku.
"Sabar ya, kita beri pelajaran bocah tak tau diri itu. Ibu minta maaf atas kelakuan anak Ibu," ucap Ibu pelan, masih mengusap lenganku.
Ibu beranjak setelah menepuk bahuku dua kali untuk menguatkan. Aku masih berdiam, kepalaku sakit. Melipat tangan di d**a, berjalan mondar mandir. Sekalipun Mas Aris mau meninggalkan Indah, apa Indah akan diam saja. Sepertinya tidak mungkin, dia pasti akan tetap mengejar mas Aris, bisa jadi tambah penasaran.
Aku mengacak rambutku sendiri, pikiranku kacau.Tak berapa lama, mas Aris masuk kembali. Baru akan beranjak mas Aris memegang pergelangan tanganku.
"Kamu nggak akan ninggalin aku kan?" tanyanya, kemudian berdiri di depanku.
"Mas maunya apa?" tanyaku datar.
"Jangan pergi."
"Untuk apa? untuk semakin menyiksaku?"
"Rena, maafkan mas,"
"Terserahlah mas, Rena pusing," ucapku.
"Mas … Mas Aris," terdengar suara Indah di luar.
Aku sengaja memeluk Mas Aris erat. Menenggelamkan kepalaku di dadanya. Biarkan Indah melihatnya, membuatnya kesal, lebih baik daripada melihatnya tertawa.
"Aku lelah mas," isakku, mas Aris mengusap punggungku.
"Mas …." Indah berseru dengan suara keras.
Aku pura-pura kaget, mendengar suaranya. Pelukanku masih aku eratkan.
"Mas … Bukannya bantu malah peluk-pelukan di sini," ucap Indah.
Indah menarik tanganku kasar.
"Sakit," rintihku.
"Jangan kasar begitu," ucap mas Aris.
"Kenapa sih, dia terus yang dibela?" ucap Indah.
"Bukan begitu, mas hanya bilang tak perlu main kasar."
Aku sengaja menjepit tangan mas Aris.
"Mas, dia itu ratu drama, dia hanya pura-pura," ucap Indah lagi. Sengaja aku menjulurkan lidahku.
"Tuh.. tuh lihat," teriak Indah kemudian.
Aku menggelengkan kepala dengan ekspresi ketakutan saat mas Aris menoleh ke arahku.
"Sudah, sudah, jangan ribut lagi. Indah mas mohon, jaga emosi kamu, jangan meledak-ledak seperti ini." Mas Aris mencoba menenangkan Indah.
"Ada apa sih, malam-malam ribut. Malu didengar orang," ucap Ibu yang baru masuk kamar.
"Mas Aris, Bu. Masak belain perempuan itu terus-terusan. Padahal dia cuma pura-pura aja," cerita Indah menggebu pada Ibu.
"Bener Ris?"
"Bu, Aris hanya minta Indah tidak terlalu emosi, dan jangan kasar sama Rena, itu saja."
"Rena, lepasin itu pegangan tangannya, balik kamar sana! nggak usah cari simpati, Indah ikut Ibu, biarkan Aris sendiri, suruh siapa nggak bisa adil. Ayo sayang ke kamar." Ibu menarik tangan Indah yang terlihat belum ingin pergi.
Aku melangkah di belakang Ibu dan Indah. Bunda tak terlihat di ruang tengah, sepertinya ada di kamar. Aku langsung menuju ke kamar, benar Bunda terlihat sedang menelpon seseorang. Mungkin sedang menelpon Ayah.
Bunda terlihat serius sekali, bahkan terlihat mencatat sesuatu dan kemudian manggut-manggut. Aku duduk di tepian ranjang sambil meraih ponselku, membuka beberapa pesan, kemudian berselancar ke dunia maya.
Tak berselang lama, Bunda meletakkan ponselnya di atas meja rias. Dia kemudian menghampiriku dengan membawa catatan di tangannya.
"Ayah?" tanyaku kemudian.
"Bukan, Budemu," jawab Bunda.
"Bunda tanya, Doni dulu itu diapain saja sama mbahmu," jawab Bunda.
"Bunda mau buat mas Aris …." Aku menghentikan kalimatku, kemudian menggelengkan kepalaku.
"Ya, nggak sama. Saran Bunda sih, secepatnya, dikunci. Kamu yang pegang kuncinya, jadi cuma bisa nganu sama kamu. Yakin, nggak bakal betah itu bocah tengik,"
"Rena terlanjur sakit hati, Bund."
"Bunda ngerti, paham sekali. Bunda juga sakit hati, anak bunda dibuat seperti ini. Kalau tidak memandang Ningrum dan keluarga lainnya, mungkin Bunda sudah suruh ninggalin dari kemarin-kemarin. Tapi, lihat perjuangan Ibu mu itu, untuk menyadarkan anaknya dan membuat sengsara Indah. Bunda tak sampai hati," ucap Bunda.
"Kebanyakan Ibu akan membela anaknya. Tapi, Ningrum beda, dia tau mana yang salah mana yang benar, tidak membabi buta dalam membela. Kamu sendiri apa lo tega?"
"Butuh waktu lama, mengobati luka ini Bund."
"Iya, ini bukan masalah kecil. Seumur hidup akan membayangi kehidupan kalian. Bunda dan Ibumu, hanya sedang berusaha sekuat tenaga mempertahankan rumah tangga kalian."
Bunda mengusap rambutku lembut. Aku menundukkan kepalaku di pangkuannya.
"Ibu dan Bunda, akan berusaha menyadarkan Aris. Beri satu kesempatan lagi, satu saja demi Ibumu. Bunda juga menguatkan hati, menerima Aris kembali. Seperti kain yang robek, masih bisa dijahit. Tapi, bekas jahitannya tetap akan terlihat,"
"Kadang Bunda mikir, apa salah keluarga kita sampai ada musibah seperti ini." Bunda mengusap kepalaku yang berada di atas pangkuannya.
"Mungkin, ini ujian untuk naik kelas, semoga kita bisa melewati ujian ini dan keluar sebagai pemenang," lanjut Bunda.
"Amin, Rena beruntung punya Bunda dan Ibu," ucapku, mata ini memanas menahan sesaknya di dalam d**a.
"Tak selalu, semua diselesaikan dengan sebuah perceraian. Selama masih bisa diperbaiki dan dipertahankan kita tempuh jalan itu dulu."
Aku hanya mampu terdiam, mendengar kalimat demi kalimat keluar dari Bunda. Menyejukkan dan menguatkan. Doa dan harapanku, semoga lelakiku itu, segera sadar, dan kembali menjadi seorang suami yang bisa aku banggakan, yang bisa menjaga syahwatnya, dan juga menjaga hatinya.
"Bund, Mbah sama Bude jadi tau hal ini ya."
"Ya, mau bagaimana lagi. Lebih cepat, lebih baik. Sementara, Bunda sama Ibu yang urus Indah di sini."
"Setelah masalah ini selesai, Rena mau pulang aja. Pindah dari sini," ucapku. "Eh, Bund, yang masalah itu, nggak ngasih tau ibu dulu?"
"Besok, Bunda kasih tau Ibumu. Lagian kan nggak mati sek, kayak punya Doni. Masih bisa, tapi ya gitu. Bisanya sama kamu aja, nggak bisa sama yang lain," jelas Bunda.
"Bisa pun, Rena malas," ucapku.
"Itu kewajiban, sayang. Tapi, sementara kita kasih pelajaran dulu sama Aris. Biar kapok, punya dua istri, nggak ada yang bisa didatangi," ucap Bunda.
"Besok, apa rencananya Bumd?"
"Ibumu sudah siapkan jamunya, di jamin tua di kamar mandi dia," ucap Bunda, menahan tawa.
"Dibuat mules ya, Bund?"
"Nggak hanya mules, biarin, cuma sehari efek jamunya, besoknya ganti lagi yang buat gatal-gatal, terus ada juga yang buat pipis terus nggak berhenti."
Adik, Ibu, Tante Rahma, memang dikenal memiliki keahlian dalam ramuan-ramuan. Selain jamu aneh.
"Bund, besok kabari ya, beritanya, jangan ampe lupa," ucapku kemudian
Bersambung.