NUM Bab 8

1070 Kata
"Hanya mengobrol saja mas sudah merasa tak suka, sakit hati. Mas mikirin nggak gimana perasaanku, saat ada wanita lain mengaku sebagai istri mas tiba-tiba datang kerumah, dan ternyata itu memang sebuah kenyataan. Pernah mas memikirkan perasaanku?" "Sayang, itu demi keluarga kita juga." "Sejak kapan mas berubah, tak berperasaan seperti ini?" "Rena, bukan begitu. Aku mencintaimu, aku melakukannya agar kehidupan kita terjamin." "Apa yang terjadi, sejak kapan harta lebih penting dari cinta, mas harta nggak bisa jamin kita hidup bahagia. Rena tau, mas punya ambisi besar untuk sukses, tapi apa harus dengan jalan seperti ini. Mas gadaikan harga diri hanya demi harta dan jabatan, murah sekali, mas." Aku tak habis pikir, ada apa dengan suamiku ini. Mas Aris memang selalu ingin menjadi yang terbaik. Tapi, apa harus dengan cara seperti ini. Sungguh tak masuk dalam akalku. "Atau, mas memang benar-benar suka sama Indah?" tanyaku, Mas Aris tak menjawabku. "Hooh, naif sekali diriku, aku pikir suamiku hanya mencintai diriku, nyatanya aku salah. Siapa yang bisa menolak daging segar, dari seorang daun muda. Tidak juga suamiku, yang aku pikir setia." Aku tersenyum masam. "Dirimu tetap yang terbaik, Ren. Aku mencintaimu." Aku tertawa sumbang, mendengar ucapan mas Aris. Cinta? tapi mendua, cinta macam apa. "Mas bilang mencintaiku, tapi mas bisa tidur dengan perempuan lain, cinta macam apa itu, mas? Katakan?" "Mas juga manusia biasa, Ren. Mas juga tak lepas dari khilaf," ucap mas Aris. "Hah … selalu khilaf yang dijadikan alasan. Mana ada mas khilaf dilakukan dengan sadar. Yang ada mas keenakan dapat daging segar, siapa bisa menolak disodorin gituan, tanpa bayar, diobral gratis, menjijikkan," ucapku. Dadaku terasa sesak, emosi sudah tak bisa aku kendalikan. "Mas, kalau aku diam bukannya aku tak tersakiti, tak sakit hati. Hanya masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Hakikatnya sebuah rumah tangga, suami istri saling menghargai, saling menghormati. Kesuksesan bisa ditempuh dengan banyak jalan, bukan hanya dengan cara seperti ini. Hati mas sudah dibutakan ambisi, dan pada dasarnya memang mas menikmati juga kan, meniduri bocah sunda* itu." Aku sudah tak bisa mengontrol kata-kataku lagi. Sekuat aku menahan,lepas sudah kendali yang ingin kupegang. Beribu rencana untuk membuat mereka menderita seketika ambyar, terserah sudah. Bertahan seperti ini, jelas hanya menyiksa diriku sendiri. Sekeras apapun usaha Ibu dan Bunda menyengsarakan Indah, tetap tak akan merubah keadaan yang ada, tak bisa mengobati luka yang tercipta. Hanya karena Ibulah, aku bertahan, hanya saja, mau sampai kapan. Diriku tak sekuat itu, apalagi ini bukan masalah kecil, sebuah perselingkuhan dalam sebuah rumah tangga. Itu hal yang sangat fatal, kehancuran seolah hanya menunggu waktu. Pria di sampingku, yang menikah denganku tiga tahun yang lalu itu hanya diam, tangan kanan menutup mulutnya. Pandangannya lurus kedepan. Ya Allah, semoga hamba senantiasa diberi kekuatan. Sejatinya aku ingin bertahan, memberi satu kesempatan. Tapi, entahlah apa aku sanggup. "Mas tau kan, nggak pernah Rena ngomong kayak gini. Tapi sekarang, mas benar-benar keterlaluan,". lanjutku. Tak sepatah katapun keluar dari mulut mas Aris. Dia masih menutup mulut dengan telapak tangannya. ••• "Assalamualaikum," salamku. Ibu dan Bunda duduk di ruang tengah. Banyak kardus berjajar dan juga barang yang dibeli kemarin. "Waalaikumsalam," jawab mereka hampir bersamaan. Mas Aris yang berjalan di belakangku juga mengucapkan salam. Dia terlihat terkejut melihat barang-barang yang ada di ruang tengah. "Ini apa Bu?" tanya mas Aris, mengamati barang-barang tersebut. "Ris, listrikmu ini daya berapa?" tanya Ibu kemudian. "Seribu tiga ratus, Bu," jawab mas Aris. "Oh, pantesan nggak bisa nyala tv nya, jeglek terus," ucap Ibu. "Punya siapa ini, Buk?" "Punya kita." "Tapi, siapa yang beli?" "Istrimu," jawab Ibu. "Rena?" Mas Aris melihat ke arahku. "Indah," tegas Ibu kemudian. "Indah?" ulang mas Aris. "Percuma tapi, nggak bisa di pakai listriknya nggak kuat," lanjut Ibu. Bunda tak menyahut sedikit pun, fokus ke layar televisi di depannya. Mataku beredar, tak ada terlihat Indah. "Indah pulang, ambil pakaian," ucap Ibu kemudian. "Rena ke kamar dulu," pamitku, tak ada sahutan dari siapapun yang ada di sama. Aku beranjak berjalan ke kamar, mas Aris mendorong pelan saat aku akan menutupnya. "Sayang, mas minta maaf, mas ngaku salah," ucap mas Aris . Aku hanya sekilas melihatnya, kemudian melempar pandangan ke arah lain. Aku mengambil baju di lemari, setelah meletakkan tasku di meja. Bergegas keluar kamar menuju kamar mandi. 'Maaf' Begitu mudahnya kata itu terucap, bahkan setelah melakukan sebuah kesalahan besar dan fatal. Apa hanya dengan kata maaf, lantas semua akan kembali normal seperti sedia kala. Seperti sebuah anak panah yang sudah terlanjur dilepaskan, menembus d**a menancap dalam. Dibiarkan luka akan semakin memburuk, dicabut juga sama, tak akan ada kata baik, yang ada hanya luka. Sengaja aku guyurkan air dingin di kepala, dengan harapan bisa mengurangi panasnya amarah. ••• "Ibumu tadi buat jamu untuk bocah g****k itu," ucap Bunda setengah berbisik. "Jamu apa, Bund? "Jamu gatel, biar rasa itu anak, besok jamu mules, dikira enak jadi pelakor," jawab Bunda. "Tapi tetap saja, nggak bisa ngilangin rasa sakit yang terlanjur perih," ucapku, Bunda mengusap pelan punggungku tanganku. "Setidaknya membuat dia sengsara, daripada tidak sama sekali," balas Bunda. Obrolan kami terhenti, saat terdengar seseorang mengucap salam. Aku dan Bunda bersamaan beranjak dari duduk kami. Mas Aris yang lembur di kamar depan juga ikut keluar. "Malam, Pak. Ada perlu dengan siapa?" tanyaku kemudian. "Kami dari Mebel Melati, mau mengirimkan pesanan," jawab si masnya. "Kami nggak pesan," jelasku "Di sini, tertera alamatnya di sini, dan pemesan atas nama Ibu Indah." Pria itu menunjukkan selembar kertas nota. "Oh,iya. Beli apa?" "Satu set tempat tidur, lemari dan meja rias," jawab si masnya. "Tapi tempatnya belum disiapkan, mas letakkan di teras saja," ucapku kemudian. "Baik, Bu." "Sebelah sana mas," tunjukku kemudian. "Tolong tanda tangan di sini," pinta si masnya lagi. Bunda mengawasi tiga pria yang sedang menurunkan barang itu. Aku bergegas menuju kamar depan, tempat mas Aris mengerjakan laporannya. "Mas lihat sendiri kan sekarang?" ucapku langsung tanpa basa basi. "Baru dua hari dia sudah ingin menguasai rumah ini." Mas Aris mengalihkan pandangannya dari layar laptop di depannya dan berganti melihatku. "Mas, Rena nggak bisa lagi. Rena nggak bisa dan nggak mau berbagi." Mas Aris masih terdiam, menutup mulut dengan kedua tanganya, gaya khasnya ketika kehabisan kata-kata. "Sekarang juga mas Aris putuskan, Rena akan kasih satu kesempatan, bila mas benar-benar ingin memperbaiki kesalahan, ceraikan Indah, mas keluar dari pekerjaan. Kita pulang, kita tinggalkan kota ini, memulai kehidupan baru lagi. Rena janji akan memaafkan segala kesalahan mas Aris. Rena juga tak akan mengungkit lagi hal ini di kemudian hari," ucapku. "Kita menata kembali kehidupan rumah tangga kita, memulai dari awal lagi, mas mau?" Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN