"Mau ya Kia nikah sama kakak?" Pandu mengulang kembali pertanyaannya.
Kiara menunduk dan menoleh menatap wajah Pandu. Kiara masih bingung, selain usianya yang masih muda, juga perasaannya pada Pandu hanya sebatas adik dan kakak.
"Boleh Kia mikir dulu?" tanya Kiara.
"Yah nggak papa, nggak lama kan Kia mikirnya, kakak tunggu," Pandu menghidupkan lagi mobilnya dan melanjutkan perjalanan.
***
"APAAAA NIKAAAH," suara mama Kiara memenuhi ruang makan.
"Maaa maaaa, makanan mama tuh nyembuuur, pelan-pelan, santai aja, ini kan sudah yang kedua, waktu Dani mau nikah juga kamu kaget kayak gitu dulu," ujar papa Kiara kalem.
"Eh kalau si Dani aku kaget karena waktunya deket banget pa, cuman dua bulan kan, aku kira mereka sudah ngapa-ngapain, nggak taunya karena penempatan kerja Dani di Palembang makanya Dani minta cepet, lah ini si Kianya nggak ngerti cinta atau nggak, apalagi Pandu jadi berubah gitu, aku tahu Pandu kayak apa karena tiga tahun dia berteman sama Dani, dia anak baik, tapi kan sekaraaang Pandu gitu, duh aku bingung pa," mama Kiara terlihat resah.
"Kamu tahu Kia sayang, mengapa Pandu jadi gitu, karena dia disakiti, dikhianati oleh pacarnya, tadi malam Meriska nelpon mama dan mama sempat mendengar isak tangis mamanya Pandu," Kiara melongo menatap wajah mamanya dan dia baru mengerti mengapa Pandu sesakit itu.
"Kalau papa terserah Kia aja, toh Pandu lebih dewasa dari Kia, papa juga kenal Pandu anak yang baik, tiga tahun keluar masuk rumah ini sama Dani, sudah cukup bagi papa tahu bagaimana Pandu," papa menyudahi sarapannya dan mencium pipi mama serta Kia lalu pamit berangkat ke kantor.
"Trus gimana mama, Kia mau jawab apa?" tanya Kiara resah.
"Kamu suka nggak sama Pandu, mama nggak mau tanya cinta, karena mama yakin baik Pandu ataukamu, nggak saling cinta kan? " mama balik nanya.
"Suka sih, soalnya beberapa hari ketemu lagi, kak Pandu telaten kok ngadepin Kia, tadi malem pas makan, kak Pandu nyuapin Kia mama, cuman ya itu, diemnya nggak nguatin," ujar Kiara pelan.
"Ok nanti kita bicarakan lagi, kamu nggak ke kampus?" tanya mama Kia.
"Nggak ma, mau bikin judul skripsi lagi, yang kemarin ditolak, dah banyak yang bikin penelitian kayak gitu kata dosenku ma, besok paling ke kampus," Kiara membawa piring kotor ke dapur dan mencucinya.
***
Diam-diam mama Kiara menelpon bu Meriska, mamanya Pandu dan menceritakan pembicaraan mereka di ruang makan tadi.
Apaaa Pandu ngajak Kia nikah, yang bener Mia?
Lah gimana kamu ini, aku nelpon kamu karena aku binguuung Pandunya nunggu jawaban Kia
Aduuuh surprise banget aku Mia, aku sampe nangis nih Mia
Eeeh kamu, yang aku pikir karena keduanya pasti nggak saling cinta Mer, gimana sih kamu
Bukan tidak Mia, belum, dan aku yakin, jika mereka menikah tinggal satu rumah, akan terbiasa dan saling mencinta, ayolah Miaaa bujuk anakmu, mau ya Miaaa
Laaah malah nanya sama aku, anakku juga bingung jawabnya
Aku pulang ke Indonesia ya Mia, aku kok jadi semangat gini, ya Allah terima kasih mengabulkan doa hambamu ini
Lah ngapain kamu pulang
Ya mau ngelamar anak kamu Miaaa
Meeeer Meer ini juga anakku masih bingung
Ayolah Miaaa bantu Pandu Miaaa
Iya iya daaah eh tapi gimana kalau Pandunya ingat mantan terus Mer, kasian anakku kan
Aduh kamu ini gimana sih, Pandu itu malah benci banget sama tuh perempuan, gimana ngak mau sakit dia, tinggal seminggu Mia, seminggu mau nikah, tiba-tiba dia lihat dengan mata kepalanya sendiri, calon istrinya berbuat gituan di depan matanyaaa huuuh aku jadi sesak lagi rasanya Miaaaa
Iya iyaaaa duh aku jadi pusing Mer, iya dah aku ke dapur dulu ya Mer bai
Mama Kiara menghembuskan napasnya yang terasa berat. Ia tidak mau Kiara nantinya tidak bahagia.
***
Selama tiga hari Kia mencoba untuk tidak bertemu Pandu, ia menyibukkan dirinya dengan proposal skripsinya begitu judul sudah diacc oleh dosen pembimbing.
Selama tiga hari juga Pandu merasa bingung ia telpon Kia tapi tidak diangkat, didatangi ke rumahnya selalu saja kalau tidak di kampus, kadang ada di rumah temannya, apakah Kia sengaja menghindar? pikir Pandu.
Hari keempat kembali Pandu melangkahkan kaki ke rumah Kiara, jam segini pasti ada di rumah tuh anak, nggak mungkin malam-malam,.hampir jam 9 lagi, dia ke kampus.
***
"Eh Pandu, masuk Ndu, cari Kia?" tanya mama Kia dengan ramah.
"Iya tante, Kianya ada?" Pandu balik bertanya dan mama Kia menunjuk ke arah taman di belakang rumahnya.
***
Pandu mengusap bahu Kia perlahan.
"Bentar ma, biar Kia di sini dulu, mikir kak Pandu ternyata capek ma, gantengnya tetep kayak dulu, pacar khayalan Kia waktu SD, ramah, rame, karena ganteng Kia malah serimg minta cium hhahah aneh Kia kecil ya ma, sekarang dia muncul lagi, gantengnya tetep, tapi dinginnya itu, wajah datar itu, apa sesakit itu dikhianati cewek, aku aja dibuang tiga kali sama cowok masih baik-baik aja, bisa hidup normal...."
"Tapi gimana perasaan kamu seandainya jadi kakak, orang yang kamu cintai, kamu jaga kehormatannya, tiba-tiba terlihat dengan lelaki lain tanpa selembar benangpun ditubuh mereka dan mereka mengerang dengan puas bersama-sama, apakah hidup kamu akan baik-baik saja setelahnya, dan itu menjelang pernikahan yang hanya menghitung hari," tiba-tiba suara Pandu mengagetkan Kiara dari belakang.
Kiara berdiri dan terbelakak kaget mendengar cerita Pandu, Kiara menghambur dalam pelukan Pandu.
"Maafkan Kia, Kia nggak tahu kakak sesakit itu."
"Sejak itu kakak sulit tersenyum, apa yang akan kakak senyumin, jika adegan itu seolah berputar dan berputar terus di depan wajah kakak, mengapa kakak yakin mau nikah sama kamu, karena cuma kamu Kia yang mulai bisa bikin kakak tersenyum lagi," Pandu melepas pelukan Kiara.
"Jangan peluk-peluk kakak, kakak laki-laki normal dan kamu nggak pengen kan diapa-apain sama kakak?" kata Pandu menggoda Kia dan Kia memukul d**a Pandu perlahan.
"Yeee kakak kan udah Kia anggap kayak kakak sendiri," jawab Kia dengan wajah memerah.
Akhirnya mereka duduk berdua menghadap taman. Tak lama terdengar suara hujan menimpa fiberglass di atas kepala mereka.
Pandu melingkarkan lengannya ke bahu Kiara, mengusap bahu Kia perlahan.
"Mau ya Kia nikah sama kakak?" tanya Pandu lagi.
Kiara menatap mata Pandu dan dengan ragu Kia mengangguk.
Pandu mengeratkan dekapannya pada bahu Kiara, aku tidak akan benci hujan lagi Kia, tidak akan...