"Malam-malam gini kalian minta ijin nikah, bukannya nggak setuju Pandu, Kia, tapi nikah itu bukan main-main, sekali seumur hidup," ujar Bu Mia menatap wajah Kia yang terlihat bingung dan Pandu yang seperti biasa, datar, tenang dan damai.
"Begini maksudnya Pandu, intinya om dan tante setuju, tapi apakah kalian sudah benar-benar yakin akan melangkah ke jenjang itu, beda usia kalian cukup jauh, 8 tahun, nggak masalah sebenarnya yang penting kalian saling memahami," ujar papa Kia berusaha menengahi kepanikan istrinya.
"Justru karena saya yakin om, makanya saya ngajak Kia menikah dan minta ijin pada om dan tante untuk menikahi Kiara, sejak saya mulai bisa tersenyum, saya sadar bahwa Kia yang bisa mengembalikan hidup saya menjadi kembali berwarna," Pandu menoleh pada Kia dan Kia mengangguk ragu.
"Gimana kamu sayang?" tanya mama Kia kawatir.
"Kia mau mama, Kia mau nikah sama kak Pandu, Kia lelah juga pacaran tapiii diputusin mulu," mata Kia terlihat berair.
"Loh siapa yang berani-beraninya nyampakin anak cantik mama, kamu kok nggak pernah cerita sama mama," suara Bu Mia terdengar meninggi.
"Ngapain juga cerita ke mama, kan cuman pacaran," suara Kia terdengar memelas.
"Ya nggak gitu Kia, kamu kurang apa, cantik, pintar, heran deh apa yang bikin mereka mutusin kamu?" tanya Bu Mia penasaran.
"Kiaaa.. Kiaaa nggak mau dicium sama digrepe-grepein," suara Kia terdengar semakin lirih.
"Bagus, anak papa mesti tahu mana yang pantas sama yang nggak, mending nggak usah pacaran nak dari pada kamu dirusak seperti itu, biarlah dikatakan kuno, jomblo atau apalah" suara papa Kia terdengar lembut.
"Makanya pa, Kia akhirnya setuju nikah sama kak Pandu emmm yaaa biar nggak dosa juga kalo digrepe-grepein kan sudah sah kalau jadi istrinya," papa dan mama Kia hampir saja tertawa mendengar kata-kata anaknya. Pandu hanya menunduk dan menahan senyumnya. Bu Mia menatap Pandu dengan wajah kaget.
"Eeeh iya beneran, si Pandu bisa senyum juga akhirnya meski dikit," ujar mama Kia pelan. Dan kembali menemukan wajah datar Pandu.
"Ok gini, besok atau ntar lagi Pandu nelpon ke mama yah, biar nanti gimana-gimananya kami yang berembuk," ujar Bu Mia akhirnya memutuskan.
Pandu pamit pulang dan diantar Kia sampai teras. Pandu menatap Kiara yang masih terlihat bingung. Mengusap bahu Kia perlahan.
"Kamu ragu? kakak akan selalu bersamamu Kia, kita akan selalu mengatasi apapun yang kita alami bersama, kamu percaya kan, kalau kakak tidak akan pernah membiarkan kamu sendiri?" ujar Pandu dan Kia mengangguk menatap wajah tampan tanpa senyum di depannya.
"Kakak pulang dulu Kia, besok kakak antar ke kampus ya, mumpung besok kakak gak gitu sibuk, mau ya?" pinta Pandu. Dan lagi-lagi Kia mengangguk.
***
Jam istirahat kantor, Pandu segera menjemput Kiara ke kampusnya. Saat memarkirkan mobil di depan gerbang kampus Kia, ia melihat dari jauh Kia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman seorang cowok seumuran Kia.
Pandu berjalan tenang mendekati mereka. Terlihat si cowok memelas dan masih menggenggam lengan Kiara, sementara Kia menatap dengan penuh kebencian.
"Maaf, tolong lepaskan tangan anda dari lengan calon istri saya," suara berat mengagetkan keduanya dan seketika Kia merapatkan badannya di belakang Pandu.
"Terima kasih, enam bulan lagi anda akan kami undang ke pernikahan kami," Pandu menggenggam tangan Kia dan melangkah menuju mobilnya. Meninggalkan Felix yang menatap Kiara dengan pandangan penuh tanya.
"Mantan pacarmu?" tanya Pandu setelah mereka melaju di jalan. Kia hanya bergumam tak jelas.
"Makan yok Ki, kakak lapar," ujar Pandu dan menghentikan mobil di sebuah rumah makan padang.
"Tahu nggak Ki, hampir dua bulan aku di sini, pengen banget makan di rumah makan ini, ya baru sekarang kesampaian bareng kamu," ujar Pandu pelan.
"Eeemm kenapa kok pingin banget, ada kenangan di sini?" tanya Kiara.
"Ya, ini rumah makan ada sejak aku aku belum lahir, waktu aku kecil sudah generasi kedua, kami sering makan bertiga, aku, mama dan papa, bisa dibilang rumah makan favorit kami, tempat ini selalu mengingatkanku pada hal yang indah dan menyenangkan, dulu kakek nenek juga sering ke sini, makanya aku ajak kamu ke sini, biar tempat ini khusus untuk mereka yang akan selalu mendatangkan kebahagiaan bagi aku," Pandu masih menatap wajah Kia yang mengerjab-ngerjabkan matanya, memandang Pandu dengan heran.
"Kakak kok bisa ngomong panjang ya sekarang, " ujar Kia dan Pandu sedikit melengkungkan bibirnya. Kia jadi ikut tersenyum.
"Kakak kalo tersenyum ganteng, bener," dan Kiara kembali melihat senyum Pandu.
"Ya cuma buat kamu saja senyum kakak," Pandu memegang tangan Kiara.
"Gombal," sahut Kiara dan Pandu semakin melebarkan senyumnya bersamaan dengan nasi dan berbagai lauk di depannya diantarkan oleh pelayan.
Pandu menggelengkan kepalanya melihat Kia yang sepertinya tidak pernah kenyang.
"Kiaaa muat ya makanan segitu ke perut tipis kamu?" Pandu menggoda dan wajah Kiara memerah.
"Hihihi iya, ini dah selesai," ujar Kiara menuju tempat cuci tangan.
"Hei kakak cuma bergurau nggak papa kalau masih lapar," ujar Pandu.
***
Kiara membuka sabuk pengaman dan saat hendak turun Pandu memegang lengan Kiara.
"Besok mamaku datang, akan menemui mamamu, mau membicarakan lamaran," Pandu menatap Kia dan Kia hanya mengangguk.
***
Sore hari Kiara membuka pagar rumahnya dan memasukkan motor di garasi, agak menepi agar mobil papanya bisa leluasa masuk nanti saat papanya datang dari kantor.
Kiara melangkahkan kaki dengan berat, terasa capek setelah menyelesaikan proposalnya, tinggal mendaftar untuk seminar proposal.
Samar-samar terdengar suara riuh di ruang makan saat ia berada di ruang tamu.
"Kiaraaaaa....," suara tante Meriska, yang tak lama menghambur memeluknya membuat Kia kaget. Kia memandang wajah mamanya yang hanya mengangkat bahu.
Tak lama terdengar suara isakan tante Meriska. Kiara memeluk dengan ragu,lalu tante Meriska melepaskan pelukannya dan mencium pipi Kiara.
"Makasih sayang ya, makasih, tante nggak tahu harus bilang apa lagi, Pandu terlalu lama menyimpan sakitnya seorang diri, tante kaget banget waktu mama kamu cerita Pandu sudah mulai tersenyum lagi, aduuuh tante sampe lupa kalau kamu baru datang dari kampus, sana nggak papa kalau mau mandi dulu," tante Meriska kembali duduk dan berbicara lagi dengan mama Kiara dan Kiara menuju kamarnya.
***
Kiara baru saja selesai sholat isyak waktu ponselnya berbunyi. Dia melangkah pelan masih dengan mukenanya, nama Pandu tertera di situ. Kiara menerimanya dan Pandu mengajak Kia makan malam di rumahnya, bentar lagi Pandu akan ke rumah Kia untuk menjemput.
***
"Mau ke mana sayang?" tanya papanya saat terlihat Kiara menuruni tangga menuju ruang makan.
"Ke tante Meriska, diajak makan di sana, tuh bel berbunyi, pasti kak Pandu, ke sebelah dulu pa, ma," Kiara melangkah ke pintu depan.
***
"Ayo Kia sayaaang dimakan lauknya, ini tante semua yang masak loh, masakan jepang ini tante bisa karena ikutan kursus, biar ada gunanya suami kerja di Jepang," tante Meriska mendekatkan lauk ke sisi Kiara.
Pandu mengambil supit dan menyuapi Kiara, meski terlihat canggung akhirnya Kiara membuka mulut dan Pandu tersenyum pada Kiara.
Tante Meriska terlihat berkaca-kaca melihat senyum Pandu. Dan setelah mengusap matanya, ia kembali menatap wajah Pandu yang kembali berwajah datar setelah menatap mamanya.
"Ayo Kia, makan lagi, malu sama mama ya, kalau sama kakak kamu nggak malu, kayak yang di rumah makan padang itu," Pandu kembali menyuapi Kiara dan Kiara memukul lengan Pandu perlahan.
"Ih kakak, udah brenti, nyuapin terus, Kia kan malu sama tante Meri," terdengar tawa Pandu perlahan dan tante Meriska semakin terlihat bahagia, perlahan ia melihat Pandu yang kembali ceria.
Setelah makan mereka bertiga terlihat duduk di sofa.
"Kia, dua hari lagi tante beserta keluarga akan melamar kamu dan enam bulan lagi pernikahan akan dilaksanakan," ujar tante Meriska sambil memegang tangan Kiara.
Kiara melongo menatap Pandu.
"Beneran enam bulan lagi kak?" tanya Kia. Pandu mengangguk.
"Kenapa sayang, Kia belum siap?" tanya tante Meriska lagi.
"Nggak papa tante, Kia pikir waktu kak Pandu bilang gitu, cuman gurauan aja," ujar Kia menatap Pandu yang tersenyum dan mendekat ke arah Kiara mengusap bahunya pelan.
"Seandainya boleh dua bulan lagi, kakak maunya dua bulan lagi, tapi kasihan mama-mama kita yang nyiapkan takut dikejar-kejar waktu, apalagi papa mamaku di Jepang Kia," Pandu masih saja mengusap bahu Kiara dan Kia hanya mengangguk.
"Panduuu tanganmu loh, nanti Kianya risih," ujar tante Meriska masih terheran-heran dengan perubahan Pandu.
"Nggak papa, malah Kia bisa tenang kok kalau diginiin ma," ujar Pandu yang dipukul lengannya oleh Kia.
"Nggak, nggak tante ih kakak, bikin malu Kia, nggak tante, kak Pandu bohong," Kiara memukul d**a Pandu dan Pandu menangkap tangan Kia, terlihat Pandu yang tertawa dan Kiara yang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Pandu.
Kembali tante Meriska yang mengusap matanya berkali-kali, menangis haru sambil berusaha tersenyum.
***
Dua hari kemudian tampak kesibukan sejak pagi di rumah Kiara. Sanak saudara dari papa mama Kiara berdatangan, pihak catering pun sudah menata makanan di tempat yang sudah disediakan oleh mama Kiara.
Jam 9 pagi pihak keluarga Pandu terlihat beriringan memasuki halaman rumah Kiara dan keluarga besar papa mama Kiara menyambut dan mempersilakan masuk, semua hantaran ditata apik di meja yang telah disiapkan.
Saat kedua keluarga sudah duduk berhadapan maka pihak keluarga Pandu menyampaikan maksudnya akan melamar Kiara untuk Pandu.
Setelah selesai pihak Pandu menyampaikan maksudnya, maka pihak keluarga Kiara juga menyampaikan sambutan yang isinya menerima lamaran dari Pandu.
Pandu tampak gagah berbaju batik motif senada dengan papa dan mamanya. Pandangam Pandu selalu tertuju pada Kiara yang pagi itu menggunakan kebaya cantik berwarna silver, dan rambut yang disanggul modern. Dari jauh Kiara menatap Pandu sambil mencebikkan bibirnya dan ia melihat Pandu yang mulai tersenyum.
Setelah acara formal selanjutnya para tamu disilakan untuk menikmati hidangan. Tampak Dani, kakak Kiara mendatangi Pandu dan mereka berpelukan erat.
"Akhirnya kita ketemu lagi, kemana saja kamu, tiba-tiba muncul dan ngambil adikku?" Dani melepaskan pelukannya, Pandu menatap serius wajah Dani.
"Mungkin Allah mengabulkan doa gadis kecil berpipi tembem yang dulu sangat ingin nikah sama aku, Dan, hingga setua ini aku pulang ke Indonesia dan benar-benar melamarnya," mereka berdua tertawa dan Dani memperkenalkan istrinya, serta anaknya yang berusia 3 tahun.
Mata Pandu mencari-cari Kiara dan menemukan wajah cantik memelas di pojok dekat hantaran dari keluarga Pandu.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya Pandu Wiryawan?" suara berat Pandu mengagetkan Kiara. Pandu duduk di dekat Kiara.
"Ih nyonya, ntar, 6 bulan lagi," terdengar suara Kiara yang hampir tak terdengar.
"Kamu lapar?" tanya Pandu dan Kiara mengangguk, Pandu berdiri, mengambil mi goreng, tempura dan angsiohi lalu menyiram sausnya sedikit.
Duduk kembali di sisi Kiara dan mulai menyuapinya. Pandu memandang Kiara yang terlihat lebih dewasa dengan dandanan yang tidak biasanya.
"Kamu cantik Kia," ujar Pandu dan Kia tersedak lalu cepat ia raih air minum yang tak jauh dari duduknya.
"Ih kakak, bikin kaget," Kiara menepuk pundak Pandu.
"Seandainya bisa, kita nikah besok ya Kia?" ucap Pandu perlahan.
"Nggak ah, nggak enak juga cepet-cepet, biarlah kita belajar dekat dulu kak," ujar Kia, kembali Pandu menyuapi lalu mendekatkan wajahnya pada Kiara.
"Ini, kita sudah dekat,"Pandu merasakan hembusan napas Kiara dan wajah Kiara memerah.
"Ih kakak, jangan dekat-dekat, Kiaaa..Kiaaa jadi merinding nih, kok gini," dan Kiara jadi salah tingkah, Pandu memundurkan wajahnya sambil tersenyum, lalu berdiri dan meletakkan piring bekas Kiara makan di meja.
Pandu kembali duduk di samping Kiara.
"Bentar lagi kakak pamit Kia, pulang dulu meski nggak pingin," ujar Pandu.
"Kakak aneh deh kayak orang jatuh cinta aja," Kiara menoleh pada Pandu yang tak henti menatapnya.
"Kan nggak papa kalo misalnya kakak bener-bener cinta sama Kia?" Pandu menggenggam tangan Kia dan perlahan Kia menarik tangannya sambil berbisik.
"Jangan pegang-pegang, Kia jadi merinding, enam bulan lagi yaa kakak sayang." Pandu tertawa pelan.
***
Keesokan paginya seperti biasa Kiara pamit akan ke kampus, namun saat akan berangkat, Kia sudah melihat mobil Pandu di depan rumahnya.
Kiara pamit pada mama papanya dan mau tidak mau berangkat bersama Pandu.
Saat akan memasuki pintu gerbang kampus Pandu memanggil Kiara lagi.
"Nanti kakak jemput lagi," dan Kiara hanya mengangguk.
***
Saat istirahat siang, Pandu segera melajukan mobilnya menuju kampus Kiara dan menunggu di mobil, sembari menelpon Kiara. Tak lama Kiara muncul dan berlari menuju mobil Pandu.
"Mau makan di mana ini kak?" tanya Kiara.
"Dekat sini aja, kayaknya ada rumah makan steak yang enak sekitar sini kata staffku," Pandu kembali melajukan mobilnya.
***
Saat keduanya melangkah menuju rumah makan setelah Pandu memarkirkan mobilnya, tiba-tiba dari arah berlawanan ada seorang wanita berkulit putih, tinggi dan langsing berjalan cepat ke arah keduanya, memekik pelan dan memeluk Pandu.
"Pandu, Pandu, sebulan aku mencarimu, sejak aku ditempatkan di Indonesia, aku hanya mencarimu," terdengar isak tangisnya dan Pandu segera mendorong wanita itu dengan kasar, membuka belitan tangan pada tubuhnya, memandangnya dengan dingin. Segera dipeluknya bahu Kiara, mendekap Kiara ke dadanya.
"Pergi kamu dari hidupku, setelah bertahun-tahun kau hancurkan hidup dan kepercayaanku, kini kau muncul lagi, tidak akan pernah ada tempat untukmu di sisiku, meski hanya sebagai teman," Pandu berbalik masih mendekap Kiara dan berjalan menuju mobilnya.
Membiarkan Evelyn yang meneriakkan namanya sambil menangis meraung.
****