#6

1217 Kata
Sepanjang perjalanan Kiara sesekali menoleh pada Pandu,  melihat kemarahan diwajahnya dan  tampak rahangnya yang mengatup dengan keras. Tiba-tiba Pandu menepikan mobil dan memukul setir mobil dengan keras. Kiara mengusap bahu Pandu, tanpa dijelaskanpun Kiara tahu siapa wanita itu,  hanya yang ada dalam pikiran Kiara, mengapa ia pindah ke Indonesia juga. "Kakak,  segitu pentingkah dia dalam hidup kakak,  sampai kakak sesedih ini?" tanya Kiara pelan. "Dia bukan siapa-siapa ku,  dia orang lain yang tidak akan pernah ada lagi dalam hidupku Kia," suara Pandu terdengar menahan marah meski pelan. "Jika dia bukan siapa-siapa kakak, mengapa semarah dan sesedih ini, itu artinya kakak masih mikir dan ingat dia, iya kan, aku ngerti,  tidak akan mudah bagi kakak melupakan orang yang pernah kakak cintai dengan amat sangat sekalipun dia menyakiti kakak, hanya orang yang sangat kita cintailah yang sanggup menghancurkan hidup kita," Pandu menoleh pada Kiara,  ia tidak percaya kata-kata itu ke luar dari bibir Kiara yang usianya jauh terpaut di bawahnya. "Kamuuuu...," ujar Pandu menatap Kiara yang tersenyum ke arahnya. "Pengalaman dibuang tiga kali yang membuatku meski terlihat kolokan namun berusaha bijak saat ingat rasa sakit yang mendera berulang, aku tidak pernah main-main saat mencintai seseorang kak, makanya saat aku dibuang,  aku betul-betul merasa sakit, terhina dan entah apa lagi," Kiara masih menatap Pandu yang masih juga menatapnya. "Kakak masih mencintainya kan?" tanya Kiara dan Pandu menggeleng. "Tidak ada rasa cinta yang tersisa hanya ada rasa sakit,  benci dan..," Pandu menunduk meneguk salivanya dengan berat. "Tidaaak kakak masih mencintainya,  ada rasa sakit di mata kakak,  itu karena kakak mencintai dan membencinya secara bersamaan,  jika cinta padanya sudah hilang,  kakak tidak akan sesakit ini," Kiara menggeleng pelan sambil tersenyum. Pandu menarik lengan Kiara.. "Mengapa dari tadi kamu mengatakan itu berulang,  bilang sekali lagi,  kakak  cium kamu di sini," terlihat Pandu mulai gusar. Kiara masih saja tersenyum dan terdengar tawanya pelan. "Enam bulan lagi,  kakak mau ngapain aku terserah dah,  tapi tidak untuk saat ini, hmmm kakak yang ganteng,  kita makan di rumah makan padang tempo hari yuk,  biar kakak tenang,  jadi ingat orang-orang yang kakak sayangi," perlahan Kiara melihat senyum Pandu. *** Malam hari saat Kiara duduk di taman belakang rumahnya tiba-tiba Pandu duduk di sisinya. "Eh kakak,.kok nggak bilang-bilang kalo mau ke sini?" tanya Kiara pelan menatap wajah Pandu dengan tatapan lelah. "Kamu marah?" Pandu menatap wajah Kiara dan Kiara bingung menatap wajah Pandu yang terlihat cemas. "Coba lihat ponselmu, berapa kali aku nelpon kamu, kenapa, apa karena peristiwa tadi siang?" tanya Pandu kawatir. "Nggak,  nggak papa kak, kebetulan aku lagi berhalangan,  jadi kan nggak sholat, duduk di sini sejak sebelum maghrib dan nggak bawa ponsel emang," ujar Kiara masih dengan suara pelan. "Kiii,  lihat kakak, lihat wajah kakak, kakak tadi marah kayak gitu bukan karena masih cinta sama dia, disaat kakak mulai menemukan kenyamanan dengan kamu, kenapa dia datang,  itu yang bikin kakak marah, kamuuu...kamu percaya kan Kia?" tanya Pandu memegang tangan Kia,  Kia menarik tangannya pelan. "Kia nggak papa kok kak,  bawaan mens paling,  jadinya sakit semua dan Kia milih duduk di sini aja," Kia masih mengelak. "Kia,  itu bukan jawabannya,  nggak ada hubungannya sama mens kamu, lihat mata kamu,  coba ngaca,  kenapa mata kamu bengkak, nangis karena apa?" tanya Pandu lagi dan memeluk kepala Kiara ke dadanya, dan tangis Kiara pecah seketika,  ia berusaha menahan tangisnya agar tak bersuara. "Bener kan,  bener dugaan kakak, kamu pasti marah sama kakak," Pandu merasakan dadanya sesak,  ia merasa bingung karena Kiara tak juga berbicara. "Katakan Kia,  katakan sesuatu,  agar aku tahu,  apa yang kamu rasakan," Pandu mengusap rambut Kiara. "Akuuu, aku sudah memutuskan untuk nggak mencintai siapapun lagi dalam waktu dekat setelah hubunganku yang terakhir kandas kak,  tapi entah kenapa aku mau waktu kakak ngajak aku nikah,  karena aku percaya kakak akan bikin aku bahagia, aku akan berusaha menyayangi kakak,  mencintai kakak, tapi setelah kejadian tadi siang....akuuuu...aku takut kecewa lagi kak,  dia lebih segalanya dari aku, tinggi,  cantik, berkelas dan yang pasti kalian pernah punya hubungan istimewa, aku takut, saat aku terlanjur cinta sama kakak, lalu kakak ninggalin aku," tangis Kiara semakin jadi. Pandu mengatupkan gerahamnya. Ia bingung dengan cara apa menyakinkan Kiara. "Kiaaa, kiara,  tadi siang kamu begitu pandai menghibur kakak, tapi ternyata kamu tidak cukup pandai menenangkan hatimu sendiri," Pandu melepas pelukan Kiara dan menatap wajah penuh air mata yang menunduk dihadapannya, diangkatnya dagu Kiara dan Pandu pandangi wajah sedih dihadapannya. "Kakak tidak tahu cara meyakinkanmu, yang harus kamu tahu Kia, yang membedakanmu dengan dia adalah kamu tahu cara  agar orang menghargaimu yaitu dengan cara kamu menghargai apa yang kamu punya, tidak semua orang seberuntung kakak bisa menyentuhmu seperti ini," Pandu tersenyum dan Kiara menjauh dari Pandu. "Ih kakak,  bikin sebel,  masih ngajakin gurau, nggak lucu," Kia membelakangi Pandu, Pandu menggeser duduknya mendekati Kiara. "Kok ngambek sih, kakak salah apa sama Kia, kalo kakak salah,  kakak minta maaf, Kiii... Kiaaa," Pandu memegang bahu Kia dan Kia berbalik. "Bener kakak sudah nggak cinta sama kak Evelyn lagi,  tapi Kia takut,  dia cantik banget,  takut kakak cinta sama dia lagi," terdengar tawa Pandu lirih dan Kia yang mengerjab-ngerjabkan matanya. "Kamu cemburu?" tanya Pandu dan wajah Kia memerah menahan malu. "Ya ampun kaaaak,  nggak pada tempatnya lah aku cemburu, udah ah kita masuk," Kiara berdiri dan lengan Kia dipegang Pandu. "Kamu jangan marah lagi ya Ki,  nggak usah mikir hal yang nggak penting, kakaaak..kakak sayang sama Kia,  jangan sakit karena masalah ini," Pandu akhirnya berdiri dan mencium rambut Kiara. "Kakak sayang sama Kia kan sejak dulu, sejak Kia SD... ," sahut Kia menatap Pandu,  dan keduanya tertawa pelan. Diam-diam mama dan papa Kiara menatap keduanya dari jauh dan menggelengkan kepalanya. "Hmmm kayak pacarannya anak-anak aja,  pake acara ngambek-ngambek segala anakmu," kata mama Kia. "Emang mereka tengkar masalah apaaa ya ma, kok kiya sampe nangis?" tanya papa Kia penasaran. "Nggak usah ikutan mikir,  biar ntar aku yang nanya," ujar mama Kiara. *** "Kok sampe malem sayang,  ngapain aja di rumah Kiara?" tanya mama Pandu. "Kiara ma,  diaaa, dia kayak kepikiran, tadi siang aku dan Kia bertemu wanita itu,  mengapa ia bisa pindah ke Indonesia, dan aku benar-benar marah,  dia meluk aku,  aku dorong dia ma,  aku peluk Kia dan segera ke mobil," Pandu terdengar bernapas berat dan mama Pandu terbelalak. "Ngapain wanita itu datang lagi,  setelah bertahun-tahun kamu dibuat terpuruk,  mama sampe putus asa sayang lihat kamu,  eh disaat kamu sudah mulai bangkit, dia mau mengacaukan semuanya, mama sempat terkecoh dengan wajah cantiknya,  kalau sampe ngeganggu kamu dan Kia,  mama yang akan mengatasi," ujar mama Pandu berapi-api. "Nggak ma,  nggak usah, biar Pandu yang ngatasi sendiri," ujar Pandu lelah dan melangkah ke kamarnya. *** Keesokan harinya, Pandu melangkah cepat ke ruangannya karena pagi ini ada beberapa meeting yang harus ia ikuti,  tiba-tiba Nita, staffnya mencegatnya. "Pak,  di ruangan Pak Pandu ada cewek,  dia ngotot nunggu bapak,  teman-teman udah pada ngusir,  dianya ngotot, kami semua tahu kan bapak mau nikah,  jadi wanita itu pasti mau gangguin bapak," Nita memandang Pandu dengan cemas. "Ok,  makasih Nita,  jika suatu saat dia ke sini lagi dan ngotot, panggil satpam ngerti, biar yang sekarang bapak akan mengatasinya sendiri," Pandu melangkah ke ruangannya,  dari mana dia tahu aku ada di kantor cabang ini,  pikiran Pandu kemana-mana. Pandu membuka lebar ruangannya dan memandang dingin wanita yang menghambur ke arahnya, tampak kepala-kepala bermunculan dari kubikel staff yang ada di belakangnya seolah-olah mereka menanti akan ada drama apa pagi ini. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN