Seketika Evelyn menghambur ke arah Pandu, dan sebelum Evelyn memeluknya lagi, tangan Pandu menepis tangan Evelyn dengan kasar.
"Jangan pernah menyentuh tubuhku lagi, sejak awal kita berhubungan, aku menjaga kesucian tubuhmu seperti aku menjaga tubuhku sendiri, kini semua telah selesai, cerita kita telah usai sejak aku menemukanmu bertukar keringat dengan entah siapa itu, pergilah, aku sudah menganggapmu tiada sejak hari itu, sebentar lagi aku akan menikah, aku akan meninggalkan semua kesakitanku," Pandu tersenyum sinis dan memandang wanita di depannya dengan senyum lembut namun menyakitkan, sementara air mata Evelyn semakin deras menetes.
"Dengarkan aku Pandu, dengarkan, kamu tidak memberiku kesempatan bicara, aku dijebak, aku tak menghendaki itu terjadi," suara tangis dan teriakan Evelyn semakin keras, staff Pandu membelalakkan mata dan menutup mulutnya, mereka berusaha konsentrasi pada pekerjaan, tapi suara Pandu dan Evelyn terdengar jelas ke kubikel mereka.
"Dijebak, heh, dijebak dengan erangan penuh kepuasan, berapa kali aku melihat kalian jalan berdua, aku mengingatkanmu, dan jawabanmu karena dia atasanmu, alangkah naifnya aku yang percaya begitu saja, sampai akhirnya aku menemukanmu dalam kondisi seperti itu dan aku yakin itu bukan yang pertama, pergilah, tak ada ruang di sini, di rumah, atau di hatiku," Pandu menyeret Evelyn ke luar ruangannya yang berteriak-teriak sambil menangis.
"Nita panggil Pak Rusdi, seret dia ke depan, dan jangan pernah menginjakkan kakinya di perusahaan ini, lebih-lebih di ruanganku," Pandu menutup pintu ruangannya.
Terdengar suara satpam yang membentak dan menyuruhnya ke luar.
Pandu menghempaskan badannya di kursi empuk yang kali ini terasa keras di badannya. Sekilas wajah Kiara berkelebat di matanya. Ia ambil ponsel di sakunya dan terdengar suara manja di sana, ia mengajak Kiara jalan-jalan nanti malam, meski tidak jelas ke mana, ia akan menghilangkan segala kelelahan yang menderanya tadi dan masih akan ada meeting dengan beberapa divisi.
Pintu Pandu di ketuk, muncul wajah Nita yang memberiahu bahwa meeting akan segera dimulai.
***
"Pandu, masih pakai jas lengkap jam segini?" mama Kiara memandang Pandu dari atas ke bawah.
"Iya tante, ini baru dari kantor, banyak kerjaan hari ini tante, eemmm Kianya ada?" tanya Pandu masih saja berdiri.
"Aku dataaang, maaa, Kia berangkat ya ma," Kia mencium pipi mamanya dan melangkah menjejeri Pandu menuju mobil.
"Mau ke mana ini sayang?" tanya Pandu pada Kiara, dan Kiara terlonjak kaget mendengar kata sayang yang diucapkan Pandu. Pandu tersenyum dengan pandangan tetap tertuju ke jalan.
"Saaayang?" kata Kiara perlahan.
"Emang gak boleh kakak panggil gitu?" Pandu masih saja tersenyum tanpa memandang Kiara.
"Terserah kakak dah, " sahut Kiara kemudian.
Pandu membelokkan mobilnya ke sebuah cafe yang baru soft opening.
"Cafe ini milik teman SMA ku, teman kakakmu juga, beberapa hari lalu, kami bertemu tanpa sengaja, dan dia merekomendasikan aku untuk mencicipi masakannya.
Mereka berdua berjalan menuju cafe, tangan Pandu meraih jemari Kiara, namun Kiara menariknya pelan.
"Biar Kia aja yang meluk lengan kakak, kalo langsung sentuhan, kadang Kia suka bingung, kalo lengan kakak kan ada jasnya, ada kainnya hihihi maaf jangan marah," ujar Kia saat melihat wajah Pandu yang menjadi datar lagi.
"Emang kenapa kalo nyentuh secara langsung?" Pandu masih bertanya saat kaki mereka sudah memasuki cafe yang suasananya sangat nyaman. Mereka menuju pojok dan duduk berhadapan.
"Ki kamu belum jawab pertanyaan kakak," Pandu masih menatap Kiara yang mendekatkan wajahnya ke arahnya.
"Aku jadi deg-degan kakak," ujar Kiara pelan cenderung berbisik dan menopangkan dagunya pada tangan kanannya.
Pandu baru menyadari jika wajah mungil di depannya sangat cantik, ia menahan tawa, dan waitress memberikan daftar menu pada mereka, Pandu memesan ayam panggang plus nasi dan minuman apel mojito sedang Kiara memesan tiramisu recette, telur gulung gikikara dan minuman honey strowberry lemonade.
Sembari menunggu pesanan datang Pandu kembali menggoda Kiara.
"Kok deg-degan, berarti Kia jatuh cinta dong sama kakak, yang kapan hari cemburuuuu sampe nangis, eh sekarang deg-degan?" Pandu melihat mata Kiara membulat dan mendengus kesal sambil memanyunkan bibirnya. Pandangan Pandu tertuju pada bibir Kiara dan Kiara jadi salah tingkah.
"Kakaaak jangan pandangi akuuu, aku mau pulang aja dah," Kiara menunduk mempermainkan bajunya.
"Kamu cantik Kiara," ujar Pandu pelan. Dan kembali Kiara mencebikkan bibirnya karena tiba-tiba ia merasa wajahnya menghangat.
"Berhenti seperti itu sama kakak, jangan salahkan kakak kalo nyium kamu," Pandu pura-pura mengancam dan Kiara menutup bibirnya dengan satu tangannya dan Pandu tertawa.
Pesanan mereka datang dan Pandu kaget saat semuanya sudah tertata rapi di meja.
"Kamu, kamu kok pesannya kayak gini, nggak makan malam namanya, ngemil itu sayang," ujar Pandu mulai menikmati ayam panggangganya.
Pandu menyodorkan sendok yang telah berisi nasi dan potongan ayam panggang tapi Kiara menolak, ia lebih memilih makan telur gulung gikikara.
"Makanan anak kecil," ujar Pandu menahan tawa karena Kiara terlihat jengkel.
"Aku tuh sudah makan di rumah kakaaaak, aku kasian mama yang capek masak, makanya ya udah sekarang aku makan ini aja," ujar Kiara menghabiskan telur gulungnya.
"Kenapa emang kalau makan lagi, kan biasanya kamu makannya banyak?" Pandu mengakhiri suapannya dan meraih apel mojitonya.
"Nggak, takut gendut, ntar kak Pandu balik lagi sama kak Evelyn," ujar Kiara tanpa sadar dan ia kaget saat Pandu tiba-tiba menggenggam tangannya erat, Kiara menatap wajah Pandu ketakutan karena wajah Pandu yang tiba-tiba dingin.
Pandu memajukan wajahnya, ditatapnya wajah ketakutan dihadapannya.
"Jangan pernah nyebut namanya lagi di depan kakak, mengerti, jangan pernah bandingkan kamu dengannya, dia tidak ada apa-apanya dibandingkan kamu, jika cinta hanya terpaku pada urusan wajah maka saat menua cinta itu juga akan hilang, aku menyukai kamu Kiara dan kayaknya akuuu... aku nggak akan sulit untuk jatuh cinta sama kamu," suara Pandu semakin lirih dan ia semakin gemas karena wajah Kiara yang memerah dan mengerjabkan matanya serta wajah takutnya yang kebingungan.
"Kakak marah?" tanya Kiara takut. Pandu menggeleng.
"Kakak nggak suka, kamu membandingakan diri kamu dengan orang yang .... ah sudahlah, bisakah kamu nggak nyebut nama dia lagi?" pinta Pandu dengan wajah lelah. Kiara mengangguk dan perlahan ia nikmati tiramisu recettenya.
Kiara menyuapi Pandu dan Pandu menurut, menikmati setiap suapan tiramisu yang diberikan oleh Kiara, mereka menikmatinya berdua sampai habis. Terakhir Kiara habiskan honey strowbeery lemonadenya yang tinggal separuh.
"Duuuh kekenyangan deh kayaknya Kia, kak, ngeri ngebayangin tambah melebar," ujar Kiara memperhatikan perutnya.
"Hei anak kecil, kamu tuh, mau makan seberapa banyak, tuh perut akan tetap tipis, lihat si Dani kakak kamu, mau makan sama piringnya juga ya tetep kurus ia kan, kalian itu sama," ujar Pandu menahan tawa saat Kiara terlihat membulatkan matanya.
"Aaah udah, pulang yuk, kakak ngantuk," Pandu menarik tangan Kiara, kedua bangkit dan mereka menuju kasir.
***
"Mama sudah balik ke Jepang Kia, jadi sepi lagi rumah, sering main ke rumah ya Ki," ujar Pandu pelan saat mobil sudah melaju di jalan.
"Nggak, takut Kia," jawab Kiara sambil menatap wajah Pandu yang serius menatap jalanan.
"Kakak nggak akan ngapa-ngapain kamu, kenapa takut, kan udah dua kali ke rumah, kita waktu itu cuman berdua dan nggak terjadi apa-apa," ujar Pandu.
"Itu kan kita belum sedekat ini, kalau sekarang Kia nggak berani hanya berdua sama kakak," jawab Kiara sambil menggeleng.
"Emang kenapa Kia takut?" Pandu jadi merasa seperti p*****l yang ditakuti anak kecil.
"Takut dicium kakak," ujar Kiara lirih dan menahan malu, seketika terdengar tawa Pandu memenuhi mobil.
"Dengerin Kia, kakak nggak akan pernah ngapa-ngapain Kia, tanpa seijin Kiara, ngerti sayaaang?" ujar Pandu masih menyisakan tawanya, ia tidak mengira berhubungan serius dengan Kiara akan membuat hatinya selalu gembira.
***
Pagi hari Kiara tampak tergesa menghabiskan sarapannya dan bergegas pamit pada papa mamanya hendak ke kampus.
"Kok keburu Kia?" tanya mama.
"Iya ma, dosennya minta jam 7 Kiara harus sudah diruangannya, biasalah maaa bimbingan skripsi sekalian uji nyali ini ma, siap-siap deh dimarahin deh," Kiara berlari menuju motornya dan menghilang dari pandangan mamanya yang mengantar sampai pagar.
***
Kiara bernapas lega, setelah keluar dari ruangan Prof. Dr. Gatot Susilo. Meski sempat dimarahi karena salah ketik, Kia merasa bersyukur secara keseluruhan bab yang ia ajukan sudah ok, tinggal lanjut pada bab berikutnya.
Kiara melangkah menuju motornya diparkiran saat ia merasa ada yang menyentuh bahunya dari belakang, ia menoleh dan melonjak kaget. Kak Evelyn, mau apa dia.
****