#16

1363 Kata
Perlahan Kiara mendorong badan Pandu, terasa sakit dadanya karena d**a keras Pandu langsung menekan dadanya. Ditangkupnya kedua pipi Pandu dengan tangan kecilnya. Diusapnya air mata yang masih mengalir di pipi Pandu. "Mas sampe segitunya nangis, nggak papa, Kia nggak papa, nanti juga sembuh," suara lirih Kiara membuat Pandu kembali menjatuhkan wajahnya di ceruk leher Kiara. "Mandi lah dulu mas, sebentar lagi adzan subuh, hmmm mandi ya?" Kiara mengelus rambut Pandu, perlahan Pandu bangun, ia kembali berkaca-kaca saat melihat warna merah bahkan kebiruan di d**a, lengan dan paha Kiara. Diciumnya tangan Kiara berkali-kali. "Maafkan aku Kiara, maafkan mas, aku seperti memperkosamu semalam, maafkan aku," Pandu kembali terisak. Kiara duduk di samping Pandu, membelai pipinya perlahan dan tersenyum. "Kalo Kia diperkosa pasti yang kerasa cuman sakitnya aja," ujar Kiara menahan malu, Pandu mulai tersenyum dan mengelus bahu Kiara namun tiba-tiba Pandu menggendong Kiara ke kamar mandi. "Mas...mas...aku mau mandi sendiri, turunkan aku, turunkan," teriakan Kiara seolah tak ada gunanya. "Ijinkan aku memandikanmu, hanya memandikanmu, aku merasa bersalah, biarlah aku menebus kesalahanku dengan memandikanmu," ujar Pandu setelah mendudukkan Kiara di bathup. Mulai mengusap badan Kiara dengan sabun dan kembali berkaca-kaca tiap melihat warna merah bahkan kebiruan di kulit putih Kiara. *** Setelah sholat subuh Kiara ke dapur menyiapkan apa yang Pandu inginkan tadi. Setengah jam kemudian siap di meja makan roti bakar pisang dengan toping keju.   "Mas Panduuu, sudah siap nih, nggak kepagian ta sarapan sekarang?" tanya Kiara saat melihat suaminya melangkah menuju ruang makan,menggunakan kaos dan celana berbahan katun. "Aku lapar banget sayang, mana chocolattenya?" tanya Pandu. Kiara melangkah ke dapur dan membawa yang Pandu inginkan.   Sambil menikmati sarapannya, Pandu sesekali menatap wajah istrinya yang terlihat sedikit lelah. "Ngantuk sayang?" tanya Pandu, Kiara mengangguk sambil tersenyum. "Ntar lagi setelah mas Pandu berangkat kerja, aku mau tidur lagi, besok aja ke kampus ngambil toga," ujar Kiara. "Kan semalam udah tidur, malah kamu nyenyak banget," ujar Pandu memasukkan suapan terakhir roti bakarnya. "Yeee mas tidur duluan tadi malam, aku masih bolak balik dulu, setelah itu baru aku mulai ngantuk, nggak tahu deh jam berapa aku mulai tidur," ujar Kiara memberengut. Terdengar tawa Pandu. "Ya mas capek banget langsung tidur emang, bangun udah jam berapa tuh hampir subuh dah," Pandu memberikan piring kotor pada Kiara dan Kiara meletakkannya di dapur, saat kembali dari dapur dilihatnya istrinya yang menggunakan hotpans dan kaos tanpa lengan, sebenarnya Pandu suka Kiara menggunakan baju seperti itu ia bisa menikmati tubuh mungil istrinya, hanya karena bekas-bekas aktivitas semalam jadi terlihat semua, di lengan, d**a dan paha Kiara. Saat akan duduk lagi, tiba-tiba Pandu menarik Kiara duduk dipangkuannya. "Pake baju yang agak tertutup ya sayang, aku nggak enak sama mama kamu, takut tiba-tiba ke sini, nih, ini lagi, kelihatan semua," Pandu menunjuk beberapa tempat di badan Kiara yang terdapat beberapa tanda yang ia buat semalam. Kiara mengangguk dan mencubit pipi Pandu. "Makanya nggak usah kayak gitu lagi," ujar Kiara menahan malu, ia merasa pasti wajahnya sudah memerah. "Sakit?" tanya Pandu sambil mengelus tanda kebiruan di paha Kiara. "Yah, pas tadi malam cuman geli-geli gimana gitu, tapi sekarang kalo dipijit ya ngilu," jawab Kiara pelan. Pandu tersenyum. "Masih mau kalo mas buat tanda gini lagi?" tanya Pandu menggoda Kiara. Kiara menggangguk pelan sambil menunduk dan Pandu menahan tawa sambil mengelus bahu Kiara perlahan. "Aaah bangun dulu sayang, aku mau ganti baju, mau berangkat ke kantor, kalau kayak gini terus bisa-bisa terulang lagi kejadian semalam, mas nggak jadi ngantor," Pandu dan Kiara akhirnya tertawa bersama. *** Pandu mencium kening Kiara, mengelus rambut Kiara yang mulai mengering. "Mas berangkat dulu, jangan lupa ganti baju ya, nggak usah ngantar ke depan, biar mas yang nutup pagar depan, bentar lagi bu Yani datang, nanti kasi tahu kamu pengen masakan apa, biar bu Yani yang nyiapkan semuanya," Kiara mencium punggung tangan Pandu dan melambaikan tangannya saat melihat Pandu mulai melajukan mobilnya. *** Kiara belum juga berganti baju karena masih mencuci piring dan gelas kotor saat terdengar suara bel berbunyi di pintu depan, Kiara bingung, ia belum ganti baju, siapaaa ya kalo mama atau bu Yani pasti langsung masuk, biarlah aku buka pintu dulu kalo emang tamu ntar tak suru duduk aja... Kiara membuka pintu rumahnya dan terkejut mendapati wajah Evelyn yang setengah menunduk. "Maaf mengganggu," ucapanya pelan. "Silakan duduk, aku mau ganti baju," ujar Kiara. "Nggak usah aku akan sebentar, nggak akan sampe lima menit," ujar Evelyn. Mereka duduk berhadapan di ruang tamu besar itu. Evelyn tiba-tiba menangis sambil menutup mulutnya dan memberikan kotak kecil berwarna gold. "Ini kado dariku, selamat akhirnya kalian menikah," suara Evelyn terdengar tersendat. "Aku, aku tak akan mengganggu kalian lagi, aku pamit Kiara," ujar Evelyn melangkahkan kakinya ke pintu, Kiara mengikuti dari belakang. "Terima kasih kadonya kak," sahut Kiara pelan saat Evelyn berada di luar pintu. Evelyn berbalik menatap badan Kiara dari atas ke bawah dan ia menangis lagi. "Lima tahun kami bersama, diaaa diaaa ah sudahlah, aku tidak pernah berpikir dia mampu memberikan tanda cintanya pada tubuhmu, sedangkan padaku, dia hampir tidak pernah...sudahlah, aku pulang," Evelyn setengah berlari menuju mobilnya dan segera melajukannya. Bersamaan dengan bu Yani yang baru datang. "Siapa itu tadi non, kok kayak nangis?" tanya bu Yani. "Mantan pacarnya mas Pandu," jawab Kiara pelan dan keduanya masuk menuju dapur, setelah Kiara memutar kunci pada pintu ruang tamu. "Oooo jadi itu perempuan yang diceritakan bu Meriska, cantik sih, nggak nyangka tapi ya non," ujar bu Yani, sambil membuka kulkas dan mulai memilih apa yang akan dimasak hari ini. Kiara hanya mengangguk. Melangkah ke kamarnya, menatap kotak kecil berwarna gold pemberian Evelyn dan meletakkan di meja riasnya. Lalu ia mengingat lagi kata-kata Evelyn sambil melihat tanda yang Pandu tinggalkan di badannya, mendesah pelan dan menggeleng. Aku tak mengerti jalan pikiran orang dewasa, kayak gini dibilang tanda cinta hhheeehhh yang ada malah tanda ngilu sih iya, cinta kok ada tandanya. Kiara segera mengganti bajunya dengan celana pendek selutut dan kaos lengan pendek. Setelah itu ke luar kamarnya dan mulai bebenah rumah. "Duh nooon nggak usah, biar ibuk yang bersihkan," teriak bu Yani dari dapur. "Alaaah biar cepet selesai ibu, Kia juga nggak ada kerjaan, bosen juga," ujar Kiara. *** Lepas isyak Kiara baru mendengar suara mobil Pandu memasuki garasi dan cepat Kiara membuka pintu rumahnya. Pandu tersenyum melihat istrinya terlihat cantik dengan dress selutut berwarna beige. "Mau kemana nyonya Pandu? " goda Pandu pada Kiara. "Menyambut suami yang baru datang dari kantor Pak," jawab Kiara sambil berjinjit dan mencium bibir Pandu sekilas. Pandu menutup pintu lalu berdua mereka masuk, Pandu menuju kamarnya sedang Kiara segera menyiapkan makan malam. Setelah mandi Pandu terlihat segar dan berdua mereka menikmati makan malam. "Sayang bulan depan aku diharap segera pindah ke Osaka, jadi lebih cepat sebulan deh dari rencana awal, nggak papa ya?" tanya Pandu. Kiara mengangguk. "Nggak papa, aku akan mulai bersiap-siap apa saja yang akan kita bawa," jawab Kiara. "Ntar kalau di Osaka ke mana-mana kita naik kereta sayang, nggak papa ya?" tanya Pandu lagi. "Nggak papa, kan yang kapan hari sudah pernah sama mama Meri waktu di Tokyo, keretanya bersih, nyaman," ujar Kiara. "Di kota besar yang ada di Jepang itu, emang kereta jadi alat trasportasi utama, jarang ada yang bawa mobil kecuali orang yang kaya banget, yang tajir, karena biaya parkirnya aja kalo dirupiahkan satu jamnya sekitar 50 ribuan sayang," ujar Pandu. Kiara membelalakkan matanya. "Makanya kami yang kondisi ekonomi biasa-biasa aja, para pekerja maksudnya, rata-rata yaaaa mencari apartemen yang dekat dengan stasiun kereta, lagian di sana keretanya nggak berisik," terdengar tawa Pandu. Dan Kiara mengangguk-angguk. *** Pandu terlihat mulai mengantuk setelah tadi ia agak lama berkutat di depan laptopnya, dan saat menoleh, Kiara sudah meringkuk di kursi panjang dekat meja kerjanya. Pandu tersenyum melihat Kiara yang terlihat nyenyak. Digendongnya Kiara ke kamar dan merebahkannya di kasur. Kiara menggeliat dan membuka matanya. "Aduh aku ketiduran mas ya?" tanya Kiara bangun dan mengganti bajunya dengan tanktop dan hotpans. "Yaaah kadung di gendong, ternyata malah bangun lagi," gerdengar tawa Pandu berderai. Tak lama Kiara merebahkan badannya lagi dan memeluk guling. "Eh, kok meluk guling, ayo peluk suamimu," Pandu menarik guling Kiara. Saat akan merebahkan badannya, Pandu tertarik pada kotak kecil berwarna gold. "Itu apa sayang?" tanya Pandu. "Dari kak Evelyn, tadi ke sini ngasi itu," kata Kiara pelan. Wajah Pandu menegang dan gerahamnya mengatup dengan kuat. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN