Kiara bangun dan memeluk badan Pandu, merebahkan kepalanya ke d**a Pandu.
"Kalau mas nggak mau, akan aku buang, jangan kebawa emosi, tadi kak Evelyn bilang selamat atas pernikahan kita, ia nangis dan bilang nggak akan gangguin kita lagi," ujar Kiara, Pandu mengusap punggung Kiara.
"Dan kamu percaya, ia selalu menguntit kita, ke kantor sudah aku usir, eh malah ke sini, kok bisa tahu, untung setelah ini kita pindah ke Osaka, kalau dia masih ngikut, berarti dia memang sengaja mau misahin kita," ujar Pandu menahan marah.
"Nggak akan lagi, percayalah, tadi kan aku nggak sempat ganti baju, jadi diaaa, kak Evelyn liat ini nih, nih mas yang di lengan dan paha, trus malah makin jadi kak Evelyn nangis, eeemm katanya sih lima tahun kakak nggak pernah nyentuh dia eh kok malah..nggak tahu dah udah gitu kak Evelyn pulang, lari ke mobilnya," Kiara menyusupkan kepalana ke d**a Pandu. Akhirnya Pandu yang sejak tadi menahan marah jadi mulai tersenyum melihat tingkah Kiara yang malu-malu.
Pandu melepas pelukannya dan menatap wajah Kiara yang masih memerah.
"Kamu selalu bisa meredakan emosiku," Pandu mencium kening Kiara.
"Tidur mas ya, bener-bener tidur," ujar Kiara merebahkan badannya dan memeluk guling, Pandu menahan gemas, menarik guling Kiara dan memeluknya dengan erat.
***
Keberangkatan Pandu dan Kiara tinggal seminggu lagi. Mama Kiara jadi sering menemani Kiara di rumahnya.
"Kiaa foto wisuda kamu jangan dibawa ya sayang, biar mama liat kalo kangen sama Kia," tiba-tiba mama Kiara terlihat berkaca-kaca.
"Alah mama, bisa video callan kalo kangen, lagian sudah Kia buatin, Kia sudah nyetak lagi dan dikasi pigura bentar Kia ambil ya ma," Kiara menuju ruang kerja Pandu dan memberi dua pigura pada mamanya yang berisi foto Kiara saat wisuda. Dalam foto itu ada saat Kiara sendirian dan ada yang bersama Pandu, mama dan papanya.
"Alhamdulillah ntar mama pasang di ruang keluarga," mama memandangi foto dalam pigura itu.
***
Malam hari sebelum keesokan harinya akan berangkat, Pandu masih melihat kotak berwarna gold pemberian dari Evelyn, diambilnya kotak itu dan ia melangkah ke luar.
"Mau ke mana mas?" tanya Kiara yang memasukkan kosmetiknya ke beautycase.
"Mau buang ini, sekalian kita nggak pernah tau apa isinya," Pandu membuka pintu dan melemparnya ke tempat sampah di depan rumahnya.
Saat masuk ke kamarnya ia melihat Kiara yang duduk di kasur menatapnya tersenyum.
"Sudah dibuang kan mas, nggak usah diingat lagi, nggak usah mangkel lagi, kalau terus lihat ke belakang yang ada cuman maunya marah aja, kita tidur ya, besok pagi-pagi kita harus berangkat," Kiara merebahkan badannya diikuti oleh Pandu yang memeluk Kiara dari belakang.
"Kamu kadang kalau bicara kayak orang yang lebih tua dari aku, tapi emang cuma kamu yang bisa nenangkan saat mas marah," Pandu mencium rambut Kiara yang selalu harum, sementara tangan Pandu menyusup ke dalam tanktop Kiara dan merasakan tangannya yang langsung menyentuh d**a Kiara. Sesaat Pandu diam dan terlihat Kiara yang menoleh balik menatapnya.
"Kamu selalu nggak pake," ujar Pandu lirih, terdengar tawa pelan Kiara.
"Kan mau tidur, mas... pengen?" tanya Kiara malu-malu dan Pandu mengangguk.
"Perpisahan sementara dengan kasur kita sayang," Pandu mulai menciumi d**a Kiara saat ia sudah meloloskan tanktop Kiara.
***
"Tidurlah, ini penerbangan yang jauh, kamu pasti lelah," ujar Pandu mengusap lengan Kiara.
"Aku masih ingat mama mas, tadi nangis lama pas ngantar kita," ujar Kiara terlihat sedih.
"Nanti segera telpon begitu kita sampai," ujar Pandu mulai memejamkan matanya.
"Ih mas yang ngantuk ternyata, salah sendiri nyuri-nyuri lagi pas enak-enak tidur, Kia dikerjain lagi," Kiara mencubit lengan Pandu. Terdengar tawa Pandu lirih ditelinganya.
"Nggak akan pernah selesai kalau kamunya belum pake baju," suara Pandu terdengar pelan.
"Sssttt, mas ini," ujar Kiara mencubit lengan Pandu lagi.
***
Sore mereka sampai di rumah orang tua Pandu.
"Aaaah kalian ini yaaa kok nggak bilang mau datang jam berapa," ujar mama Pandu segera memeluk dan mencium Kiara.
"Pagi-pagi pesawat sudah takeoff kok ma, kami bener-benar nyenyak, lebih banyak tidurnya dari pada meleknya," ujar Pandu meletakkan dua travel bag besar berisi sebagian besar barang Kiara.
"Leh kok bisa?" tanya mama, dan Kiara menatap Pandu sambil mengedipkan matanya. Dan Pandu semakin menggoda Kiara.
"Yah biasa ma, namanya pengantin baru," ujar Pandu tertawa, dan duduk di samping Kiara, menggenggam tangannya, Kiara menarik perlahan.
"Halah paling yang kamu yang nyosor aja," ujar mama segera menyiapkan makan.
"Makan ya?" ajak mama. Dan Pandu segera mengangguk.
***
Mama mengamati Pandu yang makan dengan lahap, sementara Kiara hanya menikmati puding karamel.
"Kamu lapar banget ta Ndu?" tanya mama. Pandu mengangguk.
"Tadi di pesawat padahal dia sudah makan loh ma," ujar Kiara. Pandu terkekeh pelan.
"Energi terkuras ma, jadinya ngecharge dulu, biar ntar...," belum selesai berbicara Kiara sudah mencubit paha Pandu dan Pandu tertawa.
"Weeeeh sip lanjut Nduuu, biar mama cepet punya cucu," ujar mama Pandu juga ikut tertawa.
"Kalian lama kan di sini?" tanya mama Pandu antusias.
"Besok aku sama Kia sudah ke Osaka ma, naik kereta peluru nozomi shinkansen, biar nggak lama ma, kasian Kia kalo harus 6 jam naik kereta biasa, naik nozomi kan cuma 2.5 jam," ujar Pandu.
"Wah mahal tapi Ndu, yang medium aja, hakari shinkansen, rada murahan dikit tiketnya, tiga jaman lah ke Osaka," sahut mama Pandu.
"Nggak ma, kasihan Kia, biar dia nyaman," ujar Pandu sambil menikmati suapan terakhirnya. Kiara tersenyum pada Pandu.
Tak lama papa datang, Kiara dan Pandu segera mencium punggung tangan papa.
"Maaf Ndu, Kia, papa mandi dulu ya," ujat papa Pandu melangkah ke dalam kamar.
"Tumben nggak malem pa? " tanya Pandu.
"Yaaah lagi nggak banyak kerjaan berarti Ndu, gampangkan jawabannya," ujar papa sambil terkekeh,
***
Setelah makan malam, Pandu, Kiara dan mama papa Pandu masih duduk di meja makan.
"Besok Kiara langsung Pandu bawa ke Osaka pa, di sana kan ada temenku, Deden yang juga baru pindah, dia bawa istrinya juga, kebetulan ya sama kayak kami, baru nikah juga, paling nggak Kiara ada temennya di sana," ujar Pandu.
"Apa nggak lebih baik di sini dulu Ndu, biar Kiara menyesuaikan diri dulu?" tanya papa.
"Nggak pa, biar saya ikut mas Pandu kasihan kalau mas Pandu harus bolak balik ke sini, jauh ternyata Osaka ke Tokyo," ujar Kiara, dan Pandu tersenyum memandang Kiara.
"Hmmm baiklah, baik-baik kalian di sana, saling jaga, sabar kalau ada masalah apapun, segera bicarakan agar nggak berlarut-larut," ujar papa Pandu memberi nasehat. Keduanya mengangguk.
"Ndu, di sana pasti kamu belum punya apa-apa, bawa beberapa peralatan makan dan masak punya mama, mama siapkan dulu ya?" ujar mama beranjak ke dapur dan Kiara mengikuti mama mertuanya.
***
Pagi-pagi papa dan mama Pandu mengantar Kiara dan Pandu ke stasiun, menunggu kereta sesuai jadwal.
Pandu segera menelpon Deden teman sekantornya yang nanti akan jadi tetangga di apartemen yang akan mereka tempati. Pandu berkabar bahwa jam tujuh tepat ia akan berangkat.
***
Deden dan istrinya tampak menyambut Pandu dan Kiara di stasiun. Deden mengenalkan istrinya pada Pandu dan Kiara.
Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di apartemen. Deden mengantarkan sampai depan flat mereka dan memberi access card.
"Istirahatlah, nanti kalau ada apa-apa, kami siap bantu," kata Deden dan istrinya pamit kembali ke flat mereka.
Pandu dan Kiara sedang menarik travel bag mendekati pintu saat terdengar suara ragu memanggil.
"Kii..Kiaraaa? "....
Kiara dan Pandu menoleh dan seketika badannya Kiara menegang...
"Loh Pak Pandu?" sapa orang itu lagi..
****