"Loh Pak Erik di sini juga?" tanya Pandu terlihat senang dan mereka berpelukan dengan erat, Erik menatap Kiara yang menunduk dan pura-pura sibuk dengan travel bagnya.
Pandu melepaskan pelukannya dan menoleh pada istrinya.
"Sepertinya Pak Erik kenal istri saya?" tanya Pandu.
"Yaaaa sangat kenal pak, karena dia sahabat adik saya saat sma," ujar Erik tersenyum pada Pandu dan melihat Kiara yang berusaha tersenyum padanya. Mengapa debar ini masih ada, pikiran Erik berjalan menjelajah ke masa lalu.
"Oooooh begitu, maaf Pak Erik, kami masuk dulu ya, kapan-kapan kita ngobrol bareng, senang rasanya di apartemen ini ada yang berasal dari negara yang sama, mari Pak," ujar Pandu dan Erik masuk ke dalam flatnya yang ternyata pas berhadapan flat Pandu.
***
Erik menahan napas setelah duduk di sofa dan memejamkan matanya.
Kembali teringat peristiwa yang membuat Kiara menjauhinya, ada penyesalan dalam diri Erik, ia melihat wajah Kiara yang masih menyimpan duka saat melihatnya, meski kejadian itu sudah bertahun-tahun yang lalu.
Erik kembali memejamkan matanya saat kejadian itu seolah berputar. Merapatkan gerahamnya dan menghembuskan napas dengan kuat.
***
Kiara adalah sahabat Adara, adik Erik, mereka sering terlihat belajar bersama, entah mengapa sejak awal melihat Kiara, Erik yang usianya jauh lebih tua, merasa tertarik, ada hal aneh yang Erik rasakan, semua teman Adara berlomba-lomba menarik perhatiannya, sementara Kiara saat pertama bersalaman, baru menyentuh saja, langsung ditarik tangannya dan selalu menjauh dari Erik, dan terlihat malu-malu.
Jika Erik menemani saat belajar bersama Kiara dan Adara, maka Kiara akan semakin tidak bersuara. Meski Erik tahu bahwa diam-diam Kiara sering mencuri pandang dan ia pura-pura tidak tahu.
Hingga suatu saat, Kiara datang lagi untuk belajar bersama adiknya, dan kebetulan Adara tidak ada, Erik meminta Kiara duduk, dengan wajah bingung, Kiara duduk di depan Erik, Erik pindah ke samping Kiara. Saat itu Erik melihat Kiara yang memandangnya dengan wajah memerah karena sejak awal Erik terus memandang Kiara sambil tersenyum.
"Kakak suka sama Kiara, Kiara mau jadi pacar kakak?" tanya Erik dan Kiara melongo.
"Kia nggak tahu kak, Kia belum pernah pacaran, masih kelas 10 SMA, nggak boleh kata mama," jawab Kiara dengan wajah polos.
"Lagian Kia juga nggak tahu suka apa nggak sama kakak?" jawab Kiara lagi dengan pelan.
"Kakak tahu kok kalau Kiara diam-diam sering liat kakak, apa itu nggak cukup nunjukin kalau Kiara suka sama kakak?" tanya Erik memegang tangan Kiara dan Kiara segera menariknya, Erik tertawa pelan.
"Kita coba jalan ya Kia, mau?" tanya Erik dan tak disangka Kiara mengangguk.
***
Sebulan sudah Erik menjalani hubungan aneh dengan Kiara, aneh untuk katagori Erik yang terbiasa berngonta ganti perempuan sesuka yang dia mau. Erik mengikuti alur hubungan yang Kiara mau, mereka hanya jalan, makan, dan Erik memahami jika Kiara sulit disentuh. Jarak usia mereka yang hampir dua belas tahun membuat Erik bisa bersabar menghadapi Kiara.
Namun yang belum bisa Erik hilangkan, ia masih saja membawa wanita-wanita tidak jelas ke apartemennya.
Hingga suatu saat Kiara ia ajak ke apartemennya, hanya makan dan ngobrol di sana, mungkin karena terbawa suasana, Erik sempat ingin mencium Kiara, namun Kiara menolak.
"Kak, kita kan pacaran kan, bukan untuk yang lain-lain?" tanya Kiara takut.
"Nggak ada yang salah kan Ki, kalo kakak cuman pengen nyium kamu?" tanya Erik pelan, merasakan Kiara yang berusaha melepas pelukannya dan mendorong dadanya pelan.
Kiara takut melihat kilatan aneh di mata Erik dan napasnya yang terdengar menderu.
"Kia takut, efek dari berciuman itu jadi ke yang lain-lain," ujar Kiara pelan. Erik melepas pelukannya dan menyandarkan kepalanya ke dinding, memejamkan mata dan menormalkan napasnya yang menderu. Erik menoleh pada Kiara dan tersenyum.
"Kakak akan menunggumu, kelak, untuk jadi istri kakak, mau ya Kiara?" dan Erik menggenggam tangan Kiara, Kiara mengangguk, tersenyum dan menarik tangannya dari genggaman Erik.
Sesaat Kiara kaget dan baru teringat jika ia punya janji dengan mamanya akan ke mall membeli keperluan acara seserahan tantenya.
"Waduh kak, Kia pulang dulu ya, Kia lupa kalau punya janji sama mama, nggak usah diantar, Kia langsung ke mall nemuin mama di sana," Kiara pamit dan Erik mengangguk menatap punggung Kiara mulai menjauh. Kiara sempat menoleh saat Erik memanggilnya lagi.
"Apa kak?" tanya Kiara.
"Tahu kan password apartemen kakak, kakak ubah ke tanggal lahirmu," Erik menatap Kiara dan Kiara tersenyum malu dengan wajah kemerahan, lalu menghilang di balik pintu.
Sementara Erik mengerang perlahan saat disadari pangkal pahanya yang terasa menegang, Erik sering bingung menghadapi dirinya yang selalu begitu tiap dekat dengan Kiara, usia Kiara yang jauh di bawahnya membuatnya heran mengapa ia bisa begini.
Dengan cepat Erik menelpon seseorang sambil memejamkan matanya.
"Bela, bisa cepat ke apartemenku?"
***
Kiara melangkah cepat ke arah apartemen Erik saat disadari ponselnya tertinggal di sana. Perlahan Kiara memencet passwordnya dan membuka pintu apartemen Erik, Kiara melangkah ke dalam dan ia mulai mendengar suara yang membuat jantungnya berdetak cepat, desahan dan erangan perempuan serta suara Erik yang berkali-kali memanggil namanya diantara desahannya.
Kiara hanya mampu terbelalak saat melihat hal yang sebenarnya tidak pantas dilihat oleh anak seusianya, matanya mengabur dan ia hanya mampu bersuara pelan kak, melangkah cepat menuju pintu, meski sempat ia dengar teriakan Erik berkali-kali, tapi Kiara yakin Erik tidak akan mengejarnya dengan kondisi seperti itu.
Kiara hanya mampu berlari menuju taxi yang ia tumpangi dan menyuruh sopir segera melajukan mobil dengan cepat entah ke mana.
***
Sebulan lebih Kiara tidak bertemu dengan Erik sejak kejadian itu, Adara berkali-kali menyuruhnya ke rumahnya, tapi Kiara selalu berdalih lebih baik Adara saja yang ke rumahnya karena kondisi Kiara yang kurang sehat atau kadang berasalan malas ke luar rumah.
Adara tahu semua kejadian yang menimpa sahabatnya, setelah Erik, abangnya menceritakan semuanya pada Adara, Adara tidak kaget, karena baik Erik maupun Vino, abang keduanya bisa dengan santai membawa perempuan mana saja ke apartemen mereka, tapi saat mengetahui sahabatnya dilukai oleh abang pertamanya ia sempat marah bahkan seminggu lebih tidak berbicara pada abangnya itu.
Adara tidak tau harus dengan cara apa menghibur Kiara, Adara sering melihat Kiara melamun bahkan menangis di kelas. Pernah suatu saat Adara mendekati Kiara dan melihat ada sisa air mata di sudut mata Kiara.
"Maafin abangku Kia, dia masih cinta sama kamu, dia nggak mau putus Kia, mengapa dia melakukan itu sama orang lain karena dia nggak ingin ngerusak kamu, selama sama kamu, abangku nggak pernah kan macam-macam sama kamu?" Adara mengelus punggung Kiara. Kiara hanya menunduk dan mengusap hidungnya perlahan.
"Sama saja Dara, karena aku nolak saat dia mau nyium aku, dia jadi melakukan lebih pada wanita lain," ujar Kiara dengam suara sengau dan menahan isaknya.
"Maaf Kia, abang-abangku biasa melakukan itu dengan wanita-wanita yang mereka inginkan, makanya aku sempat seneng waktu bang Erik mulai dekat sama kamu dan bisa menjaga kamu, nggak ngapa-ngapain kamu, aku pikir dia udah nggak gitu lagi," ujar Adara pelan. Kiara terbelalak tak percaya. Dan menggeleng, tangisnya semakin jadi.
***
Tubuh Kiara menengang saat sosok Erik menunggunya di depan sekolah saat ia akan pulang.
"Naiklah ke mobil, ada yang ingin kakak bicarakan," ujar Erik. Kiara enggan, ia memilih melangkah ke sisi yang lain, namun tangan Erik menangkap lengan Kiara dan setengah memaksa Kia masuk ke mobilnya.
***
Selama perjalanan mereka tak berbicara sepatah katapun, sampai akhirnya mobil berhenti, Erik meraih tangan Kiara, Kiara menepisnya perlahan dan terdengar isak Kiara yang semakin jadi.
"Maafkan kakak Kiara, ada beberapa hal yang tidak kamu pahami dalam dunia orang dewasa Kiara," terdengar suara Erik berusaha menjelaskan.
"Yah aku memang nggak akan pernah ngerti dunia kakak, kita memang beda, beda jauh dalam memahami sebuah hubungan, Kia nggak bisa lanjutin hubungan ini kak, maaf Kia nggak akan pernah bisa," Kiara menangis perlahan, sesakit ini Kia merasa dikhianati, cinta pertama yang perlahan tumbuh, berakhir sangat menyakitkan, Kia merasa dibuang, saat adegan itu kembali berulang di depan matanya. Kiara tak pernah mengerti segitu pentingnya bagi sebagian orang dewasa mencari kepuasan dengan cara liar dan mengerikan.
Terdengar Erik yang membuka pintu mobil, berjalan memutar dan menarik Kiara turun, mendudukkan Kiara di kursi taman dan Erik berjongkok di depan Kiara.
"Kamu tahu, kakak nggak pernah tertarik pada wanita seperti sama kamu Kiara, selama ini kakak melihat wanita sebagai pemuas nafsu saja, hanya sama kamu kakak berpikir untuk menikah, memang terdengar gila, kakak bahkan ditertawakan teman kakak, karena kakak jatuh cinta sama anak seusia kamu, kakak akui sejak kakak kuliah di luar negeri, kakak terbiasa berhubungan seperti yang kamu lihat di apartemen kakak tanpa berpikir akan ikatan dan hubungan serius, baru setelah bertemu kamu, kakak berpikir untuk menikah, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan kakak Kia, kakak berjanji tidak akan seperti itu lagi," ujar Erik menggenggam tangan Kiara, dan Kiara semakin menggeleng dengan keras, air matanya bercucuran.
"Nggak, nggak kak, aku nggak bisa, jangan paksa aku, aku sudah nggak mau ketemu kakak sejak terakhir melihat kakak, kejadian itu terus berputar di mataku, dan...dan aku jijik lihat kakak," Kiara menarik tangannya dan menutup wajahnya saat tangisnya semakin jadi.
Erik duduk di samping Kiara, memeluknya dengan erat, Kiara berusaha melepas, namun Erik semakin erat memeluknya.
"Diamlah Kia, diamlah, kalau ini memang pertemuan kita yang terakhir biarkan kakak memelukmu, setidaknya, ini pelukan perpisahan kita, tapi kakak akan tetap nunggu Kia, memastikan sampai kakak bisa melepas Kia saat Kia sudah menjadi milik orang lain," mata Erik mengabur, berusaha melepaskan cinta pertamanya di usianya yang tidak lagi muda.
****