"Istirahat dulu sayang, biar ntar aja diberesin, " ujar Pandu yang melihat Kiara yang tanpa lelah mengatur baju-baju mereka.
"Nanggung mas, tinggal dikit," ujar Kiara memasukkan baju-bajunya.
Setelah selesai Kiara mengedarkan pandangannya, ia tersenyum melihat apartemen mungil mereka.
"Mas, yang aneh dari apartemen ini kok kasurnya ada dua sih, bisa nggak bilang sama pengelolanya kalau kita minta satu aja?" tanya Kiara.
"Alaaah sayang ya biar aja, ntar kan kita mainnya, kalau nggak di sana, ya di kasur satunya," ujar Pandu, mengerling menggoda pada Kiara. Dan Kiara tersenyum menanggapi gurauan Pandu.
"Kita coba ntar malem, gimana, malam pertama di apartemen ini," Pandu masih saja menggoda Kiara. Kiara hanya mencebikkan bibirnya dan menuju dapur mungilnya, meletakkan piranti dapur pemberian mama Pandu.
***
Makan siang, terpaksa mereka makan di sekitar apartemen, lalu menuju mini market di dekat apartemen membeli bahan makanan, berikut bumbu dan keperluan lainnya.
Saat mendorong troly, tak sengaja troly Kiara menubruk badan seseorang dan saat kata maaf keluar dari mulut Kiara, barulah orang di depannya menoleh dan mereka sama-sama terkejut.
Tanpa ada kata yang terucap, Kiara memundurkan trolynya dan berbalik. Dengan pelan Erik memanggil karena jarak mereka yang tak terlalu jauh.
"Kiara, bisa kan kamu bersikap wajar?" ujar Erik pelan. Kiara mengangguk tanpa menoleh.
"Sayang kamu di sini ternyata, eh ketemu lagi sama Pak Erik, sendirian Pak?" tanya Pandu sambil tertawa.
"Mungkin lebih baik kita panggil nama sajalah, aku jadi terlihat sangat tua, padahal jarak usia kita kan cuma empat tahun, dan aku harap, kamu jangan pura-pura tidak tahu, aku belum menikah sampai saat ini," Erik dan Pandu tertawa bersama.
"Saya sungkan kalau harus panggil nama, bapak kan senior saya," ujar Pandu.
"Aalah, senior, senior apa, pokoknya aku nggak mau tahu, paggil aku Erik saja, kecuali saat forum resmi seperti di kantor besok, besok masuk ya?" tanya Erik memastikan.
"Iya Pak eh aduh kok kaku ya, iya panggil abang aja dah hahahaha, pastilah masuk," jawab Pandu memastikan.
"Kamu seusia dengan adikku Vino, jadi lebih enak kalau manggil nama saja," ujar Erik lagi.
Kemudian mereka bersama menuju kasir dan melangkah bertiga menuju apartemen.
Erik dan Pandu asik berbicara mengenai pekerjaan mereka sementara Kiara hanya memeluk lengan Pandu tanpa berbicara sepatah katapun.
***
"Mari mampir dulu, kita ni tentanggaan loh ya, sering-sering nengokin aku, maklum sendiri," Erik berusaha mengajak mampir.
"In shaa Allah, pasti kami main, ini bentar lagi masuk waktu sholat asar, kami sholat dulu," Pandu menempelkan accesscardnya dan membuka pintu, sedang Erik masih melihat punggung Kiara menghilang di balik pintu. Mengusap wajahnya perlahan dan menghembuskan napas dengan berat.
Sampai menjelang maghrib tiba, Erik hanya berselonjor di kasurnya berusaha menghalau wajah Kiara yang jauh terlihat lebih dewasa dari pada saat masih bersamanya.
***
Saat Pandu dan Kiara sedang mengaji setelah sholat maghrib, terdengar bel berbunyi dari arah pintu.
Pandu menghentikan dan memberi tanda pada Al Qur an, lalu bangun dan melangkah ke arah pintu sedang Kiara tetap melanjutkan mengaji.
"Eh bang Erik, ayo masuk, makan malam di sini ya, Kiara sudah masak tinggal ngangetin aja," ajak Pandu, dan Erik memperlihatkan jempolnya tanda setuju.
"Itu suara Kiara mengaji?" tanya Erik pelan,
"Ya iyalah, siapa lagi, alhamdulillah, aku beruntung punya istri dia, meski kami tanpa melalui masa pacaran, alhamdulillah kami bisa segera menyesuaikan diri, mungkin karena aku mengenalnya sejak kecil, meski usianya lebih muda jauuuh dari aku, dia selalu bisa bersabar, dan yang jelas ibadahnya juga ok" ujar Pandu, Erik mengangguk dan merasakan hatinya yang tiba-tiba nyeri, tak lama ia merasakan kedamaian saat mendengar suara Kiara mengaji. Ah berapa lama sudah aku tidak pernah membuka lagi halaman demi halaman Al Qur an, Erik mendesah perlahan.
"Deden sama istrinya, ya sayang?" terdengar suara Kiara dan segera terpaku saat ia melihat Erik duduk di sofa yang berada di sebelah ruang makan.
"Bukan, kakak tercinta kita, cepet buka mukenamu, kita makan malam bareng sayang," ajak Pandu pada Kiara.
***
"Gimana kabarnya Kiara, lama nggak ketemu ya?" tanya Erik berbasa-basi sambil menikmati masakan Kiara.
"Baik, alhamdulillah," ujar Kiara singkat, menatap wajah Erik sesaat dan pura-pura sibuk mengambil lauk.
"Loh katanya sahabat adikmu bang, kok lama nggak ketemu?" tanya Pandu pada Erik dan Erik sempat bingung menjawab.
"Eeemmm..setelah Kia dan Adara adikku naik ke kelas 11, aku nggak pernah ketemu mereka lagi, karena tugasku di pindah ke Singapura waktu itu," ujar Erik kemudian, dan Pandu mengangguk. Kau tak tau Pandu, aku yang melarikan diri ke negara itu, berusaha menghilangkan wajah lugu yang terus membayangiku,kembali tenggelam pada wanita-wanita tak jelas. Dan akhirnya sampai pada batas bosan pada semuanya, terdampar di negara ini dan menemukan dia lagi, sudah menjadi istrimu. Erik berusaha memasukkan makanannya yang terasa sulit masuk ke kerongkongannya.
Ponsel Pandu berbunyi, ia pamit pada Erik dan terdengar berbicara dengan mamanya.
Erik menatap Kiara yang menyelesaikan suapan terakhirnya.
"Kia, Kiaraaa..bisakan nganggap aku kakak kamu, kamu sudah menikah,kita punya kehidupan masing-masing,aku tidak akan mengganggumu," ujar Erik menatap Kiara. Kiara memberanikan diri menatap Erik.
"Yah, aku akan berusaha menganggapmu kakak, tapi tatapan matamu, usahakan juga tatapan mata seorang kakak pada adiknya," Kiara membawa piringnya ke dapur meninggalkan Erik sendiri dan tak lama terdengar Pandu sudah kembali ngobrol dengan Erik.
***
Pagi-pagi Pandu pamit, Kiara mengekor di belakang Pandu, Pandu membuka pintu dan Kiara menarik tangan Pandu, Pandu terkekeh pelan mencubit hidung istrinya.
"Iya iya aku ngerti kamu mau cium tanganku," ujar Pandu terlihat tertawa geli menatap Kiara yang seperti melepas Pandu ke tempat yang jauh.
Kiara mencium punggung tangan Pandu, dan Pandu mencium kening Kiara. Keduanya tak sadar Erik menatapnya dari jarak dekat.
"Heh, kalau mau mesra-mesraan di dalam sana dulu, jangan buka pintu trus ngapa-ngapain di luar, haduuh," ujar Erik sambil tertawa. Pandu membalas tawa Erik dengan tawa tak kalah keras. Kiara terlihat memerah wajahnya.
"Masih bau-bau pengantin baru bang, jadi gini ini, makanya nikah bang, nikah, sudah punya calon kan?" tanya Pandu. Dan Erik melirik Kiara sekilas.
"Dulu ada, tapi..ah sudahlah, ayo berangkat, nanti ketinggalan kereta," keduanya melangkah bersama dan tak lama, Deden mengejar mereka berdua setengah berlari.
***
Setelah Pandu pergi seharian Kiara hanya beberes rumah, masak dan ia sempatkan menelpon mamanya.
***
Hari perama masuk kantor Pandu dikenalkan pada rekan-rekan kantornya oleh Erik. Selaku kepala kantor pusat di Osaka, Erik memegang kekuasaan penuh memimpin, mengembangkan usaha dan melakukan hubungan dengan cabang-cabang perusahaan yang ada di beberapa negara.
***
Pandu melangkah ke arah ruangan Erik, saat sekretaris Erik memberitahu jika ia dipanggil ke ruangannya.
"Manggil aku bang?" tanya Pandu setelah berada di ruangan Erik.
"Yah, sini mendekatlah, ada dokumen yang harus kamu pelajari nanti laporkan hasilnya," ujar Erik memberi kode dengan anggukan menyuruh Pandu mndekat.
Pandu melangkah ke arah meja Erik dan melihat dokumen secara langsung.
"Bawalah pelajari dulu," kata Erik lagi. Saat akan meninggalkan meja Erik ia terpana melihat ada foto mirip Kiara dan seorang perempuan, yang ia yakini adik Erik karena wajahnya mirip, berjajar dengan pigura yang berisi, entah foto siapa saja.
"Maaf bang, ini, ini foto Kiara ya?" tanya Pandu tertarik melihat wajah Kiara saat sma. Dan sesaat Erik merasa kelu lidahnya.
****