#20

1055 Kata
"Aaah iya iya berfoto dengan adikku," ujar Erik terlihat gugup. "Lihat bang,  lihat, aku terakhir kali ingat wajah Kia saat SD sudah gitu kan aku ngikut ayah,  pindah ke sini, banyak banget fotonya bang, eeeeh cantik ya Kiara, aneh-aneh gayanya sama adik abang,  abang kalo mau cari foto tuh,  foto adik abang yang kelihatan, yang ini malah kebanyakan Kiaranya yang kelihatan hahahaha," kata Pandu mengalihkan tatapan matanya dari beberapa frame mungil ke dokumen yang ia pegang. "Udah dulu ya bang,  mau lihat dokumen ini dulu," Pandu melangkah ke luar dari ruangan Pandu. Erik mengusap matanya dan menelungkupkan wajahnya diantara kedua tangannya yang saling menyilang. *** Lepas maghrib Pandu baru sampai rumah,  Pandu masih mendengar Kiara mengaji,  ia biarkan dan membuka bajunya lalu menuju kamar mandi. *** Kiara dengan cepat menyiapkan makan malam untuk Pandu. "Maaf ya mas,  tadi agak lama,  nyelesein satu juz sekalian eman-eman," ujar Kiara dengan wajah memelas. "Iya nggak papa,  aku nggak lapar banget kok,  tadi ada teman yang baru datang dari Indonesia bawa oleh-oleh macem-macem," ujar Pandu mulai makan perlahan. "Eh iya sayang tadi pas aku ambil dokumen di mejanya bang Erik buanyak foto-foto kamu sama adiknya bang Erik di meja kerjanya, cantik ternyata pas kamu SMA, gayanya aneh-aneh lagi," Pandu tertawa dan tak menyadari Kiara yang kesulitan menelan makanannya. Kiara hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. "Kamu kan sahabatan sama adiknya bang Erik,  tapi kok sama bang Erik kayak kaku deh kamu sayang?" tanya Pandu menatap Kiara yang mengangkat alisnya. "Jarak usia kami kan jauh mas, jadi ya nggak nyambung kali kalo ngomong," ujar Kiara. *** Kiara sedang mencuci piring dan gelas kotor saat bel pintunya berbunyi dan Pandu menuju pintu. Muncul wajah Erik dan membawa map coklat, Pandu menyilakan duduk dan memanggil Kiara agar membuatkan minum. Kiara menyajikan minum dan masuk ke kamarnya. "Sayaaang duduk sini dong,  ngapain di situuu,"Pandu memanggil Kiara. "Ngantuk mas,  aku tidur duluan ya,".ujar Kiara. "Iya dah, bang gimana kalo kita pindah ke tempatmu aja," ajak Pandu. "Ayo dah," Erik melangkah meninggalkan Pandu yang masih menutup pintu. *** "Wah bener-bener tempat bujangan, minimalis, kursi cuman dua," dan sekilas melihat kamar Erik yang tidak menggunakan kasur tapi memakai futon, tempat tidur khas orang Jepang yang menggelar kasur di bawah dan bisa dilipat jika tidak dipakai,  kebanyakan orang-orang Jepang di pedesaan menggunakannya karena kadar kelembaban yang tinggi membuat kasur harus dijemur minimal seminggu dua kali agar tidak berjamur, jika menggunakan futon maka maintenancenya lebih mudah. Keduanya asik berdiskusi sampai malam. Tiba-tiba Erik bangun dan melesat menuju kamar mandi. "Sorry, panggilan alam," Erik tertawa. "Baaang pinjam bolpeeen, nih buat kasi kode yang mau direvisi," Pandu berteriak pada Erik. "Di ruang kerjaku,  kamar yang lebih kecil, " Erik balas berteriak dari kamar mandi. Pandu melangkah masuk ke kamat kerja Pandu,  ia melihat tempat bolpen lengkap dan tertata rapi,  ia mengambilnya satu dan matanya tertegun saat melihat di dinding, terdapat foto Kiara saat SMA, tertawa lepas dengan ukuran yang tidak bisa dibilang kecil. Tanpa sadar Pandu mendekat dan melihat ada tulisan di pojok kanan bawah love you till the end. Hatinya tiba-tiba merasa diremas,  ada hubungan apa antara Erik dan Kiara di masa lalu, tapi ia melihat istrinya yang tidak menampakkan wajah aneh saat bertemu Erik. *** Pandu ke luar dari ruangan itu dan tidak bisa berkonsentrasi lagi pada pekerjaannya. Hingga Erik ke luar dari kamar mandi dan bergabung kembali dengan Pandu. "Gimana? " tanya Erik dan melihat Pandu yang menatapnya serius. "Bang eeemmmm aku boleh nanya?" tanya Pandu. "Boleh,  boleh silakan apa aja, kerjaan kantor ato apalah," ujar Erik santai dan membuka softdrink yang sudah tidak dingin lagi karena terlalu lama dibiarkan di luar. "Ada hubungan apa abang sama istriku di masa lalu?" pertanyaan Pandu membuat Erik tersedak saat minum softdrinknya. Erik mengusap bibirnya perlahan,  ia baru ingat jika saat Pandu mengambil bolpoint pasti melihat foto Kiara yang terpampang di dinding dalam kamar itu. "Baiklah akan aku ceritakan, meski akhirnya akan membuka aibku sendiri,  tapi setidaknya, hubunganmu dengan Kiara bisa tetap harmonis,  dengarkan sampai selesai," Erik menatap Pandu yang terlihat penasaran. Erik bercerita dari awal tentang Kiara yang pemalu, sampai akhirnya mereka dekat dan peristiwa menyakitkan bagi mereka berdua terjadi karena kesalahannya, mata Erik kembali berkaca-kaca mengingat ia telah merusak hati dan pikiran Kiara. "Kamu tahu Pandu semua temanku menertawaknku saat aku mengatakan jatuh cinta pada anak kecil,  tapi entah mengapa dalam hati,  aku punya keyakinan bahwa Kiara adalah tempat ternyaman untuk melabuhkan hatiku, aku menjaganya untuk tidak menyentuhnya,  karena jangankan dicium,  dipegang tangannya saja ia menolak,  aaahhhh sekali lagi aku yang salah Pandu tidak bisa menahan nafsuku,  aku bisa merasakan kesakitan Kiara, hingga akhirnya ia memutuskan mengakhiri hubungan sebulan kami,  hanya sebulan tapi sanggup mengubah jalan hidupku hingga detik ini, aku memustuskan untuk tidak menikah Pandu, kamu jangan kawatir,  aku tidak akan mengganggunya,  tidak akan mengambilnya darimu,  terakhir bertemu sebelum kami benar-benar berpisah,  ia mengatakan jijik melihatku, hatiku hancur bukan main, aku meminta pindah ke kantor cabang Singapura, melarikan semua kesakitan pada minuman dan wanita-wanita tak jelas, sampai akhirnya aku bosan dan memutuskan untuk hidup sendiri, tidak lagi ada keinginan menikah, aku bahagia dengan hidupku saat ini,  katakan pada Kiara, agar ia bersikap wajar padaku, kalaupun aku masih menyimpan fotonya,  itu hanya sebagai kenangan saja, bahwa orang b******k seperti aku pernah mencintai gadis suci seperti Kiara, kisah cinta pertama yang menyakitkan bagi kami," Erik mengakhiri ceritanya dan Pandu hanya bisa mengangguk merasakan dadanya yang sesak,  tidak membayangkan ternyata Kiara mengalami hal yang sama dengannya. Tepukan tangan Erik di pundak Pandu menyadarkan Pandu. "Beri aku keponakan yang banyak, segeralah, karena usimu pun tak lagi muda," ujar Erik sambil berusaha tertawa. *** Pandu memasuki kamarnya saat dilihatnya istrinya telah tidur nyenyak. Diusapanya lembut rambut Kiara, ia iba melihat istrinya merasakan hal yang sama dengannya,lebih-lebih di usia Kiara yang masih sangat muda,  ia melihat hal yang seharusnya belum boleh ia lihat,  dan itu dilakukan oleh orang yang dicintainya. Setelah berganti dengan baju tidur, Pandu merebahkan badannya dan perlahan memeluk Kiara. Aku berjanji akan membuatmu nyaman menikmati hidup di sisiku. Kiara menggeliat dan dirasakannya tangan Pandu yang memeluknya dan merasakan pelukan yang semakin erat. "Maaas ada apa?" tanya Kiara penasaran mengapa mata suaminya jadi berkaca-kaca. "Ternyata kita pernah merasakan kesakitan yang sama, bedanya kamu lebih kuat,  sedang aku sempat terpuruk lama," Ujar Pandu pelan. "Maksud mas?" Kiara penasaran. "Kalian,  Erik dan kamu sayang,  pernah dekat kan?" tanya Pandu dan mata Kiara membulat... ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN