"Jenifer!"
Jenifer menghentikan langkahnya sejenak ketika ada seseorang yang memanggil namanya. Perempuan berusia 17 tahun itu menolehkan kepala ke belakang, netra ruby miliknya menangkap sosok Jeremy yang tengah berjalan lebar-lebar ke arahnya. Ia juga bisa melihat jika pemuda itu tersenyum
padanya.
'Deg!'
'Ughhh ... jantung sialan!' Jenifer memaki ketika ia merasa jantungnya berdebar tidak karuan saat melihat senyuman Jeremy.
"Jenifer!" Jeremy kembali bersuara dengan riang. -ia sudah berada di dekat Jenifer sekarang.
"Kenzo?" ujar Jenifer dengan mata menyipit.
"Ada apa?" tanyanya berusaha bersikap senormal mungkin.
Jeremy menggeleng sambil terus tersenyum hangat pada sang Adik yang masih tidak mengenali jika ia adalah Kakaknya.
'Berhentilah tersenyum, i***t!' Jenifer kembali memaki di dalam hatinya.
"Kau mau ke mana?" tanya Jeremy.
"Ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang ku pinjam," jawab Jenifer cepat.
"Begitu?" gumam Jeremy sambil manggut- manggut.
"Kalau begitu, ayo! Aku akan menemanimu," ujarnya lagi bersemangat, tak lupa meraih tangan kanan Jenifer dan menggenggam tangan itu erat, membuat yang punya tangan membulatkan mata karena terkejut.
"T-tak usah! A-aku bisa ke sana sendiri." Jenifer merutuki diri sendiri yang tiba- tiba saja suaranya terdengar begitu gugup.
"Hm? Kenapa? Aku hanya ingin menemanimu, Jeni- kyut," ucap Jeremy innocent.
'Deg'
Wajah Jenifer merona samar.
'Sial!' Jenifer menjerita dalam hati jebi- kkyut? kyut? kyut? Demi Tuhan! Bunuh aku!' jeritnya pilu.
"jen Heiii!" Jeremyy melambaikan tangannya di depan mata Jenifer yang tiba- tiba saja diam tak bergerak.
'Kenapa dia? Apa aku salah bicara?' pikirnya bingung
"jen?" Jeremy kembali memanggil saat Jenifer belum juga meresponnya.
"Jen?" Jeremy bersuara lagi, kali ini sambil menepuk pelan pipi Adiknya.
Jenifer mengerjapkan mata bebeberapa kali, sebelum akhirnya tersadar dan berusaha kembali normal.
"Ah, maaf....," ujar perempuan itu salah tingkah, rona merah di pipinya semakin ketara.
Mata Jeremy menyipit, memperhatikan raut wajah sang Adik yang menurutnya aneh.
'Kenapa dia merona?' Pikirnya telmi.
"Haaaa ... kau tadi tiba- tiba melamun, membuatku khawatir saja. Aku pikir kau kenapa," ucap pemuda berambut merah cokelat tersebut.
"Ya, sudah ... jadi ke perpustakaan, kan? Mari ku temani," katanya seraya mulai melangkah.
Tarikan pelan di lengannya, membuat pemuda itu menghentikan langkah dan netra hijaunya menatap sang Adik penuh tanya.
"Em, sebaiknya kau melepaskan genggaman tanganmu dari tanganku. Aku bisa berjalan sendiri," ucap Jenifer sedikit grogi.
"Huh? Memangnya kenapa? Aku suka begini kok, rasanya nyaman sekali," balas Jeremy tak mau melepaskan genggaman tangannya pada tangan Jenifer.
"Tapi...."
"Sudahlah, Jen ... apa salahnya, sih?" kata Jeremty setengah jengkel.
'Mau memegang tangan Adik sendiri saja, masa tidak boleh, sih?' pikirnya gondok.
Hei, dude! Kau lupa jika sekarang kau tengah menyamar?
Akhirnya Jenifer hanya bisa pasrah saja melihat tangannya yang di genggam begitu erat oleh pemuda yang baru ia kenali.
Rasa hangat dan nyaman menggerya hatinya. Jenifer tak ingin genggaman tangan ini terlepas begitu cepat.
Ia ingin pemuda di sampingnya terus menggenggam tangannya seperti ini.
"Tuhan, apa aku menyukainya? Tidak mungkin, kan?'
Keyla menghirup udara di taman belakang sekolah dengan rakus.
Matanya menatap kosong ke arah danau yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini. Perlahan tapi sangat jelas, bayangan pemuda berambut merah cokelat terus mengusik pikirannya. Bayangan pemuda itu seolah tak ingin ia hapus begitu saja.
Entah mengapa ia merasa pernah melihat wajah pemuda itu, tapi ia tidak tahu pernah melihatnya di mana. Yang jelas pemuda bernama Kenzo Abigail tersebut tidak asing di matanya.
Keyla menggelengkan kepalanya berusaha mengusir bayangan Kenzo, tetapi tetap saja hasilnya sama. Wajah pemuda itu tetap ada di otaknya. Sebenarnya apa yang terjadi padanya?
Keyla mengusap wajahnya kasar, lalu ia menarik napas dalam dan mengeluarkannya melalui hidung.
"Aku pasti sudah gila...." Ia bergumam pelan.
"Ck! Kenapa kau menelponku saat aku berada di sekolah, sih?"
Keyla tersentak saat telinganya mendengar suara seorang pemuda yang sepertinya tengah berbicara dengan seseorang melalui telepon.
Dengan gerakkan sepelan mungkin, Keyla menolehkan kepala ke belakang.
Ia bisa melihat pemuda yang tadi berada di dalam pikirannya kini tengah berdiri beberapa meter dari tempatnya berada.
Pemuda berambut merah cokelat itu tengah memarahi seseorang lewat sambungan telepon. Walau suara pemuda itu agak sedikit pelan, tapi karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dengan keberadaan Keyla, jadi ia masih bisa mendengar pembicaran si merah cokelat.
"Aku di Bandung...."
"Aku mencarinya, i***t!" geram Jeremy sengit begitu mendengar balasan dari orang yang menghubunginya.
"Cerewet! Urus saja urusan di sana, tidak usah memikirkanku. Ikuti saja sandiwara mereka."
Keyla mengernyit tak mengerti.
"Ya! Aku akan mengurus itu."
"Berisik!"
"Jangan menelponku terlebih dahulu jika itu tidak penting! Apa kau mengerti?"
"Cih!"
Jeremy menutup sambungan telepon itu dengan kasar, wajahnya terlihat merah menahan amarah.
"Berengsek!" geramnya kesal.
Seketika ia terpaku, matanya melotot horror, mulutnya bungkam tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Se- sejak kapan kau di situ?" Akhirnya suara pemuda itu keluar. Ia menatap horror perempuan berambut raven yang saat ini menatap ke arahnya dengan tampang datar sedatar tembok.
"Bukan urusanmu," balas perempuan itu sambil berdiri.
Perlahan Jeremy mendekat ke arah Keyla, ia belum puas akan jawaban dari Perempuan wajah datar itu.
"Kau ... kau mendengar apa yang barusan aku katakan?" tanya Jeremy yang entah mengapa terdengar was- was.
Keyla mengedikan bahu, kemudian menjawab malas.
"Tidak! Yang aku tahu kau marah-marah seperti orang gila," katanya.
Jertemy mengernyitkan dahi."Kau yakin?" tanyanya.
"Kau berpikir jika aku menguping?" balas Keyla dingin.
"Terimkasih, itu bukan kerjaanku!" katanya sinis.
Jeremy melongo tak elit, apa- apaan perempuan ini! Ditanya kok begitu? Pikirnya gondok.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Jeremy heran ketika ia melihat perempuan di depannya tengah memperhatikannya begitu intens.
"Wajahmu tidak asing," kata Keyla refleks.
"Whatss?!"Jeremy mendelik.
Keyla mendengus. "Lupakan!" katanya seraya beranjak.
"Hei! Aku belum selesai bicara!" ucap Jeremy menahan pergelangan tangan Keyla agar perempuan itu tidak pergi begitu saja.
"Memangnya apa lagi?" sahut Keyla sinis, onyx miliknya menatap datar pergelangan tangannya yang dipegang oleh lengah besar milik Jeremy.
"Lepaskan tanganmu!" desisnya dengan deathglare andalan, dan Jeremy secara spontan melepaskan pegangan tangannya.
"Jangan seenaknya menyentuh seseorang!" gertak Keyla dengan aura hitam pekat.
Jeremy meringis, merasa merinding sendiri.
"Kau seperti emak-emak saja," katanya dengan kekehan pelan.
Twich!!!
Perempatan siku- siku muncul di dahi mulus sang gadis raven.
Ditatapannya si merah cokelat yang juga tengah menatap ke arahnya dengan senyuman tipis.
"Beraninya kau!" Keyla berucap dingin.
"Ap-OOUCHHHHH!!! ARGGHHHH!!!"
Jeremy berteriak kesetanan saat ia mendapat injakkan keras di kaki kirinya dari si raven dan bonus tendangan maut di selangkangannya.
Pemuda itu menatap horror ke arah perempuan yang lebih muda empat tahun darinya itu.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Jeremy geram.
Keyla tidak peduli, ia malah mengangkat dagu angkuh.
"Itu akibatnya karena kau berani mengataiku emak-emak!" katanya datar.
Jeremy melongo tidak elit. "A- apa? Karena itu saja kau marah dan sampai menandang aset berhargaku?" katanya horror.
Keyla mencibir. "Oh, itu aset berhargamu, ya? Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh aset berhargamu itu?" tanyanya ponggah.
"Tentu saja untuk memuaskan seseorang, i***t! Kau juga bisa kalau mau!" balas Jeremy sekenanya.
Wajah Keyla sukses memerah seperti buah kesukaannya; tomat.
"A- apa- apaan kau!" ujar Keyla gugup
"Gah! Siapa yang sudi dipuaskan olehmu?!" kata perempuan itu lagi geram.
"Arrggh! Berengsek!!" makinya kasar. Ia membalikkan badan dan berjalan menghentak-hentakkan kaki dengan kesal meninggalkan Jeremy yang tengah memandangnya aneh.