Episode 1
Brak!!
Prang!!
Arif Wijaya, CEO Wijaya Entertaiment, sebuah perusahaan rekaman I-Pop -melemparkan remot di genggamannya ke arah televisi yang tengah menyala, menyebabkan semua pasang mata yang berada satu ruangan dengan CEO tersebut, tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka. Apalagi saat melihat raut wajah Minato, yang terlihat memerah karena amarah.
"Tenanglah, Arif ... tingkahmu benar-benar kekanakan." Seorang pria berusia lanjut, berambut putih bersuara-membuat tatapan sang CEO tersebut beralih kepadanya.
"Bagaimana aku bisa tenang, Ayah?" balas Arif memanggil pria tadi dengan sebutan Ayah.
"Anakku menghilang tanpa kabar. Dia menghilang bagaikan ditelan bumi," ujarnya frustasi, ia mendudukkan diri di sebuah sofa yang di sebelahnya terdapat seorang wanita paru baya berambut merah.
"Aku tahu itu," jawab Ayahnya, Samuel Wijaya. "Tapi, cobalah tenang sedikit. Aku sudah mengutus para bodygoard untuk mencarinya ke berbagai negara, kau tak perlu khawatir, dia pasti dapat ditemukan," ucap Samuel tenang.
"Ayah pikir berapa luas bumi ini? Apa bisa kita menemukannya dalam waktu cepat? Belum lagi anak itu sangat pandai menyamar. Akan sangat susah bagi kita untuk menemukannya," ucap Arif bertambah frustasi.
"Aku tidak habis pikir kenapa anak itu pergi begitu saja tanpa memberi alasan pada kita. Lihatlah ulahnya, berbagai awak media memberitakan yang tidak-tidak tentang kepergiannya. Benar-benar membuatku pusing," keluh pria berusia empat puluhan itu.
"Itu semua salahmu, Arif....," cetus wanita berambut merah di sampingnya.
Minato mengerutkan dahi mendengar perkataan wanita yang menjadi istrinya tersebut.
"Apa maksudmu menyalahkanku, Indah?" tanyanya bingung
"Itu memang salahmu, dan Ayah," kata Indah seraya melirik ke arah Ayah mertua serta Ayah kandungnya
membuat beberapa pasang mata menatap ke arahnya dengan tatapan heran juga penasaran.
"Jika saja pembicaraan kalian beberapa waktu lalu tidak didengar dengan tak sengaja oleh Jeremy, semua ini tidak akan terjadi. Putraku akan berada di sini sekarang," lanjutnya dengan helaan napas kasar.
"Mendengar pembicaraan kami?" Dahi keriput Samuel mengernyit bingung. "Pembicaraan ap- Oh, Tuhan!" Lelaki tua itu mendelik horor ketika sebuah pemikiran baru saja terlintas di otaknya.
"Jangan katakan dia mendengar pembicaraan kami beberapa hari yang lalu mengenai masalah itu?" tanyanya dengan ekspresi tak terbaca
"Kau pikir apa lagi, Ayah? Dia sudah dewasa, dia sudah bisa menentukan masa depannya kelak. Jelas Jeremy tak ingin diatur-atur begitu oleh kita, para orang tua," kata Kushina sambil menundukkan kepalanya.
"Jika hanya karena itu, mengapa dia memutuskan untuk pergi? Dia bisa mengatakannya kepada kita. Mungkin masalahnya tidak akan serumit ini jadinya." Arif mendesah lelah.
"Kau pikir mudah, Arif?" sinis Indah. "Aku tahu bagaimana watakmu,
dan juga Ayah. Kalian pasti tidak akan mendengarkan putraku, dan memilih kepada keputusan sepihak kalian tanpa memikirkan perasaan putraku. Tidak heran jika dia memilih meninggalkan segalanya, meninggalkan dunianya yang glamor," tutur Kushina dengan nada dingin.
"Aku tak perlu pusing memikirkan di mana putraku berada sekarang, aku sangat yakin dia bisa menjaga dirinya dengan baik di luar sana," lanjut wanita beranak dua itu seraya berdiri dari duduknya.
"Jika kalian ingin dia kembali, batalkan rencana gila kalian," katanya sambil berjalan keluar dari ruangan. Wanita itu mendapat pandangan berbeda-beda dari tujuh orang dewasa di ruangan tersebut.
"Kau tahu di mana dia, Indah?" Suara bernada dingin itu berasal dari Ayah kandung Indah, Justin Prayoga.
Indah yang sudah berada di tengah-tengah pintu menoleh sejenak ke arah Ayahnya. Dengan tatapan sendu ia berkata
"Jika aku tahu, aku ada di sisinya sekarang...." Kemudian tubuhnya menghilang di balik pintu.
Justin menghela napas panjang,lalu mengeluarkannya melalui mulut.
"Aku tidak bisa membatalkan rencana itu, aku sudah membuat perjanjian dengan Robert," ujar pria berambut panjang tersebut sambil menatap orang yang tersisa di ruangan. "Bagaimana menurutmu, Sam?" tanyanya pada sang besan.
Samuel yang ditanya seperti itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda tidak tahu harus berbuat apa.
"Walaupun dibatalkan, aku rasa anak itu tidak akan kembali. Dia sangat keras kepala." Elis Wijaya, istri Samuel yang sejak tadi diam kini bersuara.
"Ya, Ibu benar...." Arif mendesah lelah.
"Jordan, perintahkan seluruh pengawal untuk mencari anak itu keplosok Negeri. Temukan dia secepat mungkin!" perintahnya kepada Jordan, manajer anaknya.
"Dan Shinta, beri tahu media untuk tidak terus memberitakan yang tidak-tidak tentang putraku. Katakan pada mereka jika putraku tengah melanjutkan studinya di luar negeri dan untuk sementara vakum. Usahakan agar publik percaya. Aku tak ingin masalah ini terus berlanjut," ucap Arif menyelesaikan perkataannya.
Dua orang yang namanya disebutkan tadi segera mengangguk mengerti. Kemudian keduanya membungkuk untuk memberi hormat, sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Jadi, rencana itu tidak akan dibatalkan?" tanya Dina Prayoga selaku Ibu dari Indah.
"Kurasa tidak, Dina," jawab suaminya. "Kita akan bilang kepada mereka untuk menunggu sampai Naruto ditemukan. Setelahnya kita atur lagi masalah itu."
"Jika sudah ditemukan pun, bagaimana jika anak itu tetap menolak? Kau tahu betapa keras kepalanya cucumu itu, kan?" ujar Elis sambil melirik Justin.
"Aku rasa dia tidak akan menolak jika sudah melihatnya...." Senyum di wajah Arif berkembang.
"Ah, Ibu, perlu kau ingat jika dia juga cucumu," kekehnya geli.
"Semoga ucapanmu itu benar," balas Samuel.
"Yeah, sekarang yang perlu kita lakukan adalah membungkam para media pencari berita dan juga menemukan keberadaan anak itu," ucap Arif seraya berdiri.
"Dan satu lagi...."
Suara Justin menghentikan niat Arif yang hendak mengambil minum. Pria itu menatap mertuanya dengan alis berkerut.
"Bersihkan kekacauan yang kau buat, Wijaya....," kata Justin seraya menunjuk ke arah televisi yang dirusak menantunya.
Minato menggaruk kepalanya salah tingkah. Gara-gara geram melihat tingkah para wartawan yang menyebarkan berita tidak benar tentang anaknya dan perusahaannya, membuat ia lepas kendali dan menjadikan benda tipis panjang yang tak bersalah itu sebagai pelampiasan kekesalannya.
"Errr, yaa, akan aku bersihkan, Ayah, hehe....," ujar Arif salah tingkah menuai dengusan dari orang tua dan mertuanya.
Dalam hati dia selalu berharap agar anaknya cepat pulang dan keluar dari tempatnya bersembunyi