Episode 2

1767 Kata
Seorang pemuda tampan terlihat tengah menatap pantulan dirinya pada sebuah cermin di kamar inap yang ia sewa. Pemuda itu merapikan tampilan rambut merah kecoklatannya dengan hair spray, membiarkan rambutnya sedikit mencuat ke atas. Lalu ia mengambil shoftlens berwarna hijau daun dan memakainya pada kedua bola matanya, menutupi keindahan safir yang dimiliki oleh pemuda itu sebelumnya. Tangannya beralih mengambil sebuah bedak, lalu memakaikan bedak tersebut pada wajahnya -menutupi tiga garisan halus di kedua pipi -tangannya kembali mengambil sebuah benda kecil berlancip di ujung seperti paku berwarna putih, lalu memakaikan benda itu di kedua telinga dan juga di bawah bibir. Kemudian yang terakhir, tangan tannya mengambil sebuah kacamata berlensa tipis lalu memakainnya. Sang pemuda menyeringai ketika melihat tampilan dirinya yang begitu menawan, tampilan yang begitu berbeda dari sebelumnya. Warna rambut yang tadinya pirang, ia ganti dengan merah kecoklatan. Lalu matanya yang safir diganti dengan warna hijau daun. Kemudian kedua pipinya yang terdapat tanda lahir seperti kumis kucing ditutupi dengan bedak tipis yang senada dengan kulitnya. Ada tato di telapak tangan kanan pemuda itu dengan bentuk seperti matahari. Tak lupa ia juga menato bahunya dengan gambar rubah. Ah, jangan lupakan tindikkan di bawah bibirnya, juga kacamata. Penampilannya saat ini benar-benar sangat berbeda dari sebelumnya. Namun, hal itu tidak membuat ketampanan yang ia miliki hilang, malah semakin bertambah. Walau tak dapat dipungkiri jika ia terlihat lebih sangar dan handsome secara bersamaan. Pemuda itu kembali menyeringai dengan wajah puas yang terlihat jelas. "Kau memang tampan dari lahir, Jeremy....," katanya narsis.Yap, pemuda itu adalah Jeremy Wijaya. Penyanyi tampan yang saat ini tengah dicari keberadaannya oleh publik. Jeremy menghilang tanpa alasan yang jelas empat hari lalu. Saat ini Jeremy berada di salah satu hotel berbintang di Jerman. Setelah sempat ke Paris, kini ia berakhir di Jerman. Tidak ada yang menyangka jika pemuda itu berada di Negeri tempat kelahiran Ayahnya, Arif Wijaya. Setelah puas menatap pantulan dirinya di cermin, pemuda berusia 21 tahun tersebut berjalan ke arah tempat tidur. Ia mengambil kartu ATM, KTP, juga kartu-kartu kredit miliknya. Ia telah mengganti ulang nama dalam kartu tersebut, bahkan KTPnya sekalipun. Setelah ia sampai di tempat tujuan utamanya, ia akan membuat kartu kredit yang baru, beserta memindahkan uang yang berada di ATMnya dengan ATM baru. Tak mungkin ia menggunakan nama asli dirinya, kan? Bisa-bisa penyamarannya akan terbongkar dengan mudah. Mengganti kartu-kartu tersebut saja memerlukan usaha penuh. Yeah, seperti yang sudah dikatakan, pemuda itu akan pergi dari Jerman dan menetap di tempat yang menjadi tujuan utamanya, Bandung. Kota yang merupakan bagian dari Pulau Jawa, Indonesia, tempatnya berasal. Kenapa pada akhirnya ia memilih tempat yang jelas-jelas sangat dekat dengan tempat tinggalnya dulu? Tentu saja ada alasan tertentu mengapa ia ingin pergi ke sana. "Yosh! Sekarang tidak akan ada yang tahu siapa aku sebenarnya," gumam pemuda itu sambil melirik tanpa minat ke arah televisi yang tengah menampilkan piguran dirinya. "Cih! Berita tidak bermutu! Aku tidak peduli perkataan kalian!" gerutu Jeremy. "Nah, silahkan mencariku keliling dunia, kawan ... kau tak akan menemukanku," katanya percaya diri. Jeremy meraih ransel biru dongker miliknya, tak lupa juga meraih paspor di tempat tidur. "Saatnya pergi dan menemukan dia," gumamnya seraya kembali menyeringai. Kemudian kaki panjang pemuda itu melangkah keluar kamar, memasuki lift, dan setelah lift terbuka tepat di lobi, ia menyerahkan kunci kamar yang ia sewa kepada resepsionis yang tertugas. Lalu setelahnya ia keluar dari hotel tersebut, berjalan bak bangsawan melewati orang-orang yang menatapnya tanpa berkedip. Sekarang ia akan memulai kehidupannya yang baru. Dengan nama 'Kenzo Abigail' sebagai pelengkap dari penyamarannya. Sepasang mata onyx menatap tanpa minat tayangan televisi yang tengah menayangkan berita hilangnya-penyanyi muda berbakat Jeremy Wijaya. Pemilik mata indah itu sudah mengganti-ganti chanel televisi berkali-kali, tapi acara yang ditayangkan station televisi tetap sama. Tentang Jeremy Wijaya, penyanyi tampan, dan menghilang. Dengan kasar ia menekan tombol off yang tertera pada remot, kemudian meletakkan remot tersebut di atas meja . "Membosankan!" keluh orang tersebut yang sepertinya seorang perempuan. "Kenapa dengan wajahmu itu, Keyla?" tanya suara perempuan yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, kamar di asrama. Perempuan atau gadis yang yang dipanggil Keyla itu menoleh ke arah temannya yang saat ini duduk di sampingnya. "Hn.... " perempuan bermarga pratama itu menanggapi perkataan teman sekamarnya dengan gumaman tidak jelas. "Haaaaaa, kau ini selalu saja seperti itu....," keluh perempuan berambut merah marun tersebut dengan helaan napas pelan, merasa pusing dengan sifat Keyla yang dari dulu tidak pernah berubah. "Berilah aku jawaban yang jelas," katanya dengan wajah melas. "Memangnya itu tidak jelas?" balas Keyla innocent, membuat temannya yang bernama Rika itu berdecak sebal. "Orang normal mana yang bisa mengartikan gumaman ambigumu itu, Keyla?" sahut Rika seraya berbaring di tempat tidur. Keyla tidak terlalu mendengarkan ucapan Rika, karena ia sudah terlebih dahulu pergi ke dapur. Rika sendiri tahu jika temannya itu sudah pergi, ia juga tidak perlalu memperdulikannya. Sekarang fokusnya hanya kepada sebuah majalah yang kini berada di tangannya. Majalah remaja yang di dalamnya terdapat berita mengenai menghilangnya aktris muda Jeremy Wijaya, anak sulung pemilik kantor perusahaan rekaman artis I-Pop, Wijaya. Yang merupakan agensi tempat pemuda pirang tersebut memulai karir sebagai publik pigur. Rika yang merupakan fangirls dari aktris berbakat tersebut, jelas merasa begitu kehilangan. Ia tidak bisa melihat senyuman hangat dari wajah tampan Jeremy lagi. Ia tidak bisa melihat pemuda itu beraksi di atas panggung, meneriaki penggemarnya dan menyerukan kata-kata 'I love you' dengan lantang di atas panggung. Rika benar- benar merasa sangat kehilangan. Ia tidak bisa sehari saja tidak melihat aksi idolanya. Haaaa Fangirls! "Kau menatap majalah seolah itu adalah makanan terakhirmu, Rika...." Suara datar Keyla menyadarkan Rika dari dunianya. Perempuan dengan tato 'Hati' di dahinya itu mendecih sebal mendengar sindiran dari sahabatnya. "Diam kau, Pratama!" geram Rika. "Kau tidak tahu betapa kehilangannya kami saat mendapat berita jika dia pergi tanpa jejak begitu saja," ujar gadis itu lagi sambil berjalan ke arah kamar mandi. Keyla memandang datar temannya. "Kau terlalu berlebihan," kata gadis itu sambil duduk. "I don't care!" sahut Rika dari kamar mandi. Keyla tidak membalas ucapan Rika lagi. Ia lebih memilih memperhatikan majalah yang tadi diperhatikan sahabatnya. Tangan putihnya menyentuh permukan wajah seseorang yang menjadi cover majalah tersebut. Tatapan sendu diperlihatkan Keyla. "Kenapa kau pergi? Aku menunggumu....," lirihnya sendu. "Yeah! BANDUNG! I'm coming!" teriak Jeremy begitu ia turun dari kereta yang membawanya ke kota Bandung. Beberapa pasang mata memperhatikannya dengan tatapan aneh. Namun Jeremy tidak begitu memperdulikan hal tersebut. Selagi penyamarannya masih aman tidak masalah, kan? Kaki panjang pemuda itu melangkah lebar-lebar ke arah jalanan yang khusus untuk pejalan kaki. Ia sering ke kota ini untuk mengadakan konser. Namun, ia tidak pernah sekalipun berkeliling atau sekedar jalan-jalan ke tempat wisata yang ada di Kota ini. Palingan ia hanya pergi ke restauran untuk makan, selebihnya digunakan untuk berlatih sebelum konser, dan sekarang ia berada di Kota ini seorang diri. Tanpa pengawal, manajer juga staff -staff yang menemaninya ketika dirinya konser. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Ia akan berkeliling Bandung nanti. Sekarang yang terpenting adalah pergi ke tempat tujuannya, tempat di mana ia akan beristirahat. Hari ini adalah hari minggu, tidak heran jika banyak orang yang berkeliaran untuk menghabiskan waktu berlibur mereka. Jeremy behenti sejenak, memperhatikan jalanan. Senyum pemuda itu merekah kala matanya melihat sebuah taksi berwarna Biru dari kejauhan. "Taksi!" Ia berteriak memanggil taksi tersebut bersamaan dengan seseorang yang tak jauh darinya. Dan taksi itu pun berhenti tepat di depannya. Tap! Dua tangan berbeda warna menyatu dengan indah, tepat di ganggang pintu taksi tersebut. Serentak pemilik kedua tangan itu saling memandang satu sama lain. Saling menatap dalam manik mata masing-masing. "Lepaskan tanganmu dari atas tanganku!" ucap pemilik tangan berwarna putih dengan nada dingin. Jeremy yang mendengar suara dingin dari orang di hadapannya, segera tersadar dan melepaskan pegangan tangan tersebut. "Maaf...." Jeremy berujar salah tingkah. orang itu hanya mendengus, lalu membuka pintu taksi, tetapi dicegah oleh tangan tan Jeremy yang kembali memegang tangan putih itu. "Apa yang kau lakukan?" Orang itu-yang ternyata seorang pemuda-memandang tidak suka ke arah Jeremy. "Aku yang memanggil taksi ini. Kau tidak bisa seenaknya memakai taksi ini," balas Jeremy,-ia belum melepaskan pegangan tangannya. "Apa? Kau yang memanggilnya?" beo Perempuan itu dengan alis berkedut "Ya, aku yang memanggilnya. Jadi, aku yang berhak memakai taksi ini untuk mengantarku kesuatu tempat," sahut Jeremy. "Tidak bisa! Aku juga memanggilnya dari arah sana! Jadi, aku yang berhak memakai taksi ini, dan kau–" Perempuan itu menunjuk ke arah hidung Jeremy dengan tatapan dingin. "Enyah dari hadapanku dan mencari taksi lain!" katanya sinis. Jeremy yang awalnya biasa-biasa saja, kini mulai kesal dengan pemuda berambut aneh di hadapannya ini. "Sorry saja ... lebih baik kau yang mencari taksi lain. Aku sedang terburu-buru," katanya seraya masuk ke dalam taksi, tetapi perempuan di sampingnya langsung menarik baju yang ia kenakan. "Tidak! Aku yang memakai taksi ini! Kau pergi sana, dan mencari taksi lain!" kata perempuan itu. "Tidak mau! Taksi ini milikku," balas Jeremy tak mau kalah. Supir taksi yang sejak tadi mendengarkan perdebatan keduanya hanya bisa geleng-geleng kepala. "Sudah, kalian tidak perlu berkelahi. Tujuan kalian hendak ke mana?" tanya sang supir taksi. "SMA PRATAMA BANDUNG!" jawab keduanya kompak. Naruto dan perempuan itu saling pandang saat menyadari mereka berkata bersamaan. "Kau! jangan mengikutiku!" desis perempuan berambut raven itu dengan nada sinis. Kedua alis Jeremy terangkat. "Siapa yang mengikutimu? Tujuanku memang ke sana," balasnya tidak terima mengikuti perempuan berambut aneh yang tak tahu siapa namanya. "Sudah. Karena tujuan kalian sama, lebih baik kalian naik taksi ini bersama saja," ujar si supir menengahi perdebatan kedua pemuda itu yang sepertinya akan dimulai lagi. Akhirnya dengan terpaksa keduanya memakai taksi tersebut. Jeremy lebih dulu masuk ke dalam taksi, sementara perempuan yang belum diketahui namanya itu masih bergeming di sisi taksi. "Sampai kapan kau akan berdiri terus seperti itu, heh?" ujar Jeremy dari dalam taksi. "Kalau kau tidak ingin berangkat bersamaku, aku akan pergi sendiri." Ia melanjutkan seraya memandang perempuan yang sepertinya lebih muda dari dirinya. Dengan enggan, pemuda itu memasuki taksi dan duduk di samping Jeremy. Tak berapa lama, taksi tersebut berjalan menelusuri jalanan Bandung. Saat berada di dalam taksi, tidak ada yang bersuara. Keduanya fokus dengan dunia masing-masing, sementara sang supir jelas saja menyetir. Jeremy melirik ke arah perempuan yang duduk di sampingnya dengan tatapan tertarik. Ia seperti pernah bertemu dengan perempuan berambut raven itu, tapi ia tak ingat di mana ia pernah bertemu dengannya. "Kenapa kau menatapku terus?" Suara bernada dingin dari perempuan yang tengah diperhatikannya, membuat Jeremy mengerjapkan mata. Setelah sadar, ia kembali ke posisi semula tanpa penjawab pertanyaan dari sang perempuan. Kini giliran perempuan raven yang menatap ke arah Jeremy, memperhatikan penampilannya dengan teliti. Dimulai dari rambut, wajah kemudian tubuh pemuda itu. Si raven mengernyit kala otaknya mengatakan jika pemuda di sampingnya sangat tidak asing lagi. Kemudian ia menggeleng tidak setuju dengan pemikiran otaknya. Lalu, ia memilih menatap keluar jendela.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN