Jean punya fitur diri yang cukup istimewa. Dia punya rambut hitam yang bergelombang, hidung mancung, dan mata yang cokelat sempurna. Badannya tegap dengan d**a bidang yang terbilang cukup proposional. Serta bibir tebal yang manis saat tersenyum dan seksi saat terlihat serius. Selin jelas akan menggila kalau saja dia tidak ingat apa yang terjadi malam itu. Malam ketika dia tak sengaja menyelinap ke kamar hotel Jean dan melihat tingkah laku bejatnya.
Anggap saja Selin terlalu naif. Memang begitu adanya. Gadis itu masih berpegang teguh pada adat dan norma ketimuran yang kini mulai tergerus jaman.
"Jangan panggil gue stalker, m***m!" ujar Selin. Setengah berteriak lebih tepatnya.
Jean tertawa canggung ketika menyadari tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya. Pemuda itu rasanya ingin merekatkan mulut Selin menjadi satu agar tak bisa bicara.
"Oke, ayo selesaiin masalah ini di tempat lain aja," ajak Jean.
"Nggak, gue nggak mau tuh. Kenapa juga gue harus pergi sama cowok b******k kayak lo?" Selin menjulurkan lidahnya.
"Hei, Mama gue nyuruh kita jalan ya hari ini? Nggak inget lo?" sahut Jean.
"Inget, tapi apa untungnya gue jalan sama lo? Yang ada gue ngerasa nggak aman lahir batin," tolak Selin.
Greb! Kesabaran Jean habis. Tak pikir panjang lagi, pemuda itu memegang pergelangan tangan Selin dan menariknya. Tubuh Selin yang ringan dengan mudah saja terbawa.
"Heh, lepasin! Apaan sih? Gue laporin polisi lo ya!" ujar Selin.
"Gue yang harusnya laporin lo ke polisi," balas Jean. Pemuda itu kemudian memasukkan Selin ke mobilnya. Metode yang sedikit memaksa memang, tapi Selin cukup keras kepala kalau tidak dipaksa.
Setelah masuk ke dalam mobilnya, Jean mulai memutar kemudi. Entah kemana dia akan membawa Selin.
"Heh! Mau kemana? Turunin nggak? protes Selin.
"Gue udah bilang, kita musti nyelesaiin masalah di tempat lain kan? Lo ngeyel sih!"
"Iya kemana?" tanya Selin yang akhirnya tak mendapat jawaban dari Jean.
...
"Heh, Handoko! Gue dari tadi nanya ya, kita mau kemana?" tanya Selin. Entah sudah kesekian kali. Wajar Selin bertanya. Pasalnya, mereka berkendara setidaknya sudah 20 menit lamanya dan Jean tak juga menjawab pertanyaannya.
Jean memutar matanya kesal. Ia kesal kalau dipanggil Handoko meskipun itu nama aslinya.
"Bawel banget sih lo!" serunya.
Mereka lalu berhenti di sebuah komplek perumahan yang sepi. Tepatnya di sebuah rumah bergaya minimalis yang didominasi warna putih.
"Masuk!" perintah Jean.
"Nggak!" ujar Selin.
"Lo mau dipaksa lagi? Mau gue gendong baru lo mau masuk?" ancam Jean.
Selin menggeleng keras. Daripada Jean benar-benar menggendongnya, gadis itu terpaksa turun dan masuk ke dalam rumah. Mengikuti Jean.
Selin tau rumah siapa ini. Rumah siapa lagi kalau bukan Jean? Setelah dua tahun menjadi penggemar Jean, mustahil kalau Selin tak tau. Masalahnya, kenapa mereka ke sini?
Anjir, apa jangan-jangan ...
"Heh, janji dulu Lo nggak bakal macem-macem!" kata Selin. Jean menghentikan langkahnya. Matanya lalu mengamati Selin dari atas sampai bawah. Sedetik kemudian Selin menyilangkan tangan di depan d**a.
"Denger ya, Stalker. Pertama, gue nggak main sama fans. Kedua, lo itu datar dari atas sampai bawah."
Setelah mengucapkan itu, Jean membuka pintu rumahnya dan masuk diikuti Selin. Begitu ada di dalam rumah, Jean memberikan gestur dengan tangan agar Selin duduk. Gadis itu menurut dan duduk di sofa berwarna krem. Sementara Jean berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil dua kaleng soda di sana.
"Gue bukan fans lo ya!" ujar Selin membela diri. "Gue juga nggak datar-datar amat!"
Jean yang mendengar perkataan Selin pun langsung memutar manuver. Pemuda itu menaruh kedua kaleng soda di meja dan berjalan menuju Selin. Dekat, semakin dekat, semakin dekat hingga membuat Selin merinding disko dan tak mampu berkata-kata. Seiring dengan langkah Jean yang makin mendekat, Selin makin merapat pada sofa. Pemuda itu memojokkan Selin sampai tak bisa bergerak lagi, mengikis jarak di antara mereka dengan posisi yang sangat intim.
"Oh? Jadi lo mau main sama gue? Sekarang? Mau di sini apa di kamar?" bisiknya. Nadanya yang dibuat se-s*****l mungkin membuat Selin merasa terancam keselamatannya. Tanpa basa-basi, gadis itu menendang Jean. Bug! Tepat di bawah sana.
"f**k!" Jean menjerit. Pemuda itu kesakitan hingga terbaring melengkung di atas lantai. Ia berguling-guling untuk mengusir rasa sakit yang menguasai area vitalnya.
"Makanya jangan macem-macem sama gue," kata Selin bangga dengan perbuatannya.
Jean kesakitan untuk waktu yang cukup lama. Setelah rasa sakitnya sudah dapat ditahan, dia pun bangkit.
"Kasar banget sih lo jadi cewek!" gerutunya. Selin hanya tersenyum miring.
Jean lalu menyodorkan sekaleng soda yang dia bawa tadi. Selin menggeleng.
"Nggak, mana gue tau kalau lo ternyata udah masukin macem-macem ke dalam sana," katanya.
"Ya elah, paranoid banget sih lo!"
Jean tak ambil pusing. Pemuda itu kemudian duduk di sofa yang bersebrangan dengan Selin.
"Oke, gue nggak mau basa-basi lagi. Sekarang gue mau tanya, lo udah ngikutin gue berapa lama?" tanya Jean.
Selin mengerutkan dahinya.
"Dih! Siapa juga yang mau ngikutin lo? Gue bukan stalker ya!"
"Halah bohong. Kalau lo bukan stalker kenapa juga ada di kolong ranjang waktu itu? Untung aja kepergok lo," sahut Jean.
"Itu tuh nggak sengaja ya! Bukan kayak gitu ceritanya!" Selin membenarkan.
Jean mengangkat kedua alisnya. Seperti meminta penjelasan lebih lanjut. Selin yang menerima sinyal itu pun kembali menjelaskan lebih rinci.
"G-gue t-tuh awalnya cuma mau minta tanda tangan sama selfie gitu sama lo. Tapi kamar lo nggak ketutup penuh, jadi gue penasaran dan masuk ke sana buat foto-foto. Gue nggak nyangka lo balik secepet itu. Terus gue akhirnya panik dan masuk ke kolong kasur deh," papar Selin.
"And you saw everything?" lanjut Jean.
"Lebih tepatnya, denger semuanya," ralat Selin. Ia jelas tak dapat melihat semua yang Jean lakukan malam itu. Namun Selin masih ingat jelas suara-suara apa saja yang dia dengar. Suara menjijikkan.
Jean mengembuskan napas berat.
"Gue bakal laporin lo ke polisi." Jean mengeluarkan ponselnya. Selin panik. Hancur sudah masa
"Eh sembarangan! Gue juga bisa laporin lo pake Undang-undang perzinahan!" ujar Selin.
Sedetik kemudian Jean tersenyum meremehkan.
"Lo nggak punya bukti tentang itu."
"Ada lah. Telinga gue buktinya!" ujar Selin.
"Gue juga punya bukti kalau lo masuk ke kamar hotel gue tanpa ijin," kata Jean. "CCTV. Lebih valid dari telinga lo itu, kan?"
Tidak. Selin tak bisa membiarkan ini terjadi.
"Jangan! Gue mohon! K-kita damai aja. Gimana?"
"Gue emang salah udah masuk kamar hotel lo tanpa ijin. Jadi gue minta maaf. Oke?" lanjut Selin.
Jean mengetuk-ngetuk ponselnya. Seolah sedang menimbang-nimbang setiap perkataan Selin. Membuat Selin semakin gelisah tiap detiknya.
"Oke. Lagipula kita mau nikah. Jadi gue bakal maafin lo. Dengan satu syarat ...," ucap Jean menggantung.
"Apa?"
"Kita nikah minggu depan," sambungnya.
Rahang Selin rasanya jatuh ke lantai. Pernyataan Jean sungguh tak terduga. Bukannya seharusnya Jean menolak mati-matian? Dia itu artis muda yang sedang naik daun. Bukannya menikah akan menghancurkan semuanya?
"Hah? Lo nggak nolak perjodohan bodoh ini?" tanya Selin.
Jean mengangkat bahunya.
"Apa untungnya kalau gue nolak. Malah nikah sama lo itu jalan buat gue."
Selin sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran Jean. Gadis itu mulai menaruh curiga bahwa mungkin saja Jean telah merencanakan sesuatu yang tak ia tau.
Jean sepertinya bisa membaca pikiran Selin melalui ekspresi wajahnya. Ia cepat menjelaskan, "Gue nggak lagi niat jahat ya. Lo tau kan bokap gue itu pemilik Masabumi Group?"
Selin mengangguk.
"Gue anak satu-satunya, tapi gue belum tentu jadi penerus karena katanya gue nggak bertanggung jawab. Nah, syarat dari bokap, kalau gue mau jadi penerus, gue harus nikahin lo. Belajar bertanggung jawab katanya."
Selin akhirnya mengerti mengapa Jean tak menolak sedikit pun.
"Lo datar, bawel, sama sekali bukan tipe gue. Tapi ini worth it buat gue coba."
Selin mendengus mendengar hinaan yang diarahkan kepadanya.
"Perjodohan ini juga nggak ada ruginya buat lo. Orang tua gue bakal biayain kehidupan lo dan nyokap lo. Istilahnya, lo bisa memperbaiki hidup. Lo juga bakal kuliah dimana pun lo mau. Setelah lulus lo bisa kerja di Masabumi Group kalau mau. Terus lo juga bakal gue bagi 5 persen dari saham warisan yang gue dapet nantinya," paparnya rinci. "Plus, lo dapet suami ganteng kayak gue. Paket lengkap, kan? Jadi gimana? Masih nggak mau nikah sama gue?"