Satu-satunya yang Selin inginkan adalah ketenangan jiwa dan raga. Namun nyatanya ia tak bisa tenang. Hari libur sekalipun. Salahnya sendiri sih pakai berbohong waktu itu. Belum juga luka di hatinya sembuh, kini lukanya harus ditambah lagi saat Nadita tiba-tiba mengirim pesan. Nadita: Hai, Sel! Sibuk ga? Gw mau tlpn! Baru juga Selin mau mengetik pesan berisi penolakan, namun telepon dari Nadita sudah masuk saja. Ia seolah tak memberi ruang bagi Selin untuk menolak. Selin mau tak mau mengangkatnya. "Halo!" sapa Nadita dari seberang sana. Nadanya yang ceria entah mengapa membawa firasat buruk untuk Selin. "Halo," jawab Selin canggung. "Tau nggak? Jean ngajakin gue kencan barusan! Ya ampun gue nggak percaya!" Hati Selin mencelos. Masih saja pedas meski su

