18. Penyelidikan

1183 Kata

    Jean menatap skeptis Selin yang tersenyum sesorean ini. Sejak pulang dari kampus tadi hingga matahari nyaris tenggelam begini, senyum itu tak luntur sedetikpun dari bibir Selin. Mencurigakan, pikir Jean.     Kecurigaan Jean makin bertambah ketika ia teringat fakta bahwa Selin sampai rumah dengan berjalan kaki. Bukan naik ojek seperti biasanya.     "Heh," panggil Jean.     Selin tak menoleh. Sengaja karena dia sudah lelah dipanggil 'heh'.     "Heh!" panggil Jean lagi.     Selin mendengus sebal, "Eh Handoko! Gue punya nama ya! Kebiasaan banget hah heh hah heh!"     Jean memutar bola matanya dramatis.     "Iya, Selindyah. Puas sekarang?"     "Kenapa?" sahut Selin sensi.     Jean mendudukkan dirinya di atas kitchen set. Tepat di samping Selin yang sedang memotong-motong sayuran.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN