Katakanlah Selin lemah, memang begitu kenyataannya. Gadis itu harus menyerah, mau tak mau, akibat serangan Jean yang menyeramkan. Daripada Jean benar-benar menerkamnya, Selin memilih untuk membuatkan Jean salad buah. Bibirnya dari tadi mengerucut sebal. Ada dendam kesumat yang tersimpan dalam dadanya. Brak! Selin meletakkan salad di hadapan Jean begitu saja tanpa menatapnya. Terkesan membanting. Kesal katanya. Gadis itu lalu duduk di depan televisi dan menyantap mi instannya yang kini sudah dingin dan menempel satu sama lain. Sementara Jean tersenyum menang. Dia tetap mendapatkan apa yang diinginkan meski telah melanggar satu peraturan. Ditambah lagi rasa senang karena melihat wajah Selin yang gondok dan sebal. Ya, dunia memang setidak adil itu. "Udah ah jangan ngambek m

