Seharusnya Selin menampar kencang Jean. Kalau perlu sampai pemuda itu pingsan. Namun tubuh Selin malah membeku. Gadis itu tak bisa berbuat apa-apa ketika bibir Jean menyentuh bibirnya. Untuk sekadar bernapas saja dia merasa susah. Selin merutuki kebodohannya saat Jean melepaskan pagutan itu. Ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak memberontak. Jean sendiri tersenyum menang. Seolah semua ini adalah sebuah kompetisi untuknya. "Masih nggak mau jawab pertanyaan gue lagi?" Jiwa Selin seolah ditiup angin entah kemana. Belum mencapai kesadaran penuh, Jean tiba-tiba menariknya untuk duduk di sofa. Pemuda itu lalu pergi ke dapur, entah sibuk menyiapkan apa. Setelahnya dia kembali dengan sebuah mangkuk berisi air es dan selembar handuk kecil. "Mau ngapain lo?" tuduh Selin. T

