17||KAU BUKAN DADDY KU

1633 Kata
Wanita itu Elsa, Gadis yang dikabarkan dekat dengan Rigel. Sebelumnya Shoera tidak pernah bertemu dengan Elsa.  Ia mengenal Elsa lewat layar kaca, wanita itu seorang model sekaligus aktris yang sedang naik daun. Namanya semakin tenar dikarenakan perusahaan besar milik Rigel memakainya sebagai ambasador. Dan wajahnya wara-wiri di seluruh stasiun tv Seema Group.  Elsa melepas kacamata yang bertengger di pangkal hidung, menatap bingung wanita yang sedang menatapnya dengan pandangan kosong.  “Hei, kau tidak keluar?” tanya Elsa menyadarkan Shoera dari keterpakuannya, wanita itu tersentak dari pikirannya yang sedang berkecamuk.  “Ohh, sorry.” Shoera gugup, ia menyeret langkahnya keluar dari lift dan menoleh kembali setelah pintu lift yang dimasuki Elsa tertutup.  ‘Apa Rigel benar-benar tidak disana? Tetapi, kenapa wanita ini kemari?’ Benak Shoera. Shoera berdecak kecewa, dan memutuskan pergi dari tempat itu.  _______ Rigel membawa Sky masuk ke dalam kamar kelas Deluxe Room berukuran luas yang terletak di lantai tertinggi hotel itu. Sky membawa tatapannya berkeliling ruang. Seumur hidupnya, ia belum pernah menginjakkan kaki pada tempat semewah ini. Sky diam-diam mengagumi. “Kau menyukai tempat ini?” tanya Rigel, ia menyadari tatapan kagum putranya pada kemewahan ruangan itu.   Sky berbalik melihat Rigel. Pria dewasa itu menghempaskan tubuhnya pada sofa yang tidak jauh dari ranjang.  “Tempat ini bagus, tetapi … aku tidak merasa nyaman.” ujarnnya. Rigel mengernyit bingung.  Kamar seelite ini tidak membuat putranya nyaman. Ia mengikuti langkah Sky melalui pandangannya berjalan ke arah dinding kaca ruangan itu.  “Kenapa kau tidak merasa nyaman?” tanya Rigel, beranjak dari duduknya dan menghampiri bocah itu. “Dari sini kau bisa memandang kota jakarta. Terlihat indah saat malam begini.” katanya, ia menyingkap gorden dinding kaca.  Sky melebarkan matanya, melihat panorama jakarta, gedung pencakar langit menampilkan keindahan mereka lewat cahaya lampu.  Rigel tersenyum tipis, berdiri di samping putranya. Untuk beberapa saat mereka terdiam, menikmati kota jakarta dari tempat mereka berdiri. Sky nyaris terlena dengan kemewahan yang di suguhkan Rigel untuknya.  Ia melirik pria di sampingnya, seketika kesedihan menyelubungi hatinya. “tetap saja aku tidak merasa nyaman.”lirihnya kemudian membawa langkahnya menuju sofa. Ia duduk disana dengan kepala menunduk dalam.  Rigel menghela nafas, “kenapa? kau harus memberikan alasan.” kata Rigel, ia  meninggalkan tempatnya berdiri menghampiri Sky di sofa.  “Mami,” lirih Sky, sangat lirih. Ia mengingat Shoera.  Rigel berdecak kemudian menarik nafas dalam-dalam. “Dia pasti bersenang-senang dengan pria itu, kau tidak perlu memikirkannya.” ucap Rigel.  “Sungguh? Kau yakin Mami bersenang-senang?” Sky mendongakkan kepala menatap pria yang sedang berdiri di hadapannya. Rigel tersenyum sinis. “Tentu saja, dia pasti bersenang-senang dengan pria itu.” ucapnya dengan nada jengkel.  “Maksudmu dengan Papi Elang?”  "Dengan siapa lagi, kalau bukan dia." "Kalau begitu aku merasa lega, " ujar Sky, rautnya terlihat tenang. "Kau senang Mamimu bersama pria itu?" Tanya Rigel, penasaran. "Tentu saja. Papi Elang orang baik." jawab Sky. Rigel mendesis, “Berhenti memanggilnya Papi. Kau tidak punya hubungan dengannya.” ucap Rigel. Telinganya sakit mendengar Sky memanggil Elang, Papi.  Sky melipat lengan di depan dadanya, memalingkan wajah dari pandangan Rigel. “kenapa aku tidak bisa memanggilnya Papi?”  “Ya, karena dia memang bukan Papimu. Aku orang yang berhak mendapatkan panggilan itu." Rigel berjalan ke arah ranjang dan duduk di tepiannya. “jadi mulai detik ini berhenti memanggilnya Papi. Mengerti?” tanya dengan nada menekan. “Kau tidak boleh mengatur seseorang seenakmu,”Sky menyahuti. “Aku berhak mengaturmu. Kau putraku.” Klaim Rigel. “Aku bukan putramu!” “Putraku!” “Kau bahkan tidak bisa membuktikannya.”Serang Sky tidak mau kalah. “Daddy sudah membuktikan dengan tes Dna.” “Apa itu?”Sahut Sky ketus. Rigel bungkam, bingung menjelaskannya. “Dasar pembohong.” tukas Sky. "Kau bilang darahmu mengalir di tubuhku." "Memang benar." "Tapi, aku tidak ingat kapan meminum darahmu."Sky menyahuti dengan isi pikirannya. Rigel kembali bungkam. Ruangan itu menjadi hening. Dua orang disana terdiam dan saling menjauhkan kontak mata di antara mereka. “Kau tidak akan paham andai Daddy menjelaskan .” ujar Rigel memulai obrolan, suaranya melembut. “Pokoknya, kau bukan Daddyku. Titik.” Tegas Sky, memalingkan wajahnya. Rigel mulai kehabisan kesabarannya. “Anak nakal.” Ia menggeram marah.   “Dasar penjahat.” Balas Sky seraya menjulurkan lidah pada Rigel.  Rigel berdecak, bangun dari duduknya berjalan menuju minibar dalam ruangan itu. Ia mengisi gelas bening dengan air minum lalu meneguknya hingga tandas. Rigel mengembuskan nafas panjang. Mengingat Sky belum makan malam. Ia segera menghubungi room service untuk memesan makan malam. ______ Shoera melihat paper bag tergantung pada gagang pintu kost. Ia mengambilnya dan memeriksa isinya, kotak makan. Shoera membawanya masuk. Meletakkan paper bag dan tasnya di atas meja kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa. Tidak sedetikpun melepaskan Sky dari pikirannya. Apa anak itu makan? Minum obat? Tidur dengan baik? Dan bagaimana keadaannya saat ini? Shoera semakin cemas hingga jantungnya berdebar dan tubuhnya lemah tidak berdaya. Ponsel dalam tas nya berdering, ia merongoh benda itu. Satu pesan dari Elang.  [Sudah tiba di kost, kan? Ada paper bag di gagang pintu, makan malam untukmu. Jangan lupa mengisi perutmu, Sho.] Isi pesan Elang. Seperti dugaan nya, makanan itu pasti dari Elang. Ia mengetik balasan pesan.  [Aku baru saja tiba di kost, terima kasih untuk makanannya Elang.] Shoera mengirim pesan itu.  [Jangan lupa habiskan. Dan tolong tetap sehat.] Shoera menutup layar ponselnya setelah membacanya. Pandangannya terbawa ke arah pintu, ketika mendengar derap langkah kaki mendekat.  “Shoera,” ketuk Azura sebelum masuk.  Shoera menarik nafas lega.“Kau sudah pulang?” tanyanya. “Umm,” Azura melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumahan. Ia kemudian menghampiri.“kau sakit Sho?” tanya Azura memperhatikan wajah Shoera sembari menempelkan telapak tangan di kening sahabtnya itu.  “Aku tidak apa-apa.” Lirih Shoera.  “Kau pucat,” Azura duduk di samping Shoera. Gadis itu mendesah panjang.  Shoera memutar tubuhnya menghadap Azura.“Zura, aku pergi ke apartemen Rigel tapi, orangnya tidak berada disana. Menurutmu, dia membawa Sky kemana?” tanya Shoera menatap lekat wajah lelah Azura.  “Kau pergi ke apartemen Rigel?” Tanya Azura, bingung. “Umm, tadi aku kesana.” “Kau tahu dari mana tempat tinggal Rigel?” tanya Azura, penasaran. Shoera menggigit bibir bawahnya, memutar otak untuk menjawabnya pertanyaan Azura.  “D-dia memberikan kartu namanya saat insiden tabrakan.” jawab Shoera gugup.  Azura mengernyit bingung. “Di kartu nama itu ... ada alamat apartemen Rigel?” tanya Azura merasa janggal.  Shoera menelan saliva, “kartu nama pribadi, Zura,” lirihnya, mengarang. Azura menatap lekat wajah Shoera yang semakin pucat. Temannya itu tampak merahasiakan sesuatu. Namun, Azura paham. Ini mengenai privasi.  “Mungkin dia membawa Sky ke rumahnya.” ujar Azura. “Maksudmu ke rumah ibunya?”  “Iya mungkin. Tapi, aku tidak yakin Rigel membawanya kesana.”ujar Azura meragu. “Jadi kemana Rigel membawanya?” “Menurutku dia membawa Sky ke rumah sakit. Tadi aku bertemu suruhan Rigel yang mengambil data kesehatan Sky.” Azura berdecak kesal mengingat perdebatannya dengan Aro. “Pria itu benar-benar menyebalkan.” ucapnya dengan raut malas. “Namanya Aro, dia asisten Rigel.”  “Terserah, aku tidak peduli dia asisten atau anjing Rigel. Dia sangat menjengkelkan,”Azura melipat lengan di depan dadanya, air mukanya tampak sangat kesal. Shoera menarik nafas dalam-dalam. “kau tidak bertanya kemana mereka membawa Sky?” tanya Shoera.   “Sudah tapi, dia tidak mau mengatakannya.”  Shoera menghela panjang,” Zura bagaimana ini? Aku sangat mencemaskan Sky.” Shoera menopang dagunya pada sandaran sofa.  “Bukankah kau memiliki kartu nama Rigel?” tanya Azura.  “Punya tapi, untuk apa?”  Azura memukul kepala Shoera dengan bantal sofa yang ada dalam pangkuannya., “Telepon saja dia bodoh. Astaga.” geram Azura melihat Shoera mendadak bodoh. Shoera memikirkan ucapan Azura, “kau benar juga, kenapa aku tidak kepikiran dari tadi.” Shoera meraih tas nya dari meja sofa. Mengambil dompet kemudian mengeluarkan semua isi dompet untuk mencari kartu nama pria itu. Benda itu terselip di antara slot dompetnya. Ia mengambilnya dari sana.   “Ketemu?” tanya Azura.  “Ketemu, “Shoera memperlihatkan kartu itu pada Azura.   “Cepatlah kau hubungi dia,”  “Semoga diangkat sama dia.” lirih Shoera. Ia meraih ponselnya dari atas meja, mengetik nomor ponsel pada  layar ponselnya. Jantungnya berdebar, ragu antara menelpon atau tidak. “Zura bagaimana kalau dia tidak mengangkatnya?” Tanyanya ragu.  “Telepon saja dulu, kalau tidak diangkat kita bisa cari cara lain.” saran Azura.  Shoera menarik nafas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya kasar sebelum ia memutuskan menelpon.  “Apa ini?” tanya Azura menunjuk paper bag diatas meja.  “Makanan dari Elang,”  Azura mendengus,” Perhatian sekali dia. Apa dia juga mengingat perut istrinya?” Azura mengambil paper bag dan mengeluarkan kotak. Sementara Shoera masih menunggu Rigel mengangkat panggilan itu.  “Dia tidak mengangkatnya?”tanya Azura saat Shoera menurunkan ponsel dari telinganya. Shoera menggelengkan kepala lemah. “Coba hubungi lagi,” saran Azura sembari membuka kotak makan, Bistik sapi lengkap dengan nasinya. Shoera mencoba menghubungi Rigel, namun pria disana tetap mengabaikannya. “Dia benar-benar mengabaikan panggilanku.”Shoera kesal. “Mungkin karena nomornya tanpa nama.”  “Aku kesal ya ampun.” ucap Shoera marah.   “Sudahlah, besok aku coba dekati dokter Swan. Kali aja dia mengetahui kemana Sky dibawah.” ujar Azura. “Kau pasti belum makan kan? Ini makan dulu,” Azura mendekatkan kotak makan ke hadapan Shoera.  “Aku tidak lapar, kau saja yang makan.” tolak Shoera.  “Eh tidak bisa begitu, nanti kau sakit dan tidak bisa merawat Sky. Lagi pula Elang membelikan ini untukmu. Kau harus menghargainya.” ujar Azura.  “Baiklah, aku makan.”Lirih Shoera. ia menusuk daging dengan sendok garpu lalu menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya. “Kau juga makan, kita berbagi.” katanya pada Azura, sahabatnya itu turut menikmati makanan itu. "Besok aku coba kembali ke apartemennya dan menunggu sampai aku bertemu dengannya."kata Shoera.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN