Vivian melangkah anggun memasuki kantor di mana suaminya bekerja. Beberapa pegawai yang bersisian dengannya menyapa ramah dan seperti biasa Vivian membalas sekenanya. Vivian berhenti di depan pintu ruang suaminya. Sebelum masuk ia mengetuk pintu ruang kerja Elang.
“Sayang,” panggilnya, mencari Elang dalam ruangan. Meja kerja suaminya kosong dan terlihat rapi.
“Elang,” panggilnya kembali sembari menutup pintu di belakangnya. Ia berjalan menuju meja kerja Elang. Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan berhenti pada pintu toilet. Vivian membawa langkah ke sana untuk memeriksanya. Elang tidak juga berada disana.
Vivian duduk di meja kerja Elang, memikirkan kemana perginya lelakinya itu. Vivian menghubungi sekretaris lewat intercom untuk mengetahui agenda Elang hari ini.
“Siang pak,” sapa sekretaris Elang.
“Hari ini Bapak ada acara di luar kantor?” tanya Vivian.
“O-oh. Siang bu, Vivian. Maaf, tadi aku pikir Bapak. Hari ini Bapak tidak masuk kantor, Bu.” balas sekretaris lewat intercom.
Vivian mengernyit bingung. “Tidak masuk kantor sama sekali?”
“Hari ini Bapak sama sekali tidak masuk kantor, Bu. Beliau bilang ada acara keluarga.”
“Oh, baiklah. Terima kasih.” Vivian menyudahi pembicaraannya dengan sekretaris Elang. Ia menopang dagu dengan meletakkan tangan di atas meja. Memikirkan alasan Elang tidak masuk kantor.
Acara keluarga?
Vivian menyeringai, mengingat Elang yang tidak memiliki keluarga selain dirinya. Lantas keluarga mana yang dimaksud Elang. Vivian memeriksa laci meja kerja suaminya. Ia menyipitkan mata melihat Sertifikat apartemen.
Vivian bingung, seingatnya semua berkas berharga milik mereka ada di brankas dan tersimpan dalam kamar mereka. Satu unit apartemen atas nama Elang dengan harga yang cukup tinggi. Tujuh ratus delapan puluh juta rupiah dan berada di kawasan elite setia budi Jakarta selatan.
“Elang beli apartemen tanpa sepengetahuanku?” tanya Vivian berbicara sendiri dalam ruangan. Vivian membaca tanggal pembelian apartemen. Dua tahun yang lalu. Ia mengambil gambar alamat apartemen tersebut lalu menyimpan berkas itu kembali dalam laci. Vivian beranjak meninggalkan tempat itu.
_________
“Mungkin Azura benar, Rigel membawa Sky ke rumah sakit. Apartemen ini kosong, Sho.” Kata Elang, ia mulai bosan berdiri di depan pintu apartemen Rigel.
“Menurutmu dia membawa Sky ke rumah sakit mana, Lang?” tanya Shoera, kembali menyentuhkan jarinya pada sensor pintu.
“Pasti tidak jauh dari tempat ini. Mendingan kita cari ke rumah sakit.” Saran Elang.
Shoera menghela nafas berat. Tiga puluh menit mereka berdiri di tempat ini dan puluhan kali pula Shoera menghubungi nomor Rigel tetapi semuanya sia-sia.
Shoera mengangguk. “Ayo kita pulang,” ajaknya.
Disisi lain Rigel duduk di minibar ditemani sebotol vodka. Ia menggenggam gelas berukuran kecil berisi vodka kemudian meneguknya hingga habis dan mengisinya lagi. Rigel kepayahan menghadapi Sky. Anak itu menolak makan dan patuh padanya. Menjadikannya pusing hingga membentak Sky. Lalu anak itu bungkam dan bersembunyi di dalam selimut.
Ponselnya berdering di atas meja. Suasana hatinya semakin buruk, sejak tadi ponsel itu meraung-raung dari nomor yang sama. Rigel mengambil benda itu dan menolaknya. Kemudian menghubungi Aro.
“Halo?” Sapa Aro dari ujung telepon.
“Kau di kantor?”
“Iya,”
“Kemarilah, aku butuh bantuanmu.”
“Hotel?”
“Iya,” Rigel mengakhiri panggilan itu. Dan meletakkan ponselnya di atas meja. Meneguk kembali minumannya. Tiga puluh menit ia berada dalam keheningan hingga akhirnya Aro datang.
“Ada apa? Kau minum alkohol di jam segini?” Tanya Aro, menarik tempat duduk untuknya.
“Lalu jam berapa aku bisa minum? Saat in hatiku sangat sakit. Kau tidak tahu hanya minuman ini yang dapat menenagkan hatiku.” ujarnya menatap Aro dengan pandangan lelah.
“Kau begini karena Sky?”tanya Aro.
“Apa anak itu benar-benar putraku?” tanya Rigel.
Aro mengernyit bingung,” kenapa bicara demikian? Kau sendiri yang membuktikannya. Bahkan tanpa izin wanita yang melahirkannya.” kata Aro, mengambil gelas minum bersih dan mengisi dengan Vodka. “aku akan menemanimu minum,” katanya mendentingkan gelasnya dengan gelas Rigel.
“Anak itu sangat keras kepala. Dia menolak apapun yang aku katakan." ucapnya mengeluh.
“Apa yang kau harapkan? Dia baru bertemu denganmu dan kau langsung memisahkannya dengan ibunya.” ujar Aro kemudian meneguk minumannya.
“Kau punya saran?”
Aro terlihat memikirkan nya,”putramu sakit Rigel, Jika kau merusak suasana hatinya, aku yakin dia akan kembali masuk rumah sakit.” ujar Aro menasihati temannya itu.
“Aku meminta saranmu, bukan berceramah.” Rigel mendengkus. Ia kembali mengisi gelasnya.
“Sky butuh ibunya.”
Rigel menertawakan ucapan Aro. “Yang benar saja. Apa tidak ada saran lain?” tanyanya dengan nada mencemooh.
“Aku pikir itu adalah solusinya. Berdamai dengan hatimu, Man. Serahkan Sky ke tangan Shoera. Kau tinggal mengawasi mereka. Sky tidak boleh turut dalam masalah kalian. Bila perlu nikahi Shoera.” ujar Aro membuat tawa Rigel meledak di ruangan itu.
“Menikahi wanita itu? Saranmu sangat payah.” ucapnya dari sela-sela tawanya.
“Terserah kau sajalah.” Aro menyerah.
“Aku berniat menghancurkan hatinya yang terdalam. Supaya wanita itu merasakan apa yang aku rasakan dulu.” ucap Rigel, aura suram menyelubunginya dirinya. “kau malah menyarankan menikahi dia. Bukankah itu justru membuatnya bahagia?” Tanya Rigel, kobaran api kemarahan tampak jelas dari wajahnya.
Aro menarik nafas panjang, melihat lekat wajah temannya itu. kebenciannya menutup matanya atas apa yang telah diberikan Shoera padanya. Seorang anak hasil cinta mereka. “Kau bahkan tidak bertanya kenapa dia melahirkan putramu.”ucap Aro, lalu bangun dari duduknya setelah berhasil membuat Rigel terdiam.
Aro memperhatikan Sky di ranjang. Anak itu duduk dan menutup dirinya dengan selimut.
Aro mendekatinya. “Halo, Sky?” sapa Aro lembut.
Begitu mendengar suara Aro, Sky menyingkap selimut dari tubuhnya. Melihat Aro dengan mata berair.
“Kau menangis?”
“Paman.” Sky bergerak memeluk leher Aro. Menangis pada pria itu.
“Sssttt,” Aro mengelus pundak Sky. “Jangan menangis, katakan apa yang membuatmu sedih?” tanya Aro.
Sky mencium bau alkohol dari nafas Aro, Pria kecil itu melepas pelukannya. “apa paman sedang sedih?” tanya Sky pada pria itu.
Aro menggelengkan kepalanya dan tersenyum seraya menyeka butiran bening yang meleleh di pipi anak itu. “ Tapi, Paman bau minuman yang sering Mami minum saat sedih.” katanya.
Mendengar itu Aro tertegun sesaat, kemudian mengangguk. “Iya, saat ini paman memang lagi sedih.” lirih Aro berbohong.
“Berarti kita sama Paman, aku merindukan Mami. Pria jahat itu memarahiku. Dia bilang Mami sudah mati.” ujar Sky, menangis menyampaikan perkataan Rigel beberapa jam lalu saat Sky menolak makan dan memanggil-manggil Ibunya.
Aro tersentak mendengarnya, “Daddy hanya marah, dia tidak serius mengatakan itu.” Aro mencoba menenangkan hatinya.
“Paman, apa aku bisa minta tolong?”tanya Sky menatap mata Aro penuh harap.
“Tentu saja bisa, katakan kau mau minta tolong apa?”
“Antarkan aku pulang, aku sangat merindukan Mami.” Pinta Sky.
“Baiklah, paman akan mengantarmu pulang,”
“Sungguh?” Wajah Sky berbinar.
“Tapi, ada syarat yang harus Sky patuhi sebelum pulang ke rumah Mami. ” kata Aro. Binar yang sempat terbit di wajah Sky kini meredup. Tatapannya kembali sendu.
“Apa paman?” tanyanya lirih.