Elang dan Shoera mendatangi rumah sakit yang tidak jauh dari apartemen Rigel. Rumah sakit cukup ternama di daerah itu. Kini mereka menapak kaki di bagian informasi untuk mencari informasi Sky.
“Namanya Sky, usianya lima tahun tiga bulan. Walinya …” Elang menoleh pada Shoera disampingnya.
“Rigel Seema,”lanjut Shoera menyambung ucapan Elang. Petugas informasi mencari data tersebut lewat komputernya.
Shoera gelisah menunggu jawaban bagian informasi. Melihat itu Elang berinisiatif mengambil tangan kanan Shoera dan menggenggam nya. Shoera terpengarah, merasakan tangannya tenggelam dalam genggaman Elang. Pria itu tersenyum tipis dan semakin mengeratkan genggaman tangannya.
“Ada beberapa pasien yang bernama Sky di rumah sakit ini tapi, untuk wali yang bernama Rigel Seema tidak ada.” kata bagian informasi setelah memeriksa datanya.
Shoera melihat Elang, “Coba cek lagi, Pak. Pasien Leukemia.” ujar Elang. Bagian informasi melakukan pemeriksaan ulang pada data mereka.
“Maaf kami tidak menemukan Wali atas nama Rigel Seema." ucap petugas informasi.
"Bapak yakin tidak ada nama itu?" tanya Elang memastikan.
"Saya memeriksa seusia data kami pak. Terima kasih sudah berkunjung. Mohon berikan waktu untuk yang lain.” ujar bagian informasi ramah. Meminta dua orang itu menyingkir dari sana.
“Baik, terima kasih.” Balas Elang.
Elang membawa Shoera pergi dari tempat itu. “kita cari ke rumah sakit lain,” ujarnya ketika mendapati raut kecewa dari Shoera.
“Sepertinya tidak perlu Lang,” Shoera berhenti melangkah.
“Kenapa?”
“Aku cari Rigel di kantornya saja.”katanya.
Elang tampak memikirkan ucapan Shoera, sepertinya tidak ada masalah jika merka pergi ke perusahaan Rigel. Lantas ia menganggukkan kepalanya, “ya sudah aku antar kesana,” ujarnya setuju.
“Lang,”
“Umm?”
“Aku pergi sendiri saja.” ujar Shoera melepas genggaman tangan Elang.
Elang mengenyit, “kau tidak ingin pergi bersamaku?” tanya Elang menatap lekat wajah Shoera.
“Kau harus pulang, Lang. Aku takut menjadi masalah bagimu.” Shoera merasa tidak tenang bersama Elang, karena pria itu masih berstatus suami orang.
“Jangan pikirkan aku, Sho. Aku tetap mengantarmu kesana.” Elang bersiteguh, mengambil tangan Shoera lalu membawanya pergi dari tempat itu.
________
Vivian berdiri di depan apartemen milik Elang. Ia menyentuh handle pintu dan menekan ke bawah. “ada apa denganmu? Kau diam-diam beli apartemen tanpa sepengetahuanku? Apa rencanamu Elang? Selain apartemen apalagi yang kau miliki tanpa sepengetahuanku.” ujar Vivian berbicara sendiri.
“Baiklah, kita cari kemana kau pergi hari ini,” Vivian mengeluarkan ponsel dari dalam tas kemudian menghubungi Elang.
Ponsel Elang berdering di atas dashboard mobil, ia mengambil benda itu dengan satu tangan sementara tangan lainnya mengendalikan stir.
Vivian? batinnya, Elang menolaknya. Ia melirik Shoera di sampingnya dan tidak lupa mengulas senyum di bibirnya. Shoera membalas canggung.
“Istrimu Lang?” tanya Shoera menebak.
“Umm,”
“Kenapa tidak diangkat?” tanya Shoera, ia merasa bersalah.
“Biarkan saja,”
“Mungkin ada yang penting,” lirih Shoera.
Ponsel itu kembali berdering, Elang berdecak. Meraih benda itu dan menggeser tanda hijau pada layar.
“Apa?” tanya Elang dengan nada datar.
“Dimana sayang?” Tanya Vivian dari ujung telepon. Suaranya sangat lembut.
“Aku sedang di luar kantor. Ada apa, Vivian?”
“Tidak ada apa-apa. Tiba-tiba saja aku merindukanmu."
"Berhenti menelpon kalau tidak ada yang penting Vivian."balas Elang dengan nada jengkel.
"Apa aku tidak bisa menelpon suamiku?”
Shoera melihat wajah jengkel Elang saat menghadapi istrinya lewat telepon. Ia semakin tidak nyaman. Jangan sampai Elang dan Vivian bertengkar karenanya.
“Vivian aku sedang dalam perjalanan, jika ada yang penting kita bicarakan di rumah,”Elang ingin cepat-cepat mengakhiri pembicaraan mereka.
“Hari ini aku ke kantormu dan kata sekretarismu kau tidak masuk kantor. Padahal pagi-pagi sekali kau sudah berangkat.” Vivian membawa langkahnya meninggalkan apartemen Elang. “Kau ada acara keluarga, keluargamu yang dimana sayang? Kenapa aku tidak diajak.” Elang langsung memutus sambungan telepon, membuatnya emosi.
“Dasar sialan!” teriak Vivian, masuk ke dalam mobilnya. Ia menggenggam erat stir mobil. Dan mengingat seseorang yang perlu diawasi dari suaminya. Vivian menghidupkan mesin mobilnya, dan mengemudi menuju tujuannya.
“Kenapa kau sangat dingin padanya?” tanya Shoera melirik Elang yang mengemudi.
“Aku tidak dingin , Sho. Tapi beginilah keadaan kami,” ucap Elang, menginjak rem mobilnya tepat lampu merah. “Aku sudah mengatakan itu padanya, bahwa hatiku benar-benar tidak bisa dimiliki olehnya."
"Kenapa?" Shoera penasaran.
Elang melihat Shoera. "Karena hatiku sudah kutinggalkan untuk wanita lain."ucapnya bersungguh-sungguh, menatap lekat wajah kecil Shoera yang kini sudah merona. " Lagipula Vivian juga tidak mencintaiku Sho. Kami dua orang yang dipersatukan tanpa cinta.” sambungnya, membawa tatapannya fokus kedepan.
“Vivian tidak mencintaimu? Lalu kenapa kalian bertahan dalam pernikahan ini?” tanya Shoera, heran.
“Entahlah, Sho. Aku sudah pernah mengutarakan untuk cerai, akan tetapi, Vivian tidak mau. Dia justru mengancam menghentikan dana untuk biaya pengobatan Ibu.” ujar Elang, kembali mengemudi. "Aku masih belum paham kenapa dia begitu terobsesi mempertahankan hubungan pernikahan kami." lanjutnya.
“Omong-omong sebelum Ibu meninggal apa pernikahan kita beliau ketahui?”tanya Shoera, kembali mengingat alasan mereka bercerai.
Elang menoleh sebentar, “Tahu Sho. Salahku terlambat mengatakan yang sejujurnya tentang kita."
“Tanggapan ibu bagaimana?”
“Ya walau kecewa, Ibu tetap memaafkan aku. Hanya saja rasanya itu percuma karena hubungan kita sudah hancur.” Andaikan saja aku tidak terpengaruh ancaman Vivian Shoera, pasti hubungan kita masih tetap bersatu sampai saat ini. Elang membatin.
Shoera menipiskan bibir, melihat keluar lewat jendela mobilnya. Tujuan mereka akhirnya tiba. Gedung pencakar langit Seema Group.
_________
Sky menerima syarat yang diberikan Aro padanya, patuh dan harus berhasil menyenangkan hati sang Daddy. Meski berat, Sky setuju demi sang Mami. Lelaki bertubuh kurus itu duduk rapi di meja makan dan menerima suapan demi suapan dari Aro. Sementara Rigel, pria itu masih duduk di minibar. Sesekali mencuri pandang pada Sky yang begitu manis di hadapan Aro. Ada rasa iri, di lubuk hati terdalamnya. Sky tidak sengaja menoleh padanya. Rigel spontan tersenyum tulus, tetapi Sky membalas senyuman itu dengan menjulurkan lidah dan membelalakkan sebelah matanya.
Aro mengulum senyum, melihat wajah pias Rigel dengan keisengan putranya, “buka mulutmu, ini suapan terakhir.” ujar Aro, Sky membuka mulut lebar, menerima suapan itu dan mengunyah cepat.
“Paman apa kita sudah bisa pergi dari sini?” tanya Sky, meraih gelas minum nya.
“Tentu saja, setelah kau minum obat.” kata Aro.
“Yes,” Sky meneguk minumannya hingga tandas. “mana obatnya?” Ia terlihat antusias.
“Minta sama Daddy.” ujar Aro melihat ke arah Rigel.
“Tidak mau, Paman saja yang ambil,” ucap Sky, melihat Rigel dengan tatapan tidak senang.
“Bukankah salah satu syarat dari paman itu harus patuh? Kau harus membuat Daddy mu senang. Paman yakin Daddy akan mengantarmu pulang. Atau membawa Mami Shoera tinggal disini.” ujar Aro berbisik di dekat telinga Sky.
Sky memikirkan ucapan Aro, kemudian menganggukkan kepalanya. “Mami pasti tidak mau tinggal di tempat ini. Biarkan saja Sky yang pulang dan tinggal bersama Mami.” ujarnya.
“Tidak masalah, yang penting kau bisa bersama Mami kan?” Sky mengangguk.
“Kalau begitu, pergilah minta Daddy membantumu minum obat.”
“Baiklah, paman.” Sky turun dari tempat duduknya. Ia berjalan ke arah Rigel di minibar. Berdiri disana dengan raut kecut, “orang tua, aku mau minum obat.” ucapnya ketus. Aro menahan tawa di meja makan.
Rigel menelengkan kepalanya, “apa?” tanyanya.
Sky berdecak kesal, “obat Sky mana?”
“Minta dengan sopan,”
“Sopan bagaimana?”
“Daddy berikan aku minum obat,” ucap Rigel dengan nada lembut, “seperti itu, coba ulangi.”
Sky menghela nafas panjang lalu memasang senyum hingga matanya menyipit, “Daddy berikan aku minum obat,” ucapnya lembut mengulangi apa kata Rigel.
“Baiklah, sayang.” Rigel beranjak dari duduknya, mengangkat tubuh kurus Sky dan membawanya ke ranjang. Ia didudukkan disana.
Rigel mengambil kotak obat dari tempatnya sementara Aro menghampiri membawakan segelas air dan meletakkan gelas minum di meja nakas. Ia turut duduk di tepian ranjang.
Rigel mengeluarkan obat sebanyak lima butir dari kotanya. Melihat pil sebesar biji jagung di telapak tangan, Hatinya hancur. Putranya harus menelan obat itu demi bertahan hidup.
“Mana obatnya,” ujar Sky menyadarkan Rigel dari diamnya.
“Iya,” Rigel membawanya pada Sky. Duduk disamping pria kecil lalu membuka telapak tangannya menunjukkan obat itu.
“Kau bisa memakan ini tanpa harus dihaluskan?” tanya Rigel.
“Kata Mami aku harus menelannya supaya sembuh, kalau tidak Mami akan sedih selamanya.” jawab, Sky mengambil satu dari tangan Rigel lalu menelan, ia mengambil air dari tangan Aro. Begitu seterusnya hingga obat terakhir.
“Aku sudah minum obat, Apa paman sekarang bisa mengantarku pulang?” tanya Sky melihat Aro.
“Coba tanya Daddy,” jawab Aro melihat Rigel.
“Aku ingin pulang ke rumah Mami,” lirih Sky, mentap Rigel penuh harap.
Ponsel Ara berdering mencuri perhatian mereka. Aro menjauh untuk mengangkatnya.
“Bagaimana?” tanya Sky lagi.
Rigel mengulum bibirnya, “Nanti Daddy putuskan.” ujar Rigel, ia beranjak untuk menyimpan kotak obat Sky.
Sky memberengut, menundukkan kepala. Kecewa.
Aro menghampiri Rigel, dan berbisik pelan. “Shoera mendatangi Seema.” katanya.
Rigel tertegun, menolehkan kepalanya melihat Sky di tempat tidur.
“Minta dia pergi dari sana.” ucapnya mendesis tajam.
“Aku kembali ke kantor,” ucapnya, ia menghampiri Sky di ranjang. “ Sky, paman pergi sebentar ya.” Pamit Aro.
“Paman tidak menepati janji, aku sudah patuh.” ujar Sky kecewa.
Aro menelan saliva, menggenggam tangan pria kecil itu. “berjuanglah mendapatkan hati Daddymu. Paman akan membantumu membuka hatinya yang keras itu.”
“Bagaimana kalau aku tidak bisa memenangkan hatinya?” tanya Sky. meragukan dirinya.
“Paman yakin kau pasti berhasil melunakkan hati Daddymu. Kau anak hebat.” Aro mengusap poni Sky. “jangan nakal, ingat patuh oke?” Sky mengangguk.
“Bagus, kalau begitu paman pergi kerja. Nanti malam kalau ada waktu Paman akan mampir.”
“Baiklah paman. Hati-hati.”
“Oke,” ucap Aro, “Aku tinggal, jangan kasar padanya dan pikirkan keinginan putramu.” ucap Aro setengah berbisik pada Rigel.
Seperginya Rigel, ruangan itu menjadi hening. Suasana mereka menjadi canggung, Rigel duduk di sofa sementara Sky duduk di ranjang. Sesekali tatapan mereka bertemu.
Rigel berdehem, “s-sudah berapa lama kau sakit?” tanya Rigel memecah keheningan diantara mereka.
“Aku tidak tahu,” balas Sky jujur. Ia memang tidak ingat kapan penyakit itu mulai menyerang tubuhnya.
Mereka kembali hening.
“Selama ini kalian hidup dengan baik?” Rigel kembali bersuara.
“Umm, semua baik sebelum ….,”Sky menggantungkan ucapannya, melirik Rigel.
“Sebelum?” tanya Rigel penasaran.
“Sebelum kau hadir.” lirih Sky.
Rigel merasa sakit mendengar ucapan putranya, bahwa kehadirannya tidak lebih dari sebuah pengganggu. Rigel terpaku, diam seribu bahasa seperti kehilangan semua kata yang ia utarakan.
______
“Aku akan menunggunya sampai pak Rigel datang,” ujar Shoera pada bagian informasi.
“Maaf bu, anda silahkan membuat janji terlebih dahulu. Pun hari ini pak Rigel tidak masuk kantor.” balas petugas informasi.
“Kalau begitu apa aku bisa bicara dengan asistennya, kalau tidak salah namanya Aro.” ujar Shoera lagi.
“Pak Aro juga sedang keluar kantor,”
“Kalau begitu bisakah aku mendapatkan nomor ponsel Aro? “ tanya Shoera. mungkin dia bisa mengetahui keadaan Sky lewat Aro.
“Maaf, kami tidak bisa memberikan nomor ponsel beliau tanpa seizinnya. Berikan data anda kami akan mengkonfirmasi pada Pak Rigel dan mengatur jadwal bertemu anda.” ujar bagian resepsionis.
“Anda tinggal menyebut nama saya. Pak Rigel pasti mengenalnya.”
“Baiklah, bu Shoera.” ucap bagian resepsionis, menuliskan nama Shoera pada buku kerjanya.
Shoera meninggalkan bagian informasi, menghampiri Elang di depan pintu utama perusahaan.
“Bagaimana?” tanya Elang menjatuhkan sisa rokoknya ke tanah, kemudian ia menginjaknya hingga api pada ujung rokok mati.
Shoera menunjukkan wajah kecewa, kemudian menggeleng kecil.
“Dia menolak bertemu denganmu?”
“Tidak, orangnya tidak ada,”
Elang berdecak, “ya sudah kita pulang saja.” katanya, membuka pintu mobil untuk Shoera. wanita itupun masuk. Elang mengitari depan mobil dan membuka pintu bangku kemudi. Ia masuk dan menghidupkan mesin mobilnya.
“Langsung pulang ke kost?” tanya Elang.
“Iya Lang. Antar aku pulang aja.” ujar Shoera, memasang sabuk pengamannya.