20|| KAU MENYAKITI PUTRAKU

1870 Kata
“Kau tidak bertemu dengannya?” tanya Azura, mengeluarkan camilan dari dalam kulkas. “Dia menghilang seperti hantu.” Shoera berkata seraya menjatuhkan tubuhnya pada sofa. “Zura apa rekanmu mengetahui kemana Sky dipindahkan?” tanya Shoera, menoleh kearah temannya itu. Azura meletakkan camilan di atas meja. Minuman kaleng dan satu keranjang kecil jeruk mandarin. Gadis itu mendaratkan bokongnya di sofa. “Mereka mengambil Sky tanpa berita acara, dokter tidak mengetahui kemana pasiennya di pindahkan.” ujar Azura seraya membuka minuman kaleng soda kemudian meneguknya. “Aku lelah hati lelah di fisik juga, aku harus bagaimana ya, Zura? Apa aku pergi saja ke rumahnya?”tanya Shoera meregangkan otot lehernya. “Bukankah kamu sudah kesana?” tanya Azura balik bertanya. “Belum, aku baru pergi ke apartemen Rigel dan kantornya. Tapi pria itu seperti kunyang. Muncul saat waktu tertentu saja. ” "Lebih tepatnya jelangkung. Datang tak di jemput pulang tak di antar. Dia muncul hanya untuk menyusahkanmu saja." sahut Azura menimpali. "Umm, kau benar. Dia memang pria sialan. Aku tidak habis pikir, kenapa dia begitu jahat padaku. Menurutmu apa dia masih waras?Aku yang di rugikan disini. Bukan begitu, Zura?" tanya Shoera meminta pendapat temannya itu. "Kalau ini dibawah ke ranah hukum. Dia tidak berhak sama sekali memiliki Sky." Azura meneguk kembali minumannya. Shoera mengambil buah jeruk dan mengupasnya."Sky dalam keadaan sakit, ibunya pengangguran dan tidak memiliki apapun untuk menolong putranya . Hukum akan berpihak padanya kan, Azura?" "Entahlah, aku tidak paham dunia hukum. Tapi, sepertinya begitu. Uang masih berkuasa di dunia ini." ujar Azura menimpali. "Jadi bagaimana selanjutnya? Kau berencana mencari Sky ke rumah Ibunya?" Azura mengambil jeruk yang sudah dikupas dari tangan Shoera. "Menurutmu apa aku harus mencarinya kesana?" “Kau sudah siap berhadapan dengan ibunya Rigel?” Shoera mendesah panjang,” Entahlah,” ucap Shoera lalu memakan jeruknya. "Pergi kesana. Kau harus memperjuangkan Sky. " Saran Azura. Shoera mengangguk dan memikirkan perkataan Azura. “Apa seharian ini Elang bersamamu?” tanya Azura, memainkan biji jeruk di mulutnya. “Umm,” “Kau tidak canggung bersamanya?” Shoera menghela panjang,” Canggung tapi, aku bisa apa jika dia menempel terus.” “Dan kau tidak sadar kalau hubungan kalian ini sudah bisa disebut perselingkuhan.” tukas Azura, ia meneguk minumannya. “Yakk, kau kejam menuduhku begitu.”Shoera melempar kulit jeruk, mengenai wajah Azura. “Dia masih punya istri Shoera.” “ Lantas aku harus bagaimana?” “Menjauh darinya! Jangan mudah diperdaya. Dia hanya memelas lewat tatapannya dan kau langsung luluh. Pergi kesana kemari, tanpa memikirkan perasaan seseorang.” Azura melempar buah jeruk dan Shoera menangkapnya.”Kupasin.” katanya ketus. “Dia membantuku mencari Sky, Zura.” Shoera melirih seraya mengupas jeruk milik Azura. “Itu hanya alasan. Percaya padaku, Vivian akan menyakitimu. Jika tahu kau bersama Elang.” ucap Azura, mengingatkan temannya itu. Shoera memberikan jeruk yang sudah dikupasnya, “terima kasih sudah mengingatkan. Aku akan pikirkan cara menghindar darinya.” “Kau masih memiliki perasaan padanya?” Selidik Azura, penasaran. Shoera terdiam, tampak memikirkan perkataan Azura. “Kau tahu aku perempuan rusak, Zura. Aku melahirkan seorang anak tanpa pernikahan. Di cintai dengan tulus hatiku sudah sangat bersorak. Elang pernah melakukan itu, dia menerimaku tanpa mempermasalahkan masa laluku. Dia mencintai Sky, ya walau pada akhirnya kami berpisah. Tapi, berpisah bukan kemauan Elang. Dia terpaksa melakukannya. Demi ibunya.” ujar Shoera menjelaskan. “Dulu aku merasa nyaman bersamanya dan …aku juga masih merasakan hal yang sama sekarang.” akunya dengan jujur. Bahwa tidak mudah mendapatkan seseorang yang mencintai tulus tanpa mengingat masa lalu buruk pasangannya. Pun dia masih melihat ada cinta di mata Elang untuknya. Azura berdecak, melempar Shoera dengan biji jeruk,”kau dalam zona masalah.” ucapnya seraya mengunyah. ________ Baru saja Kalani meletakkan ponselnya di atas meja, benda itu kembali berdering. Ia mengambilnya setelah melihat nama Elsa tertera di layar. Kalani menjawabnya.“Tante, apa Rigel ada di rumah utama?” tanya Elsa dari ponselnya. “Rigel tidak ada di sini. Apa ada masalah?” tanya Kalani seraya mengangkat gelas tehnya yang mulai mendingin. Di ujung telpon Elsa mendesah panjang, “tante, dua hari ini aku tidak menemukan Rigel di apartemennya.” katanya mengadu. Kalani meletakkan gelas yang hampir disentuh bibirnya.“Mungkin dia sibuk dan tidur di kantornya,”kata Kalani, walau sebenarnya dirinya sendiri tidak yakin dengan ucapannya. Karena Rigel tidak pernah melakukan itu. “Dia tidak disana juga, Tante. Aku sudah memeriksa kesana.” “Benarkah?” Kalani mengernyitkan bingung. “Tante juga tidak tahu dia berada dimana?”tanya Elsa. “Tidak, kau tahu sendiri hubunganku dengannya. Jangan cemas, Tante akan cari tahu keberadaanya.” ujar Kalani mencoba menenangkan hati Elsa. “Baik Tante, nanti saya telpon lagi." Kalani mengakhiri obrolan mereka. Ia meletakkan ponselnya di atas meja. Memikirkan kemana perginya Rigel. ‘Bertanya pada Aro juga sama saja. Aro sangat melindungi anak itu.’ benaknya, ketika ia terpikir untuk menelpon asisten putranya itu. _______ “Sky, bangun. Waktunya sarapan.” Panggil Rigel sembari mengawasi pelayan hotel menyiapkan sarapan untuk mereka. Tidak ada tanggapan dari anak kecil. “Semua pesanannya sudah disajikan, pak. Selamat menikmati.” ucap pelayan, membungkuk kecil sebagai rasa hormatnya, lalu membawa langkahnya keluar dari kamar itu. “Sky, kau tidak dengar? Waktunya sarapan. Ayo jagoan, kau harus bangun dan sarapan setelah itu minum obat. Daddy akan pikirkan selanjutnya aktivitasmu, supaya kau tidak merasa bosan. Kau mau sekolah bukan?” tanya Rigel, menghampiri dan berhenti tepat di ujung ranjang. Sky tetap diam di dalam selimutnya. “ Sky, bangunlah,” Rigel berjalan ke bagian kepala ranjang dan menyingkap selimut yang menutupi tubuh putranya. "Sky." Rigel terkejut melihat Sky berkeringat besar dan menggigil. “Sky,” Rigel menyelipkan tangannya di bawah tengkuk putranya. “ada apa Sky? Kau kenapa?” tanya Rigel, menghapus keringat Sky dengan punggung tangannya. “Sky …, buka matamu, hei anak kecil.” Rigel menepuk pipi Sky. "Bangun, buka matamu pembangkang." ucapnya dengan panik. “M-ma-mi, ha-us.”Lirih Sky pelan dan sangat lambat. “Kau haus?Sebentar Daddy ambilkan.” Rigel meletakkan pelan kepala putranya di atas bantal. Ia berlari mengambil air mineral. Saat menuang air ke dalam gelas, tangannya gemetaran hingga air yang ia tuang kepenuhan. Rigel membawanya ke ranjang. Meletakkan gelas di atas nakas. Ia mengangkat kepala puntranya, lalu membantu Sky minum. Dan seketika putranya muntah. “Sky … ada apa? Jangan menakutiku, Bocah?” tanya Rigel, meletakkan kembali gelas di atas nakas. Pelan membaringkan putranya. Ia berlari mengambil ponsel. "Siapkan mobil di depan!" perintahnya pada sang sopir supaya bersiap di pintu utama hotel. Ia akan membawa Sky ke rumah sakit. ______ “Auh,” pekik Shoera, tangannya tidak sengaja menyentuh ujung setrika panas. Shoera meniup pelan. “Luka tidak?” tanya teman kerjanya. “Luka dikit,” “Hati-hati, sejak tadi kau banyak melamun.” “Umm, sorry.”Shoera menepuk dadanya yang berdebar hebat. Wajah putranya terbayang olehnya. ‘Sky, bagaimana keadaanmu sekarang?’ benaknya. Ia menekan kuat giginya pada bibir bawahnya. Ponsel dalam saku celana jeans nya berdering, buru-buru ia merogoh benda itu. Shoera menatap layar ponselnya, pemanggil tanpa nama. Tangannya bergerak menekan tombol hijau pada layar itu. Lalu mendekatkan pada telinganya. “Halo,” sapanya dengan nada bergetar. “Shoera, ini Aro.” “I-iya Aro. Ada apa?” Tanya Shoera, jantungnya semakin berdebar. Firasatnya buruk “Datanglah ke rumah sakit. Sky membutuhkanmu disini.” ujar Aro. “Apa? Katakan kenapa dengan putraku?” Shoera berlari keluar dari ruang kerjanya. “Aku akan kirimkan alamat rumah sakitnya. Datanglah.” ucap Aro mengabaikan pertanyaan Shoera. “Halo, Aro. Putraku tidak apa-apa kan?” Aro memutus panggilan sepihak, membuatnya jengkel hingga berteriak. Semua orang di bagian counter melihatnya dengan tatapan heran. “Maaf,” lirihnya, menyadari teriakannya telah menganggu seisi ruangan. “Maaf,” ulang Shoera, dan tanpa meminta izin Shoera berlari keluar dari tempat itu, ia tidak sengaja menabrak Vivian di pintu utama. “Kau!” Vivian membentak. "Maaf Nyonya." ujar Shoera mencoba membantu Vivian berdiri. Namun, wanita itu menepis tangan Shoera dan kemudian berdiri tegap. "Kalau jalan gunakan mata dan kakimu bersamaan." Ia menggeram marah. "Maaf," ulang Shoera lagi, dan memilih beranjak dari sana. ‘Kemana wanita itu?’ Vivian bertanya dalam benaknya memperhatikan Shoera menjauh dari tempat itu. “Nyonya Vivian,” sapa pemilik Laundry menarik perhatian Vivian dari Shoera. “Apa dia pegawaimu?” tanya Vivian berbasa basi, seraya membawa langkahnya masuk ke dalam Laundry. “Benar. Maaf jika dia melakukan kesalahan. Dia salah satu pegawai ku. Aku akan menegurnya nanti.” “Tidak masalah. Tidak perlu menegurnya. Biarkan saja."ucap Vivian mengulas senyum di bibirnya. "Silahkan masuk," Pemilik Laundry mempersilahkan Vivian masuk. Vivian membawa langkahnya masuk dan mendaratkan bokongnya duduk di sofa ruang tamu. “Tampaknya dia terburu-buru, apa ada masalah dengannya?” selidik Vivian, mengangkat satu kakinya setelah meletakkan tas mahalnya diatas meja. “Entahlah, dia pergi tanpa mengatakan apapun. Mau minum apa Nyonya?” “Tidak perlu. Sepertinya kau memanjakan seluruh pegawai mu. Bisa meninggalkan pekerjaannya tanpa izin.” Vivian mencoba menelisik. “Ah tidak juga Nyonya Vivian. Tapi, dia memang dibedakan. Seseorang menjamin nya bekerja disini.” ujar pemilik Laundry, duduk berhadapan dengan Vivian. “Seseorang?”Tanya Vivian penasaran. “Sepertinya dia kekasih atau orang yang menyukai Shoera.” ujar pemilik Laundry. Vivian menelan kasar salivanya. Penasaran siapa pria yang menjamin Shoera. Tentu pria itu bukan pria sembarangan. “Wanita yang sangat beruntung,” lirih Vivian. Pemilik Laundry menganggukkan kepalanya, setuju dengan perkataan pelanggannya itu. Apa pria itu kau Elang? Baiklah, aku tahu cara mengejutkanmu. Benak Vivian, ia mengangkat dagunya menampilkan aura pongahnya. _______ “Shoera.” Panggil Aro ketika melihat wanita itu berjalan cepat di lorong rumah sakit. Shoera yang dipanggil menghentikan langkahnya. Memutar tubuhnya melihat sumber suara. “Aro,” Shoera berlari mendekati. “Bagaimana keadaan putraku? Dimana dia?” tanya Shoera setelah berdiri di hadapan pria itu. “Dia menggigil dan berkeringat besar-besar. Dokter masih menanganinya. Ayo ikut aku.” ajak Aro. Shoera melangkah lebar menelusuri lorong mengikuti langkah Aro menuju ruangan Sky ditangani dokter. Mereka berhenti di depan ruangan PICU. Shoera terkejut mengetahui Sky masuk ruang Picu.“Sky. Ya Tuhan, anak aku. Ada apa dengannya?” tanya Shoera mengintip dari dinding kaca ke ruang Picu. Disana putranya berbaring di pasung alat pendeteksi nadi, paru, jantung, dan alat lainnya. Shoera tidak kuat melihatnya. Air matanya berderai jatuh membasahi pipinya. Shoera menoleh ke arah Rigel yang berdiri tidak jauh darinya. “Kau!”Geram Shoera. Rigel melihat tatapan nyalang Shoera padanya, lalu wanita itu menghampiri. Menarik kerah kemeja Rigel dengan kedua tangannya. “Aku bersumpah akan menjatuhkanmu ke neraka.” teriaknya, kemudian memukul kuat d**a Rigel dengan membabi buta. “Hentikan! Kau tidak waras!” Rigel menghentakkan tangan Shoera darinya. “Rigel!” Aro mencoba melerai. "Kenapa wanita ini di sini?" Tanya Rigel menatap Aro tajam. "Aku yang memanggilnya datang kemari." “Kau menyakiti putraku!” Shoera menuding kesal, lalu dengan keras menampar wajah Rigel sekuat tenaganya. Wajah pria itu berpaling keras, panas. “Kau! Beraninya memukulku!” Gertak Rigel, mendorong kuat Shoera hingga nyaris terjatuh. Beruntung Aro menahan tubuh Shoera. “Kaulah yang menyakitinya karena tidak benar merawatnya!” Tuduh Rigel menuding Shoera. “Rigel! Kepαrat!” Teriak Shoera. BRAK! Segelas cappucino dingin mendarat di kepala Rigel. Membasahi tubuh pria itu. Rigel menggeram kesal, melihat siapa yang berani mengotori dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN