Dengan cepat Runa terbangun dari posisi duduknya. Mencari tas slempang kecil yang biasa ia pakai. Dibelakang pintu kamar, tergantung apik sebuah tas slempang berwarna krem muda dengan ornament bunga kecil berwarna biru muda. Runa merogoh dua buah saku di dalam tas tersebut, mencari secarik kertas yang sempat ditaruhnya asal kala itu.
Sebuah gumpalan kertas telah di genggamnya. Dibukanya perlahan. Terlihat beberapa garisan-garisan kecil yang membuat kertas tersebut menjadi kusut. “Ketemu! rumah sakit yang sama?” Runa berusaha mengumpulkan daya ingatnya.
Keesokan harinya, Runa kembali tidak masuk bekerja. Ia lebih memilih pergi menuju rumah sakit yang dilaluinya dengan menumpangi sebuah bus yang membawa tubuh mungilnya perlahan menjauh dari halte.
Diam-diam, Radit mengikuti Runa dari motor yang dikendarainya tepat sepuluh meter di belakang bus yang masih melaju. Sejak subuh tadi Radit memang sengaja menunggu Runa di persimpangan jalan dekat rumahnya, ia ingin memastikan bahwa Runa memang sedang dalam keadaan baik-baik saja, dan yang terpenting tidak ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis tunangannya tersebut.
Runa berjalan cepat di sepanjang koridor rumah sakit yang sempat beberapa kali dikunjunginya. Peluhnya sedikit bercucuran di sekitar dahinya. Jantungnya berdegup kencang penuh debaran. Runa takut dengan apa yang mungkin saja terjadi setelah ini. Namun, tak ada hal lain yang bisa diperbuatnya kali ini. Sungguh Runa sudah sangat lelah dengan semua ini. Ia ingin menyudahi teka-teki tak berpenghujung ini. Maka dari itu, Runa ingin mendengarkan penjelasan dari lelaki selain Radit.
Seorang lelaki yang saat ini bisa dilihatnya dari kejauhan. Lelaki yang tengah berada di atas kursi roda dan dibantu oleh seseorang yang juga pernah dilihatnya beberapa kali, ya Runa mengingatnya untuk kali ini, dialah Papanya Musa yang sempat dilihatnya beberapa waktu lalu.
Runa menghentikan langkah. Niat awalnya mendadak ia urungkan. Musa terlihat pucat pasi, kondisi tubuhnya seperti banyak yang berubah. Lebih kurus dari sebelumnya. Kedua kakinya harus tertopang oleh bantuan sebuah kursi beroda.
Runa melangkah mundur perlahan. Hatinya menangis sungguh teriris.
Bukan. Bukan karena kondisi Musa saat ini, tapi karena jiwa lain yang sudah terlanjur ia sepakati dihatinya. Runa tidak mungkin mengkhianati Radit. Mereka sudah bertunangan. Meski hatinya masih enggan untuk menghapus bayangan Musa.
Ah entah. Runa tak bisa lagi membendung air matanya. Menangis tapi tak bersuara.
Akan tetapi, sebuah sentuhan tangan mendarat di kedua bahunya, seolah menghentikan langkah mundurnya. Sontak Runa sangat terkejut dibuatnya. Runa menoleh kepada seseorang yang dengan sembarangan menyentuh bahunya.
“Radit?” Tanya Runa. Radit menatap gadis itu. Ia kembali melihat kesedihan di wajah wanita terkasihnya. Radit menuntun langkah Runa dan mengajaknya untuk duduk di atas sebuah bangku taman, membiarkan Runa membetulkan posisi wajahnya agar bisa kembali terlihat stabil. Pikiran Runa kacau.
“Shafaruna. Aku mengerti!” Ucap Radit.
Sekelebat memori tentang masa lalu kembali terekam dalam ingatan Runa, berbagai macam peristiwa sebelum datangnya hari ini menjadi dilema berkepanjangan. Ucapan yang baru saja dilontarkan Radit, memaksa memorinya untuk kembali mengingat kejadian masa silam. Runa dan Radit terbawa dalam angannya masing-masing.
***