bc

TUAN PENA DAN GADIS JILBAB BIRU

book_age18+
29
IKUTI
1K
BACA
family
arranged marriage
drama
tragedy
sweet
serious
disappearance
first love
friendship
lonely
like
intro-logo
Uraian

Runa melangkah mundur perlahan. Hatinya menangis sungguh teriris.

Bukan. Bukan karena kondisi Musa saat ini, tapi karena hati lain yang sudah terlanjur ia sepakati dihatinya. Runa tidak mungkin mengkhianati Radit. Mereka sudah bertunangan. Meski hatinya masih enggan untuk menghapus bayangan Musa.

Ah entah. Runa tak bisa lagi membendung air matanya. Menangis tapi tak bersuara.

Akan tetapi, sebuah sentuhan tangan mendarat di kedua bahunya, seolah menghentikan langkah mundurnya. Sontak Runa sangat terkejut dibuatnya. Runa menoleh kepada seseorang yang dengan sembarangan menyentuh bahunya.

“Radit?” Tanya Runa. Radit menatap gadis itu. Pikiran Runa kacau.

Kepada siapakah hati Shafaruna akan dilabuhkan? Sosok Tuan Penanya yang selalu menjadi khayalan ataukah kenyataan indah semisal Raditya?

Mampukah gadis jilbab biru mempertahankan hatinya untuk cinta yang satu? Mengingat siapa yang terlebih dahulu dicintainya?

Tuan Pena yang jauh dari raga, sebagai Kejora?

Ataukah sang hujan yang dikirim Tuhan dari langit?

Konflik dalam novel ini begitu rumit, bukan tentang cinta segitiga, melainkan berbicara soal rasa cinta yang memiliki warna setia.

chap-preview
Pratinjau gratis
Ingatan Sepenggal Kisah
Dengan cepat Runa terbangun dari posisi duduknya. Mencari tas slempang kecil yang biasa ia pakai. Dibelakang pintu kamar, tergantung apik sebuah tas slempang berwarna krem muda dengan ornament bunga kecil berwarna biru muda. Runa merogoh dua buah saku di dalam tas tersebut, mencari secarik kertas yang sempat ditaruhnya asal kala itu. Sebuah gumpalan kertas telah di genggamnya. Dibukanya perlahan. Terlihat beberapa garisan-garisan kecil yang membuat kertas tersebut menjadi kusut. “Ketemu! rumah sakit yang sama?” Runa berusaha mengumpulkan daya ingatnya. Keesokan harinya, Runa kembali tidak masuk bekerja. Ia lebih memilih pergi menuju rumah sakit yang dilaluinya dengan menumpangi sebuah bus yang membawa tubuh mungilnya perlahan menjauh dari halte. Diam-diam, Radit mengikuti Runa dari motor yang dikendarainya tepat sepuluh meter di belakang bus yang masih melaju. Sejak subuh tadi Radit memang sengaja menunggu Runa di persimpangan jalan dekat rumahnya, ia ingin memastikan bahwa Runa memang sedang dalam keadaan baik-baik saja, dan yang terpenting tidak ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis tunangannya tersebut. Runa berjalan cepat di sepanjang koridor rumah sakit yang sempat beberapa kali dikunjunginya. Peluhnya sedikit bercucuran di sekitar dahinya. Jantungnya berdegup kencang penuh debaran. Runa takut dengan apa yang mungkin saja terjadi setelah ini. Namun, tak ada hal lain yang bisa diperbuatnya kali ini. Sungguh Runa sudah sangat lelah dengan semua ini. Ia ingin menyudahi teka-teki tak berpenghujung ini. Maka dari itu, Runa ingin mendengarkan penjelasan dari lelaki selain Radit. Seorang lelaki yang saat ini bisa dilihatnya dari kejauhan. Lelaki yang tengah berada di atas kursi roda dan dibantu oleh seseorang yang juga pernah dilihatnya beberapa kali, ya Runa mengingatnya untuk kali ini, dialah Papanya Musa yang sempat dilihatnya beberapa waktu lalu. Runa menghentikan langkah. Niat awalnya mendadak ia urungkan. Musa terlihat pucat pasi, kondisi tubuhnya seperti banyak yang berubah. Lebih kurus dari sebelumnya. Kedua kakinya harus tertopang oleh bantuan sebuah kursi beroda. Runa melangkah mundur perlahan. Hatinya menangis sungguh teriris. Bukan. Bukan karena kondisi Musa saat ini, tapi karena jiwa lain yang sudah terlanjur ia sepakati dihatinya. Runa tidak mungkin mengkhianati Radit. Mereka sudah bertunangan. Meski hatinya masih enggan untuk menghapus bayangan Musa. Ah entah. Runa tak bisa lagi membendung air matanya. Menangis tapi tak bersuara. Akan tetapi, sebuah sentuhan tangan mendarat di kedua bahunya, seolah menghentikan langkah mundurnya. Sontak Runa sangat terkejut dibuatnya. Runa menoleh kepada seseorang yang dengan sembarangan menyentuh bahunya. “Radit?” Tanya Runa. Radit menatap gadis itu. Ia kembali melihat kesedihan di wajah wanita terkasihnya. Radit menuntun langkah Runa dan mengajaknya untuk duduk di atas sebuah bangku taman, membiarkan Runa membetulkan posisi wajahnya agar bisa kembali terlihat stabil. Pikiran Runa kacau. “Shafaruna. Aku mengerti!” Ucap Radit.             Sekelebat memori tentang masa lalu kembali terekam dalam ingatan Runa, berbagai macam peristiwa sebelum datangnya hari ini menjadi dilema berkepanjangan. Ucapan yang baru saja dilontarkan Radit, memaksa memorinya untuk kembali mengingat kejadian masa silam. Runa dan Radit terbawa dalam angannya masing-masing. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

FINDING THE ONE

read
35.8K
bc

Mendadak Jadi Istri CEO

read
1.6M
bc

BUKAN CINDERELLA

read
114.5K
bc

Hello Wife

read
1.4M
bc

Just Friendship Marriage

read
516.0K
bc

Marriage Not Dating

read
564.8K
bc

Takdir Cinta

read
504.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook