______________________________________
FANFICT_OBSESSION
PART 3:
Garuda Bhakti
______________________________________
Garuda Bhakti School merupakan sekolah pertama Senior High School Internasional yang berada di Jakarta Indonesia dengan sistem Boarding School, hasil kerjasama pemerintah Indonesia dengan UNICEF dan WHO agar menciptakan Sekolah yang berbasis Ramah Anak.
Garuda Bhakti berada di ruas kiri, sedangkan di ruas kanan terdapat bangunan yang lebih luas yaitu sebuah asrama dengan gedung seperti huruf 'U', karena bawahnya menyatu tetapi atasnya membentuk dua menara dengan plang besar di puncak gedung bertuliskan 'GARUDA BHAKTI SCHOOL' yang melintang di antara dua gedung menara asrama. Terbagi menjadi dua sayap Utara dan Sayap Selatan yang berada di menara Utara.
Sayap Utara adalah asrama putri yang di beri nama Kartini yang merupakan tokoh Nasional Indonesia dan juga dikenal sebagai Pelopor Kebangkitan Perempuan Pribumi. Surat-suratnya yang dibukukan dengan tajuk "Habis Gelap Terbitlah Terang" memuat cita-cita dan pemikiran-pemikirannya dalam memperjuangkan hak perempuan di Indonesia. Sedangkan Sayap Selatan adalah asrama putra yang di beri nama Soewardi atau Raden Soewardi Soejaningrat tapi di lebih akrab di kenal dengan nama Ki Hajar Dewantara yang merupakan sebagi bapak pendidikan Indonesia. Ajarannya pun dipakai oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sebagai jargon, yaitu tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberi dorongan, di tengah menciptakan membangkitkan semangat, di depan memberi contoh). Mereka adalah dua nama yang sudah berjasa dari perjuangan pendidikan di Indonesia, yang patut kita teladani dengan jasa mereka di saat dulu kala.
Bangunan sekolah dan asrama disambungkan oleh jalan yang cukup luas, yang dilindungi oleh atap, seperti lorong di rumah sakit, dengan beberapa bangku taman di sampingnya. Banyak tulisan berupa peringatan umum seperti 'Dilarang Membuang Sampah Sembarangan', ada sebuah prasasti atau monument di lobby.
Garuda Bhakti mempunyai fasilitas yang lengkap, yang bisa di gunakan siswa dan siswinya untuk menunjang kemampuan yang di milikinya, mulai dari aula, trading post, bank pelajar, perpustakaan, teater pentas Button Hall, ruang serbaguna, pusat komputer, bisnis dan media. Pusat Pendidikan. Area editorial dan penerbitan untuk jurnalisme dan produksi majalah koran. Ada juga studio musik, dan stasiun radio sekolah, dan lain-lain.
Garuda Bhakti juga mempunyai 5 lantai dalam bangunannya. Di lantai 1 tadi selain lobby, ada dining room, dapur. Lantai dua adalah kamar guru, pengawas, pengasuh dan staf lainnya. Kamar siswa di lantai 3 dan 4. Lantai lima hanya berupa ruang yang terbuka, enak untuk mencari sumber inspirasi. Terpasang juga sebuah lift di setiap lantainya untuk para siswa dan siswi yang akan naik ataupun turun ada juga bisa menggunakan tangga. Setiap keluar dari lift, Ruangan terdiri dari pintu besar. Lorong cukup padat, terang. Dengan tiang-tiang dan pagar, di sisi lain berupa beranda, bisa melihat pemandangan dari sana. Setiap kamar mereka berukuran sekitar 4x4, terdapat tiga tempat tidur, dan diantara ter dapat lemari kecil setiap sisinya. Di tengahnya jendela cukup besar. Di depan ranjang, samping pintu, ada seperti meja rias dengan cermin besar, meja cukup panjang dengan dua kursi plastik.
*****
"Kak Rey..." Rey menghentikan langkah kakinya saat mau memasuki kelasnya, Betrand juga ikut berhenti, melihat siapa yang memanggilnya.
"Aku Fateh dari Kelas 10-A, mau minta formulir kepengurusan buat masuk OSIS Kak." Ucapnya saat kini sudah berhenti di hadapan Rey dan juga Betrand.
"Butuh berapa?" Tanya Rey, Betrand langsung masuk, setelah ia tahu apa yang di pinta Fateh.
"Tiga, sama buat kedua teman aku." Rey mengangguk.
"Kakak Ambil dulu di Ruang OSIS, mau ikut." Fateh mengangguk, lalu mengikuti Rey dari arah belakang.
"Kenapa tiba-tiba mau ikut OSIS." Tanya Rey.
"Ternyata, kalau sekolah di boarding school itu, kalau tidak ada kegiatan, benar-benar membosankan Kak, saat kini selesai belajar, kita tidak berbuat apa-apa lagi, hanya duduk di kamar, ataupun hanya jalan-jalan, mengelilingi sekolah, tanpa ada tujuan." Rey mengangguk.
"Tapi, di balik alasan yang lain, aku penasaran, semenyenangkan apa jika ikut kegiatan di sekolah." Tambah Fateh.
"Memangnya kamu belum pernah mengikuti organisasi, semasa SMP." Fateh menggeleng dengan cepat.
"Aku anak home schooling, jadi ini adalah sekolah pertama aku di luar." Rey mengangguk mengerti. Rey mengeluarkan kunci di balik name tag yang tergantung di lehernya.
"Oh pantesan, tapi kamu hebat ya bisa masuk ke Garuda Bhakti?" Rey mempersilahkan Fateh untuk masuk.
"Allhhamduliah Kak."
"Beasiswa?" Tanya Rey sekali lagi.
"Iya Kak." Fateh duduk di sebuah kursi yang di perintahkan Rey, Rey terlihat sedang mencari sesuatu, dan Fateh hanya melihatnya. Kini Rey telah kembali dan duduk dimana ada Fateh berada, Rey sendiri tidak duduk di depan Fateh, karena itu adalah sang ketua OSIS yang kini masih menjabat.
"Ini formulir nya Teh, di isi lengkap, nanti kalau sudah di isi, kamu bisa berikan ini sama Kak Saskia, tahu kan, Kak Saskia?" Tanya Rey.
"Pacarnya Kakak?" Jawab Fateh yang langsung dapat gelengan kepala dari Rey.
"Sekertaris keanggotaan, yang bertugas untuk mendata anak-anak baru yang mengikuti OSIS, dan nantinya kami akan ada penyeleksian, karena khusus untuk OSIS, Sekolah Garuda Bhakti hanya memilih 20 orang saja dari yang sudah mendaftar." Beritahunya, Fateh baru mengerti, jadi sistem organisasi di sekolah juga ada tahap seleksinya.
"Termasuk organisasi yang lainnya?" Rey mengerutkan keningnya, Fateh jadi bingung, apa ia salah bicara.
"Yang lainnya apa? Memang ada organisasi selain Osis di sini?" Rey malah balik bertanya pada Fateh, Fateh menggaruk kepalanya yang menjadi tidak mengerti.
"Ateh juga tidak tahu Kak."
"Formulir sudah di dapat, lebih baik kita segera ke kelas yuk, Garuda Bhakti tidak mentolerir siswa dan siswinya yang telat masuk di jam pertama." Ajak Rey, Fateh segera bangkit, dan mengangguk.
"Kak Terimakasih ya formulirnya, kalau begitu aku ke kelas dulu." Rey mengangguk, dan melihat kepergian Fateh, setelah itu, Rey melihat jam yang melingkar di tangannya, ada 10 menit lagi, dan ia pun langsung kembali berjalan kekelasnya.
"Reeeeeey." Rey kembali berhenti, rasanya, hari ini banyak sekali orang yang mencarinya, lalu sekarang siapa lagi. Dengan malas Rey berbalik kearah belakang, ia melihat Flavio yang sedang berlari menghampirinya, lalu langsung menggandeng tangannya.
"Vio, kita masih memakai seragam, tidak baik melakukan hal ini di lingkungan sekolah." Rey melepaskan tangan Flavio yang menggandeng tangannya.
"Tapi Rey." Flavio kembali menarik tangan Rey. Rey benar-benar takut ia akan ketahuan, kalau itu sampai terjadi, kemungkinan akan ada masalah yang cukup besar.
"Tidak Vio, jangan lakuin ini, itu akan membahayakan kita, jika sampai kita ketahuan sama guru atau staf-staf, yang tiba-tiba saja lewat." Paksa Rey, dan pada akhirnya Flavio menurut, kini mereka berjalan berdua saling beriringan satu sama lain.
"Kamu ngapain ke kantor OSIS?" Tanya Flavio.
"Ada anak kelas 10 yang meminta Formulir OSIS." Jawabnya, Flavio mengangguk.
"Nanti ada kegiatan tidak?" Tanya Flavio lagi, Rey terdiam, ia pikir hari ini, tidak ada kegiatan apa-apa.
"Tidak." Flavio tersenyum.
"Anterin aku main biola di gedung musik." Ajak Flavio mendahului Rey, lalu memutar tubuhnya dan melihat Rey dari arah depan.
"Kan ada Anneth biasanya juga, tapi kenapa team musik harus latihan di hati Jum'at?" Rey heran, karena seluruh kegiatan ekstrakurikuler di lakukan hanya di hari sabtu, dan ini hari Jum'at mereka sudah berlatih.
"Ini bukan team musik yang akan latihan, tapi aku, kan Minggu depan sekolah mengirimkan aku buat mengikuti pelatihan khusus untuk nanti perlombaan di Kuala lumpur." Beritahu Flavio, dan Rey sekarang paham.
"Oke, tapi janji latihan ya, jangan yang aneh-aneh lagi." Flavio memberikan dua jempolnya buat Rey, lalu berbalik dan melangkah pergi menuju kelasnya. Hubungan Rey dan Flavio sudah berjalan 6 bulan, Rey menyadari bahwa tugasnya saat ini adalah belajar, tapi dengan Rey melakukan ini, karena untuk menambah semangat, dan melatih diri dalam sikap tanggung jawab. Di katakan cinta, memang saat ini, Rey sangat mencintainya, apalagi Flavio anak yang baik, pintar musik, dan semua juga sayang terhadap Flavio. Rey tidak langsung menuju tempat duduknya, tapi Ia menghampiri Saskia terlebih dahulu, karena ada yang ingin di sampaikan.
"Saskia, nanti jika ada orang yang cari kamu, langsung samperin ya, hari ini Dia mengambil 3 Formulir untuk bergabung dengan OSIS." Beritahu Rey, dan Saskia mengangguk.
"Siapa namanya?" Tanya Saskia.
"Aduh aku lupa lagi, tapi kalau gak salah namanya itu, Teh." Saskia menutup mulutnya, mendengar nama yang di beritahukan dari Rey.
"Iya Teh, namanya Teh." Saskia pun mengangguk, dan Rey pun kembali dan duduk di kursinya, bersebelahan dengan Betrand.
Tiap kelas di Garuda Bhakti hanya terdapat 20 siswa dan siswi, 10 laki-laki dan 10 perempuan, dengan posisi duduk 4 ke arah samping dan 5 ke arah belakang. Satu meja hanya di duduki satu kata orang, tiap meja sudah di bekali dengan satu komputer. Ada 2 white board yang besar di depan mereka, Pendingin ruangan di setiap sudut, dan satu televisi yang tergantung di ujung dekat pintu.
Ini adalah Garuda Bhakti, semua bisa terjadi apapun jika seseorang mempunyai kemauan untuk mau, maka dengan itu, selama fasilitas sudah di siapkan dan cukup mendukung untuk di lakukan, maka itu adalah sebuah kesempatan yang secepatnya harus kita manfaatkan. Seperti yang di lakukan oleh pasangan pendiri dari Garuda Bhakti Mark Wezt Kennedy dan juga Elza Kennedy, salah satu pasangan yang berpengaruh dalam pendidikan di saat ini, dan mereka juga adalah orang-orang hebat yang bisa membawa UNICEF dan WHO untuk membantu dan mengembangkan kembali sistem ajaran yang saat ini sudah mulai tidak sesuai pada ranah sekolah, maka di adakannya, sekolah yang ramah Anak. melihat potensi Indonesia dalam hal pendidikan cukup tinggi. Bisa di Bilang, Garuda Bhakti adalah sekolah yang berhasil Mark dan Elza bangun dengan relawan-relawan yang berada di Indonesia, Bhakti sendiri sudah mempunyai nama tersendiri dan sangat populer sampai saat ini, tepatnya di wilayah Asia. Sekolah pertama yang di Bangun kedua pasangan ini, berada di wilayah kawasan Thailand, dan untuk di Indonesia sendiri ini adalah sekolah ke 4 yang di resmikan langsung oleh presiden Jenderal TNI Prof. Dr. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, M.A., atau lebih dikenal dengan istilah SBY adalah Presiden Indonesia keenam yang menjabat sejak 20 Oktober 2004 sampai 2014, pada tahun 2009 di Jakarta.
13 Tahun Garuda Bhakti berada di Indonesia, dan sudah mendapatkan lulusan terbaik, untuk melanjutkan studi atau dalam hal yang lainnya, apalagi kerjasama dengan pihak-pihak nama-nama universitas dalam dan luar, sudah siap menerima lulusan dari sekolah Garuda Bhakti tanpa ada seleksi, karena mereka sudah percaya akan keberhasilan sekolah untuk mendidik siswa dan siswinya. Uang tidak bisa bermain, sekaya apapun orang itu, dan sepenting apa itu keluarganya, jika mereka tidak mendapatkan nilai standar yang telah di tetapkan Sekolah, maka mereka tetap tidak bisa masuk dan bergabung dengan jajaran siswa dan siswi Garuda Bhakti.
Ada dua jalur untuk bisa masuk dan bergabung dengan Garuda Bhakti yang pertama adalah jalur Bea Siswa dan yang kedua adalah jalur Ujian Pusat. Beasiswa sendiri Garuda Bhakti mempunyai 2 jalur, jalur 1 untuk siswa dan siswa yang mau melanjutkan sekolah dengan ekonomi yang benar-benar di bawah sehingga biaya Full mereka berikan kepada siswa tanpa harus membayar apapun. Jalur 2 di berikan untuk seluruh siswa luar ataupun dalam, siswa luar sendiri adalah siswa yang melakukan sekolah atau kegiatan belajar hanya di dalam rumah atau Homeschooling, dimana mereka nanti akan di arahkan untuk mengikuti Tes di Sekolah Garuda School. Sedangkan, siswa dalam sekolah, adalah siswa yang memang belajar dan berada di dalam wilayah sekolah, dengan Tes yang di lakukan secara langsung dan akan mendatangkan pihak Garuda Bhakti School pada sekolah yang sudah di tetapkan di setiap kotanya.
Garuda Bhakti setiap angkatan hanya menerima 114 orang. 100 Orang dari jalur pusat dan 14 Orang dari jalur Beasiswa. Di bagi 2, menjadi 57 laki-laki dan 57 perempuan, dan itu mereka selalu lakukan di saat pertama sekolah ini di Bangun.
*****
Pihak sekolah dan jajaran kepengurusan sekolah, tidak ada yang membicarakan masalah hal ini, mereka memilih diam, dari pada harus ikut berkomentar yang tetap tidak akan ada hasilnya, dan mungkin juga mereka menganggap ini sudah menjadi hal yang biasa karena, mereka hampir mendengar suara ini berada di tahun yang ganjil, dimana sekolah ini di Bangun, khususnya tahun sekarang, ini adalah sekolah tahun ke 13.
Mereka belajar dan mengajar seperti biasanya, lancar dan tidak ada masalah apapun. Semua bisa terkendali dengan baik, tidak ada yang perlu di khawatirkan, khususnya dari kelas 10 yang mungkin ini adalah hal yang sangat baru buat mereka.
Pintu toilet yang tertutup tiba-tiba saja dengan pelan terbuka seperti ada yang membukanya. Ratu yang berada di bilik toilet paling ujung merasakan ada seseorang yang kini masuk kedalam toilet di sampingnya, Ratu tidak peduli, tapi ia merasakan bahwa pintu itu seolah tidak di tutup lagi, kalau ada yang masuk bagaimana, walaupun ini adalah toilet perempuan, tapi tidak memungkinkan juga karena toilet laki-laki dan perempuan itu saling bersebelahan, kalau pintu toilet perempuan tidak di tutup, dan mungkin mereka toilet ini kosong, dan takut ada yang masuk.
"Lo kok tidak tutup pintu toiletnya, kalau ada yang masuk bagaimana?" Tanya Ratu pada seseorang yang berada di bilik sampingnya. Cukup lama terdiam, Ratu yang sebenarnya ketoilet hanya untuk menenangkan hatinya dari seseorang lelaki bernama Alvaro yang selalu mengacuhkannya, dan tidak ada tempat yang lain, hanya toilet lah yang selalu ia gunakan.
"Lo bisa jawab Gue tidak? Itu pintu di tutup."
"Brakkkkk." Ratu terkaget, saat mendengar pintu keras yang di tutupnya, lalu Ratu perlahan bangkit dan membuka pintu bilik kamar mandinya, melihat kesamping karena pintu itu masih terbuka, tapi Ratu tidak menemukan apa-apa, toilet itu kosong. Ratu berjalan menuju arah pintu toilet, yang tertutup, lalu membukanya, dan berjalan keluar, melihat kiri dan kanan, tapi tidak ada siapa-siapa.
"Sudahlah." Ratu tidak mempermasalahkan lagi, ia langsung pergi saja ke kelasnya, untuk mengambil Tasnya dan beristirahat di kamarnya.
______________________________________