"Aku merindukannya." gumam Liana menatap rumah Gavin dari dalam mobilnya. "Merindukan siapa nyonya?" pemuda yang bernama Gavin itu?" tanya Narto. "Iya Narto, dia sudah ku anggap seperti putraku sendiri." "Dia pemuda yang baik ya nyonya." Liana mengangguk. Hampir lama Liana terus memandangi rumah Gavin yang tampak sepi. tak terlihat sama sekali sang pemilik keluar dari rumah. "Apakah kita akan terus disini nyonya? nyonya tidak turun dan bertamu ke rumah Gavin." "Tidak Narto! ehm, kau keberatan jika aku meminta lebih lama lagi disini?" "Sama sekali tidak nyonya," jawab Narto merasa sungkan. Mata Liana menatap sebuah mobil lain berhenti di halaman rumah Gavin, Liana seperti mengenali mobil tersebut. tak lama keluar lah seorang pria dari dalam mobil tersebut. "Fikar!" gumam Liana k

