THE NEIGHBOUR

2201 Kata
Hati Cherry tercekat, entah kenapa laki-laki yang ternyata penghuni baru apartemen yang terletak selisih dua pintu dari apartemen Ethan itu membuatnya merasakan sesuatu yang ganjil. Cherry sempat bertanya pada Philip apakah dia kenal tetangga yang tinggal di sekitar sini? Philip bilang dia mengenal hampir semua tetangga Ethan di lantai teratas gedung apartemen ini, apalagi jumlahnya tidak sebanyak lantai di bawahnya. Walaupun kenyataannya Philip jarang bercengkerama, karena kebanyakan dari mereka adalah para eksekutif muda dengan jabatan yang tinggi yang terlalu sibuk. Seperti halnya Ethan. Perasaan ganjil yang dirasakan Cherry tak juga hilang. Dingin merayap, ketika laki-laki itu tersenyum padanya pagi ini ketika Cherry keluar membawa sekantong sampah dan menyerahkan pada cleaning service yang sudah menunggu di depan pintu. Laki-laki itu juga membuang sekantong kecil sampah nya. Mata Cherry beradu pandang dengan mata laki-laki itu, dan lagi-lagi...laki-laki itu tersenyum pada Cherry, yang entah kenapa senyuman itu justru terlihat bagai sebuah seringaian di mata Cherry. Cherry mengangguk sopan, dan segera masuk ke dalam apartemen. Philip seperti biasa sedang membereskan dapur, dan Ethan sedang menikmati sarapan nya. Cherry melangkah ke arah Ethan. Ethan sangat tampan dengan balutan kemeja warna biru muda dan celana kakhinya. Rambutnya sudah agak panjang dan seksi. "Kenapa pipimu merah begitu?Cepat sarapan." Ethan menatap Cherry sambil tersenyum...ah...tidak...Ethan tertawa kecil. Cherry masih berdiri di samping Ethan, mengambil tisu dan mengusap ujung bibir Ethan yang ada sedikit lelehan s**u putih. "Hmmm...manis sekali, girlfriend?" Ethan menggoda sambil meraih pinggang Cherry. Berdiri, dan meraup bibir Cherry lembut. Perlahan, hingga bibir mungil itu bergerak membalas. Ethan mengangkat tubuh Cherry untuk memperdalam ciuman nya. Membuat Cherry terpekik kecil disela ciuman mereka. "Wow...do I miss something here?" Philip yang terkejut dengan kelakuan dua anak muda di depannya menatap mereka dengan pandangan menyelidik. Cherry berusaha melepaskan diri dari Ethan tapi Ethan justru mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Cherry. Philip mendekati mereka. Saat itu juga Cherry ingin bumi menelannya. Wajahnya merah karena malu. Ethan menurunkan Cherry tanpa melepaskan pelukan nya di pinggang Cherry. "Look at her face, Philip...she is blushing".  Ethan tertawa sambil membalikkan tubuh Cherry menghadap ke arah Philip. Memeluk perut Cherry erat agar tidak melarikan diri. Philip tertawa kencang saat Cherry justru menutupi wajahnya. Ethan benar-benar kelewatan. Philip merangkul dua anak manusia yang sedang jatuh cinta itu. Ikut bahagia. Rasa hangat menyelusup di hatinya. Ini luar biasa setelah puluhan tahun Philip menjadi saksi betapa Ethan mengalami hidup yang tak mudah. Kelihatan sempurna dan kokoh dari luar tapi begitu rapuh di dalam. "I am so happy for you...both of you." Philip tersenyum tulus sambil melepaskan rangkulan nya. Ethan tersenyum, dan Cherry lebih memilih menyurukkan wajahnya ke leher Ethan, tak kuasa menahan malu. "Hei...aku tidak mungkin bisa bekerja kalau begini caranya." Ethan menggoda tanpa melepaskan pelukannya. Cherry mendongak, memberi jarak pada wajahnya dari wajah Ethan. Cherry menaikkan alis nya tak mengerti. "Kalau kau tidak melepaskan pelukanmu...yang ada aku akan membawamu ke kamarku, lalu aku akan mengurungmu seharian". Cherry melepaskan pelukannya, tapi tidak dengan Ethan. "Ya sudah...berangkatlah sekarang." "Hmm..." "Baiklah, lepaskan." Cherry menarik dirinya. Ethan menggeleng. Enggan rasanya pergi andai tak mengingat dirinya begitu dibutuhkan para pasien nya. "Tidak ada kelas bukan hari ini? Ikut ke rumah sakit, okay?" "Tidak bisa, Ethan...aku harus membenahi bajumu yang baru saja datang dari laundry terus...hhhmph...Ethan..." Cherry gagal menyelesaikan alasannya karena Ethan membungkam mulutnya. Menautkan bibir mereka dengan sedikit kasar. God! Ethan sedari tadi menciumnya tiba-tiba. Membuat Cherry merona dan merasa malu. Ethan melepaskan pelukannya. "Ganti bajumu." Ethan tertawa sambil mengacak rambut Cherry pelan. Tanpa membuang waktu lagi Cherry melesat ke kamarnya. Cherry ingin menormalkan debaran jantungnya yang seakan melompat-lompat. Ethan tersenyum. Manis sekali...kadang galak setengah mati...kadang bisa semalu itu? Cherry keluar dengan dress polos berwarna merah darah, berpadu cantik dengan kulitnya yang bersih. Bukan putih seperti kebanyakan orang Amerika asli, tapi kulit Cherry adalah perpaduan antara putih dan kuning langsat. Mulus tak bercela. Ethan yang sedang mengenakan jas kerjanya menelan saliva nya samar. Entahlah...dia sudah sering tidur...tidur dalam artian sebenarnya, dengan berbagai macam tipe wanita, tapi tak ada yang dapat membangkitkan gairah nya seperti Cherry. Hanya dengan melihat Cherry seperti ini saja Ethan merasa tubuhnya menghangat. Ethan melangkah keluar setelah Cherry memakai sebuah flat shoes berwarna senada dengan bajunya. Ethan melirik seorang pria yang berjalan menuju lift. Penghuni baru apartemen ini. Ethan membatin kata-katanya. Aroma tembakau cukup terasa ketika laki-laki itu melewatinya. Cherry selesai menekan password, menutup pintu dan Ethan menggandeng Cherry menuju lift. Laki-laki itu masih berdiri di depan lift menunggu pintu terbuka. Ethan merasa Cherry mengeratkan pegangan tangannya. Pintu lift terbuka, laki-laki itu masuk begitu juga Ethan dan Cherry. Laki-laki itu menempatkan diri di sudut lift. Cherry semakin mengeratkan genggaman tangannya membuat Ethan menoleh, tersenyum menenangkan. Mereka sampai di basement apartemen. Ethan segera menarik Cherry keluar, menuju mobil Bugatti mewah milik Ethan. Ethan melajukan mobilnya pelan. Lewat kaca spion dia bisa melihat laki - laki itu hanya diam mematung di depan pintu lift, dengan tatapan dingin menyebarkan ketakutan, menatap mobil Ethan yang keluar perlahan dari basement. Ethan menepis pikiran buruknya, tapi tak ada salahnya curiga. Terkadang waspada itu harus. Begitu sampai di rumah sakit Ethan segera menarik Cherry menuju ruangan nya, diiringi tatapan iri para perawat yang mengidolakan Ethan. Mereka terang-terangan berbisik-bisik, bahkan ada yang secara nyata mendelik tak suka pada Cherry. Dia berpacaran dengan tingkat resiko tinggi batin Cherry sambil tersenyum. Resiko ditatap tak suka para penggemar Ethan. Secara tak langsung dia sudah mempunyai haters. Mudah-mudahan haters nya adalah silent haters yang tidak brutal, batinnya miris. Ruangan Ethan cukup luas. Meja kayu, kursi, tempat tidur pasien...semua bernuansa putih. Meja Ethan cukup rapi dengan beberapa file di atasnya. Seorang perawat masuk memastikan Ethan siap menerima pasien. Ethan mengisyaratkan Cherry untuk duduk di kursi di sampingnya. Kursi yang menghadap langsung pada Ethan. "Ethan...sebaiknya aku menunggu  di luar, okay." Cherry hendak beranjak. Ethan menatap Cherry, tatapan yang seakan berkata tidak dengan banyak tanda seru! Cherry mendudukkan b****g nya asal. Dilihatnya sudut bibir Ethan sedikit tertarik ke atas. Tersenyum miring penuh kemenangan. Beruang kutub kambuh lagi. Cherry merengut. Matanya menatap dua figura foto yang ada di meja Ethan. Foto Ethan dan Dean, juga Ayahnya. Sama seperti yang pernah dilihat Cherry di ruang kerja Ethan. Juga satu figura berisi...fotonya! Cherry yang terlelap berbalut selimut putih. Kapan Ethan mengambilnya?Cherry baru akan menanyakan hal itu ketika ketukan di pintu terdengar diiringi perawat yang tadi mengantarkan seorang pasien laki - laki. Cherry mengurungkan niatnya. Pasien itu duduk dan Ethan mulai memeriksa filenya. Pasien yang bernama Tuan Howard itu sesekali melirik ke arah Cherry. "She is my girlfriend, Mr Howard." Ethan menoleh pada Cherry. "What a beautiful choice." Pasien bernama Howard Dwyne itu menoleh sambil tersenyum ramah ke arah Cherry. Cherry menunduk. Jengah dengan suasana seperti ini. Ethan kembali menganalisa file Tuan Howard. Berbicara beberapa istilah kedokteran dan menjelaskannya dengan sabar. Ethan yang sedang serius. Dengan kacamata ber frame hitam sederhana bertengger sempurna di hidungnya, membuatnya terlihat..hmm...seksi. Dewi batin Cherry berdengung. Peri hati Cherry berjingkrak kegirangan ketika Cherry mengakui bahwa segala sesuatu tentang Ethan itu mengarah ke satu kata...seksi. Ya Tuhan..... Tak sadar Cherry memukul kepalanya pelan. Membuat Ethan menoleh. Cherry langsung menunduk. Berpura-pura sibuk dengan ponsel nya. Tuan Howard selesai dengan pemeriksaannya. Suasana menjadi sedikit membosankan. Pasien ke - 7 dan selesai sudah tugas Ethan. Sudah menjelang makan siang. Ethan menggerakkan tubuhnya. Melepaskan penat badannya. Menoleh pada Cherry yang masih asyik menekuri layar ponsel nya. Ethan menarik tangan Cherry, membuat Cherry mendongak. Ethan lalu menarik pinggang Cherry, mendudukkan tubuh Cherry sempurna di pangkuannya. Cherry terdiam...irama jantungnya mulai berubah menjadi labil. Ethan menempelkan keningng nya di kening Cherry. Mata hitam Ethan sayu, nampak lelah. Cherry mengelus rahang Ethan lembut dengan ibu jarinya. Pelan dan napas hangat saling menerpa. Ethan mencium bibir Cherry lembut. Mereguk manis rasa bibir Cherry yang sudah menjadi candu nya. Bibir mungil itu membalas pelan. Tangan Cherry menelisik leher Ethan perlahan, membuat Ethan mengerang. Ketika ciuman itu perlahan menjadi agak liar... "Hhmph...Ethan, hentikan! Ini rumah sakit." Cherry berbicara di sela ciuman mereka. "Hmm...". Ethan mengabaikan ucapan Cherry. Ethan tak bergeming. Menelisik lebih jauh ke dalam mulut Cherry. Memaksa Cherry membalas ciumannya. "Ethan...aaah..." Cherry melenguh tertahan. Ethan mendaratkan bibirnya ke leher putih Cherry... Ceklek... "Ethan...ups..sorry?" Sebuah suara terdengar membuat Ethan mengeram kesal lalu menoleh ke arah sumber suara. Pintu sudah terbuka, menampakkan sosok Dean yang tersenyum jahil. "Oh...damn it!" Ethan berteriak tertahan. Cherry turun dari pangkuan Ethan. Tersenyum canggung ke arah Dean. "Setidaknya mengetuklah Dean..." Ethan berujar perlahan dengan gigi gemeretuk. Dean tertawa dan mengucapkan maaf berkali-kali. Dean menoleh lagi keluar ruangan, memanggil seseorang dengan sebutan sayang. Seorang gadis cantik bersurai pirang madu yang jernih masuk melewati Dean. Berdiri malu di depan Dean yang sedang menutup pintu. Dean berdiri tepat di samping gadis itu. Ethan yang sedari tadi mengerutkan dahi berdiri. "Lucy?" Tanya Ethan pada gadis itu. Gadis yang bernama Lucy itu mengangguk. Ethan menghampiri Lucy dan memeluknya erat, memutar tubuh Lucy hingga tak menyentuh lantai. Lucy terpekik gembira. "What the...kau...sudah besar sekarang ya." Ethan tertawa sambil menurunkan Lucy. "Oh...please Ethan...aku hanya selisih setahun dari Dean..." Lucy menoleh ke arah Cherry yang berdiri terpaku. "She is my girlfriend." Ethan menarik tangan Cherry untuk mendekat. Dean berdeham pelan lalu mengulum senyuman. Lucy menghampiri Cherry dan memeluknya erat. "Hai Cherry aku Lucy...kau hebat...beruang kutub itu akhirnya mencair juga hatinya." Lucy merunduk sambil setengah berbisik. Cherry yakin gadis ramah ini seumuran dengannya. Cherry membalas pelukan Lucy. Keduanya lalu segera terlibat perbincangan yang asyik, melupakan kehadiran dua pemuda tampan yang tak kan pernah diabaikan oleh banyak wanita. Hanya dua wanita ini yang sanggup mengabaikan mereka. Dean berdeham. Dua wanita cantik itu menoleh. Tanpa ekspresi, lalu meneruskan obrolan mereka. Membuat dua pria yang sedang berdiri jenggah itu saling berpandangan kesal. " Let's get lunch". Lucy menarik tangan Cherry, berjalan keluar ruangan melewati Ethan dan Dean yang terpaku, sambil terus mengobrol tentang woman stuff, tanpa menoleh sedikitpun lagi. Dean melongokkan kepalanya keluar pintu, menatap kepergian Lucy dan Cherry. Tawa mereka masih terdengar. Dean menutup pintu, dan berbalik ke arah Ethan. Ethan sedang memijit-mijit pelipis nya. Pening...tak habis pikir dengan kelakuan Lucy dan Cherry. "Mereka mengabaikan kita, Ethan!" Teriakan Dean membuat Ethan bertambah pening. "Hmm...let get some eat, Dean." Ethan melepas kacamatanya sambil keluar dari ruangan nya. Dean mengikuti kakaknya. Berjalan menuju kantin rumah sakit di lantai dasar. ------------------------------------------ Cherry dan Lucy memutuskan akan makan siang di sebuah restoran cepat saji. Menghemat waktu dan uang begitu kata Lucy. Cherry pikir tak apa-apa makan junk food sekali-kali. Mereka menuju ke gerai McDonald's yang ada di seberang rumah sakit. Antrian cukup ramai. Mereka berdua mengantri sambil berbicara tentang Ethan dan Dean. Kadang keduanya terkikik geli bila ada yang lucu. Lucy lebih mengenal Ethan dan Dean karena mereka bertetangga dulunya. Setelah mendapatkan pesanan mereka, Chery dan Lucy duduk di sudut ruangan. Menghabiskan makanan mereka sambil berbicara pelan. Sesekali tertawa tanpa menghiraukan tatapan jahil para pria yang menatap terang - terangan ke arah mereka, menunjukkan ketertarikan, bahkan melontarkan godaan. Tiga puluh menit kemudian Cherry dan Lucy menyelesaikan makan siangnya dan memutuskan untuk duduk-duduk di taman rumah sakit. Mereka seperti dua kakak beradik yang terpisah sangat lama. Bertemu lagi dan keakraban itu lalu tercipta dengan sendirinya. Cherry menceritakan beberapa hal tentang dirinya, tempat tinggalnya, mendiang kedua orangtuanya dan juga kenapa bisa bersama Ethan. Begitu juga dengan Lucy. Lucy menceritakan kota kelahirannya. Springfield terletak tiga puluh menit perjalanan dari pusat kota Philadelphia. Kota yang tidak terlalu bising seperti di down town. Lucy juga menceritakan bagaimana dulu dia bersahabat dengan Ethan dan Dean. Sama seperti Ayahnya yang juga bersahabat dengan ayah Dean. Ayah Dean masih sering berhubungan dengan ayah Lucy walau sekedar lewat telepon. Bahkan ayah Dean juga menawarkan tempat tinggal untuk Lucy kalau Lucy meneruskan kuliahnya ke New York, tapi ayah Lucy menolaknya halus dengan alasan dia ingin putrinya mandiri. Lucy menceritakan semua. Juga tentang janji masa kecil mereka, tentang Dean yang akan menjadikan Lucy pengantinnya kalau sudah dewasa. Cherry berpikir...Dean itu manis sekali. Seperti Ethan. Ya Tuhan.... Cherry berdiri sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Ethan pasti kesal karena terlalu lama ditinggalkan. Lucy pun menepuk dahinya pelan. Teringat Dean yang pasti akan memasang muka cemberut karena kesal menunggu. Cherry dan Lucy tertawa. Bergegas melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Langkah Cherry dan Lucy terhenti ketika mendapati Ethan dan Dean sedang tertawa-tawa dengan para perawat di ruang jaga. Mereka sama sekali tidak kesal. Mereka terlihat bahagia. Menyisakan Cherry dan Lucy yang akhirnya memilih duduk di ruang tunggu sambil cemberut. -------------------------------- Hillary Ross Valentinetti sedang memandang layar laptop di depannya. Dia baru saja menerima email yang berisi laporan pengintaian lengkap dengan foto-foto, dan video. Foto yang diambil dari dua jam lalu hingga foto terakhir yang diambil beberapa saat sebelum email itu dikirim oleh Viktor Romanov. Foto dua orang gadis yang keluar dari sebuah rumah sakit, menuju gerai makan cepat saji sambil tertawa. Juga foto dua gadis itu berbincang di taman rumah sakit dan sebuah video percakapan mereka saat di taman itu. "Hmm...sekali dayung dua pulau terlampaui...Lucia Deandra Heaton...kau muncul juga. Aku tak perlu repot-repot menyuruh orang menyelidikimu. Kau menyerahkan dirimu sendiri...Kalian cantik tapi tetap tak pantas untuk anak-anakku." Hillary berbisik lirih. Hillary terus bermonolog dan meminum anggur merahnya di sebuah rumah peristirahatan mewah di pinggiran kota New York. Baru saja dia membuat sambungan telepon dengan Viktor agar melakukan sebuah pekerjaan penting yang menyangkut Amabel Cherry Diaz dan Lucia Deandra Heaton. ----------------------------------------- Sementara itu, Viktor Romanov sudah berada di kamar tidur apartemen nya. Menyesap vodka nya sambil meliuk-liukkan tubuhnya diiringi alunan musik klasik Fur Elise karya komposer kenamaan asal Jerman Ludwig Van Beethoven. Viktor Romanov Selayaknya orang gila....... ---------------------------------- Pembaca yang budiman...terimakasih sudah membaca Cherry hingga detik ini. Yang suka dan sudah menyempatkan sedetik waktunya untuk menyelaraskan kinerja otak dan jari hingga mampu menekan tanda LOVE...terimakasih tak terkira ya...Aku doakan kalian bahagia dunia akhirat, yang berkeluarga langgeng jodoh, sehat selalu, punya anak yang sholeh sholihah, dan yang jomblo semoga cepat mengakhiri ke jombloannya. Thanks all
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN