DEEPER IN LOVE

1913 Kata
Lucy memandang Dean yang terlihat frustrasi. Dia sendiri berjuang keras meredam gairah nya. Ooooh...ini menyengsarakan sekali. "Please...Lucy..." Dean terlihat putus asa. Mata Lucy mengerjap, dia tahu kemauan Dean. Dean masih berdiri bertumpu pada lututnya di atas Lucy. Lucy menarik tubuhnya agar terduduk. Tepat di depan perut Dean yang menggetarkan hatinya. Posisi seperti ini justru semakin membuat Dean gila. Dean meraih tangan Lucy... "Aku tahu Dean." Mata Lucy menatap Dean. Matanya mengerjap. Tangannya perlahan membuka ikat pinggang Dean, melemparkannya sembarangan. Dean ingin menyelesaikannya cepat-cepat. Ingin rasanya membuka dan mengeluarkan miliknya sendiri. Memasukkan gairah nya ke dalam mulut Lucy yang setengah terbuka. Gerakan Lucy yang perlahan malah membuatnya semakin tak karuan. Lucy membuka risleting celana Dean dengan tangan gemetar. Bagaimanapun ini yang pertama untuknya. Sedikit demi sedikit...matanya terus memandang Dean.. "Stop it!" Dean berkata sambil memegang tangan Lucy. Dean memeluk tubuh Lucy yang bergetar. "Aku tidak akan memaksakan ini, sampai suatu saat kamu memintanya sendiri padaku." "Maafkan aku Dean..." Suara Lucy lirih tercekat di tenggorokan. "It's really hurt down there." Dean tertawa miris putus asa. Lucy mengangguk. Semua salahnya yang tak bilang dari awal. Dia juga terhanyut. "I love you, Dean." Lucy berbisik sambil menatap Dean dengan pandangan yang dalam. "I love you." Dean mencium kening Lucy. Mereka duduk bersandar di pohon yang menjadi pilar tepat di tengah rumah pohon. Dean memeluk pinggang Lucy erat. Lucy merebahkan kepalanya di pundak Dean. Napas keduanya perlahan teratur. Berhasil meredam gairah mereka sedikit demi sedikit, dan Dean pastilah yang harus berjuang keras menidurkan lagi juniornya. Lucy tersenyum.Ingin sekali tertawa, tapi Lucy menahan tawa nya begitu melihat Dean yang nyata tersiksa. Tiba-tiba Dean merebahkan kepalanya beralaskan paha Lucy. Saling menatap tanpa bicara. Dean menarik tangan kiri Lucy dan meletakkannya di dadanya. Detakan jantung Dean terdengar begitu halus tanda gairahnya telah mereda. Lucy mengelus kepala Dean. Saling tatap dalam diam.Lucy suka saat ini. Dean terlihat semakin manis. Mata Dean pelan-pelan meredup, akhirnya terpejam sempurna . Tertidur. Lucy tersenyum. Pangerannya tertidur beralaskan pahanya. Lucy menatap Dean lekat. Garis wajah Dean sangat tegas, seiring dengan kedewasaannya. Sangat tampan. Handsome, adorable, loveable, dengan kekayaan keluarga yang mengerikan membuat Lucy bergidik ngeri.Tidak usah ditanyakan lagi, pasti banyak wanita yang dengan sukarela bertekuk lutut meminta menjadi penghangat ranjangnya. Dean juga yang membuatnya nekad pergi ke New York. Mencarinya...mencari cinta masa kecilnya. Menyelesaikan kuliah di tempat yang sama dengan Dean, dalam diam. Lucy juga melamar kerja di kantor pusat perusahaan multimedia yang dimiliki oleh dinasti Leandro setelah kelulusannya. Membawa harapan besar dapat bertemu Dean Arthur Leandro, anak dari Bos besar Leandro Corp, sebagai wanita yang berbeda dan wanita mandiri. Harapan yang tidak muluk, hanya ingin bertemu. Itu saja. Hatinya begitu berbunga dan sekaligus hancur ketika suatu hari yang hangat di musim semi, Tuhan mempertemukannya dengan Dean, dalam situasi yang tidak sesuai mimpinya. Flashback on Sepi... Masih terlalu pagi. Leandro Corp belum menampakkan geliat nya. Tapi Lucy sengaja datang pagi - pagi sekali karena ada proyek baru di bagian desain grafis di mana dia ditempatkan di Leandro Corp. Dia ingin mempersiapkan proyek ini dengan matang. Lucy berdiri di depan lift, ingin menuju lantai 17 di mana kantor bagian desain grafis berada. Ting.... Bunyi pintu lift terbuka. Masih dengan menundukkan kepala Lucy masuk ke dalam lift. Begitu dia mengangkat kepala seiring dengan tertutupnya pintu lift, pemandangan menyesakkan terlihat di sudut dalam lift. Seorang wanita sedang b******u dengan seorang pria. Mereka bahkan tak menghiraukan kehadiran Lucy. Meneruskan cumbuan mereka dengan panas seakan Lucy adalah makhluk tak kasat mata atau makhluk abadi yang dapat menembus ruang dan waktu. Mereka b******u seakan mereka sedang memakai selimut "tak terlihat" seperti yang dipakai oleh Harry Potter. Mereka terus b******u, bahkan bunyi kecipak dari tautan bibir mereka membuat Lucy ingin muntah. Lenguhan demi lenguhan membuat Lucy ingin menangis. Dean... Mata Lucy bertemu dengan mata Dean. Mata segelap malam namun bersinar itu mengerjap memandang Lucy. Dahinya berkerut seakan berusaha mengingat sesuatu. Pagutan bibir perempuan jalang itu tak berhenti. Lucy membuang muka. Dia Dean, pangeran masa kecilnya, pangeran kecil yang sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang sangat mempesona. Dan sekarang sedang b******u dengan seorang wanita yang kelewat seksi yang memakai baju kekurangan bahan. Ting.... Pintu lift terbuka dilantai 14 dan jalang itu keluar setelah Dean membisikkan sesuatu di telinganya. Mungkin jalang itu bekerja di sini. Lantai 14 adalah khusus karyawan divisi marketing. Lucy menghela nafas. Pintu lift kembali tertutup sempurna. Menyisakan Lucy dan Dean. Tiba-tiba bulu kuduk Lucy meremang. Deru nafas halus dan terasa hangat menerpa lehernya. Dean berdiri begitu dekat dengannya. Tepat di belakangnya. Bahkan Lucy merasa dia akan segera mati karena gila, hanya karena aroma tubuh Dean yang memabukkan. Aroma maskulin khas seorang pria, aroma kayu-kayuan yang eksotis. Berbaur menguarkan feromon seksi yang mematikan. Membuat Lucy menahan napas. "Lucia Deandra Heaton." Lirih suara bariton Dean menyebut namanya. Suara lirih yang bagai petir dan kilat yang menyayat telinga dan hati Lucy secara bersamaan. "Dean Arthur Leandro..." Lucy berbisik lirih segera setelah berhasil menguasai hatinya. Dean mengecup pundak Lucy ringan, kecupan ringan yang mampu membuat Lucy menggelepar bagai ikan yang terpisah dari sang air. Rasanya...jangan bertanya... Menyiksa.. Saat Dean ingat padanya, mengenali nya...semua sudah berbeda. Betapa selama ini Lucy begitu menulikan telinganya akan semua hal yang berbau gosip, apalagi itu soal Dean. Dean yang womanizer, betapa Lucy menutup mata dan telinganya tak percaya... hingga hari ini! "Back off Dean...Stay away from me as far as you can do!" Suara bergetar keluar dari mulut cantik Lucy sesaat sebelum dia melangkahkan kaki seiring terbukanya pintu lift. Perih... Flashback off Semenjak itu perang dingin pun dimulai. Bendera perang berwarna merah dikibarkan oleh Lucy, perang tanpa kontak fisik, hanya mata, gerakan badan, ekspresi wajah dan hati yang berperan. Lucy berusaha keras menghindari Dean se bisa mungkin. Menghindari untuk satu ruangan, bahkan buru-buru menghabiskan makan siangnya di sebuah restoran begitu tahu Dean ada di restoran itu. Lucy rela membawa bekal sendiri setelah kejadian itu. Makan dengan tak beranjak dari kubikel. Apabila berpapasan atau satu lift dengan Dean, karena kebiasaan Dean yang tidak pernah mau menggunakan lift khusus para petinggi, Lucy memilih bersembunyi di balik tubuh teman-temannya. Hal itu berlangsung selama 1 tahun lebih, dan selama itu pula Dean tak berhenti membujuk dan merayu nya. Mengirimkan bunga yang selalu berakhir di tempat sampah, mengirimkan hadiah-hadiah yang selalu berakhir lagi ke meja kerja Dean. Mengirimkan coklat-coklat mahal yang selalu membuat teman satu ruangannya bersorak gembira karena Lucy memberikan coklat itu secara cuma-cuma untuk mereka semua. Lucy tetaplah Lucy yang mencintai Dean bahkan sejak kejadian di lift pagi itu. Cinta yang menyengsarakan hatinya. Cinta yang membuatnya menghindari Dean dalam segala situasi, demi menjaga hatinya sendiri. Sampai pagi ini, ketika sebuah amplop berwarna merah jambu berdampingan dengan sebuket mawar berwarna biru tergeletak manis di meja kerjanya. Mawar biru, seperti buket mawar biru waktu itu. Waktu si kecil Dean dan Lucy mengucap janji. Mawar biru kesukaan Lucy, Dean masih mengingatnya. Lucy membuka amplop itu dan menemukan foto dirinya dan Dean ketika janji masa kecilnya terucap, bahwa Dean akan menjaga dan menjadikan Lucy pengantin nya. Seingat Lucy foto itu diambil oleh Ethan menggunakan kamera ponsel milik Ayahnya. Foto yang sama dengan foto yang masih disimpan oleh Lucy bersama buket mawar biru dari kebun Ibunya, yang mengering sudah seiring berjalannya waktu. Selembar kertas kecil mengiringi foto itu... I'm sorry Itu juga yang membuatnya ada disini. Di rumah pohon di dekat universitas nya dulu. Tak menyangka Dean juga mengetahui tempat ini. Dulu sekali... sewaktu masih kuliah Lucy sering mengamati Dean dalam diam, dan memikirkan Dean di rumah pohon ini agar tak ada yang mengusik lamunan nya. Tempat ini meredam gundah gulananya, seperti sekarang ini. Dulu...semua berjalan dalam diamnya Lucy yang merasa kecil di hadapan Dean. Bahkan hingga mereka lulus dan Lucy bekerja di perusahaan Dean, Lucy tak pernah membuka jati dirinya. Menyamarkan dirinya dalam surai berwarna hijau, gaya berpakaian nyentrik seperti yang biasa dipakai orang-orang dari desain grafis, yang cenderung bercita rasa seni tinggi, dan berpakaian sesuai selera mereka, bukan sesuai trend. Dan semua itu terbukti membuat Dean tak mengenalinya. Lucy merasa Dean sudah berbeda. Begitu banyak gadis yang berada di sekelilingnya. Lucy merasa bukan siapa-siapa. Siapa yang tahu dalamnya hati, pepatah bilang. Yah...siapa yang tahu bahwa perasaan Dean masih sama seperti dulu, masih sama dengan dirinya. Lucy tak ingin Dean menyerah, hatinya juga tak mau. Hari ini perang itu Lucy sudahi, merasa sudah saatnya berdamai dengan hatinya. Dia tak ingin benar-benar kehilangan Dean. "Aku tahu aku mempesona..." Dean berbisik lirih. Dean tahu apa yang Lucy lakukan. Blush... Rona merah menjalar di pipi Lucy. Dean suka itu. Masih tak menyangka pengantin kecilnya tumbuh menjadi wanita dewasa yang mempesona dan....membangunkan dirinya. Lucy mencium bibir Dean sekilas. "Nakal sekali..." Dean sambil memainkan ujung rambut Lucy. Memilin nya hingga melingkar di jari telunjuk dan melepaskannya. Begitu berulang kali. "Kemana rambut hijaumu? Aku merasa mengenalmu tapi bodohnya aku tertipu penyamaranmu. Tapi...hmm...dengan surai hijau kau terlihat begitu.... nakal." Dean terus memilin-milin ujung rambut Lucy. Lucy memang langsung mengembalikan warna rambutnya seperti semula, pirang madu yang bening, semenjak kejadian di lift pagi waktu itu. Merasa tak ada yang harus disembunyikan lagi, toh Dean sudah tahu. Lucy tersenyum. Seksi dan nakal? "Sudah siang Dean, aku harus kembali ke kantor." "Tidak perlu...ikutlah denganku ke apartemenku." "Aku tidak bisa, Dean...pekerjaanku banyak." Dean mengeluarkan ponselnya dan menelpon Amanda sekretarisnya untuk memberitahukan pada divisi grafis bahwa Lucy tak akan kembali ke kantor, atas permintaan langsung dari Dean. "Itu sangat tidak mendidik dan itu sangat tidak profesional, Dean." Lucy mencebik keras setelah mendengar pembicaraan telepon Dean dan sekretarisnya. "Aku adalah salah satu pemilik perusahaan itu, sayang...kalau kau belum tahu." "Aaahh ya...sombong sekali..." Lucy menggeleng sambil berdiri. Melangkah menuju tangga dan menuruninya. Dean menyusul Lucy. Sesampainya di bawah Dean mengangkat tubuh Lucy ala bridal dan membawa Lucy ke arah mobilnya. Tak peduli teriakan Lucy yang meminta Dean menurunkan nya. Dean mendudukkan Lucy di mobil, memakaikan seatbelt, lalu diapun masuk kedalam mobil dan melajukan mobil menuju apartemen nya. ------------------------------------ Cherry baru saja dari sebuah Street Market yang berada 4 blok dari apartemen Ethan. Tangan kanan dan kirinya menenteng belanjaan. Satu tas plastik besar berisi sayuran dan buah-buahan di tangan kanan, juga satu buah paper bag berisi roti Perancis, tak terlalu repot tapi lumayan berat. Philip meminta tolong pada Cherry untuk pergi ke street market siang itu, saat pasar di sepanjang jalan itu sudah mulai bubar. Kesulitan datang ketika dia ingin menekan tombol lift. Setengah berjongkok Cherry meletakkan plastik berisi buah dan sayuran ke lantai. Tapi entah bagaimana beberapa butir buah jeruk marcoot Australia yang dibelinya menggelinding. Berhenti tepat di depan sepasang sepatu kets Nike berwarna hitam. Sepasang tangan meraih buah-buah jeruk itu dan mengangsurkan nya pada Cherry. Cherry yang sedang berjongkok memungut buah jeruk di dekat kakinya mendongak. "Ini nona..." Laki-laki itu bersuara. "Aaah...terimakasih banyak." Cherry tersenyum sambil menerima dan memasukkan buah jeruk itu kembali ke dalam plastik. Laki-laki itu menekan tombol lift. Cherry masuk setelah laki-laki itu. Laki-laki itu terlihat misterius, dan auranya...entah mengapa Cherry merasakan perasaan aneh menyergap nya. Laki-laki berkemeja hitam, memakai celana jeans biru tua itu memakai jaket panjang berwarna coklat muda, dan memakai syal...style yang cukup aneh untuk cuaca hangat seperti sekarang ini. Sebuah topi hitam bertengger di kepala laki-laki itu. Menyamarkan wajahnya saat menunduk. Laki-laki itu menekan angka 23, angka di mana apartemen Ethan berada. Mungkin bertamu pada salah satu tetangga Ethan batin Cherry. Ting... Pintu lift terbuka dan Cherry melangkah diikuti oleh laki-laki itu. Sesampainya di pintu apartemen Ethan, Cherry menekan password pintu dengan perlahan. Ujung matanya melirik laki-laki yang baru saja melangkah di belakangnya. Laki-laki itu berhenti di depan pintu nomer 7, berarti berjarak dua pintu dari dari apartemen Ethan. Laki-laki itu menekan password dan sebelum melangkah masuk dia menoleh ke arah Cherry. Tersenyum...atau lebih terlihat seperti seringaian? Cherry segera masuk ke dalam apartemen dan mengunci pintunya. Entah kenapa hatinya berdebar-debar. Cherry buru-buru menepis pikiran buruknya. Melangkah menghampiri Philip yang sedang membuat macaroon untuk Ethan. Viktor Romanov Andai Cherry tahu laki-laki itu adalah... Viktor Romanov Tentu hatinya akan berterimakasih karena telah berpikiran buruk. ---------------------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN