THE DEEPEST PAIN

2447 Kata
Ferrari merah menyala Dean memasuki sebuah rumah mewah disebuah kawasan perumahan elit Water Mill, New York. Rumah yang ditaksir seharga 69 juta US dollar itu lebih pantas disebut istana super megah. Rumah dengan kamar tidur berjumlah puluhan dengan interior mewah. Bahkan istana ini mempunyai kolam renang, lapangan tenis, lapangan basket, lapangan menembak dan padang golf sendiri! Sebuah helipad dan landasan pacu pesawat terdapat di area padang golf itu. Inilah kediaman Edward Thomas Leandro, Ayah dari anak - anak dengan gen superior. Selama dalam perjalanan Ethan masih saja mengumpat kasar pada adiknya yang tadi sudah mengganggu kesenangannya. "I need to kill you!" Geram Ethan menahan amarahnya. Dean, sialnya hanya terkekeh tak berkesudahan sedari tadi. Bahkan di telinganya suara sang Kakak lebih terdengar seperti suara sumbang orang yang putus asa dan frustrasi. "Ini terakhir kalinya kamu...membuatku harus berakhir dengan mandi air dingin, Dean!" Ethan memukul kepala adiknya pelan. "Ya...ya...maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja. Tapi...Cherry itu memang menggairahkan, aku rasa...". Dean mengelus-elus dagunya. Ethan benar-benar memukul Dean lumayan keras kali ini. "Auuuuch..sakit, shiittt!" Umpatan keluar dari mulut Dean. "Jauhkan pandangan mata dan pikiran mesummu itu dari Cherry, Dean Arthur Leandro! Atau aku akan dengan senang hati mengebirimu hidup-hidup." Ethan mencebik keras. Dean meringis sambil memandang bagian bawah badannya. Bagaimana nasib Lucy kalau sampai Ethan benar-benar mengebirinya hidup-hidup?" Sesuatu yang hangat menyusup masuk dalam hati Dean. Kakaknya sudah banyak berubah, bahkan jadwal berkunjung ke Club dan bersenang-senang sudah mulai berkurang drastis. Walaupun dia masih mau menerima undangan teman-teman dekatnya, itupun hanya sekedar bersikap ramah dan sopan. Selebihnya, waktunya habis untuk bekerja dan berdiam diri di apartemen. Ethan tidak lagi menyempatkan diri untuk berhura-hura seperti dulu. Lagi-lagi Dean ingin bersulang untuk seorang gadis bernama Cherry itu. Dean memarkir mobilnya di garasi, berjajar dengan mobil mewah dan sederetan koleksi mobil antik sang Ayah. Ethan menghela napas, menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. Dia merasa lebih tenang. Bagaimanapun juga Ethan tak ingin terlihat kacau saat bertemu Ayahnya. Ethan keluar dari mobil dan melangkah menuju rumah. Di depan pintu berukir corak etnik nan besar Ethan di sambut oleh James Sanders, kepala pelayan di istana ini. Sebelumnya Philip yang memegang jabatan itu namun setelah Philip memilih mengikuti Ethan dan menjadi koki pribadinya, Philip merekomendasikan James Sanders sebagai penggantinya. Ternyata James sama mumpuninya dengan Philip, selama bekerja di istana ini track record nya adalah mutlak tak tercela. "Selamat datang Tuan Muda... silahkan...ayah anda sudah menunggu di ruang kerja beliau", sambut James sambil membungkuk hormat. Ethan dan Dean masuk. Belasan maid baik laki-laki maupun wanita berjajar rapi menyambut kedatangan Ethan dan Dean yang boleh dibilang jarang sekali datang ke istana ini semenjak mereka memilih tinggal di apartemen. Sambil berjalan Dean mengernyit. Dia akan segera mengubah peraturan di mansion ini. Tidak akan ada lagi ceremonial penyambutan seperti ini lagi. Ethan dan Dean masuk ke dalam ruang kerja Ayahnya yang berada di sisi kanan mansion ini. Belasan maid yang tadi memberikan penyambutan saling berbisik begitu Ethan dan Dean menghilang dari pandangan mereka. Ada yang memuja Ethan, ada juga yang berpendapat bahwa Dean lebih menawan. Suara mereka semakin riuh saja. Seperti lebah yang berdengung di telinga James Sanders. Sebuah deheman dari seorang James Sanders yang akhirnya mampu membubarkan para maid. Mereka melesat kembali pada pekerjaan masing-masing. James hanya bisa menggeleng. Penggosip! James menuju dapur mengecek para koki yang sedang memasak untuk makan siang. Semua harus sempurna sesuai standar nya. James sangat teliti dan sempurna dalam melakukan pekerjaannya, oleh karena itu Tuan Edward sangat percaya padanya dan selalu puas dengan kinerja seorang James Sanders. Sementara itu, Ethan masuk terlebih dulu disusul Dean yang masuk sambil menggulung lengan kemeja nya. Ayah mereka sedang duduk sambil menikmati segelas wine kualitas terbaik yang diambil dari gudang penyimpan anggurnya. "Masih terlalu pagi Dad untuk segelas wine." Ethan tersenyum sambil memeluk sang Ayah. Ayahnya hanya terkekeh. Ethan duduk di kursi di depan meja Ayahnya diikuti oleh Dean. Menunggu dengan sabar apa yang akan dibicarakan oleh Ayahnya. Ayahnya masih terlihat santai menikmati wine nya, sambil menggoyang-goyangkan gelas wine tersebut. Gerakan yang sangat Ethan hafal. Gerakan yang menandakan sang Ayah sedang ada dalam kegelisahan. Edward meletakkan gelas wine ke meja. Menatap kedua anak kebanggaan nya, lekat sambil menautkan buku-buku jarinya erat. "Dia sudah kembali." Edward Leandro menatap kedua anaknya lekat sambil menarik napas dalam. Ethan terdiam. Amarah tertahan bercampur perih menggelegak dalam hatinya. Ethan sangat tahu yang dimaksud Ayahnya. Dean masih memasang muka datarnya karena memang dia belum mengerti apa sesungguhnya maksud sang Ayah. Dia? Siapa? Dean menunggu penjelasan. Terlintas lagi dalam benak Ethan bayangan masa lalu yang berentang sangat lama. Kejadian 19 tahun lalu.... Flashback on "Kamu jaga ya Dean...aku akan bersembunyi...kamu pejamkan mata kamu, hitunglah sampai 10 lalu kamu cari aku". Anak kecil berusia kira-kira tujuh tahun berkata kepada anak yang lebih muda berusia kurang lebih empat tahun. Dean, anak yang lebih kecil segera berbalik menghadap dinding dan memejamkan mata seraya menghitung pelan satu hingga sepuluh, sementara sang kakak melesat menaiki tangga menuju sebuah kamar besar di lantai dua rumah itu. Kamar kedua orangtuanya sekarang menjadi pilihannya bersembunyi dari Dean, Adiknya. Anak itu memilih bersembunyi di dalam lemari yang sengaja dia buka sedikit saja pintunya, menyisakan celah untuknya bernapas dan berjaga - jaga kalau sang adik mengetahui tempat persembunyian nya nanti. Anak itu terkikik geli sambil menutup mulutnya. Dia yakin Adiknya tidak akan dengan mudah menemukannya kali ini. Lima menit berlalu... Anak itu masih setia menunggu sang adik menemukannya. Tapi lama kelamaan dia merasa kegerahan dan bermaksud keluar dari tempat persembunyian nya. Ceklek! Anak itu mengurungkan niat keluar dari lemari begitu mendengar suara pintu kamar ini dibuka. Dia menahan napas. Adiknya... Bukan! Ternyata bukan sang adik yang masuk ke dalam kamarnya. Tapi sosok sang Ibu yang sedang bersama dengan seorang laki-laki yang bukan Ayahnya! Pemandangan yang seharusnya tak boleh dilihat anak seumurannya, segera tergelar di depannya bagai pertunjukan layar lebar dengan dua bintangnya. Mereka berbuat tak senonoh di tempat tidur sang Ayah! Anak itu, memejamkan mata yang telah berderai dengan kristal bening dari pelupuk nya. Menangis dalam diam. "Kita akan segera lenyapkan si bodoh Leandro itu dari muka bumi."Suara laki-laki itu terengah setelah aktivitas panas mereka. "Sabar sayang...kita akan melakukannya dengan rapi dan tanpa jejak." Sang wanita menyahut sambil memakai bajunya kembali. Keduanya tertawa seperti setan yang memuakkan tanpa tahu ada nyawa lain yang sedang menyaksikan kelakuan b***t mereka dari dalam lemari. Anak itu, Ethan William Leandro...terpaku dalam diam dengan amarah yang meletup dalam dadanya. Sontak hatinya tertanam rasa benci kepada sang Ibu. Rasa benci yang dibawanya berkelana menjalani hidupnya selama hampir 27 tahun. Rasa benci yang menjadikannya takut akan tidur sendiri dalam sebuah kamar, rasa takut akan sebuah kehilangan, dan rasa skeptisnya pada dunia dengan aura percintaan di dalamnya. Trauma yang mengakar bagai benalu pada inangnya. Rasa trauma yang bahkan menjadikannya seperti seorang laki-laki penggila perempuan. Yah...rasa takutnya akan tidur sendirian dalam sebuah kamar menjadikannya selalu membawa perempuan yang berbeda setiap malamnya untuk menemaninya tidur. Kebanyakan dari wanita - wanita itu adalah teman - teman terdekatnya semasa sekolah dan kuliah yang begitu prihatin dengan kondisi Ethan. Mereka bahkan rela membuat jadwal bergantian menemani Ethan. Kebanyakan dari mereka adalah wanita. Walaupun ada beberapa dari mereka adalah pria. Ethan harus hidup bertahun-tahun dengan pandangan orang-orang yang hanya tahu Ethan sebagai Ethan yang berganti-ganti jalang! Tapi bukan itu sesungguhnya bagi mereka yang mengetahui keadaan Ethan. Sampai seorang gadis sebiasa Amabel Cherry Diaz mendobrak hati dan jiwa seorang Ethan... Flasback off "Ethan..." Dean berkata lirih sambil menepuk pundak Ethan pelan. Ethan menoleh dan menangkap raut bingung dari Adiknya. Ethan bersyukur tak ada yang bisa diingat Dean tentang sosok sang Ibu. Dean masih berusia 4 tahun ketika Ibunya pergi. Yah, Ayahnya ternyata telah mengetahui konspirasi yang dibuat oleh Istrinya dengan selingkuhannya. Seminggu setelah kejadian menyakitkan itu Ayahnya menceraikan Ibunya dan mengusirnya dari kediaman mereka. Ethan ingat betapa Ibunya keluar rumah dengan segala sumpah serapah nya yang tak bermoral tanpa mempedulikan Ethan yang menangis penuh kebencian, dan Dean yang kebingungan dalam gendongan Philip, koki baru di rumahnya. Tak lebih dari dua bulan setelah kejadian itu, sang Ayah membawa mereka pindah dari Philadelphia ke New York. Di sinilah semua berawal, bisnis yang jatuh bangun namun lambat laun kian menyebar dan merambah ke berbagai sektor. Dua pemuda tumbuh dengan sangat baik dalam pengasuhan sang Ayah dan seorang pria baik hati bernama Philip McGreen. Ethan mengangguk, menatap sang Ayah. Edward mulai menceritakan kejadian 19 tahun lalu itu kembali. Tanpa kecuali. Di akhir cerita Ethan melihat betapa sang Ayah menyimpan luka yang begitu dalam. Dean yang baru mengetahui persoalan sebenarnya diam tergugu. Ethan mengusap pundak Dean memberi kekuatan. Dean mengangguk. "Kami akan berhati-hati, Dad." Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan wanita itu, Hillary Ross...tapi Ayahnya sudah memberikan peringatan bahwa ini akan melibatkan gembong mafia yang cukup besar di Italia, suami ke dua Hillary yaitu Salvatore Valentinetti. Mereka bertiga keluar dari ruangan kerja untuk menjalankan aktivitas masing-masing. Ethan menyambar acak kunci mobil yang tergantung, berjajar rapi di garasi sang Ayah, menekan nya dan segera melangkah ke arah mobil yang berbunyi. Sebuah Nissan keluaran terbaru segera keluar melaju menuju rumah sakit. Dean segera melajukan Ferrari nya ke suatu tempat. Dia menelpon Amanda sekretarisnya untuk mengosongkan semua jadwalnya hari ini. Mobil Dean memasuki sebuah jalanan setapak dengan rumput berembun di kanan kiri. Dia menuju sebuah tanah lapang di pinggiran sebuah hutan pinus yang tak seberapa besar. Tanah lapang dengan sebuah pohon oak besar di sisi kirinya. Di atas pohon itu bertengger sebuah rumah pohon yang terawat rapi. Ada sebuah ring basket di di sisi kanan tanah lapang. Dean menghentikan mobilnya di jalan dekat dengan tanah lapang itu. Keluar dari mobil dan melangkah pelan. Dilihatnya seorang gadis dengan kaki jenjang memakai sepatu kets, mengenakan hot pants dan sebuah t - shirt berwarna merah muda yang berpadu begitu pas dengan kulitnya yang putih pucat. Rambut pirang madunya tergerai dan sesekali angin meniup nya nakal. Gadis itu sedang mencoba memasukkan bola basket ke dalam ring. Tembakan nya berkali-kali meleset. Lucia Deandra Heaton Sontak Lucy menghentikan gerakannya begitu mendengar suara langkah kaki mendekat. Lucy menoleh dan seketika memicingkan mata tak suka dengan kedatangan Dean. Mulut mungil nya memberengut. Dean melangkah pelan mendekati Lucy. Dengan celana bahan hitam dan kemeja putih yang telah tergulung sampai siku, dan...wajah super tampan...entah mengapa Lucy tak bergeming. " Menyerah lah, Dean Arthur Leandro!Berhentilah mengikuti dan mengejarku karena itu tak akan mengubah perasaanku padamu". Lucy berbicara ber api-api. Dean tetap melangkah mendekati Lucy dengan kedua tangan berada di saku celananya. Lucy bergerak mundur hingga menabrak pohon oak. Dean tak berhenti, memepet tubuh Lucy. Memenjarakannya dengan kedua tangan bertumpu pada pohon. Dean menyingkirkan bola di tangan Lucy yang menjadi pembatas antara tubuhnya dan tubuh Lucy. Napas Lucy menderu menahan amarah. Manik mata hitam bersinar memenjarakan manik mata se biru lautan yang penuh amarah di depannya. "Aku membencimu!" Lucy berkata dengan suara tertahan serupa geraman. "Aku tahu." Dean menjawab dengan suara lembut. "Menjauh dariku, manjauh lah sejauh mungkin." "Aku tidak mau." "Kau...!" Geram menjadikan amarah Lucy meledak. Ingin rasanya berlari meninggalkan Dean, tapi tubuhnya dengan tak tahu malu berkhianat dari hatinya. Tubuh itu tak mau bergerak, tak ingin. "Kau mencintaiku, Lucy..." Suara Dean serupa bisikan angin sepoi dari arah hutan. "Tidak!" Namun sekali lagi tubuhnya berkhianat. Wajahnya menyiratkan sebaliknya. "I love you, Lucy." Dean berbisik keras kepala. Lucy terdiam. "Kau meninggalkan aku, kalau kau lupa." Lucy berkata sangat lirih. "Kau tahu itu bukan mauku." "Kau berjanji akan menjagaku, tapi kau tetap pergi." "Aku minta maaf." Dean berbisik lirih, putus asa. Flashback on "Kau akan menjadi pengantinku ketika kita sudah menjadi orang dewasa nanti." Seorang anak laki-laki tampan berkata dengan yakin sambil memasangkan sebuah mahkota bunga dari rumput liar di kepala seorang gadis cantik di depannya. "Kamu berjanji, Dean...?" Sang gadis bertanya sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang ompong satu. "Aku janji akan menjagamu sampai mati Lucy. Percayalah." Dean menjawab sambil mengecup lembut punggung tangan Lucy layaknya seorang gentlemen sejati. Mereka berdua tersenyum. Namun takdir berkata lain, ketika suatu pagi berkabut keluarga Leandro pergi dengan sebuah mobil pengiriman barang super besar di belakang mereka mobil mereka. Pergi dengan diantar ucapan selamat jalan dari keluarga Damian Heaton dan beberapa tetangga lainnya. Seorang anak laki-laki menundukkan kepala, merasa gagal memenuhi janjinya pada seorang gadis. Ketika sampai akhirnya mobil mereka bergerak meninggalkan rumah, meninggalkan hatinya... Dean Arthur Leandro hanya bisa menatap Lucia Deandra Heaton yang berdiri mengintip dari balik tirai jendela, berderai airmata. Hingga 15 tahun kemudian ketika mereka dipertemukan takdir. Takdir di mana ada Lucy yang berbalut amarah masa kecilnya. Hingga hari ini di tanah lapang... di dekat Universitas mereka belajar dulu. Flasback off Dean menatap kedalaman manik mata Lucy. Lega mendapati cinta itu masih ada. Dean mengelus pipi Lucy lembut. "I do love you Lucia..." Dean mengucapkan kata hatinya lagi. "Aku tidak." Lucy dengan keras kepala berusaha melawan hatinya. "Baiklah..." Dean menyerah. Dean tiba-tiba berbalik dan melangkah pelan menuju mobilnya. Haaaaah....hati Lucy begitu kalut. Semudah itu Dean menyerah? Entah kekuatan apa yang menguasai hatinya, tiba-tiba Lucy berlari mengejar Dean dan memeluknya dari belakang. Menghentikan langkah Dean. Dean tersenyum. Dia tahu gadisnya tak pandai berbohong. Dean berbalik menghadap Lucy, menangkup pipi memerah gadis itu. "Aku akan menjagamu, menebus 15 tahun kekosonganmu dengan seumur hidupku." Dean mengusap bulir bening yang lolos dari mata Lucy. "Aku mencintaimu, Dean..., sangat." "Aku juga... sangat mencintaimu." Dean tersenyum lembut. Dean menatap Lucy, menaikkan satu alisnya jahil. Gerakan itu pasti, memiringkan kepala dan dua bibir merindu itu bersatu. Bertaut lembut menyatukan hati. Alam sekeliling serasa berputar kencang, memabukkan. Ciuman pertama Lucy yang selalu dijaga untuk Dean. Bukan yang pertama untuk Dean memang, tapi hatinya selalu tahu bahwa semua terjaga hanya untuk Lucy, bahkan ketika dia mencoba bersama gadis lain. Hatinya hanya tertaut pada gadis kecil ompong, pengantin masa lalunya, masa kecilnya...yang menjadi mimpi basahnya saat pertama kali menjadi laki-laki remaja. Gadis dalam rengkuhannya, yang sudah menjelma menjadi gadis dewasa yang menawan dan berasa manis. Dean melepaskan pelukannya di pinggang ramping Lucy. Melangkah mengambil bola basket yang tergeletak menjadi saksi bisu. Dean melempar bola ke arah ring. Shuuuuut.....masuk! Dean melempar bola itu ke arah Lucy pelan. Lucy menangkap dan mendrible bola itu sesaat...berjalan ke arah ring... dan... Dean mengangkat tubuh Lucy seringan kapas, dan Lucy segera memasukkan bola ke dalam ring. Masuk! Dean menurunkan tubuh Lucy pelan, membalikkannya dan memagut bibir Lucy keras. Lucy berjenggit. "Sakit...Dean." Lucy memberengut sambil melepaskan diri dari Dean dan berlari menuju tangga menaiki rumah pohon. Dean menyusul Lucy dan menemukan gadis itu tengah duduk di lantai kayu rumah pohon menghadap jendela. Dean menghampiri dan duduk di samping Lucy. "Maaf..." Dean mengusap bibir Lucy. Lucy menggeleng...dan mencium bibir Dean pelan. Lembut...halus...dan semakin bertambah liar seiring dengan rebah nya tubuh mereka di lantai kayu yang hangat. Dean tersuruk di ceruk leher Lucy. Membuat tanda kecil kepemilikan di sana. Gerakan mereka semakin memburu dan Dean mengerang ketika Lucy menggigit lehernya pelan. Dean menggeleng...tak dapat lagi menahan gairah nya. Matanya berkabut gairah yang harus segera melepaskan diri. Dengan tergesa Dean mencoba menarik lepas celana pendek yang dipakai Lucy, tapi tangan mungil Lucy menahannya erat. Dean memandang Lucy tak mengerti... "I've got my period..." Lucy berkata pelan dengan muka prihatin. " Oh...shit!" Dean melayangkan tinjunya menghantam udara kosong. Dean memukul keras lantai kayu di bawahnya sambil terengah-engah. Mukanya memerah menahan gairah. Dean mengacak rambutnya frustrasi. Napasnya memburu, dan.... "I need your mouth..." Dean menatap Lucy dengan wajah memelas penuh harap. Diiringi pandangan Lucy yang kebingungan meredam gairah nya.... ------------------------------------ Eng..ing...eng... Tonjok Author nya karena bikin mengkel dijalan...... eaaaaaak...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN