Bab 9

1058 Kata
Giselle, istri Aditya kini bergabung melakukan pemotretan bersama Janar. Tika cukup takjub melihat keduanya bersanding, seakan-akan mereka adalah pasangan yang sempurna. Aditya pun tidak kalah takjub melihat kecantikan sang istri, oleh karena itu kemana-mana ia selalu mengantarkan sang Istri sampai-sampai keluar dari pekerjaannya. Lalu, ia menoleh ke sebelahnya. Ia terkejut melihat mantan kekasihnya juga ada di sini. Dengan wajah tak suka ia menghampiri Tika. "Tika!"panggil Aditya dengan nada sedikit tidak nyaman. Tika terperanjat, kehadirannya di sini diketahui oleh Aditya. Sungguh momen yang tidak ingin Tika alami. Tika melirik Aditya perlahan."A-ada apa?" Pria itu melipat kedua tangannya di d**a, menatap Tika sinis."Kamu terus-terusan ngikutin aku?"tatap Aditya tak percaya,"kita sudah putus, Tika, jangan mengejar suami orang!" Tika mengangkat wajahnya,"aku nggak ngejar kamu, Dit!" "Terus, kenapa kamu bisa ada di sini? Kebetulan?" Aditya tertawa sinis. "Aku kerja di sini!"jawab Tika dengan suara tercekat. "Kerja,ya? Kamu nggak tahu, kalau tempat duduk kamu itu bukan utuk diduduki oleh orang-orang yang kerja di sini. Hebat sekali, kamu bisa disejajarkan dengan model papan atas." "Ya, kamu jauh lebih hebat,ya... menjengkali orang!"balas Tika dengan nada timggi. ternyata begini watak dari pria yang ia cintai. Syukurlah ia tidak bersama dengannya lagi, ia tidak perlu menyesalinya. Sekarang, Aditya lebih menyerupai wanita saja. "Ada apa ini?" Janar datang dengan tatapan tajam pada Aditya. Ia tidak suka Tika bicara dengan laki-laki lain, apa lagi ekspresi keduanya tampak serius. Aditya berkacak pinggang. "Kenapa ikut campur urusan orang lain, hah?" Janar melangkah mendekat, kemudian bersandar di batang pohon."Orang lain? Tika itu bukan orang lain bagiku...tentu saja aku harus ikut campur. Sepertinya sudah terjadi sesuatu yang tidak baik." "Janar,kenapa kabur! Ayo kita pemotretan lagi,"panggil Giselle sembari menjinjing gaunnya. Janar menoleh kesal pada Giselle,"aku nggak akan lanjutkan pemotretan kalau belum tahu masalahnya,"tatapnya tajam pada Aditya. "Ah, bukan apa-apa,"balas Tika cepat. "Suamimu ini...seperti sedang melakukan kejahatan pada Tika, aku tidak suka melihatnya menatap wanitaku berlama-lama,"kata Janar. "Apa yang kamu lakukan, Dit?Jangan macam-macam, aku sedang kerja,"protes Giselle pada suaminya. "Mana mungkin wanita seperti ini menarik perhatianku, sayang. Wanita ini saja yang menggangguku." "Enak saja!"Tika tidak terima dengan ucapan Aditya."Kamu yang bikin masalah duluan." "Masalah apa?"tanya Giselle heran. "Iya, masalah apa, Tika? Janar menatap Tika serius. "Aku nggak ada masalah apa-apa kok, Janar. Kamu lanjut kerja, ya?"bujuk Tika sambil mendorong Janar pelan. "Kuperingatkan,ya! Jangan macam-macam dengan kekasihku!" ucap Janar keras pada Aditya. "Kekasih?"Gisele dan Aditya sama-sama kaget dan tidak percaya. "Kamu punya pacar, Nar?"tanya Gisele. "Ya! Jadi, sudah tahu,kan... alasanku menolakmu dulu? Aku sudah punya orang yang kucintai!"balas Janar telak. Ia mengambil tas dan menggandeng Tika pergi dari sana. "Maksudnya tadi apa?"tanya Aditya pada Istrinya. "Nanti kita bahas, aku kerja dulu!" Gisele langsung meninggalkan Aditya sebelum dicecar pertanyaan. Sementara itu, Janar membawa Tika ke tempat yang ia rasa aman."Kamu, di sini. Jangan bicara sama siapa pun, kecuali crew di sini." Tika mengangguk patuh. Ia duduk dengan manis, tatapannya hanya tertuju pada Janar. Tidak ingin melihat ke arah Giselle atau Aditya sedikit pun. Janar menghampiri Tika usai pemotretannya selesai. Sementara Giselle masih harus melakukan beberapa sesi, sendirian. Tika cepat-cepat mengeluarkan air minum dan menyerahkannya pada Janar. "Thanks!" "Nar, pemotretan berikutnya satu jam lagi,ya. Lima belas menit lagi kita berangkat!"kata Lupita menghampiri. Janar mengangguk."Iya." Lupita mengangguk saja, lalu ia pergi ke mobil menyiapkan keperluan Janar. Sejak ada Tika di sisi Janar, Lupita tidak terlalu banyak bicara pada Janar. Justru ia bersyukur, tidak perlu berdebat serta membujuk lelaki yang terkadang bertindak sesuka hatinya itu. Sekarang, pria itu menjadi penurut, pekerjaan Lupita banyak terbantu oleh Tika. Ditambah lagi pesan Alice yang mengatakan kalau Tika akan menjadi asisten pribadi Janar, mereka menjadi semakin bahagia. "Kamu bicara apa sama laki-laki tadi?"tanya Janar sambil menyeka keringatnya. "Ah, nggak ada apa-apa kok." "Kalau nggak mau jawab, aku tanya langsung aja sama dia!" Janar berdiri. "Eh!" Tika menarik paksa Janar agar duduk kembali."Jangan begitu, iya...iya aku cerita." "Nah, gitu!" Janar duduk lagi. "Cerita sekarang!" "Nama laki-laki itu Aditya, mantan pacarku!" "Jadi, itu laki-laki yang bikin kamu sampai mau bunuh diri?" Tika mengangguk,"iya, dia nikah sama Giselle, dan aku juga baru tahu kemarin, ternyata Giselle adalah model dan sering ketemu kamu juga. Bisa kebetulan gini,ya..." "Hooh, terus?" "Tadi, Aditya salah sangka aja, dia pikir aku ada di sini untuk ngikutin dia. Karena selama ini,kan, aku nggak mau diputusin sama dia. Ya gitu aja, sih... terus kamu datang." Tika tersenyum kecut. "Oh, gitu...menyedihkan sekali." "Iya...memang sedih." "Bukan kamu! Tapi, si Aditya itu!"balas Janar cepat. "Kan aku yang ditinggalin, kenapa Aditya yang menyedihkan?"tanya Tika. "Ya menyedihkan, menjadi lelaki seperti itu. Lihat aja, kemana-mana ikut istrinya. Memangnya dia itu nggak kerja apa?"kata Janar menatap ke arah Aditya dengan sinis. "Nggak tahu,lah!"balas Tika. "Harusnya kamu bersyukur, dipisahkan dengan laki-laki seperti itu. Nanti, kamu akan diberikan lelaki yang jauh lebih baik." "Iya...iya, aku tahu itu. Tapi, ya udah,lah...itu kan sudah berlalu. Lagi pula...dia sudah menikah, aku harus melanjutkan hidup juga." "Iya, melanjutkan hidup bersamaku," balas Janar yang kemudian meneguk air mineralnya. "Sampai kapan aku bakalan jadi aisten kamu, Nar?"tanya Tika dengan suara melemah. Janar memejamkan matanya, mengembuskan napas pendek. Kapan Tika akan sadar bahwa kalimat-kalimat yang sering ia ucapkan adalah sebuah kode. Memang Tika gadis yang payah. "Sampai kamu bisa berdiri sendiri, nggak bergantung dengan pacar atau apa lah itu." Janar berdiri, meremas botol minumannya, lalu membuang ke tempat sampah."Ayo, kita ke mobil." Tika mengangguk, mengikuti Janar dari belakang. Sampai di mobil, Tika duduk di sebelah Janar. "Kita makan siang dulu, ya?"kata Lupita dari bangku depan. "Kamu pengen makan apa, Tika?"tanya Janar. "Eh, makan apa aja...aku makan kok,"balas Tika kaget, baru saja ia hendak memejamkan mata. Janar melihat tubuh Tika dari atas sampai bawah."Kamu kurus sekali, kurang gizi, kita makan daging, Kak Lupita!" "Oh...oke!" Lupita mengacungkan jempolnya. Ia segera mencari retoran yang menyediakan makanan daging sesuai dengan selera Janar."Kita makan shabu-shabu aja bagaimana?" Janar mengangguk setuju,"Iya boleh. Semua harus makan,ya. Pak Feri juga,"katanya menyebut nama sang Sopir. "Iya, Mas Janar,"balas Pak Feri. "Shabu-shabu itu apa?"tanya Tika polos. "Kayak gini, nih!" Lupita membalikkan badan, memperlihatkan tampilan makanan shabu-shabu. Tika memandangnya takjub. Ia pernah melihat tampilan makanan itu di salah satu film,"Itu,kan mahal, Janar. Makan di warteg aja kalau aku, dibungkusin, nanti aku makan di lokasi,"kata Tika. "Menjadi asistenku harus kuat dan sehat. Kalau kamu kurang gizi, bisa lemas dan nggak bisa kerja dengan baik!"omel Janar. Lupita hanya bisa terkekeh di bangkunya. Perdebatan Tika dan Janar di dalam mobil atau pun di lokasi, kini menjadi hiburan tersendiri baginya dan juga anggota tim yang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN