Tika mengusap perutnya yang membesar akibat kekenyangan. Sekarang ia justru mengantuk di perjalanan menuju lokasi pemotretan berikutnya.
"Kalau nggak bisa dibangunkan, nanti kulempar keluar,ya!"kata Janar.
"Nar, wajar kalau habis makan ngantuk. Jangan terlalu kejam sama Tika,"kata Lupita.
"Ya, kenapa makan terlalu banyak, berlebihan juga tidak bagus,"balas Janar cuek.
"Iya, Mbak, Janar kejam banget!" Tika memeluk lengan Lupita dari belakang.
Janar menarik Tika agar duduk dengan benar."Nanti kita tidur di rumah sepuasnya!"
"Bener, ya! Awas kalau ganggu aku tidur!"
"Ganggu kamu tidur? Aih, bisa-bisa aku kena air liurmu!" Janar membuang pandangannya ke luar jendela.
Lupita menggeleng-gelengkan kepalanya geli."Kalian ini lucu banget,ya. Berantem terus kerjaannya."
"Kita nggak berantem, Mbak, hanya berbeda pendapat dan beda jalan pemikiran,"jelas Tika dengan begitu bersemangat.
"Udah diam!" Janar memeluk pundak Tika, sementara tangannya menutup mulut gadis itu.
"Hmmmm!" Tika melotot pada Janar yang masih saja memeluk pundaknya."Lepas!"
"Nggak mau!"
"Kalian ini cocok deh!" Lupita mengambil gambar keduanya dengan posisi seperti itu."Lucu, ih...sebenarnya kalau dilihat-lihat Tika ini cocok juga jadi model loh."
Janar melepaskan pelukannya. "Model apaan? Pendek begini."
"Pendek gimana? Kalau untuk ukuran cewek aku udah cukup tinggi tahu!" Tika memukul lengan Janar dengan keras.
Lupita terkekeh, kemudian ia mengirimkan foto tersebut pada Alice. Ia juga mengirimkannya untuk Janar, meskipun pria itu tidak meminta. Ia tahu, Janar memiliki ketertarikan khusus pada Tika. Menyadari ponselnya berbunyi, Janar segera membuka ponsel dan tersenyum penuh arti. Ia menjadikan foto itu sebagai wallpapernya.
Mereka sampai di lokasi pemotretan. Tika mengikutinya dengan terkantuk-kantuk, apa lagi ini sudah sore. Badannya terasa lengket dan berminyak. Ia salut pada Janar yang terlihat masih segar dan tidak terlihat lelah sama sekali. Menjadi Janar pasti tidak mudah, harus selalu terlihat memesona dan tersenyum di hadapan kamera. Tika menguap, lalu memejamkan matanya di kursi.
Pukul lima tepat, Janar selesai. Selesai juga aktivitasnya hari ini. Ia menoleh ke sana ke mari mencari Tika. Ternyata gadis itu ada di sudut ruangan, tidur dengan mulut menganga. Janar mendecak, kemudian menghampiri Tika.
"Ayo pulang!" Janar menempelkan sebotol air mineral dingin di pipi Tika.
"Dagingnya enak!" Tiba-tiba saja Tika berteriak dan bangkit. Wanita itu benar-benar kaget.
Janar tertawa terbahak-bahak. "Masih mau makan daging,ya?"
"Eh..." Tika tersipu malu."Kamu udah selesai?"
"Iya, yuk, pulang." Janar memeluk pundak Tika."Kamu masih mau makan?"
Tika menggeleng."Nggak usah. Aku kenyang kok. Tapi, nggak tahu kalau malam nanti."
"Ya udah, kita makan malam aja nanti,"putus Janar.
Sepanjang perjalanan Tika dan Janar tidur. Bahkan saat turun dari mobil keduanya berjalan sambil mengantuk. Begitu sampai di apartemen, Janar langsung masuk ke kamarnya, tanpa sadar, Tika ikut saja dan berbaring di sebelah Janar. Keduanya terlelap sampai malam tiba.
Janar terbangun karena kehausan, ia melihat ke sebelahnya, lalu tertawa geli. Tika ada di kamarnya. Niat untuk mengambil minum ia urungkan. Dipeluknya gadis itu dengan erat. Ditatapnya wajah Tika yang masih terlihat tidur tanpa merasa terusik sedikit pun karena sentuhannya.
"Hei, kapan kamu peka kalau aku suka sama kamu?" Janar mencolek hidung Tika."Berani sekali kamu, baru beberapa hari kenal saja sudah menjadi pencuri hati!"
Dipeluknya sekali lagi tubuh Tika, bisa dikatakan itu adalah kesempatan dalam kesempitan. Dalam keadaan sadar, ia sangat gengsi menunjukkan perasaannya terang-terangan. Ia tidak tahu sampai kapan akan menyembunyikan perasaan ini. Ia hanya terlalu takut karena cinta ini datang begitu cepat.
Bel apartemen berbunyi, Janar mendengkus karena ada yang berani mengganggu waktunya. Padahal ini sudah lewat jam kerja. Mau tak mau ia harus rela melepaskan pelukannya pada Tika dan bergegas membuka pintu. Tubuhnya membatu seketika begitu melihat pria di depan pintu.
"Nggak disuruh masuk?"tanya Ibra.
"Silakan masuk!"kata Janar dingin.
Ibra tersenyum tipis, lalu ia masuk saja walaupun pemilik apartemen terlihat begitu dingin."Sorry, nggak ngasih tahu dulu."
"Memang selalu begitu!"jawab Janar sedikit ketus.
Ibra duduk di sofa, memerhatikan seisi ruangan."Kenapa sekarang tinggal di apartemen?"
"Biar bebas,"jawab Janar sekenanya.
"Bebas bagaimana?"
"Bebas melakukan apa saja yang aku mau,"jawab Janar.
"Nar!" Ibra menepuk pundak adiknya itu."Kamu masih marah sama Kakak?"
"Kenapa harus marah?"balas Janar tanpa melihat wajah Ibra."Jalani saja hidup Kakak sebagaimana mestinya. Aku menjalani hidupku sebagaimana mestinya juga."
"Apa kamu masih berkeinginan menjadi Arsitek seperti Kakak dan Papa?"
"Sudah terlambat. Di usiaku yang sudah tua ini, baru kakak nanya, apakah aku mau menjadi Arsitek?" Janar tertawa lirih. Tangannya mengepal saat merasakan hatinya perih harus mengulang kepedihan itu.
"Sorry...." Ibra jadi serba salah, padahal, kedatangannya ke sini adalah untuk silaturahmi dengan sang adik yang selama ini selalu bersikap dingin padanya."Itu sepatu siapa?" Ibra melirik ada sepatu wanita, lebih tepatnya sepatu milik Tika.
"Sepatuku!"
Ibra tertawa geli, kemudian ia memberikan tatapan menggoda pada sang adik."Hmmm...kamu mulai jatuh cinta,ya?"
"Bukan urusan Kakak!"
"Ayolah, cerita saja...aku akan mendukungmu!"ucap Ibra.
"Bodo amat!"
Pintu kamar terbuka, secara bersamaan, Janar dan Ibra menoleh. Tika berdiri di depan pintu, mengucek matanya sambil menguap. Rambut acak-acakan dan bajunya yang kusut membuat Janar gemas.
"Kok aku bisa tidur di sini,ya?"katanya dengan polos. Lalu gerakannya terhenti saat melihat ada pria asing di hadapannya."Pangeran...."
"Pangeran?" Janar senyum-senyum sendiri disebut Pangeran, namun, kelamaan ia sadar bahwa mata Tika tertuju pada Ibra. Sepertinya Janar harus waspada setelah ini.
"Hai!" sapa Ibra.
"Hai!"ucap Tika lembut, kaki-kakinya seakan tidak bertulang disapa pria setampan Ibra.
Janar langsung berdiri, menghampiri Tika. "Bangun tidur, sana cuci muka,sikat gigi,terus ganti baju!" Didorongnya Tika masuk ke dalam kamar.
"Itu siapa, kok ganteng banget!" bisik Tika.
"Nggak usah ganjen!" Janar menarik Tika secara paksa masuk ke dalam kamar, lalu menutupnya.
"Pacar kamu, Nar?"tanya Ibra.
"Iya,"jawab Janar mengaku-ngaku.
"Kok nggak nikah aja, sih?"
Janar melirik Ibra sebal."Kakak, kenapa nggak nikah aja, sih?"
"Belum punya kekasih, tuh,kalau kamu,kan sudah." Ibra terkekeh.
"Dia bukan pacarku, aku bilang gitu cuma becanda aja,"balas Janar.
"Oh, sepertinya manis juga. Boleh kudekati?"tanya Ibra membuat mata Janar seperti akan keluar api.
"Nggak boleh!"teriaknya spontan.
"Hmmm...?" Ibra menatap adiknya curiga. Semalam, Alice memang bercerita kalau Janar tinggal bersama seorang wanita yang menyelamatkannya saat ingin bunuh diri. Kabar ingin bunuh diri itu membuah Ibra merasa bersalah pada Janar.
Adiknya itu sangat ingin menjadi Arsitek seperti sang Papa, namun, nilai dan skillJanar tidak memadai. Papa mereka tidak mengizinkan Janar mengikuti jejaknya, karena sia-sia, karirnya akan gagal. Sebaliknya, Ibra,lah yang memiliki potensi tersebut. Janar menjadi iri, menganggap sang Papa tidak adil, hanya menomor satukan Ibra.
Alice, sebagai Mama melihat kemampuan Janar sebagai seorang model. Benar saja, nama Janar langsung melejit. Karena bakat dan kemampuan Janar memang bukanlah menjadi Arsitek, melainkan menjadi seorang model. Hanya saja, Janar sudah terlanjur sedih menerima kenyataan itu. Sampai saat ini, Janar masih menganggap orangtuanya tidak adil.
"Kenapa lihat aku begitu?"
"Kita makan malam bareng,yuk? Udah lama kita nggakpergi,"ajak Ibra.
"Nggak mau! Makan aja sama Mama Papa sana!"
"Ide bagus, tuh, kita makan malam berempat bagaimana?" Ibra masih terus berusaha.
Janar menggeleng kuat, masih berkeras hati.
Pintu kamar terbuka, Tika muncul dan langsung tersenyum pada Ibra. Tidak mau melewatkan kesempatan itu, Ibra pun menghampiri Tika."Hai, perkenalkan, saya kakaknya Janar."
"Wah??" Tika melihat Janar dan Ibra bergantian. Wajah mereka memang sama-sama tampan, tapi sama sekali tidak ada kemiripan. Ibra lebih mirip dengan Alice."Namaku Tika, Kak. Salam kenal...."
"Kamu...siapanya Janar?"
"Aku, asisten rumah tangganya Janar, Kak. Aku baru tahu Janar punya Kakak setampan ini."
"Masa tampan, sih? Jadi malu!" Ibra membalas ucapan Tika dengan wajah merona.
Sementara itu, di balik sofa, Janar memerhatikan keduanya dengan mata tajam dan tanduk setan di kepalanya. Bersiap, sewaktu-waktu mereka bertindak berlebihan, ia akan menyerang keduanya.
"Tika, ayo kita pergi makan,"ajak Ibra.
Tika mengangguk cepat, perutnya memang sedang lapar sekali. Ditambah lagi ajakan itu berasal dari pria tampan, semangatnya menjadi berlipat ganda. "Mau, mau, Kak...."
"No!" Janar melompat melewati sofa dan berdiri di tengah-tengah keduanya."Tidak boleh."
"Aku lapar...ayolah pergi makan!" Tika menggenggam lengan Janar dan memberikan tatapan memohon pada lelaki itu.
Detak jantung Janar semakin kencang, diliriknya tangan Tika di lengannya. Ia langsung luluh seketika."Iya..."
"Kamu ikut juga, yuk, kita makan malam bersama,"kata Ibra.
"Ayo!" Tika memegang lengan Janar lagi. Hati Janar semakin porak-poranda.