Mereka bertiga berjalan beriringan keluar apartemen. Tika terlihat senang sekali. Sesekali Janar melirik Tika yang juga sesekali melirik Ibra. Sekarang, Janar melirik kakaknya yang sudah mencuri perhatian Tika. Jika ia tahu kejadiannya akan seperti ini, ia tidak akan mengizinkan Ibra masuk dan melihat Tika. Tapi, keduanya justru terlihat saling tertarik.
Janar mengembuskan napas berat. Harusnya ia katakan langsung saja pada Tika kalau ia menyukai wanita itu. Tapi, semua sudah terlambat. Nanti, jika mereka sudah pulang, ia akan mengatakannya pada gadis itu, meskipun kemungkinan untuk diterima itu kecil, karena Tika lebih tertarik pada sang Kakak.
Janar menghentikan langkahnya begitu melihat Alice melambaikan tangan dari mobil. Melihat itu, Ibra menarik lengan Janar agar terus berjalan. Mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Duduk di bangku paling belakang, karena di bangku tengah hanya ada dua bangku.
"Kenapa nggak bilang kalau Mama sama Papa juga ikut makan malam?"keluh Janar.
"Oh, Ibra tidak bilang,ya?" Alice terkekeh.
"Sesekali, bukankah kita harus makan malam bersama?"sahut Mahesa, Papa Janar dan Ibra.
"Hmmm!" Janar menggumam saja.
Sementara Tika diam saja di sudut bangku. Sekarang, ia merasa terasing di keluarga ini. Benar-benar seperti asisten rumah tangga yang sedang diajak makan malam oleh majikan. Tapi, ia benar-benar asisten rumah tangga, bukan?
Janar menghela napas panjang, menselonjorkan kakinya yang panjang, lalu, menyandarkan kepalanya ke bahu Tika yang duduk di sebelahnya.
"Eh!" Tika kaget.
"Awas aja kalau protes!"bisik Janar yang kemudian memejamkan matanya.
Mobil berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Tika memandang isinya dengan takjub. Jujur saja, ia belum pernah masuk ke sini. Katanya, barang-barang yang dijual di sini tidak ada yang murah.
"Tika, kita mampir dulu, yuk!"ajak Alice, berbelok ke sebuah salon.
"Eh, mau apa, Tante?"tanya Tika kebingungan.
"Mau ngapain, Ma?"Janar berjalan mengikuti Mamanya. Ia tidak rela harus dipisahkan dengan Tika di saat seperti ini.
"Kamu, Kakak, dan Papa duluan aja. Kita cuma sebentar kok, nanti nyusul!"kata Alice.
"Aih!" Janar menggaruk-garuk kepalanya.
"Janar, ayo!" Mahesa memaksa Janar agar ikut dengannya dan Ibra. Biarkan Alice dan Tika berdua menyelesaikan urusan wanita.
"Tolong dimake over,ya. Lima belas menit saja, please!"kata Alice pada wanita yang menyambut mereka.
"Baik, Bu. Silakan tunggu. Mari, Mbak,"katanya sambil mengajak Tika masuk ke dalam.
Alice tersenyum, ia duduk sambil membaca salah satu majalah fashion, dimana Janar sebagai model utamanya di sana. Wanita itu mengangguk-angguk puas dengan kinerja Janar. Ia bangga sekali pada anak bungsunya itu.
Sesuai dengan perjanjian, lima belas menit, Tika sudah selesai dimake over. Alice sudah menyiapkan dress casual untuk Tika. Wanita itu benar-benar tidak terlihat sebagai gadis biasa.
Alice memandang Tika dengan cukup puas."Hmmm...ini baru calon menantuku." Wanita itu tertawa sendiri. Sementara Tika sibuk mematut dirinya di depan cermin.
"Tante, ini berlebihan,kan? Aku nggak pantas pakai baju begini!"kata Tika menghampiri Alice.
"Kamu cantik, Tika. Sekarang, kita temui dua pangeranku, mereka pasti takjub." Alice menggandeng tangan Tika dan berjalan menuju restoran dimana Anak dan suaminya berada.
Janar mengetukkan jarinya ke atas meja. Ia mulai bosan menunggu Mamanya dan Tika datang. Ia sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan Papa dan Ibra, mereka membicarakan beberapa proyek dan juga beberapa hal tentang dunia engineering.
Janar sama sekali tidak paham, jadi, ia memilih diam. Kopi yang ia pesan sudah mulai mendingin, roti bakarnya juga sudah habis karena ia kelaparan. Ia tidak mau makan nasi tanpa Tika. Janar melirik jam tangannya, baru lima belas menit berlalu, tapi, rasanya sudah berjam-jam saja.
"Halo semuanya. Lihat Mama datang sama siapa,"seru Alice.
Ketiga pria itu menoleh, mereka mematung beberapa detik sampai akhirnya sadar bahwa wanita itu adalah Tika.
"Kenapa Mama ubah bentukan Tika!"protes Janar dengan wajah merah.
"Loh, kan cantik. Beneran cantik, kan?" Alice memegang kedua pundak Tika.
Janar membuang wajahnya, menyembunyikan keterkejurannya atas perubahan Tika malam ini.
"Cantik sekali,"puji Ibra.
Tika tersipu malu, ia mengangguk,"terima kasih, Kak."
"Sudahlah, cepat duduk! Aku udah lapar!"omel Janar sambil memanggil pramu saji.
"Ayo duduk, Tika." Alice menyuruh Tika duduk di sebelah Janar. Kemudian ia mengambil posisi di sebelah suaminya.
"Pa, Tika ini...sepertinya cocok untuk jadi model produk terbaru kita,"kata Ibra.
"Produk apa?"tanya Janar dengan tatapan tajam.
"Maksudnya,jadi model untuk perumahan terbaru kita."
"Nggak. Cari yang lain aja!"kata Janar kesal.
"Iya, sudah-sudah. Lagi pula wanita secantik Tika tidak baik kerja di proyek,ya,kan?" Alice tersenyum menengahi.
Janar mengerucutkan bibirnya saja. Memilih diam sampai makan malam mereka datang. Ia bahkan berdiam diri sampai makan malam berakhir. Tika menghabiskan makanannya, mengusap perut yang sudah terisi penuh.
"Ah, enaknya. Tante, Om, terima kasih untuk jamuan makan malamnya,ya."
"Sama-sama, Tika. Semoga kamu suka, ya?"balas Mahesa.
"Lain kali, kita makan malam bersama,ya, Tika,"sambung Ibra membuat hati Tika berbunga-bunga.
"Iya, Kak,"jawab Tika dengan pekikan senang di dalam hatinya.
"Tika, kamu main ke rumah Tante,yuk? Bila perlu menginap di sana,"ajak Alice.
"Mama!" protes Janar, kesabarannya sudah habis."Jangan ganggu apa pun, yang berkaitan dengan Janar. Mama sudah janji,kan?"
"Janar, Mama hanya mencoba untuk mengakrabkan kamu dengan Ibra!" Mahesa menepuk pundak anak bungsunya itu.
"Nggak perlu, Pa." Janar melirik sang Kakak dengan tajam. Ia berdiri,"sudah cukup!"
Tika terperangah dengan reaksi Janar yang tidak ia sangka-sangka "Janar..."
Janar meraih tangan Tika, memintanya untuk berdiri."Ayo, kita pulang."
"Tapi, Nar..." Tika jadi tidak nyaman dengan situasi ini. Apa lagi, ia adalah orang asing, menjadi saksi ketidak akuran sebuah keluarga karena permasalahan internal.
"Kamu mau ikut aku atau Mama?"tatap Janar tajam.
“Janar, besok syukuran rumah baruku. Kalau nggak keberatan…ayo kita berkumpul malam ini. Besok kita ada di acara syukuran sama-sama,”kata Ibra penuh harap.
“Janar,”bisik Tika.
“Jangan ikut campur! Diam saja!”
Tika menelan ludahnya, menunduk kebingungan. Jika ia meninggalkan tempat ini, tentulah tidak sopan. Ada orang yang lebih tua di sini yang harus dihormati. Namin, jika ia tidak ikut Janar, itu akan lebih fatal lagi, sebab Janarlah yang menghidupinya.
"Tika, kamu pergi saja sama Janar,"ucap Alice pelan.
"Tante, maafin Tika, ya."
Alice mengangguk,"iya, lain kali kita ketemu lagi,ya."
"Iya. Om, Tante, Kak Ibra...aku permisi dulu."
Usai bicara demikian, Tika berjalan tergopoh-gopoh karena Janar menariknya paksa."Janar, kenapa begini,sih. Pelan-pelan aja."
Langkah Janar terhenti, ditatapnya gadis polos iti."Pelan? Kamu masih mau lihat Kak Ibra,kan?"
"Bukan begitu, Janar, kamu ini nggak sopan sekali sama orangtua dan juga Kakak kamu. Sebenci apa pun kamu sama mereka, mereka adalah keluarga yang nggak akan bisa digantikan dengan apa pun. Mungkin sekarang kamu bisa bersikap demikian, tapi, kamu akan menyesal nanti kalau mereka udah nggak ada. "
Janar menarik napas panjang, menatap Tika dengan bingung. “Terus aku harus bagaimana?”
“Kita kembali ke sana, dan minta maaf atas sikap kamu ini. Orang yang lebih tua harus dihormati! Kalau tidak, kamu menjadi anak durhaka!”omel Tika.”Aku bukan membela Kakak kamu, tapi, dia pasti sangat sedih atas penolakan kamu. Dia mau kamu hadir di hari bahagianya membuka rumah yang baru. Menurunkan ego sedikit tidak masalah, kan? Demi kebahagiaan bersama.”
“Lalu, aku nggak bahagia?”
“Memangnya apa yang membuat kamu bahagia? Kalau kamu sudah tahu, lakukan saja! Kenapa harus menyalahkan orang lain lantaran amu tidak sebahagia mereka?”balas tIka dengan napas tersengal-sengal.
Janar mengangguk, kemduian menarik tangan Tika kembali masuk ke dalam restoran. Orangtua dan Kakak Ibra terkejut melihat Janar kembali bersama Tika.
“Apa ada yang ketinggalan?” tanya Alice.
Janar duduk dan diam saja. Tika pun tersenyum,”kami jadi menginap di rumah dan menghadiri syukuran rumah Kak Ibra.”
“Syukurlah….”
“Ya sudah, ayo kita pulang ke rumah sama-sama,”kata Mahesa dengan semangat.
Sepanjang jalan, Janar diam saja.Berbeda dengan Alice, Mahesa, dan Tika yang terus bicara sepanjang jalan. Sementara Ibra disibukkan dengan urusannya di telepon.