Mereka tiba di sebuah rumah yang besar sekali, bagaikan istana. Tika tidak bias menyembunyikan kekagumannya pada rumah tersebut.
“Kelihatannya kamu suka sama desain rumah ini, ya?”kata Ibra.
Tika mengangguk,”iya, kak, bagus sekali.”
“Ini Papa yang desain,”ucap Ibra.
“Wah, bagusnya…jadi pengen punya rumah begini.” Tika terkikik sendiri dengan khayalannya itu.
“Kalau kamu mau, nanti kudesainkan rumahmu gratis,”balas Ibra sambil berjalan memasuki rumah.
“Walau desainnya gratis, biaya pembangunannya, kan, mahal, kak. Aku berkhayal aja.”
“Kalau begitu, menikahlah dengan Arsitek, nanti kamu akan dibuatkan rumah impian.”
“Bagaimana kalau Kakka saja?”Tika menatap Ibra, lalu keduanya tertawa bersamaan.
“Dengan senang hati….”
Janar mendengkus di belakang mereka. Pria itu melangkah gontai menuju tangga.
“Janar, mau kemana?”tanya Tika.
“Tidur, lah, aku capek!”balasnya ketus.
“Terus…aku bagaimana?”
“Terserah…” Janar naik ke lantai dua tanpa memedulikan Tika.
“Jangan khawatir, kamu tidur di kamar tamu aja, ya?”
“Iya, kak, besok acaranya jam berapa?”
“Makan siang.”
“Tika….” Laice muncul dengan pakaian tidur di tangannya.
“Iya, tante.”
“Pakai ini, ya untuk tidur.”
“Makasih, tante.”
“Janar kemana?”
“Ke kamar duluan, Ma,”jawab Ibra,”ya udah, Tika, selamat istirahat, ya.” Ibra melambaikan tangan dan pergi entah kemana.
“Iya, kak.”
“Tika, kalau perlu apa-apa bias minta tolong sama Asisten rumah tangga di sini, ya. Untuk janar, kamu sabar aja menghadapi dia, ya. Sebentar moodnya bagus, sebentar jelek.”Alice tertawa kecil.
“Iya, tante, tika udah terbiasa dimarahi Janar.”
Alice mengusap puncak kepala Tika,”selamat istirahat, sampai jumpa besok. Itu kamar kamu,”tunjuknya ke arah pintu kamar bewarna putih.”
Tika mengangguk,kemudian berjalan ke kamar yang dimaksud. Ia segera mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, mencuci muka, menyikat gigi, lalu naik ke atas ranjang yang empuk itu.
Tika menatap langit-langit, teringat Janar. Sedang apa pria itu di atas sana, apakah baik-baik saja. Diambilnya ponsel, lalu mengirim pesan untuk Janar. Tapi, setelah ditunggu beberapa menit, tidak ada balasan. Tika pun menyimpan ponselnya di atas nakas dan memejamkan matanya untuk tidur.
Sementara itu, di kamar, Janar masih sibuk berpikir keras merangkai kata untuk membalas pesan Tika. Setelah bolak-balik menghapus draf pesan, akhirnya ia mendapatkan kalimat yang pas. Lalu membalas pesan Tika. Namun, setelah setengah jam berlalu, pria itu justru menjadi resah karena Tika tidak mambaca pesannya.
Janar turun dari tempat tidur, diam-diam ia menuju kamar Tika, mengetuknya pelan. Tidak ada jwaban sama sekali. Perlahan, ia menyentuh handle pintu, dan terbuka. Dilihatnya Tika sudah tertidur pulas. Htainya tergerak untuk menghampiri gadis itu.
Duduk di sisi tempat tidur, Janar terkekeh, kemudian dipandanginya lekukan tubuh Tika. Sebenarnya, Tika itu seksi, juga cantik, hanya saja tidak pernah terlihat karena gadis itu tidak memedulikan penampilan.
Posisi Tika yang membelakanginya membuat Janar bebas mengekspos setiap lekukan tubuh gadis itu. Meskipun terlihat kurus, Tika memiliki panggul, b****g, dan paha yang besar. Janar berbaring, menggeser tubuhnya,lebih dekat dengan Tika. Perlahan, ia memeluknya dari belakang. Janar seperti orang gila, terobsesi dengan wanita dan memujanya saat sedang tidur.
"Ah, empuknya..." Janar mengusap-usap punggung Tika.
Tika merasa terusik dengan sentuhan Janar. Gadis itu membalikkan badannya. Kini, mereka berbaring berhadapan. Janar terbelalak, belahan d**a Tika terlihat, seperti ingin melompat keluar. Satu hal lagi yang tidak pernah disadari oleh Janar, Tika memiliki ukuran d**a yang lumayan. Selama ini, gadis itu selalu memakai pakaian yang besar, hingga keindahan itu tak pernah terlihat.
"Kamu seksi sekali,"bisik Janar. Lalu tatapannya terpusat pada bibir Tika. Jiwa lelaki Janar muncul, perlahan, ia mendekatkan wajahnya. Dengan ragu dan takut, Janar menempelkan bibir mereka. Jantung Janar berdegup kencang, perlahan ia mencoba menjulurkan lidahnya, memasuki mulut Tika. Keinginannya semakin besar, ia melumat bibir Tika. Kali ini, tidak ada ketakutan yang muncul di hatinya.
Lalu, Janar melepaskan ciumannya spontan karena tiba-tiba saja miliknya menegang. Ia takut akan lepas kontrol dan menyakiti Tika. Janar pun cepat-cepat bangkit dan meninggalakn kamar itu.
**
Tepuk tangan meriah terdengar usai Ibra memotong pita yang menghalangi pintu rumah. Hari ini, ia resmi menempati rumah ini sendirian. Ini adalah rumah impiannya, desain unik, dan tetunya diselesaikan dengan dana yang tidak sedikit.
Tika dan Janar berjalan mengikuti Ibra, Alice, dan Mahesa masuk ke dalam. Di belakang mereka ada beberapa tamu undangan, karyawan, serta beberapa relasi bisnis Ibra.
“Wah, bagusnya,”pekik Tika.
“Apa bagusnya rumah seperti ini? Kayak di hutan,”celetuk Janar.
“Bagus, mengusung konsep alam terbuka. Aku suka seperti ini.”
“Suka karena ini rumah Kak Ibra atau memang suka beneran?”
“Ya suka beneran, lah, maksudnya aku suka konsep alam terbuka,”jelas Tika.
“Huh, alasan!”
Tika melirik Janar tajam,”kenapa, sih, kamu ini. Kayak nggak suka banget sama Kakak kamu. HArgai hasil kerja kerasnya dong, jangan berwajah masam begitu, nanti dia sedih.”
“Kenapa kamu harus peduli dengannya, Tika?”
Tika menatap Janar kesal. Pria itu amsih saja bersikap kekanakan.“Aku nggak memedulikan Kakak kamu, tapi, lebih memedulikan sikap kamu. Kamu harus menghargai dan menghormati Kakak dan Orangtua kamu.”
“KArena kamunggak trasanya di posisiku.”
“Aku memang nggak tahu, nar, tapi…apa pun masalahnya, kasar dan kurang ajar dengan orang yang lebih tua, itu tidak baik, terlebih itu Orangtua dan saudara kandung kita. Kamu nggak akan mengerti posisi dimana kamu nggak punya siapa-siapa!” Tika berjalan meninggalkan Janar. Ia memilih menghampiri Alice daripda memberikan penjelasan panjang lebar pada Janar yang masih belum mau mengerti.
“Tante….”
“Eh, Tika…ayo makan?”
“Iya, nanti aja, Tante….”
“Tika, bagaimana menurut kamu dengan rumah ini?”
“Rumah Kakak bagus banget,”puji Tika,”ini Kakak yang desain sendiri, ya?”
“Iya.”
“Kok Kakak kepikiran buat rumah seperti ini?”
Ibra tersenyum, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.”Aku suka alam. Tinggal di tengah Kota begini, pasti sulit menemukan pemandangan hijau dan asri. Makanya diciptakan di rumah sendiri.”
“Pasti sangat nyaman tinggal di sini.”
“Kamu boleh kok tinggal di sini,”balas Ibra membuat hati Tika berbunga-bunga.
Tika tertawa,”Kakak ada-ada saja.”
“Tika, hari ini kamu sudah ingatkan Janar soal jadwal pemotretannya?” tanya Alice tiba-tiba.
Tika kelabakan, cepat-cepat melihat ponsel dan membaca pesan dari Lupita. Pemotretan diadakan dua jam lagi.”Maaf, Tante, Tika baru lihat ada pesan dari Mbak Lupita.”
Alice tersenyum. “Nggak apa-apa, masih dua jam lagi juga, kan. Tapi, kamu ingetin Janar, ya. Nilai kontraknya lumayan besar, tolong usahakan Janar mau pemotretan, ya, soalnya sejak semalam moodnya kurang bagus.”
“I…iya, Tante.”Perasaan Tika mulai tidak enak. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan tidak melihat Janar dimana pun. Jangan-jangan pria itu tersinggung dengan ucapannya tadi.
“Kamu cari apa, Tika?”Tanya Ibra.
“Aku pergi cari janar dulu, ya, Kak.” Tika langsung berlari.