Setibanya di masa lalu, pemuda tersebut bukan merasa senang karena bisa menjumpai sang pujaan. Ia justru dilanda kegalauan tingkat dewa.
Hanya saja,
Kegalauan itu tak bertahan lama. Bagaimana tidak, beberapa kabut berwarna hitam mulai bergerombol. Memenuhi sebuah ruang pribadi. Leonardo hingga tak mendapati sisi terbuka di dalam ruang.
“HEI! Apa yang kalian lakukan? Apa yang kalian inginkan dariku? Apa kalian yang menculik kekasihku?” Leonardo berujar. Menunjuk-nunjuk kabut hitam yang tak henti melayang.
Haha!
Spontan gelak tawa terdengar kompak. Sungguh, amat membahana. Leonardo hingga menyipitkan mata dan indera pendengar.
“Apa kau kira, kekasihmu itu bisa menguntungkan kami?” Salah seorang penyihir jahat menyahut.
Menguntungkan? Sang pemuda berkemampuan sihir memusatkan pikiran. Menebak maksud dan tujuan dari kalimat yang penyihir jahat tersebut lontarkan.
“Sudahlah, Leonardo. Urusan kami semata-mata hanya dengan kau saja. Kami menginginkan kitab sihir itu,” Penyihir jahat tersebut kembali berujar. Menyampaikan tujuan ia mendatangi seorang pemuda.
“Kitab sihir? Ah! Jadi, yang kalian inginkan adalah kitab sihir ini? Baiklah, kalian ambil saja,” Leonardo menyahut. Merelakan harta karun yang ia dapat dengan cara tak terduga.
Sontak, penyihir jahat itu mengumpulkan mantra-mantra mereka. Berusaha mengambil kitab sihir yang telah menjadi harta karun terpendam selama bertahun-tahun.
Wussh!
Wussh!
Kabut-kabut berwarna hitam tak henti melesat. Anehnya, kabut itu tak lagi bergerombol. Melainkan mereka saling melesat dengan arah berlawanan. Tak lain, mereka beralih untuk saling menyerang. Sejatinya, siapa pun yang dapat memiliki kitab sihir itu, berarti ia memiliki kemampuan berlebih. Dan, yah! Level sihir mereka juga akan bertambah dengan mudah. Sehingga, tak heran jika banyak para penyihir yang sedang memburu sosok Leonardo Mandela Lombogia. Kemudian, berkompetisi untuk mendapatkan sebuah buku bertuah.
Namun,
Meski sudah saling berebut dengan sekuat tenaga, diantara banyak para penyihir; tetap tak ada yang bisa merebut kitab sihir itu dari Leonardo. Padahal, Leonardo sengaja meletakkan buku tersebut di atas sebuah meja. Tanpa ada mantra pelindung atau bahkan kode akses; seperti yang Gerson lakukan di masa depan.
Wussh!
Zpt!
Pada menit ke sepuluh, kabut-kabut itu sontak melenyap begitu saja. Tak tertampak. Bahkan, tak menyisahkan bayangan.
Kemudian,
Gambaran magis tiba-tiba mencuat dari dalam kitab para penyihir. Buku yang semula dalam kondisi tertutup, mendadak terbuka dengan sendirinya; sama halnya dengan yang sempat Leonardo lihat pada saat kali pertama.
Saat itu, buku tersebut memunculkan sosok-sosok penyihir jahat yang baru saja saling beradu. Kumpulan para penyihir tersebut, benar-benar terlihat seperti gerombolan perusuh. Yah! Bak para bandit di desa.
Usai mendapati nama demi nama yang ada, Leonardo spontan teringat pada kembali pada Priscilla. Pemuda tersebut bergegas mengembalikan kitab sihir ke dalam ruang penyimpanan. Beralih keluar kamar.
“Pelayan? Pelayan?”
Seruan panjang ditujukan pada para pelayan wanita. Sontak, tiga hingga empat abdi tersebut bersegera menghampiri sang tuan.
“Apakah Priscilla tak sempat berkata atau bercerita apa-apa pada kalian?” Leonardo bertanya. Berusaha mengorek informasi.
Satu dua pelayan terlihat mengerlingkan mata. Sedangkan dua diantara mereka, hanya diam saja.
“Jadi, apa kalian mengingat sesuatu?”
“Se-sebenarnya—”
Issh!
Leonardo berdesis. Paling kesal dengan tanggapan yang sengaja dijeda.
“Sebenarnya apa?”
“Sebenarnya, sebelum kejadian angin dahsyat itu, Pak Kepala Desa datang ke mari, Tuan Muda.”
“Benarkah?”
“Benar, Tuan,” Pelayan yang lain turut menambahkan.
Sontak, perasaan kesal mencuat begitu saja. Memenuhi ruang di dalam hati. Bahkan, Leonardo hingga merasa sesak, tatkala memikirkan perihal sosok sang pemimpin di sana.
Jadi, hilangnya Priscilla berkaitan dengan pembangunan lembaga pendidikan yang hendak kami rencanakan? Leonardo menyimpulkan.
“Baiklah, kalau begitu aku pergi dahulu. Kalian tetap waspada. Barang kali, Priscilla kembali ke rumah secara tiba-tiba, kalian harus selalu sedia membukakan pintu untuknya.”
“Baik, Tuan.”
“Tentu, Tuan.”
******
Kini, Leonardo telah berpindah pada pelataran rumah. Pemuda tersebut menghampiri seekor kuda yang telah lama tak dijamah olehnya.
Hiakh! akh!
Ringkikan Moe Gayo terdengar lantang. Menggugah seluruh gendang telinga para pengawal yang sedang berjaga. Tanpa meminta persetujuan, Duncan dan beberapa pengawal berinisiatif untuk turut serta melakukan perjalanan.
Tapakan kaki kuda mulai berseru bersamaan. Leonardo hanya menoleh sekilas. Sejatinya, ia masih kesal dengan Duncan. Merasa, jika Duncan tak becus dalam bekerja. Hanya saja, saat itu Leonardo tak memiliki waktu untuk berdebat. Sehingga, ia mengijinkan pengawal-pengawal itu untuk menyertai perjalanan dari sisi belakang.
Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak!
******
Rumah kepala desa, seakan menjadi tempat tujuan favorit setelah hunian pribadi dan dunia magis. Hanya, ke-intensan tersebut terjadi dikarenakan alasan-alasan tertentu saja. Salah satunya, untuk mencari sosok Priscilla.
Tok-tok!
Leonardo mengetuk daun pintu rumah dengan sedikit tak sabar. Seorang wanita setengah baya; istri kepala desa, terlihat membukakan pintu.
“Kau? Ada apa lagi kau datang ke mari?”
“Aku ingin bertemu dengan Pak Kepala Desa. Di manakah dia?” Leonardo bertanya. Sementara itu, Duncan terlihat bercelingukan.
Istri Pak Kepala Desa tergagap. Merasa sedang disidak. Dan, yah! Rumah mereka memang terlihat sedang hendak digerebek hari itu.
Usai mendapat persetujuan dari Leonardo, Duncan dan para pengawal segera mengangguk. Mereka menerobos masuk ke dalam rumah.
“HEI! Hei? Apa yang kalian lakukan?” Seorang wanita berseru lantang. Namun, ia tak bisa melawan. Melihat penduduk desa melakukan hal tersebut, ia segera paham; jikalau sang suami sudah pasti melakukan hal-hal di luar sepengetahuan.
“Bu? Kali ini, apa yang dilakukan oleh Bapak?” Seorang anak mereka bertanya.
Wanita tersebut terdiam. Menggeleng. Tak tahu apa-apa. Sedangkan, pria-pria tersebut sedang bersibuk menyisir ruang demi ruangan. Tentu, mereka takkan menemukan Priscilla di sana. Karena, setiap penjahat sudah pasti takkan menyembunyikan target di tempat yang mudah ditemukan.
Sialan! Pergi ke mana si Kepala Desa ini? Leonardo berseru di dalam hati. Menugaskan Duncan untuk menghentikan aktivitas penggerebekan. Berpamitan pada Bu Kades. Lalu, bergegas menuju ke luar rumah.
Dan,
“HEI! Pak Kepala?” Seorang pengawal lain berteriak.
Spontan, Leonardo dan Duncan mengarahkan pandangan pada sumber suara yang melengking. Mereka berdua baru saja mendapati sosok pria yang sedang dicari-cari. Namun, dengan terbirit-b***t, Pak Kepala Desa berlari menjauh. Seakan, baru saja menunjukkan kecurangan yang telah ia lakukan.
Tak menunggu lama, langkah lebar seorang pemuda tangguh, mencapai tapakan pria lain yang sedang ia kejar.
“Kau mau kabur ke mana lagi, Pak Kepala?” Leonardo berujar. Mencekal tangan si kepala desa.
Tanpa diperintah, Duncan dan pengawal-pengawal di sana menggantikan posisi cekalan. Kini, Pak Kepala Desa sedang menjadi pusat sorotan. Banyak orang menyaksikan keributan yang dipicu oleh pemimpin di desa.
“Kau? Kau membawa Priscilla pergi ke mana, wahai Kepala Desa?” Leonardo bertanya. Membidik tajam.
“Pergi? Pe-e-r-gi ke mana, maksudmu?” Pria tersebut tergagap.
Cih!
“Kau jangan berpura-pura tak tahu, Pak Kepala. Sudah pasti, kau yang membawa Priscilla pergi sewaktu hunian kami sedang dipenuhi oleh keramaian warga? Kau benar-benar licik. Kau membawa seorang wanita beralih pergi selagi musibah sedang terjadi. Apakah istri dan anakmu tak tahu, jika kau melakukan hal sepicik itu?” Leonardo mencerca. Tak peduli.
Whoa!
Para warga bersorak. Tak jarang dari mereka segera mencibir sang pemimpin. Tak menyangka, jika Pak Kepala menculik Priscilla.
Lalu,
“Bapak? Apa maksud dari perkataan pemuda ini? Apa benar, Bapak menculik Priscilla?” Sang istri kepala desa bertanya. Membidik tajam seorang suami yang sedang ditawan.
“Bu! Bu! Bapak bisa menjelaskan hal ini,” Kepala Desa menyahut. Berusaha meyakinkan sang istri.
Namun,
Bunyi hentakan kaki, beserta gerakan serempak menjadi latar belakang perbincangan sepasang suami istri. Benar saja, Leonardo telah memerintahkan para pengawal untuk menggiring kepala desa. Membawa pria itu menuju sebuah tempat.
“Pak? Bapak?” Teriakan menjadi suara sorak saat bayangan seorang kepala desa semakin menghilang.
******
Setibanya, di sebuah tempat. Yakni, pada ruang terbuka yang tak banyak dikunjungi oleh penduduk di sana.
Para pengawal diminta untuk melepas cekalan tangan. Mengijinkan seorang tawanan menghirup napas dengan lega.
“Sekarang, cepat katakan! Ke mana kau membawa Priscilla pergi?” Leonardo bertanya.
Sontak, pria tersebut menunjuk pada salah satu sudut. Seluruh pemuda, menoleh bersamaan. Membidik sebuah batang pohon yang terletak di area perbatasan hutan.
Duncan dan para pengawal, berlari menuju batang pohon itu. Namun, nihil. Tak ada sosok Priscilla pada batang mana pun. Sebelum pada akhirnya, Duncan menemukan sebuah tali tampar. Tali berukuran panjang itu, terlihat terkisis pada beberapa bagian. Hanya saja, kikisan yang terbentuk; sama sekali tak menyebabkan tali tersebut menjadi putus. Lantas, bagaimana cara Priscilla terbebas dari ikatan itu? Jikalau, bukan karena seseorang yang sengaja memindahkan Priscilla; tepat sebelum wanita tersebut membebaskan dirinya sendiri.
Haish!
Leonardo mengeram. Mencengkram kerah pakaian sang tawanan.
“Kau berani mempermainkanku, wahai Pak Kepala Desa?”