“Apa yang sedang kau katakan, anak muda? Aku memang membawa Priscilla pergi dari rumah megahmu itu. Aku sengaja menawan dia, agar kau mengurungkan niat untuk membangun lembaga pendidikan di desa. Tapi, aku tak mempermainkanmu. Perihal hilangnya Priscilla saat kutawan, itu benar-benar di luar sepengetahuan dariku.”
Cih!
Leonardo berdecik. Tak serta merta percaya pada ucapan seorang pria bertubuh tambun. Sejatinya, sosok pemimpin di desa itu, terlihat amat licik.
Sehingga,
“Baiklah, jika kau tak mau mengaku. Aku terpaksa membawamu,” Leonardo berujar. Menarik lengan seorang pria yang semula tak lagi berada di dalam cekalan para pengawal.
Melihat Leonardo menggiring sang kepala desa dengan susah payah, Duncan berinisiatif untuk membantu.
Namun, “Sudahlah, Duncan. Aku akan membawa Pak Kepala seorang diri. Sekarang ini, lakukan saja tugasmu untuk mencari Priscilla. Kau harus menemukan dia, entah bagaimana caranya,” Leonardo memerintah. Memasang gurat frustasi di wajah.
Sontak, Duncan hanya bisa mengangguk. Menyaksikan seorang pemuda tangguh, membawa pergi sang pria berambut cepak.
Di sela, Leonardo mengarahkan Pak Kepala Desa pada posisi Moe Gayo berada, Jack Rumondor menampakkan diri. Menyeringai. Lalu berkata, “Wah! Wah, rupanya kalian sudah cukup akur sekarang?”
Ck!
Pak Kepala Desa berdecak. Menyahut, “Hentikan omong kosongmu itu, Jack. Kau jangan tertawa di atas penderitaan orang lain. Bukankah, kau sengaja memindahkan Priscilla tanpa sepengetahuanku?”
Hah?
“Apa katamu, Pak Kepala? Apa kau baru saja menuduhku?” Jack menjawab. Melangkah maju hingga berhadapan tepat dengan posisi sang kepala desa. Kemudian, pria muda bertinggi seratus delapan puluh derajat itu, menurunkan posisi wajah. Berniat menatap lekat seorang pria setengah baya, yang dahulu cukup akrab dengan dirinya.
“Aku tak menuduhmu. Aku memang tahu betul, jika kau tak hanya memiliki urusan denganku. Tapi, juga dengan dia,” Sang Kepala Desa mengarahkan jemari telunjuk. Memposisikan tepat pada sosok Leonardo di sana.
Benar saja, perkara balas dendam yang dimiliki oleh Jack, belum terbalaskan. Lagi pula, Jack adalah seseorang yang juga sempat menemui Priscilla. Yakni, tepat sehari sebelum angin dahsyat menerpa.
Sementara itu, Leonardo sengaja diam. Membisu. Ingin melihat percakapan antar dua orang, yang menjadi tersangka di dalam kepala. Namun, bagi Leonardo; kedua pria berbeda usia tersebut, benar-benar para insan yang pandai bersandiwara.
Kretek! Kretek!
Leonardo menggeretak leher. Meregangkan tengkuk yang kerap terasa berat. Hanya saja, gemeretak yang berbunyi tak biasa tersebut, membuat dua pria lain sontak mengarahkan pandang kepadanya. Bagaimana tidak, otot-otot Leonardo yang meregang benar-benar terdengar menyeramkan. Leonardo bak seorang pria dengan berkah kekuatan tenaga dalam.
“Jadi, sebaiknya aku harus mempercayai siapa? Mempercayaimu atau mempercayai dia?” Leonardo bertanya. Menunjuk Pak Kepala Desa dan Jack secara bergantian.
“Seharusnya, kau percaya pada Priscilla saja. Atau, wanita itu memang tak bisa dipercaya?” Jack menimpali. Menyahut dengan kalimat menyindir. Mengingat, Priscilla sempat dikenal sebagai seorang perempuan, yang kerap mengganggu para pria beristri di pedesaan. Jadi, hal itulah yang Jack fokuskan saat mengucap kalimat berisi sarkasme.
Haish!
“Apa maksudmu, Jack?” Leonardo mengeram. Beralih mencengkram sisi kerah yang digunakan oleh sang lawan bicara.
Tiba-tiba,
Pijakan tanah yang sedang menjadi tumpuan kaki mereka, bergetar hebat. Seolah, sedang dilanda oleh gempa berskala beberapa richter. Dataran yang semula rata dengan tanah kecokelatan, sontak meretak. Memecah hingga menimbulkan kepanikan.
Namun, gelombang seismik yang semula mengalihkan fokus ketiga orang pria, spontan menghilang. Tepatnya, saat Leonardo melepas cengkraman tangan. Yah! Gelombang itu tak serta merta terjadi begitu saja. Melainkan, muncul karena seorang pemuda berkemampuan sihir, sedang berniat meledakkan amarah.
Whoa!
Pak Kepala Desa dan Jack, melongo. Menatap dataran tanah yang kembali ke bentuk semula. Mereka bahkan bersamaan mengucek kelopak mata. Meyakinkan, jika hal yang baru saja terjadi dan tertangkap layar retina, merupakan kejadian nyata.
Sementara itu, Leonardo bergerak mundur. Sejatinya, ia segera menyadari pergeseran yang disebabkan oleh kemampuan sihir di dalam tubuh.
Tanpa banyak bicara, Leonardo bergegas membawa seorang kepala desa dari lokasi semula. Melanjutkan perkara yang ia miliki dengan sang pemimpin desa.
******
Tapakan kaki Moe Gayo baru saja berhenti pada sebuah sudut desa. Tak lain, adalah area pemandian air panas. Sontak, sang kepala desa merasa ketakutan. Tak mungkin, jika ia tak mengetahui perihal rumor yang tersebar pada beberapa tahun silam.
Namun, di saat Leonardo hendak menggiring pria setengah baya tersebut pada sela terbuka, suara Kyteler spontan menggema. Tentu, suara khas itu hanya bisa didengar oleh Leonardo saja.
“Leonardo, apa kau lupa dengan isi perjanjian kita?” Kyteler menyapa. Segera menujukan kalimat tanya.
Leonardo mengernyitkan dahi. Sungguh, ia mengingat satu kata demi kata yang mereka ucap bersama; saat berjumpa untuk kali pertama. Namun, kefokusan Leonardo dalam menangkap para perusuh di desa, membuat Leonardo sedikit kehilangan daya ingat. Sehingga, ia melupakan perihal usia yang Kyteler harapkan. Yakni, untuk membawa anak manusia dari golongan muda mudi saja. Bukan seorang insan berusia setengah baya, atau bahkan paruh baya.
Mendengar peringatan yang disebutkan oleh Kyteler, Leonardo spontan merasakan keanehan. Sebuah kejanggalan yang tak pernah terpatri secara utuh di dalam benak kepala.
Untuk apa Kyteler menginginkan anak manusia seusia mereka saja? Bukankah, dia berniat untuk membantuku; mengurung para perusuh, karena kepala desa kami tak bisa bertindak tegas? Pemuda berkulit putih itu berseru di dalam hati.
Lalu,
“HEI! Anak muda, mengapa kau diam saja? Sebenarnya, kau hendak membawaku ke mana? Kau tak berniat menceburkan aku ke dalam kepulan air jernih itu, kan?”
Pertanyaan yang sama kembali merasuk ke dalam gendang telinga. Seolah, membenarkan rumor yang tersebar di desa. Yakni, perihal pemandian air panas yang dapat melenyapkan seorang insan bernyawa.
Usai mendapati penolakan dari Kyteler, Leonardo memutuskan untuk kembali. Mengurungkan niat yang semula hendak menembus sela terbuka.
Sosok kepala desa, terlihat bingung. Namun di sisi lain, ia juga merasa lega. Syukurlah, pemuda ini tak jadi menghanyutkan aku ke dalam air jernih yang dipenuhi dengan uap panas.
******
Tapakan kuda kembali terdengar. Sungguh, di sela sang pemuda menunggang kuda, teriakan berisi permintaan bantuan menggema di dalam telinga. Bahkan, berhasil menggetarkan isi di dalam lubuk hati.
Hiakh! akh!
Leonardo menghentikan tunggangan. Menepi. Kemudian, meminta sang kepala desa untuk turun dari sisi belakang.
“Leonardo, jika kau menurunkan aku di sini, lantas bagaimana caraku untuk kembali ke desa?” Pria tak tahu malu itu bertanya.
“Maafkan aku, Pak Kepala Desa. Tapi, itu bukan urusanku. Sudah bagus, aku tak membawamu ke dalam sebuah tempat yang gelap, berjeruji dan dingin.”
Gelap? Berjeruji? Dingin? Tempat apa yang sedang dimaksudkan oleh pemuda ini? Sang kepala desa menerka-nerka.
Tak menunggu lama, Leonardo kembali melajukan Moe Gayo. Kali itu, ia menyisir jalanan yang sama; jalanan menuju area perbatasan hutan. Berniat untuk mencari jejak yang tertinggal. Berharap, Tuhan memberi petunjuk perihal kepergian sang perempuan.