Apa ini? Leonardo bergumam. Meraih sebuah kepala gasper yang terjatuh, tak jauh dari posisi batang pohon; tempat Pak Kepala Desa menahan Priscilla.
Lalu,
Leonardo membolak-balikkan bentukan unik pada salah satu bagian ikat pinggang. Berusaha mengingat kepingan memori perihal tangkapan retina pada beberapa waktu silam.
Sialan! Remaja yang sedang menjalani hidup sebagai seorang pemuda tersebut, mengumpat. Merasakan kekesalan yang teramat dalam. Bagaimana tidak, gasper itu adalah milik Jack Rumondor. Benar, Leonardo tak salah memastikan. Mengingat, seseorang yang diberkahi kegeniusan, takkan melewatkan hal-hal detail. Meski, perihal tersebut sekecil butiran pasir.
Sehingga,
“Moe Gayo, kita harus segera mencari begundal itu.”
Seruan lantang segera dibalas dengan ringkikan kencang. Leonardo dan Moe Gayo bak dua sejoli yang kompak. Mereka saling mendukung satu sama lain.
Tak menunggu lama,
Hiaa!
Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak!
Kuda pejantan itu melaju dengan secepat kilat.
******
Sebuah bangunan rumah menjadi titik tujuan.
Baru saja, Leonardo mengistirahatkan Moe Gayo dari perjalanan yang panjang. Menuruni tunggangan kuda. Lalu, melangkah dengan langkah lebar. Menghampiri daun pintu rumah yang terbuka. Dipenuhi dengan sorak sorai para pria yang sedang berjudi. Tentu, uang yang digunakan oleh pejudi-pejudi itu adalah uang hasil jarahan. Tak jarang, bebauan alkohol dan cerutu menyeruak. Bercampur menjadi satu hingga menimbulkan wangi yang khas.
Sementara itu, pemuda tangguh seperti Leonardo sedang melewati beberapa pria. Yah! Rumah judi tersebut, bebas dimasuki oleh siapa saja. Yang terpenting, mereka membawa lembar uang untuk dijadikan bahan taruhan.
Lalu,
“Bos? Bos?” Seorang pria bertubuh kekar; bertato penuh di tubuh, sedang berbisik pada salah seorang. Tak lain, adalah sosok pemuda yang Leonardo cari.
Jack Rumondor mengalihkan pandangan. Melepas genggaman kartu dan cerutu dari tangan kiri dan kanan. Menatap Leonardo yang sedang membidik ia dari kejauhan. Kemudian,
Cih!
Decikkan menjadi penyerta pemuda yang sedang terduduk di kursi siku-siku.
“KAU!” Leonardo mencengkram kerah Jack.
Pemuda yang sedari tadi diincar oleh Leonardo, kini sedang berada di dalam genggaman tangan kanan. Jack hingga terbangun dari posisi duduk. Sesaat usai ditarik kuat oleh satu kali gerakan tangan. Tak lupa, beberapa botol alkohol dan benda-benda di atas meja juga menjadi sasaran.
Sontak,
Seluruh penghuni rumah judi menyengir; menyaksikan sang pemilik rumah sedang berada di dalam genggaman pemuda, yang bahkan belum genap berusia tiga puluh tahun.
Tanpa banyak berdebat,
BUG!
Satu buah bogem yang disasarkan oleh Leonardo, menjadi sebuah pertunjukkan indah. Bagaimana tidak, pemuda berparas tampan sedang menggugah sang pemimpin bandit pedesaan. Dan, selama ini tak ada yang seberani Leonardo. Sehingga, pemandangan itu benar-benar takkan terlepas dari netra seorang pun. Terlebih lagi saat Jack, membalas pukulan. Adu hantam terjadi tanpa perencanaan. Dengan langkah dan gerak saling menghujam, tubuh mereka berdua berpindah dengan sendirinya ke area pelataran rumah. Membuat Leonardo mau pun Jack, menjadi lebih bebas dalam menuntaskan urusan.
BUG!
Kali itu, pukulan kedua mendarat ke tubuh Jack. Sungguh, pemuda yang terhujam, segera tersungkur ke atas dataran tanah kecokelatan.
Meski, dua kali gagal menangkis pukulan sang lawan, Jack tak ingin tinggal diam. Ia segera bangkit dari posisi semula. Menghampiri petarung tangguh di hadapannya.
Pukulan demi pukulan terus melayang. Seakan, adegan pertarungan sengaja dibuat untuk durasi yang cukup panjang. Bagaimana tidak, dua pria berusia sebaya itu, memang terlihat sepadan. Meski begitu, Leonardo paham betul, jika ia memiliki kemampuan berlebih. Yakni, dapat menggunakan ilmu bela diri beserta kemampuan sihir di dalam tubuh. Sebuah konstituen yang dapat menguntungkan sosok Leonardo; dua kali lebih dari pada sosok sang lawan.
Hanya saja, saat itu belum menjadi waktu yang tepat untuk Leonardo mengeluarkan kombinasi kemampuan tersebut. Mengingat, ia harus mendapat pengakuan dari Jack; perihal keberadaan Priscilla.
Wussh!
Pukulan mengudara untuk kesekian, ditangkis cepat oleh Jack. Pemuda tersebut, berniat menghentikan perkelahian. Mengajak pria kelabakan itu untuk berbicara.
“Sebaiknya, kita hentikan adegan tinju ini,” Jack berujar. Seolah, sedang menjeda perkelahian. Mencoba mencari sela untuk bernapas.
“Kau! Seharusnya, sedari awal aku membunuhmu saja. Kau itu benar-benar begundal tak tahu diri. Kau berlaga seolah tak menculik Priscilla. Tapi, lihatlah!” Leonardo memekikkan suara. Menunjukkan kepala gasper ke sisi depan wajah Jack Rumondor.
Sontak,
Seringai licik menyumbul keluar dari wajah Jack. Pemuda tersebut berekspresi mengejek.
“Kau itu pemuda lamban, Leonardo,” Jack berbisik kemudian. Masih dengan menyengir menyebalkan.
Cuih!
Sebuah ludahan mencuat. Memercik pada sisi samping Leonardo. Pemuda itu berniat membisikkan kalimat provokatif.
“Kekasihmu yang sedikit nakal itu, benar-benar menguntungkan. Dan, kemahirannya patut untuk kuberi apresiasi.”
Tiba-tiba,
Wussh!
Angin berhembus kencang. Leonardo baru saja mengepalkan tangan kanan. Mengeram dengan penuh kekesalan. Kemudian, mengudarakan kepalan tangan. Sekuat tenaga. Penuh perasaan benci dan dendam terpendam.
Sepersekian detik kemudian,
Sreet!
Jack Rumondor terpental. Meringkuk kesakitan di atas tanah lapang; tempat mereka berdua semula berpijak.
Huk!
Beberapa percik darah baru saja keluar, sesaat usai Jack terbatuk.
Napas sengal-sengal, tak lupa menjadi penyerta batukan dan muntahan darah. Kali itu, Jack Rumondor benar-benar tak dapat berkutik meski sekali saja. Tepukan telapak tangan pada dataran tanah, menjadi pertanda jika Jack telah menyerah.
Menyaksikan sang lawan dalam keadaan mengenaskan, Leonardo spontan kembali mengontrol perpaduan dari kemampuan ilmu bela diri dan sihir, yang ia punya. Pemuda tersebut juga mencoba meredakan emosi dan amarah. Menghampiri posisi Jack. Berjongkok. Bertanya, “Aku akan menjadikan ini pertanyaan yang dapat kau dengar untuk kali terakhir. Aku bertanya, di mana kau menyembunyikan Priscilla?”
Tanpa banyak berkilah, Jack menggerakkan jari telunjuk. Mengarah pada sebuah jendela berwarna cerah. Terlihat sedikit terbuka.
Sontak, Leonardo menuju sudut tersebut. Berharap, kali itu Jack tak menggelabuhi ia lagi.
Dan,
“HEI!” Seruan lantang kembali terdengar. Membuat pria yang sedang membuka daun pintu kamar, menjadi terperangah.
Sedangkan, Priscilla spontan bernapas lega. Akhirnya, kau datang juga.
Melihat gerak-gerik seorang pria yang sedang ingin menyalurkan hasrat, sesaat usai memenangkan taruhan, Leonardo bergegas menuju ke dalam rumah. Menyisir posisi kamar, yang sebelumnya hanya ia lihat dari sisi luar bangunan.
Dengan langkah tergesa, Leonardo berharap pria tadi belum sempat berbuat apa-apa.
Kemudian,
BRAK!
Sebuah pintu kayu baru saja terbuka. Bahkan, daun pintu tersebut menjadi patah; mencuat keluar dari dalam engsel yang kokoh.
“Leonardo?” Priscilla memanggil. Sedikit dengan nada melemas.
Bagaimana tidak, sudah dua hari lamanya, Jack memberi obat tidur pada Priscilla. Berniat membuat wanita itu tak berdaya. Sungguh, sebuah rencana licik yang memuakkan.
Tanpa basa-basi, Leonardo menghempas pria yang memenangkan taruhan.
”Hei, kau siapa? Apa yang kau lakukan?” Pria tersebut menyahut. Tak terima saat melihat pemuda lain sedang menghalangi aktivitas yang hendak ia lakukan.
Sementara itu, Leonardo terkesan enggan menghujam pria itu dengan pukulan. Ia justru menjentikkan jemari tangan kanan; membuat pemuda tersebut tergelepar pingsan. Lalu, ia menuntaskan agenda pencarian dengan membopong Priscilla ke dalam gendongan. Benar saja, saat itu Priscilla sudah dalam keadaan tertidur. Tak sadar. Beruntung, Leonardo tiba pada waktu yang tepat.
Bak seorang ksatria, Leonardo baru saja melangkah keluar dari dalam kamar. Menuju pintu utama. Membawa seorang wanita berparas cantik nan jelita.
Prisc, maafkan aku. Aku selalu tiba dengan terlambat. Leonardo berbisik lirih. Menatap Priscilla yang sedang memejamkan mata.
Tiba-tiba,
BUG!
Sebuah benda mendarat pada sisi punggung Leonardo. Benda berbentuk bundar tak rata, tak lain merupakan satu buah batu berukuran kepalan tangan pria dewasa.
Meski ditimpuk secara sengaja saat lengah, batu keras tersebut tak membuat Leonardo menjadi kesakitan. Hujaman itu, hanya bagai sentilan tangan saja untuk pemuda setangguh Leonardo.
Tanpa menghiraukan timpukan yang ditujukan, pria bertungkai jenjang tersebut bergegas menghampiri Moe Gayo. Menaikkan sang wanita ke atas tunggangan kuda. Menyeimbangkan tubuh saat hendak beranjak naik setelah Priscilla.
Hiakh! akh!
Moe Gayo meringkik. Memberi pertanda, jika hewan bertubuh kekar itu telah bersiap untuk mengantar dua orang berparas rupawan.
******
Di hunian megah. Tepatnya, di dalam sebuah kamar berukuran besar.
Dua orang pelayan wanita telah bersiap menyeka dan menyiapkan berbagai keperluan yang dibutuhkan sang majikan.
Melihat tubuh Priscilla dipenuhi beberapa luka, Leonardo tak dapat menahan rasa menyesal. Jikalau, ia tak pergi terlalu lama saat kembali ke masa depan, mungkin itu semua takkan terjadi pada sang wanita.
Prisc, maafkan aku. Pasti, kau mendapat luka gores itu saat berniat membebaskan diri dari ikatan tali tampar. Leonardo menyimpulkan. Menatap lekat bekas yang tergambar pada sisi pergelangan tangan kiri dan kanan. Lalu, beberapa bekas lain pada sisi bahu bagian belakang. Sungguh, Priscilla berusaha keras untuk menggerakkan tubuh. Sehingga, membuat tali berukuran panjang, yang melingkari badan menjadi terkikis.
******
Dua jam kemudian.
“Leonardo?” Suara seorang wanita merasuk ke dalam gendang telinga. Pemuda yang sedari tadi terjaga, bergegas mencondongkan tubuh. Membuat wajahnya bertatap langsung dengan Priscilla.
“Kau sudah bangun, huh?” Leonardo menyahut. Mengusap sisi dahi sang kekasih.
“A-apa aku—” Priscilla menjeda kalimat. Mengedarkan pandangan pada sisi tubuh yang terbalut selimut. Berusaha memastikan, jika tak ada yang terjadi pada saat terakhir kali ia membuka mata.
“Kau tenang saja, Prisc. Kau baik-baik saja. Pria itu—”
“PRIA?” Priscilla memekikkan suara. Nada bicara wanita tersebut diiringi dengan seribu ketakutan.
Menyaksikan Priscilla berteriak histeris saat mendengar kata ‘pria’, Leonardo sontak merasa sedih. Kali itu, perasaan trauma yang diderita oleh sang wanita, kembali membayangi setiap menit dan detik ia bernapas.
Sungguh, selama dua hari lamanya, para pria di rumah judi tak henti memperhatikan dirinya. Sesekali, mengintip dari sela pintu yang terbuka. Menyeringai buas. Memandang lekuk tubuh dengan tatapan tak tahan. Beruntung, pria-pria itu tak bisa berkutik. Mengingat, jika mereka berani menyentuh Priscilla; sebelum memenangkan taruhan berjumlah besar. Maka, Jack Rumondor takkan memberi ijin pada kaum sesamanya itu, untuk menjamah Priscilla. Bahkan, untuk seujung helai rambut saja; Jack telah menghargai Priscilla dengan taruhan bernilai besar.
Dasar, begundal sialan!