Malam yang dingin menyertai mimpi buruk Priscilla. Wanita yang semula sedang merebahkan diri di atas ranjang; tertidur pulas. Sontak, kembali berteriak.
Lalu,
Dengan sigap, “Prisc? Prisc? Hei, tenanglah. Lihat! Ada aku di sini. Aku sedang berada di sampingmu,” Leonardo berseru. Menyentuh kedua sisi wajah sang wanita. Berusaha memecah histeria yang tak henti memenuhi pikiran di dalam benak kepala.
“Leonardo?”
“Yah! Aku Leonardo,” Pemuda tersebut menegaskan. Menatap lekat manik mata Priscilla yang sendu. Lalu, menujukan pelukan. Membawa ke dalam dekapan yang menenangkan.
Maafkan aku, Prisc.
Lagi-lagi seruan berisi penyesalan, menjadi kalimat yang Leonardo batinkan. Pemuda itu, tak bisa melihat wanita yang ia cinta merasa tak tenang. Merasa was-was, meski tak lagi berada di dalam kerumunan para penyamun.
Ini semua terjadi karena aku terlalu lama meninggalkanmu, karena aku tak ada di sampingmu.
Hiks,
Isak tangis terdengar. Priscilla sesenggukan. Leonardo tak henti untuk meyakinkan, jikalau ia sudah dalam keadaan tak terancam.
******
Di halaman depan rumah.
“Duncan?” Leonardo memanggil. Melambaikan tangan.
Sontak, Duncan menghampiri sang tuan. Bersiap untuk mendengar mandat mau pun hardikkan berisi kekesalan.
“Iya, Tuan?” Pengawal tersebut menyahut sigap.
“Apa kau masih ingin bekerja di bawah kepemimpinanku?”
“Tentu saja, Tuan,” Duncan mengiyakan. Melontarkan kalimat tersebut tanpa sadar. Meski, ia tahu betul jika dirinya tak lagi pantas untuk diberi kelonggaran.
“Baiklah, kau anggap saja jika kau sedang beruntung pada hari ini. Aku tak memanggilmu untuk memberi surat pemecatan. Melainkan, aku berniat untuk mempercayakan hal baru lagi kepadamu.”
Mendengar ucapan berisi kebaikan hati sang tuan muda, Duncan bernapas lega. Sejatinya, Leonardo memang seorang pemuda yang patut menjadi panutan.
Satu menit
Dua menit kemudian,
Duncan beralih pergi, sesaat usai mendapat perintah untuk kesekian kali.
Sementara Duncan sedang menjalankan kewajiban, Leonardo kembali masuk ke dalam hunian.
******
Keesokan harinya.
Suara beberapa pukulan terdengar hingga ke seluruh penjuru ruang di dalam rumah. Leonardo hingga mengerjap mata. Beranjak dari posisi baring di atas ranjang. Membuka daun pintu kamar.
“Pelayan, ada apa?” Pemuda tersebut bertanya.
“Maaf, Tuan Muda. Saya juga kurang tahu,” Pelayan wanita itu berkata jujur. Bagaimana tidak, sedari pagi ia bersibuk melayani Priscilla, yang sedang berada di dalam kamar utama.
Leonardo memanggutkan kepala. Memahami jawaban tak tahu yang baru saja ia dapatkan. Mengijinkan pelayan wanita tersebut untuk beralih pergi. Menyampaikan nampan berisi makanan.
Kini, Leonardo telah mencapai ambang pintu berukuran besar. Berdiri tepat di perbatasan daun pintu rumah. Berkacak pinggang. Menatap lekat Duncan beserta para pengawal lain yang sedang mengikat Jack Rumondor.
Yah! Mandat yang semalam diberikan oleh Leonardo, adalah perihal penangkapan seorang Jack yang harus sukses dilakukan oleh Duncan. Jikalau gagal, bisa jadi Leonardo akan benar-benar memecat Duncan.
Ck!
Leonardo berdecik lirih. Masih dengan gaya berkacak. Pemuda itu, tak lagi memiliki energi tapi masih saja bisa menyeringai tak tahu diri.
Usai berkomentar, Leonardo beralih melambaikan tangan.
“Duncan, setelah sarapan pagi aku akan membawa pemuda itu pergi. Dan, ingat! Kali ini, kau tak boleh kehilangan Priscilla meski hanya seujung helai rambut saja. Jangan sampai seseorang kembali menculik Priscilla,” Leonardo memperingatkan.
Kemudian, menepuk pundak sang pengawal.
******
Mentari pagi beserta terpaan angin sejuk, menjadi saksi bisu seorang Leonardo Mandela Lombogia membawa seorang pemuda untuk ke kali ke empat.
Hari itu, menjadi hari tersukses bagi Leonardo untuk menjalankan misi penangkapan. Bagaimana tidak, jika bukan karena konstituen antara ilmu bela diri dan sihir yang ia miliki. Maka, ia takkan bisa menanggalkan Jack dalam pukulan.
Sungguh, Jack Rumondor juga merupakan pemuda yang tangguh. Leonardo memuji. Tak memungkiri.
******
Di dalam perjalanan.
“Hei, Leonardo. Sebenarnya, kau akan membawaku pergi ke mana? Kulihat dengan sebelah sisi mataku yang masih terbuka, kau telah menunggang jauh dari desa,” Jack berujar. Memecah keheningan.
Seperti biasa, Leonardo tak memberi jawaban. Meski begitu, Leonardo masih berbaik hati untuk mendengar suara Jack teruntuk kali terakhir. Yah! Itulah alasan Leonardo tak menyumpal mulut Jack dengan ikatan kain.
Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak!
Tapakan kaki kuda tak henti bergerak. Moe Gayo benar-benar petangguh yang tak pernah lelah dalam menempuh perjalanan jauh. Sekali pun, menuju anta berantah.
“Leonardo? HEI! Apa kau tak bisa mendengar? Mengapa sedari tadi kau hanya diam? Tak memberiku jawaban,” Jack menghentak. Sesekali, dengan imbuhan suara batuk yang keluar dari sebuah indera pengecap.
Uhuk!
Darah memercik. Bahkan, mengenai pakaian sisi belakang sang penunggang kuda.
Issh!
Barulah, kali itu Leonardo berdesis. Mulai mengeluarkan suara, “Aku akan membawamu menuju tempat para begundal-begundal lain. Tenang saja. Kau pasti menyukai tempat itu.”
Jack mengernyitkan dahi. Sejatinya, ia tak percaya dengan ucapan nada menyengir yang Leonardo lontarkan.
“A-apa maksudmu, Leonardo?” Jack bertanya. Sedikit terbata.
Bagaimana tidak, pukulan terakhir yang Leonardo layangkan benar-benar membuat tubuh Jack menjadi melemah. Tak memiliki daya dan kekuatan yang semula selalu menjadi primadona.
******
Tak terasa, Moe Gayo mendecitkan langkah. Seraya, telah hafal dengan jalanan dan titik tujuan sang tuan.
Leonardo bergegas turun dari tubuh seekor hewan. Tak lupa membawa serta Jack Rumondor.
Pemuda yang sedang ditawan tersebut, hanya bisa menyaksikan bayangan Moe Gayo. Kuda berwarna cokelat yang bersibuk mengibaskan ekor panjang. Menggerakkan tungkai untuk mengais tanah pijakan.
“Le-leonardo? Kau hendak membawaku ke mana?” Jack berujar. Kali itu, nada bicara pria muda tersebut, semakin melirih. Terdengar melemah setengah mati.
Tanpa sepatah kata, Leonardo menggiring tubuh Jack untuk melewati sela terbuka. Sela penghubung antara dunia magis dan non magis, sontak tertembus dengan mudah. Jack terperangah. Ia tak menyangka, jika akan berpindah tempat hanya dalam waktu sekejap.
Dimana ini? Jack membatin. Sebuah pertanyaan kecil, yang juga ditanyakan oleh tawanan sebelum-sebelumnya.
Sementara itu,
“Kyteler? Kyteler?” Leonardo memanggil. Melepas cekalan tangan pada pergelangan milik Jack. Merasa tak masalah jika tak lagi memegang seorang sandera. Mengingat, Jack takkan mampu kabur dari sana.
Dua menit kemudian,
Merupakan detikan waktu yang cukup lama, jika dibanding dengan saat-saat biasa; sewaktu Leonardo menjumpai Kyteler di sana.
“Jadi, kali ini kau berhasil menangkap Jack Rumondor?” Kyteler bersuara. Menebak nama seorang pria dengan benar.
“Tentu saja. Bukankah, kau sudah lama mempertanyakan perihal sosok pemuda ini?” Leonardo menyahut. Menghoyak singkat tubuh Jack yang masih terikat.
Kyteler mengangguk. Meski, anggukan itu terlihat tak terlalu antusias. Bagaimana tidak, seorang pemuda paling tangguh selain Leonardo, baru saja dibawa ke dunia magis dalam keadaan lemah. Dan, bukan hal itu yang Kyteler mau. Mengingat, sang penyihir wanita tersebut memiliki tujuan tertentu.
Namun,
“Baiklah. Kau boleh pergi sekarang. Aku akan mengurus Jack Rumondor,” Kyteler memutuskan sesaat usai mempertimbangkan.
Jack menelan ludah dengan susah. Tak dapat memberontak ketika mendapati dirinya diserahkan pada seorang wanita.
Sementara itu, Jack Rumondor seolah sedang menimang pemikiran di dalam benak. Pada tangkapan layar retina mata Jack; Kyteler tak serupa dengan wanita-wanita cantik di desa. Kyteler sungguh tak biasa. Kecantikan yang dimiliki oleh Kyteler, terlihat seperti kecantikan abadi. Sebuah berkah yang tak didapati oleh sembarang wanita. Setidaknya, itulah yang Jack lihat dan simpulkan. Mengingat, insan biasa takkan mampu melihat jati diri seorang penyihir; seperti halnya Leonardo mampu melihat sosok mereka.
******
Beberapa saat usai Leonardo meninggalkan dunia magis.
“Hai, Jack? Apa kau merasa keberatan, jika Leonardo menginginkanmu untuk tinggal bersamaku?” Kyteler mengeluarkan suara. Memulai pembicaraan diantara mereka.
“Tinggal bersamamu?”
“Yah! Seperti yang kau lihat. Kau akan tinggal di sini bersamaku. Lebih tepatnya, juga bersama ketiga pemuda yang lain.”
Hah?
Jack terperanjat. Apa aku tak salah mendengar? Jika, tak hanya aku yang diserahkan oleh Leonardo pada wanita ini? Jadi, Leonardo benar-benar membawaku menuju tempat para begundal-begundal lain?
Kemudian, Kyteler mulai menengadahkan tangan. Berniat memperlihatkan kemampuan sihir yang ia punya melalui sebuah cermin berukuran besar di sana.
Sontak, bola mata Jack melebar. Melebihi ukuran normal, sesaat usai melihat kejadian magis di depan netra. Sial! Wanita ini bukan seorang manusia. Di-dia—
Jack menghentikan gumaman.
Lalu,
Haha!
Suara tawa membahana. Kyteler baru saja menunjukkan jati diri aslinya. Yakni, bentuk rupa seorang penyihir wanita yang buruk. Tak cantik seperti sedia kala.
Ja-jadi—
“Jadi, aku adalah seorang penyihir. Dan, yah! Kau datang ke mari untuk memperkuat sihir yang kupunya. Aku akan menyerap daya tahan tubuhmu, umur, paras serta ketangguhanmu itu. Yah! Pokoknya, apa pun yang bernilai lebih pada dirimu,” Kyteler menjelaskan. Tak berniat menutup-nutupi kemauan.
Tanpa banyak sahutan, Jack Rumondor sontak melemas. Ia terduduk dari posisi berdiri dengan tali terikat pada sisi belakang tubuh.
Jadi, selama ini Leonardo bersekutu dengan seorang penyihir? Dan, penyihir ini akan merebut semua hal yang kumiliki di dalam diri? Siapa pun itu, kumohon selamatkan-lah aku.