LOVING EACH OTHER

1212 Kata
Sepulang Leonardo dari dunia magis, pemuda tersebut menunggang Moe Gayo dengan santai. Usai berhasil menangkap pemimpin para bandit di pedesaan, ia bak seorang pria yang tak memiliki beban. Tapakan demi tapakan terus berpijak. Moe Gayo tak henti menurut pada komando yang diberikan oleh sang tuan. Hingga pada akhirnya, kuda kekar tersebut memberhentikan langkah pada sebuah lahan. Yakni, pada tanah berukuran beberapa hektar. Di sela Leonardo mengedarkan pandangan. “Apa kau yang bernama Leonardo?” Seseorang menyapa. Mengalihkan pandang seorang pemuda, yang semula bersibuk menatap hamparan luas di depan hadapan. “Ya, kau benar. Aku adalah Leonardo. Ada apa?” “Aku melihat kau berhasil mengalahkan Jack Rumondor sewaktu beradu hantam di pelataran rumah judi.” “Lalu?” “Lalu, aku ingin merekrutmu.” “Merekrut?” “Ya, aku berniat untuk merekrutmu menjadi pelatih bela diri.” Spontan, Leonardo mengernyitkan dahi. Apa pria ini tak salah berujar? “Aku memiliki sebuah wisma sederhana. Wisma khusus untuk berlatih ilmu bela diri. Selama ini, aku melatih murid didikku seorang diri. Maka dari itu, tujuanku ke mari adalah untuk merekrutmu. Pria tua sepertiku ini, tak lama lagi akan pensiun. Sehingga, aku berharap kau takkan menolak permintaan ini.” Paruh baya yang bahkan belum sempat memperkenalkan diri tersebut, terlihat bersungguh-sungguh. Leonardo merasa sungkan, jika harus memberi jawaban berisi kalimat penolakan. “Tapi, aku tak sedang berniat menjadi seorang guru,” Leonardo menyahut jujur. Sejatinya, ia telah merasa nyaman saat menjadi seorang petualang. Mengingat, tanpa bekerja, ia juga bisa mendapat uang. Yakni, hanya dengan menengadahkan tangan dan membaca sebaris mantra. Mendapati berkah dari Tuhan, Leonardo seakan lupa jika ia harus tetap menggunakan kemampuan itu pada jalan yang benar. “Apa kau akan memberi penolakan secepat itu, Leonardo? Setidaknya, pikirkanlah dahulu permintaanku ini,” Pria tersebut membujuk. Berusaha mendapat persetujuan dari seorang pemuda yang sedang ia incar. “Maafkan aku. Aku tak bermaksud untuk tak sopan. Hanya saja, aku tak ada waktu luang untuk mengajar.” Sontak, nyali pria paruh baya itu menciut. Ia beralih memanggutkan dagu sebagai tanggapan berusaha menghargai keputusan yang Leonardo beri. Lalu, berpamitan untuk pergi. Namun, “Tunggu dulu Pak Tua,” Leonardo memanggil. Sesaat usai pria tersebut melangkah. “Ada apa?” “Apa murid-muridmu itu berusia tak jauh berbeda denganku?” Leonardo bertanya. “Tentu saja. Mereka adalah muda mudi sepertimu.” Mendengar sahutan itu, Leonardo menjadi berubah pikiran. Mencabut kalimat yang semula berisi penolakan. Menyalamkan tangan kanan sebagai tanda sebuah kesepakatan. Kini, kedua pria berbeda usia tersebut saling melempar senyum senang. ****** Beberapa jam kemudian. Leonardo telah berpindah pada hunian megah. Kali itu, ia berniat memberi perintah untuk kesekian pada Duncan. Yakni, perihal rencana pembangunan. “Duncan? Apa kau bisa mengawasi para pekerja bangunan?” Leonardo mengajukan pertanyaan. Pekerja bangunan? Duncan bergumam. Sejatinya, ia tak memiliki banyak pengalaman kerja. Mengingat, pekerjaan sebagai seorang pengawal merupakan pekerjaan pertama yang ia dapatkan. “Maafkan saya, Tuan. Saya tak memiliki pengalaman di bidang itu.” Hhm! Leonardo berdehem, “Justru itu, ini adalah kesempatan yang bagus untukmu. Kau bisa belajar banyak saat mengawasi para pekerja itu.” “Tapi, Tuan?” Duncan menyanggah. Hanya saja, “Tak ada tapi-tapian, Duncan. Kau lakukan saja, atau—" “Baik, Tuan. Baik!” Duncan berseru lantang. Tak ingin mendengar ucapan berisi ancaman pemecatan. ****** Setelah memberi mandat, Leonardo beralih pergi dari posisi semula. Menuju teras pada sisi samping bangunan rumah. Hamparan berwarna hijau menjadi pemandangan cerah. Bagaimana tidak, setiap hari Priscilla aktif sekali dalam menyiram tanaman berwarna-warni tersebut. Menjadikan mereka sebagai pemandangan asri yang dapat dinikmati oleh manik mata siapa saja. Sesampainya di sana. Leonardo bergegas melakukan pemanasan. Lalu, bersiap dengan posisi kuda-kuda. Memulai pukulan, tangkisan, serta hentakan dengan penuh kekuatan. Bergerak lihai sembari mengkombinasikan ilmu bela diri dan sihir. Terus mengontrol kemampuan berlebih di dalam diri. Wussh! Gerakan mengudara dengan sistematis. Leonardo berhasil menguasai gerak demi gerak, yang pada akhirnya mampu ia kendalikan agar tak mengakibatkan hal fatal. Tiba-tiba, “Leonardo?” Suara teduh Priscilla terdengar. Sontak, sang pemuda terkejut. Bagaimana tidak, saat itu kabut berwarna putih baru saja menyumbul keluar. Mengudara hingga membentuk beberapa kepulan samar yang kian lama menghilang. “Apa kau baru saja melakukan trik sulap, Leonardo?” Priscilla menambahkan kalimat dengan tanda tanya. Menyadari hal janggal yang masuk ke dalam netra. GLEK! Sang pria muda spontan menelan ludah. Berkata, “Memang, apa yang baru saja kau lihat?” Priscilla menelengkan kepala. Menyahut, “Aku melihat kau sedang mengudarakan kabut-kabut berwarna putih.” Mendengar pengakuan dari Priscilla, Leonardo terperangah. Lain kali, aku harus lebih waspada. Alih-alih memberi jawaban, Leonardo beralih mengalihkan fokus pembicaraan. “Prisc, aku ingin mengabarkan perihal pembangunan lembaga pendidikan yang sudah kita rencanakan. Rencananya, kami akan melangsungkan pembangunan pada esok hari,” Sembari berujar, Leonardo menggiring Priscilla untuk beralih dari posisi semula. Mengajak sang wanita untuk duduk bersama pada sebuah kursi di area taman. Selagi dua insan tersebut berjalan, seorang pria terlihat menghampiri mereka. Tak lain, adalah sang kakek tua dari desa seberang. “Kakek?” Leonardo menyapa. Menjauh dari sisi samping Priscilla. Memutar arah tujuan semula. Beralih untuk menghampiri seorang pria tua, yang pernah memberi hadiah tak terduga. Yakni, kunci peti berisi harta karun. “Ada perlu apa? Hingga, Kakek menghampiriku ke mari?” Leonardo bertanya. Mengarahkan langkah Kakek itu menuju sisi depan pintu rumah. Diiringi dengan langkah kaki Priscilla, yang tak henti mengikuti sang pemuda. Kini, tiga orang tersebut sedang berada di dalam satu meja. Leonardo baru saja memperkenalkan sosok sang Kakek. Lima menit Sepuluh menit kemudian Singkat cerita, sang kakek tua sedang menghampiri Leonardo untuk mengadukan suatu hal. Yakni, perihal sosok Jack Rumondor yang mendadak dikabarkan menghilang. Rumor telah tersebar. Bahkan, hingga ke seluruh penjuru desa. Termasuk, desa si kakek yang sedang dilanda oleh wabah. “Leonardo, tolong bantu Kakek. Kau temukanlah putra Kakek itu,” Sang paruh baya berujar. Sejenak, Leonardo terdiam. Kemudian, “Tapi, maafkan aku, Kek,” Leonardo menyahut. Melepas tangan yang sedang berada di dalam genggaman si kakek tua. “Tapi, maaf. Aku tak bisa menemukan putramu itu. Ehm! Maksudku, aku takkan bisa mengembalikan putramu itu lagi,” Leonardo meneguhkan hati. Menyahut. Berdoa agar sang kakek dapat memahami keputusan berisi penolakan itu. Sahutan yang Leonardo beri, sontak membuat Priscilla mengalihkan pemikiran beserta bayangan menuju dunia magis. Mengingat, tak ada tempat lain yang dapat menyebabkan Leonardo berkata demikian; takkan bisa mengembalikan sosok Jack itu lagi? Sudah jelas, karena Leonardo telah membawa sosok Jack menuju dunia berbeda. Sebuah dunia yang tak dapat dilintasi oleh manusia biasa dengan mudah. Pada saat bersamaan, kekompakkan Leonardo dan Priscilla sedang diuji teruntuk kali pertama. Hari itu, menjadi saksi bisu. Akankah, Priscilla mengadukan perihal penangkapan dan keputusan memenjarakan Jack di dalam sel, yang ada di dunia magis? Ataukah, Priscilla akan membantu Leonardo dalam berkilah? Semua itu, hanya mereka yang dapat membuat keputusan dengan baik. Mengingat, Dua insan yang saling mencintai, sudah pasti selalu mendukung dan takkan menjerumuskan pasangannya di kala sedang terhimpit, terpuruk serta terjatuh sekali pun –Ashariita (di novel The Elicit of Immortal, kisah Leonardo si buruk rupa). Dan, “Pak Tua, aku tahu jika kau sudah pasti mengkhawatirkan putramu. Namun, bukankah putramu itu terlalu meresahkan warga? Jadi, untuk apa kau mencarinya? Dari yang kudengar, Jack juga tak segan untuk berperilaku buruk terhadap anggota keluargamu. Sehingga, di mana pun Jack berada sekarang, tak seharusnya kau mencemaskan dia,” Priscilla menambahkan sahutan. Mewakili ucapan Leonardo yang tertahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN