DREAM

1276 Kata
Pagi ini, Leonardo dan Duncan pergi menuju sebuah lahan. Menjumpai pemborong bangunan. Selagi berbincang, Leonardo hanya memanggut-manggutkan kepala. Sejatinya, ia belum pernah mengurus perihal pembangunan lahan. “Jadi, kau berniat memberi uang muka pada kapan?” Pria pemborong itu bertanya. “Itu terserah padamu saja. Aku akan memberikan sesuai nominal yang kau inginkan,” Leonardo menyahut santai. Pada akhirnya, Sejumlah nominal uang baru saja disepakati oleh kedua belah pihak. Sebuah nominal yang setara dengan beberapa buah emas batangan. “Baiklah. Kalau begitu, kami akan mempersiapkan tim kami,” Pemborong tersebut menyanggupi. Dua pria baru saja bersalaman. Pertanda, jika pembelian tanah benar-benar telah berhasil mencapai tujuan pertama. Yakni, membangun tanah seluas itu, yang akan dipantau langsung oleh Duncan. “Duncan setelah ini kau mulailah bekerja. Kau harus mengawasi mereka,” Leonardo memerintah. Duncan memanggutkan kepala sebagai tanda patuh. Semenjak itu, Duncan bersibuk melakukan dua pekerjaan. Yakni, di saat pagi ia bekerja sebagai mandor. Sedangkan, di saat malam ia bekerja sebagai seorang pengawal. Yah! Selain mendapat pengalaman, sudah pasti Duncan juga mendapat banyak uang dari hasil melakukan dua pekerjaan dari sang tuan. ****** Sementara Duncan sedang bekerja, Leonardo bergegas meninggalkan posisi semula bersama Moe Gayo. Hiaa! Kloplak! Ktoplak! Kloptlak! Suara tapakan kaki kuda terdengar. Kali itu, melaju menuju arah yang berbeda. Tak lain, ke arah wisma seorang paruh baya, yang sempat menawarkan Leonardo untuk menjadi pelatih ilmu bela diri. ****** Sesampainya di wisma tersebut, netra di dalam kelopak mata segera mendapati keindahan gerak pencak silat, yang sedang bersahut-sahutan kompak. Leonardo tak henti memperhatikan dengan seksama. Hingga, “Hei, Leonardo?” Pak Tua si pemilik wisma menyapa. Menyudahi aktivitas memandu pergerakan bela diri. Leonardo memanggutkan kepala. Melempar senyum ke arah pemuda-pemuda yang antusias dalam belajar ilmu bela diri. Mengingat. dari sekian banyak populasi anak muda, baru Jack Rumondor-lah yang teramat pandai menggunakan kemampuan itu. Sehingga, antusiasme pemuda di sana, membuat hati Leonardo semakin tergugah untuk menjadi seorang pengajar. “Apa kau sudah memantapkan pikiran? Apa kau datang ke mari untuk memulai perkenalan, jikalau minggu depan kau akan menjadi pengajar baru mereka?” Pak Tua mencerca dengan pertanyaan. Tanpa sahutan, Leonardo justru segera memasuki area pencak silat. Ia mulai memperkenalkan diri. Menunjukkan bakat dan kemampuan yang ia punya. Mengajarkan ilmu-ilmu baru dalam dunia persilatan. Yakni, ilmu yang selama ini sudah melegenda bahkan hingga di masa depan. BUG! Wussh! Gerakan ilmu bela diri terus bersenandung kompak. Menyuguhkan pemandangan asri. Terutama, saat Leonardo melanjutkan aktivitas perkenalan dengan mengajar di sana. Sungguh, suasana senja menjadi lebih elok. Bagaimana tidak, Leonardo yang berparas rupawan. Membuat setiap kaum hawa yang sedang menyaksikan aktivitas di wisma, menjadi tak henti melebarkan bola mata. ****** Dua jam kemudian. “Kau ini! Padahal, Bapak berkata padamu untuk mulai mengajar pada minggu depan. Tapi, kau justru memulainya pada hari ini.” Leonardo menyengir. Sebenarnya, Leonardo sengaja melakukan hal tersebut. Mengingat ia tak memiliki banyak waktu untuk berada di masa lalu. Ia harus kembali ke masa depan di waktu yang tak terduga. Sehingga, segera melatih pemuda di desa merupakan waktu terbaik; agar para bandit dapat dikalahkan oleh seluruh pemuda baik di pemukiman warga. Tentu, ketika suatu saat nanti Leonardo tak bisa lagi hadir di sana. “Tak apa-apa, Pak. Sudahlah mari kita makan saja,” Leonardo meminta ijin. Mengalihkan fokus pembicaraan. Melanjutkan agenda istirahat. Sembari makan, mereka berdua berbincang perihal banyak hal. Pak Tua tak lupa bercerita mengenai putrinya yang juga hilang dan tak kembali. Apa mereka dipindahkan oleh hal gaib? Lagi-lagi Leonardo terdiam. Sejatinya, pemikiran Pak Tua cukup benar. Jikalau seorang anak manusia tak lagi bisa mereka jumpai di desa, maka sudah pasti ia telah melenyap dan pergi ke dunia magis. Hanya saja, siapakah yang mampu membawa mereka ke dunia magis, sebelum Leonardo menjelajah ke masa mereka? Pertanyaan itulah yang sempat terbesit di dalam kepala sang pemuda. ****** Di sela Leonardo dan Pak Tua sedang berbincang. Suara adu hantam terdengar. Leonardo bergegas menghampiri sumber suara. Lalu, menggelegarkan ucapan. “Kalian ini! Aku mengajarkan kalian untuk saling bahu membahu. Lantas, mengapa tiba-tiba kalian ribut seperti ini?” Leonardo menghampiri sumber suara. Melerai pertikaian yang terjadi di depan mata. “Dia lebih dulu mengolokkan aku, Tuan,” Salah seorang menyahut. “Lantas, apa gunanya kalian baru saja belajar denganku, huh? Bukankah, ilmu bela diri itu dilatih tak hanya bertujuan untuk mendapat kemampuan fisik? Melainkan, juga untuk mendapati hal-hal sosial di luar sana.” Seketika, para murid ajar terdiam. Mereka tak mampu memberi sanggahan atas kalimat yang diucapkan oleh sang pengajar. ****** Pada malam hari. Tepatnya, di saat tubuh dan pikiran Leonardo mulai dilanda oleh letih. Leonardo sedang terbaring di atas ranjang. Berada di dalam tidur panjang. Hanya saja, sebuah mimpi buruk menyelimuti diri di dalam alam bawah sadar. Sebuah mimpi yang membuat sang pemuda terkejut setengah mati. Mimpi di mulai. “Hhm, aku rasa aku tak bisa beristirahat begitu saja,” Leonardo kembali mengeluarkan suara. “Apa maksudmu, Leonardo?” Priscilla bertanya heran. Menoleh kembali pada sumber suara. Mengurungkan niat saat hendak meninggalkan Leonardo seorang diri di dalam ruang. “Aku harus pergi menjumpai seseorang,” Leonardo memutuskan. Beranjak dari posisi semula. Spontan, dahi Priscilla berkerut heran. “Apa ada yang sedang terjadi padamu, Leonardo?” Wanita muda itu bertanya. Mencekal pergerakan sang lawan bicara. “Aku hanya sedang bingung, Prisc. Aku tak tahu dengan apa yang sudah kulakukan. Semua ini adalah hal yang benar atau tidak,” Leonardo menyahut. Menampakkan gurat frustasi di wajah. “Sekarang, kau berceritalah padaku. Lagi pula, kau hendak menjumpai siapa saat hari sudah larut seperti ini?” Priscilla bersih keras. Berusaha menghalangi pergerakan Leonardo yang hendak pergi. “Baiklah,” Sang pria melunak. Kembali menjejalkan p****t di sana. Kali itu, dua muda mudi tersebut sedang duduk berdampingan. Mereka bersiap untuk memulai pembicaraan. “Sebenarnya, selama ini aku bersepakat dengan Kyteler,” Leonardo mengeluarkan suara. Sedikit dengan gurat ragu di wajah. “APA? Kyteler?” Priscilla melebarkan bola mata. Tak percaya perihal yang ia dengar baru saja. “Benar, Prisc. Selama ini aku bersepakat dengan Kyteler untuk rutin membawa seorang pemuda atau pemudi dari desa, setiap sekali dalam seminggu. Kesepakatan itu membuat Kyteler mengubah paras buruk rupaku menjadi tampan seperti ini,” Leonardo mengakui. Dan, Ucapan dan tatapan serius yang Leonardo suguhkan, benar-benar membuat Priscilla terperangah. “A-apa maksudmu, Leonardo? Meng-mengapa kau melakukan hal itu, Leonardo? Bukankah, sedari awal aku sudah berkata padamu, jika Kyteler adalah seorang penyihir jahat? Lantas, mengapa kau justru bersepakat dengan seorang penyihir sepertinya?” Priscilla mencerca sang pria dengan beragam tanda tanya. “Ma-maafkan aku, Prisc. Sepertinya, kali pertama aku berjumpa dengan Kyteler adalah jalan pembuka dari sebuah keserakahan di dalam diriku.” “Apa maksudmu, Leonardo?” Seorang pria yang sering merutuki nasib nahas di masa depan itu, mulai bercerita. Yah! Sebuah cerita perihal betapa nestapa hidup yang ia jalani sebelum menjelajah waktu. Terlahir buruk rupa, miskin, lusuh, dekil dan ringkih. Lalu, selalu dirundung dan diremehkan oleh siapa saja. Dan, hal-hal lain yang membuat Leonardo jengah. Bahkan, hingga tak mensyukuri anugerah yang Tuhan beri. Yakni, sebuah kegeniusan yang ia punyai. Benar saja, semua penderitaan itu selalu ia pendam seorang diri. Sebelum pada akhirnya, ia mendapati pengalaman unik untuk menjelajah waktu ke masa lalu. Dan, semua perubahan-perubahan drastis, yang ia dapati semenjak menjalani hidup di masa itu. “Tapi, Leonardo. Semua hal itu tak benar. Tak seharusnya kau memilih jalan pintas seperti itu,” Priscilla menyayangkan keputusan yang Leonardo buat. Bagaimana tidak, usai bersepakat dengan seorang penyihir jahat, itu artinya Leonardo akan selamanya terikat. Dan, baik Leonardo dan Priscilla takkan pernah tahu; perihal resiko apa yang akan Leonardo dapati akibat kesepakatan tersebut. Tiba-tiba, Mimpi berakhir. Leonardo spontan terbangun dari tidur. Beralih menyugar puncak kepala. Menghapus keringat dingin yang membasahi sebagian besar garis di wajah. Berkata lirih. Ya Tuhan, mimpi apakah aku barusan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN