Mimpi buruk yang baru saja dialami oleh Leonardo, membuat pemuda tersebut terkesima. Bagaimana tidak, sesaat usai membuka mata. Memaksa bangun dari tidur panjang dan mimpi mendebarkan, sosok Kyteler muncul tepat di hadapan tanpa sebuah undangan.
“Sedang apa kau ke mari, Kyteler?”
Ck!
“Sedang apa?” Sang penyihir wanita berceletuk, sesaat usai berdecak tak menyangka.
“Apa kau lupa, jika kau sudah melewatkan tenggat waktu untuk mengirim pemuda kepadaku?” Kyteler melanjutkan ucapan.
Leonardo beralih dari posisi baring. Mengedarkan pandangan pada sebuah kalender yang terpampang di dinding. Benar, ini sudah lewat tiga hari dari kesepakatan kami. Leonardo tak memungkiri.
Hanya saja,
Tunggu! Tunggu! Leonardo berseru. Seruan itu dibarengi dengan hilangnya sosok sang penyihir.
Seingatku, aku baru tertidur semalam. Lantas, mengapa setelah terbangun, aku telah melewatkan sepuluh hari? Leonardo bergumam. Berpikir dalam-dalam.
Sejatinya, mimpi buruk yang terasa singkat, telah Leonardo rasakan di setiap alam bawah sadar; selama sepuluh hari berturut-turut. Sebuah mimpi, yang mengharuskan Leonardo untuk berkata jujur pada Priscilla. Menceritakan perihal kesepakatan yang ia lakukan dengan seorang penyihir wanita. Yakni, sebuah perjanjian yang dapat menguntungkan sosok Leonardo si pria buruk rupa.
Namun,
Tidak! Tidak. Aku belum siap untuk bercerita pada Priscilla. Leonardo menyergah. Kembali mengurungkan sedikit bisikan untuk membagi kisah.
Tak lama setelah itu,
Tok-tok!
Seseorang mengetuk daun pintu kamar. Leonardo mempersilahkan.
Ceklek!
Daun pintu terbuka. Lalu, “Ada apa, Duncan?”
“Tuan Muda, rapat akan segera di mulai,” Duncan menginfokan.
Rapat? Rapat apa? Leonardo menelengkan kepala. Memijat pelipis seraya mengingat memori yang terlupa.
Mengapa aku tak mengingat suatu hal apa pun selama sepuluh hari ini? Mengapa hanya mimpi buruk itu yang selalu menghantui?
“Tuan?” Duncan kembali berujar. Memecah lamunan sang tuan.
Hh!
“Baik, Duncan. Setelah ini, aku akan segera keluar,” Leonardo menyahut. Menyanggupi.
Daun pintu kamar kembali tertutup. Bersamaan dengan sosok sang pria yang sedang beranjak ke dalam kamar mandi. Membersihkan diri. Mengganti pakaian dan bersiap dengan rapi.
******
Seusai menuntaskan aktivitas mandi.
Tapi, rapat apa? Leonardo kembali bertanya-tanya. Sesaat sembari berkaca. Menatap paras tampan di wajah. Membenahi garis dan lekuk kemeja. Merapikan helai rambut bergaya side part.
Kemudian,
Ceklek!
Daun pintu kamar terbuka. Bersamaan dengan kemunculan seorang wanita dari balik ruang di sana.
“Akhirnya, kau bangun juga. Sedari tadi, aku membangunkanmu tapi kau terus berkata enggan. Huh! Beruntung para pihak manajemen lembaga pendidikan dapat mengerti. Jika tidak, mungkin mereka akan membatalkan agenda rapat pada pagi hari ini,” Priscilla berceloteh. Tak lupa sembari merapikan potongan kerah sang pria.
Dahi Leonardo tak henti berkerut. Sungguh, ia lupa pada agenda tersebut. Bahkan, Leonardo juga lupa dengan keseharian yang ia lakukan selama sepuluh hari belakangan.
Sebenarnya, apa lagi yang sedang terjadi padaku? Leonardo membatin. Frustasi seorang diri.
“Sudahlah, mari kita ke depan,” Priscilla mengajak. Memecah pemikiran yang sedang memenuhi benak kepala Leonardo.
******
Kini, dua muda mudi tersebut sedang duduk bersama pada sebuah ruang berukuran besar. Tak lain, adalah ruang pertemuan yang juga ada di dalam hunian megah.
Leonardo terperangah. Jadi, selama sepuluh hari ini-lah aktivitas yang kami kerjakan?
Yah! Benar saja. Semenjak agenda pembangunan lembaga pendidikan diberlangsungkan, Leonardo dan Priscilla tak henti untuk membuat perencanaan perihal manajemen lembaga. Dengan begitu, sang pendiri lembaga pendidikan tersebut dapat menyelam sembari minum air. Melakukan dua hal bersamaan, untuk mengefesiensi waktu.
Rapat berlangsung.
Suara berbagai pihak yang hadir, menjadi titik fokus utama setiap orang yang berperan sebagai penunjang lembaga pendidikan. Melihat kekompakan para warga yang mengerti perihal dunia pendidikan, Leonardo bernapas lega. Merasa senang. Setidaknya, niat yang ia kerjakan, mendapat banyak dukungan. Meski, tak dapat Leonardo pungkiri. Jika, semua hal itu ia dapati mulai dari bersusah payah lebih dahulu. Termasuk, bersusah payah ketika menghadapi penentangan dari sang pemimpin pedesaan.
Plok! Plok! Plok!
Para hadirin baru saja memberi tepuk tangan. Amat meriah. Teruntuk mengapresiasi hasil presentasi yang dibawakan oleh Priscilla.
Lalu,
“Bagaimana, Leonardo? Apa kali ini kau setuju dengan saran dan ide yang kuberi tadi?” Priscilla bertanya.
Leonardo melempar senyum manis khas di wajah. Menyahut, “Tentu saja, Prisc. Aku akan selalu menyetujui apa pun keputusanmu. Aku tahu, kau adalah seseorang yang juga antusias dengan dunia pendidikan ini selain diriku. Jadi, aku paham sekali, jika kau sudah pasti akan memberikan yang terbaik.”
Mendengar sahutan Leonardo, Priscilla spontan merekahkan senyum merona. Menawan bagi siapa saja yang melihat paras miliknya.
******
Sesaat usai rapat dibubarkan.
“Prisc, sepertinya aku harus kembali lagi ke tempat asalku. Ada hal yang harus kukerjakan di sana,” Leonardo berpamitan. Berniat untuk menjelajah waktu; kembali ke masa depan. Menanyakan perihal keanehan yang ia rasakan. Tak lain, mengenai kejadian hilangnya separuh ingatan.
Alih-alih menjawab, Priscilla justru memanyunkan bibir. Beralih untuk keluar dari dalam ruangan.
Sungguh, Priscilla enggan ditinggalkan oleh Leonardo. Di dalam hati kecil wanita tersebut, terbesit keinginan agar Leonardo dapat tetap tinggal. Mengingat, tak memungkinkan jika ia ikut turut ke masa depan. Sehingga, mendengar Leonardo berpamitan, Priscilla seakan tak mampu berkata apa-apa. Sekali pun, hanya ucapan berisi pengingat ‘hati-hati di jalan’.
******
Beberapa jam kemudian. Yakni, pada sore hari yang mulai mendung dan berawan.
Dengan terpaksa, Leonardo meninggalkan hunian megah. Langkah kaki beserta perasaan gundah tak henti merayapi diri. Membuat tengkuk pada leher terasa kaku; akibat menoleh ke arah belakang, sembari terus berjalan ke depan.
Leonardo tak bisakah kau bersikap tegas? Pria muda itu bergumam. Memikirkan banyak hal. Antara memilih tinggal di masa depan atau masa lalu; letak ia bertemu sang pujaan.
Pijakan demi pijakan kaki terus melangkah meninggalkan hunian megah. Tak terasa, Leonardo telah berada jauh dari bangunan berukuran besar. Terus menapak hingga menjumpai semak belukar. Sang pemuda terus berjalan hingga memasuki sebuah hutan. Mencari keberadaan mesin waktu yang semula ia tinggalkan di sana.
Mesin berbentuk persegi; berbahan dasar besi, mulai terlihat. Tak lupa, dengan gambaran magis yang memekatkan pandangan.
Indah sekali. Leonardo memuji.
Bagaimana tidak, pada area jalan tembusan menuju pemandian air panas, kabut putih tak henti mencuat keluar. Saat itu bunga, hewan dan tumbuhan seraya sedang mengalun merdu bersama-sama. Leonardo merasakan hawa sedikit berbeda.
Sudah pasti, penyihir yang sedang bermain di sana, bukanlah Kyteler. Aku terlampau hafal dengan sosoknya. Leonardo menyimpulkan. Melepas rasa penasaran.
Lantas, siapa dia? Aku ingin sekali berkenalan dengannya.
Tiba-tiba,
Keinginan terpendam itu harus digantikan dengan suara berisik dari mesin waktu.
Titt – titt – titt !
Benda itu, mendadak kembali mengeluarkan suara berisik. Seraya, Leonardo sedang dicari oleh mereka-mereka yang berada di masa depan. Yah! semacam ikatan batin yang terlontar. Sengaja dilakukan agar pesan mereka tersampaikan.