GET PERMISSION

1450 Kata
Sebuah hati sedang terenyuh. Permintaan yang dilontarkan oleh Leonardo, benar-benar membekas di lubuk terdalam seorang Grace Harriet Cropper. Perempuan berusia tujuh belas tahun itu, mengalihkan pandang pada ponsel keluaran terbaru. Mencoba menghubungi sang kakak untuk kali kedua. Mengingat, pesan pertama yang ia kirim beberapa saat yang lalu, belum terbaca. “Leonardo, maafkan aku. Aku sudah mencoba menghubungi Kak Gerson. Tapi, dia tak kunjung membalas pesanku. Semisal, setiba kita di rumah, Kak Gerson tak ada; masih sibuk bekerja. Aku harap, kau tak melakukan hal bodoh dengan menyusup masuk ke dalam ruang kerja milik kakakku lagi,” Grace memperingatkan. Menasehati. “Baiklah, Grace. Aku tahu perihal maksud dan tujuan dari nasehatmu itu,” Leonardo mengiyakan. Menunduk sopan. ****** Tak terasa, seorang sopir baru saja memberhentikan mobil. Deru kendaraan tak lagi terdengar. Gambaran sebuah rumah berukuran besar dengan penampang kemewahan, telah menjadi titik pandangan. Grace dan Leonardo beralih keluar dari dalam kendaraan. Ceklek! Daun pintu berukuran besar baru saja terbuka. Sesaat usai Grace memencet bel pada sisi samping daun pintu rumah. “Non, tumben pulangnya sedikit terlambat?” Seorang pelayan wanita berucap. Leonardo spontan teringat pada sosok Priscilla, yang selalu ditemani oleh para pelayan di hunian megah. “Iya, Bik. Oh ya, Mama sama Papa belum pulang?” “Belum, Non. Tuan dan Nyonya kan, masih berada di luar negeri.” “Bukankah, mereka hari ini berniat pulang, Bik?” “Sepertinya, kepulangan Tuan dan Nyonya ditunda lagi, Non. Tadi, Bibik tak sengaja mendengar perbincangan Tuan Muda Gerson di telepon.” “Hah? Jadi, Kak Gerson sedang berada di rumah, Bik? Apakah seharian ini, dia tak berangkat ke perusahaan?” Grace memekikkan suara. Mengurungkan niat saat hendak menjejalkan p****t di sofa. Melihat sang pelayan menganggukkan kepala, kedua remaja tersebut spontan beralih menuju ruang kerja milik putra sulung keluarga Cropper. ****** Setibanya di depan ruang kerja Gerson. Benar saja, pemuda berparas tampan tersebut sedang bersibuk di depan layar kerja. Layar monitor berukuran lebar yang tak henti menyala. Tak lupa, dengan aksesori headphone bluetooth yang menempel di telinga. “Kak?” Grace menyapa. Sedikit menaikkan nada bicara. “Kau sudah pulang, Grace?” Gerson menyahut. Melepas piranti dengar tak berkabel. Lalu, “Kau?” Gerson mengubah arah pandang. Menyapa Leonardo yang juga menghampiri ia ke dalam ruangan. “Iya, Kak. Leonardo ikut bersamaku lagi hari ini. Lagi pula, aku sudah mengabarimu melalui pesan tadi,” Grace menyergah. Menimpali segerombol gurat berisi tanda tanya di dalam benak kepala sang kakak. Sontak, Gerson mengecek ponsel yang ia letakkan pada meja. Benar saja, dua pesan belum terbaca, ia dapati dari sosok adik perempuan semata wayang. **Grace : “Kak? Hari ini, sepulang sekolah, Leonardo ingin melakukan perjalanan waktu lagi. Apa kau mengijinkan?” Sekiranya, pesan singkat terakhir itulah yang Gerson baca usai mengecek ponsel. Spontan, raut wajah Gerson berubah. Berpindah menjadi sebuah ekspresi galau. Tanpa memberi jawaban, pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu menjejalkan p****t pada kursi bersandar berwarna hitam. Menekan beberapa tombol keyboard yang terhubung pada sebuah layar berukuran lebar. Tak menunggu lama, gambaran sinyal penangkap posisi segera muncul di dalam layar. Garis-garis berwarna merah dan hijau menjadi bidik sasaran. “Apa kau mengerti maksud dari garis-garis itu, Leonardo?” Gerson bertanya. Mencoba mengetes seorang remaja. Leonardo menatap gambaran garis yang ada. Tak henti memusatkan pandangan pada garis berwarna merah. Kemudian, Anggukan kepala menjadi penyerta. Leonardo berkata, “Aku tahu, Kak.” “Jadi, kau sengaja mematikan alat navigasi yang kuberi pada lokasi dan saat-saat tertentu itu?” Gerson menimpali. Menampakkan gurat tak suka di wajah. Begitu pula, tanggapan kompak yang Grace beri. Remaja perempuan tersebut, tak henti menyipitkan mata. Terkejut dan tak mengerti pada alasan Leonardo menonaktifkan alat navigasi. Namun, “Tidak, Kak. Tidak!” Leonardo berseru. Menggerakkan tengadah tangan dengan gerakan cepat. Menolak kesimpulan yang Gerson lontarkan. Hanya saja, penolakan itu tak digubris oleh Gerson. “Kau jangan berbohong padaku, Leonardo. Ini adalah hal yang beresiko. Ini juga dapat berakibat fatal untukmu. Jikalau, kau menghilang saat menonaktifkan sistem navigasi ini, lantas bagaimana caraku mencarimu? Aku tak bisa melacakmu ketika kau berada di masa lalu. Kau tahu sendiri, di sana tak ada teknologi canggih. Tak ada kamera CCTV yang tersebar di seluruh penjuru jalanan. Jadi—” “Kak?” Tiba-tiba, Leonardo memotong ocehan panjang kali lebar dari sosok sang lawan bicara. Kali itu, sedikit dengan nada yang meninggi. “Kau salah paham, Kak,” Remaja laki-laki tersebut melanjutkan ucapan. Gerson mengernyitkan dahi. Leonardo mulai menceritakan hal ganjal yang muncul pada gambaran satelit di dalam layar. “Garis berwarna merah itu, menunjukkan keberadaan diriku sewaktu berada di dunia magis, Kak.” Hah? Gerson melongo. Menyengir sebagai tanggapan tak percaya. “Apa yang kau katakan, Leonardo?” Leonardo mendecap bibir. Kembali menceritakan petualangan yang ia lalui selagi berada di masa lalu. Grace terlihat memanggut-manggutkan kepala. Sementara itu, Gerson tetap menyanggah. Sungguh, seseorang dengan pemikiran logis seperti Gerson, takkan serta merta percaya begitu saja. ****** Lima belas menit kemudian, Cerita berakhir. “Grace, mengapa kau diam saja?” Gerson bertanya. Grace menggigit bibir. Lalu berkata, “Sebenarnya, Leonardo sudah menceritakan hal itu kepada Grace, Kak. Dia bilang, jika selagi berada di masa lalu, ia diberkahi dengan kemampuan sihir. Jadi kurasa, ucapan dia tentang dunia magis itu adalah benar.” Mendengar tanggapan sang adik perempuan, Gerson menghela napas panjang. Menyugar puncak kepala dengan sedikit perasaan tak menentu. “Ini benar-benar di luar logika, Leonardo,” Gerson menanggapi. Masih dengan penolakan yang berarti. Leonardo terdiam. Begitu pula, dengan Grace. Hening sesaat. Sebelum pada akhirnya, “Lalu, apa kau benar-benar ingin kembali menjelajah waktu?” Gerson menyodorkan pertanyaan yang sedari tadi sudah ditunggu-tunggu oleh Leonardo. “Tentu saja, Kak,” Sahutan disertai anggukan kepala, terlihat amat meyakinkan untuk Gerson. Di sela sang pengembang IT berpikir, Grace menarik lengan sang kakak. Menjauhkan posisi mereka dari seorang remaja laki-laki. “Kak, sebaiknya kau ijinkan saja Leonardo untuk pergi.” “Apa maksudmu, Grace? Mengapa kau menyetujuinya?” “Dia benar-benar menjalani kehidupan yang berbeda seratus delapan puluh derajat selagi berada di masa lalu. Dia tak lagi berparas buruk rupa. Tak lagi lemah dan ringkih. Dan, dia juga menjalani hari-hari sebagai seorang anak yang hidup berkecukupan.” Gerson mengeryitkan dahi untuk kesekian. Berujar, “Lantas, apa hubungannya?” “Kak, mengertilah. Di sini, Leonardo selalu menjadi bual-bualan orang lain. Dia selalu direndahkan. Jadi, dia ingin sekali merasakan kehidupan yang berbeda drastis seperti itu.” “Tapi, Grace? Tahukah kau, jika aku menciptakan mesin waktu itu bukan untuk kepentingan pribadi para penjelajah?” “Aku tahu, Kak. Aku amat tahu. Dan, asal kau tahu, jika di masa lalu; Leonardo memiliki peran yang cukup penting. Dia membantu penduduk desa yang kesusahan, seperti; penduduk desa yang sedang dilanda pandemi, kekeringan, kemiskinan, bahkan kurangnya pendidikan. Pokoknya, Leonardo melakukan banyak hal untuk mereka,” Grace memberi penjelasan. Terdengar sedang berusaha membujuk sang kakak berparas tampan. Sontak, Gerson mengalihkan pandang. Menatap sosok Leonardo dari kejauhan. Memilih untuk diam. Berpikir dalam-dalam. Kemudian, “Apa kau yakin, jika Leonardo takkan menyalah gunakan perjalanan waktu yang ia lakukan? Takkan menyalah gunakan segala kemampuan unik yang ia miliki?” Gerson bertanya. Memastikan. “A-aku—” “Jika kau ragu, maka—” “Tidak, Kak. Tidak! Aku yakin. Aku percaya jika ucapan Leonardo dapat dipertanggung jawabkan,” Grace menyahut. Menekankan kalimat. Sejatinya, Gerson tak pernah bisa menolak permintaan sang adik. Termasuk, sebuah permohonan yang ia tujukan untuk sang teman. Dengan segenap pengharapan, Gerson berusaha untuk memantapkan keputusan. Hingga, “Baiklah.” Sahutan berisi satu kata, membuat Gerson mendapat sebuah pelukan. Yakni, dekapan hangat yang selalu Grace layangkan, sesaat usai mendapati jawaban ‘iya’ dari sang kakak. ****** Kini, kakak beradik itu kembali ke tempat semula. Gerson mengangguk sembari melempar senyum sebagai tanda setuju. Leonardo spontan mengembangkan garis senyum di wajah. “Terima kasih ya, Kak. Terima kasih ya, Grace,” Leonardo berseru. Menampakkan gurat sumringah. Namun, Issh! “Jangan terlalu senang dulu, Leonardo!” Grace melengkingkan suara. Memandang dengan pandangan mengancam. “Kau itu, harus menepati janjimu. Kau harus kembali sebelum acara olimpiade berlangsung pada esok hari. Jika kau terlambat tiba, aku takkan membantumu untuk membujuk kakakku ini lagi,” Grace melanjutkan ucapan. Merangkul lengan Gerson sebagai tanda kepemilikan. “Grace benar, Leonardo. Kau harus kembali di waktu yang tepat. Kau harus ingat waktu. Jangan sampai kau lupa pada kehidupanmu di masa ini,” Gerson menambahkan kalimat. Berisi sebuah nasehat. “Baiklah, Kak. Aku akan mematuhi petuah darimu itu.” Usai bersepakat, Leonardo bergegas menuju sisi depan pintu mesin waktu. Melakukan hal yang sudah sering ia kerjakan.  ****** Ceklek! Pintu pada mesin waktu terbuka. Leonardo melangkah masuk ke dalam ruang berbentuk persegi di sana. Hanya saja, Huek! Suara mual yang dikeluarkan oleh Leonardo, sontak membuat Gerson dan Grace terperangah. Apa lagi, usai menjumpai Leonardo memuntahkan cairan pekat berwarna merah. Yakni, darah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN