“Hei, jadi bagaimana?”
Sontak, suara merdu seorang murid perempuan terdengar. Tak lain, merupakan suara khas milik Grace. Sedari Leonardo berada di dalam ruang guru, murid perempuan tersebut terlihat menunggu di depan ruang berukuran panjang. Sebuah ruang yang dihuni oleh seluruh pengajar di sekolah mereka.
“Kau belum pulang, Grace?” Leonardo menimpali dengan kalimat tanya. Sungguh, ia tak menyangka, jika Grace muncul dari balik pintu yang baru saja terbuka.
Grace menggeleng, “Tentu saja. Aku sengaja menunggumu. Aku penasaran, Bu Siska berkata apa padamu? Apakah pemenang olimpiade kali ini, akan dikirim untuk pertukaran pelajar di luar negeri?”
Murid berseragam abu-abu tersebut, tak henti bertanya dengan gurat antusias. Di dalam hati kecil terdalam, Grace juga ingin terpilih menjadi salah satu pelajar yang direkomendasikan.
Leonardo mendecap bibir. Melanjutkan langkah. Diikuti oleh sang teman perempuan.
“Jadi, bagaimana?” Grace kembali bertanya. Masih menatap lekat manik mata seorang teman berwajah cupu di sebelahnya.
“Bu Siska tak berkata perihal hadiah. Lagi pula, dikirim untuk pertukaran pelajar, kurasa hal itu sedikit berlebihan,” Leonardo menyimpulkan.
Issh!
Plak!
Desisan bersamaan dengan pukulan ringan, baru saja mendarat di sisi samping kanan lengan Leonardo.
“Kau itu payah sekali. Olimpiade yang diadakan dadakan seperti itu, sudah pasti memiliki hadiah yang besar. Jadi, kemungkinan besar; dikirim untuk pertukaran pelajar merupakan hal yang mungkin untuk didapatkan,” Grace berujar.
Meski, murid perempuan tersebut belum pernah terpilih menjadi salah satu dari mereka. Namun, Grace cukup tahu. Mengingat, di sekolah lama tempat ia belajar, hal tersebut merupakan bagian dari perkara yang tak lagi menjadi rahasia besar.
Leonardo memanggut-manggutkan kepala. Sejatinya, ucapan Grace itu cukup masuk akal. Jika tidak, maka tak mungkin Alexander menekan dirinya; sebelum terpilih menjadi perwakilan untuk ajang olimpiade tingkat internasional.
Di sela dua murid tersebut berbincang, seorang sopir terlihat mengedarkan pandangan. Benar saja, sopir keluarga Cropper sedang panik. Tak biasa, sang nona muda terlambat menjumpai dirinya di depan gerbang sekolah.
Sontak, Grace berlari kecil. Melambaikan tangan sembari berseru menyebut nama seorang sopir berseragam biru gelap.
“Pak?”
“Non? Ya ampun, Non. Saya kira Nona ke mana? Dari tadi, saya menunggu Nona di depan gerbang sekolah. Tapi, Nona tak kunjung tiba. Saya jadi khawatir,” Sopir tersebut berujar.
Grace meringis tanpa dosa.
“Oh iya, Pak. Kita mampir ke rumah Leonardo dulu, ya? Sekalian, kita antar dia ke rumah,” Grace meminta persetujuan.
Sang sopir tak memiliki alasan untuk memberi penolakan.
Hanya saja,
“Grace?”
“Ada apa, Leonardo? Apa kau tak ingin kami mengantarmu ke rumah?” Grace bertanya. Menebak isi di dalam kepala seorang teman. Mengingat, sejak awal berteman; Leonardo selalu menolak untuk memberi tahu alamat rumah yang ia huni dengan Akmal dan Dewi.
“Bu-bukan itu, Grace,” Leonardo menyahut. Menggerakkan dua telapak tangan sebagai tanda ‘tidak’
Beruntung, tak ada gambaran kabut putih yang mencuat keluar; tak seperti sewaktu ia menengadahkan tangan pada saat berada di masa lalu.
Grace memanyunkan bibir, “Lantas, ada apa?”
“A-aku ingin kembali melakukan perjalanan waktu.”
“APA?” Grace memekikkan suara. Tak menyangka, jika sang teman laki-laki berniat kembali pergi untuk kesekian kali.
“Apa kau sedang tak waras, Leonardo? Apa kau lupa, jika esok hari kau akan berangkat ke acara olimpiade?” Grace menggeleng heran. Mengerutkan dahi sebagai tanda tak mengerti.
“Aku tahu, Grace. Aku sudah memikirkan hal itu dengan matang. Dan, aku berniat untuk melakukan perjalanan waktu serta kembali pulang ke mari sebelum olimpiade diadakan esok hari.”
Sang lawan bicara terlihat masih tak percaya. Leonardo benar-benar seorang remaja, yang berani mengambil resiko besar. Sebuah resiko yang bisa membahayakan dirinya.
“Apa kau lupa, jika kau hampir saja tak bisa kembali lagi ke mari?” Grace mendekatkan diri. Berbisik lirih. Mengingatkan sang teman; akan kejadian mesin waktu yang terpaksa harus menghilang.
Gemerutuk gigi menjadi pelampiasan rasa gundah seorang penjelajah waktu.
Sebelum pada akhirnya,
“Tapi, aku harus tetap melakukan perjalanan waktu itu, Grace. Kumohon kau dapat mengertiku,” Leonardo berujar. Menatap manik mata sang teman dengan seribu permohonan.
Issh!
“Kau ini ada-ada saja,” Putri keluarga Cropper tersebut mendumel. Sedikit dengan rasa kesal yang bercampur kebingungan.
“Sudahlah, selagi berada di dalam perjalanan, aku akan berbicara dengan Kak Gerson. Dan—”
“Dan apa, Grace?”
“Dan ijinkan aku untuk mengantarmu pulang ke rumah lebih dulu. Kau itu, sudah dua hari menggunakan pakaian yang sama.”
Leonardo spontan menundukkan kepala. Memandang ke arah seragam putih abu-abu, yang sudah ia kenakan selama dua hari berturut-turut.
“Ba-baiklah, Grace,” Leonardo menyahut. Menampakkan cengiran tak bersalah di wajah.
Grace menggeleng frustasi. Kemudian, kembali melanjutkan langkah. Menghampiri seorang sopir, yang sedari tadi sudah bersiap di depan pintu mobil.
******
Di dalam perjalanan. Ketika, mobil mewah keluarga Cropper hampir sampai pada tujuan.
“Non, apa kita tak salah jalan? Apakah rute yang Bapak ambil ini adalah jalan yang benar?” Seorang pengendara mobil bertanya. Menatap jalanan yang semakin mengecil di dalam tangkapan retina.
Grace spontan menoleh ke arah Leonardo. Menyiratkan pertanyaan melalui sebuah tatapan.
“Benar, Grace. Rumahku memang terletak di lokasi yang sedikit terpencil. Setelah melewati gang satu arah ini, kita masih harus berjalan kaki,” Leonardo menjelaskan. Merasa sungkan.
Yah! Itulah, alasan Leonardo tak pernah mau menunjukkan tempat tinggal ia bersama sang ayah dan ibunda. Tak lain, karena jalanan beserta kondisi hunian yang sedikit tak memungkinkan bagi seorang Grace Harriet Cropper.
“Pak, Bapak lanjut saja hingga titik petunjuk arah mencapai lokasi. Nanti, saya akan berjalan kaki bersama Leonardo,” Grace memutuskan.
Leonardo dan sang sopir melebarkan bola mata.
Apa Nona Muda yakin? Pengendara mobil tersebut membatin. Menelan ludah dengan susah. Memasang gurat gamang di wajah.
Kemudian,
*Titik tujuan Anda telah sampai. Lokasi yang Anda tuju berada pada sisi sebelah kiri Anda*
Sensor petunjuk arah baru saja menginformasikan titik tujuan. Seorang sopir segera memberhentikan laju kendaraan.
Dengan sedikit ragu, sopir tersebut membukakan daun pintu mobil. Mengijinkan seorang anak majikan untuk turun dari dalam kendaraan beroda empat.
“Pak, sepertinya Bapak harus menunggu kami di ujung jalan ini. Atau, bahkan Bapak harus keluar dari gang satu arah ini,” Grace berujar. Sesaat usai menoleh kanan dan kiri. Sungguh, gang itu terlampau sempit untuk digunakan oleh sang sopir memutar kendaraan yang ia tumpangi.
“Tapi, Non?”
“Sudah, Pak. Tidak apa-apa. Nanti, biar saya berjalan bersama Leonardo hingga ke depan gang itu,” Grace meyakinkan. Mengerakkan telunjuk tangan pada sisi arah yang ia bidik dari kejauhan.
“Ba-baik, Non,” Sang sopir mengiyakan. Tak memiliki wewenang untuk menyanggah keputusan sang majikan muda.
Bayangan kendaraan mewah, baru saja menghilang. Melaju perlahan dengan penuh kehati-hatian.
Sementara itu, Leonardo menunduk malu. Gurat sungkan tak henti memenuhi garis di wajah.
Namun, dengan santai Grace mengajukan pertanyaan.
“Jadi, di mana rumahmu?” Kalimat yang dilontarkan oleh Grace, terdengar seolah ia sama sekali tak merasa keberatan.
Diiringi langkah kaki yang kikuk, Leonardo mulai menapakkan tungkai menuju sebuah gang kelinci. Gang itu terlihat amat sempit. Bahkan, hanya muat untuk satu orang pejalan kaki saja.
GLEK!
Spontan, Grace menelan ludah. Mimik di wajah berubah seketika. Tak mungkin, Leonardo dan keluarganya tinggal di sini, bukan?
Dengan perasaan tak menentu, Grace terus mengikuti gerak langkah Leonardo. Remaja tersebut tak henti menapaki jalan setapak. Yakni, jalan beraspal di samping lubang saluran air yang mengalir. Bebauan air comberan menjadi pengiring perjalanan. Sebelum pada akhirnya, sebuah rumah yang terbuat dari susunan kardus, mulai tertampak.
Yah! Leonardo tinggal di belakang pemukiman sederhana. Tepatnya, pada pemukiman kumuh yang terletak di sisi belakang rumah-rumah warga. Pemukiman itu terlihat dihuni oleh beberapa kepala keluarga saja. Tak lain, adalah penghuni dengan keadaan perekonomian menengah ke bawah.
“Grace, sebaiknya kau tunggu di sini. Aku akan berganti pakaian dengan cepat. Aku juga akan mengemas seragamku untuk esok hari,” Leonardo berpamitan. Bergegas masuk ke dalam rumah.
Sedangkan, Grace? Jangan ditanya. Remaja perempuan tersebut sedang menghentak kecil salah satu tungkai. Membuat satu dua buah kerikil, tercebur ke dalam selokan. Kemudian, menatap langit yang sedang menampakkan gambaran senja. Sebuah langit yang terlihat amat luas dari sisi ia berada. Sementara itu, bangunan yang ia kunjungi; tak lebih dari beberapa petak tanah saja.
Huh!
Grace mendengus.
Tak lama kemudian, seorang wanita berpakaian lusuh terdengar menyapa sosok perempuan cantik berseragam SMA.
“Ada yang bisa Ibu bantu, nak?”
Grace menolehkan kepala.
Pada saat bersamaan, Leonardo keluar dari dalam rumah. Melihat Grace sedang disapa oleh sang ibunda, yang baru saja kembali dari menjajakan barang jualan.
“Dia ibuku, Grace,” Leonardo berujar.
Sontak, Grace menundukkan kepala sebagai salam hormat.
“Nama saya, Grace Harriet Cropper, Bu,” Murid perempuan itu menyalamkan tangan kanan.
Dengan ragu, Dewi membalas salaman tersebut. Meski sejatinya, ia merasa tak pantas berjabat tangan dengan seorang remaja perempuan secantik Grace.
Usai saling menyapa dan berkenalan singkat, Dewi memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Menggantikan posisi sang putra, yang hendak kembali keluar dari hunian sederhana.
******
Kini, Leonardo dan Grace telah meninggalkan sisi depan sebuah pemukiman kumuh. Gang kelinci sudah mereka lewati bersama.
Kemudian,
Tin!
Suara klakson mobil terdengar. Ternyata, sopir keluarga Cropper berinisiatif untuk melajukan kendaraan untuk kali kedua. Melewati jalan pertama, seusai ia berputar arah pada area jalan raya.
“Non, mari,” Sang sopir berujar. Membuka kaca jendela mobil berwarna putih.
Kali itu, ia tak sempat membuka pintu untuk sang majikan muda. Bagaimana tidak, gang searah tersebut sedang dipenuhi dengan mobil mewah milik sang tuan. Sehingga, banyak kendaraan lain yang menunggu mereka dari sisi belakang.
Grace dan Leonardo bergegas masuk ke dalam mobil mewah. Beberapa tetangga yang mengenali sosok putra Akmal dan Dewi, sontak mencibir pelan. Mereka tak percaya saat melihat Leonardo dibawa masuk ke dalam kendaraan berharga ratusan juta rupiah.
Di sela sang sopir berfokus pada kemudi, Grace mulai mengajukan pertanyaan yang sedari tadi terngiang di dalam kepala.
“Leonardo, apakah di masa lalu kau juga mendapati kehidupan sebagai seorang anak yang kaya raya?”
Pertanyaan itu terbentuk begitu saja. Mengingat, Leonardo telah berkata jika ia menjalani kehidupan berbeda sebanyak seratus delapan puluh derajat; saat menjelajah waktu ke masa lalu. Sehingga, tak hanya perihal bentuk fisik dan kemampuan unik saja yang remaja tersebut dapati. Melainkan, perihal kehidupan sosial dan ekonomi yang juga terpaut jauh.
Alih-alih segera menjawab, Leonardo justru menunduk singkat.
Sebelum ia mulai menyahut, “Kau benar, Grace. Maka dari itu, setidaknya ijinkan aku melakukan perjalanan waktu. Ijinkan aku merasakan kehidupan yang tak lagi nestapa. Meski, kehidupan berbeda itu, hanya kujalani selagi berada di masa lalu.”