BACK TO SCHOOL

1165 Kata
Daebak! Sontak, Grace merespon dengan antusias. Semua kisah petualangan yang diceritakan oleh sang teman, benar-benar terdengar seperti petualangan di negeri dongeng. Cerita perihal perubahan drastis pada tubuh. Hingga, memiliki kemampuan magis. Sungguh, membuat Grace tak henti membinarkan kedua bola mata yang indah. “Kau pandai sekali mengarang cerita, Leonardo. Sebenarnya, cita-citamu itu apa? Kupikir, kau berniat menjadi seorang pengembang IT seperti Kak Gerson. Tapi, ternyata—” Tiba-tiba, Issh! Leonardo berdesis. Memberi reaksi sedikit kesal terhadap tanggapan tak percaya; cenderung bercanda, yang baru saja ditujukan oleh Grace. “Jadi, kau mengira jika semua ceritaku itu adalah sebuah karangan belaka?” Leonardo bertanya. Menggeleng heran. Grace mendecap bibir, “Ten—” “Tentu saja,” Namun, sahutan Grace semakin melirih. Kemudian, murid perempuan tersebut barulah menanggapi dengan serius; perihal cerita magis yang Leonardo sodorkan. “Jadi, kau tak sedang berbohong kepadaku, Leonardo?” Grace bertanya. Memastikan indera pendengaran miliknya, tak salah. Leonardo menggeleng. Pertanda, jika semua yang ia ceritakan adalah kebenaran. Aigoo! Grace berdecak. Sedikit dengan bahasa korea. “Pantas saja, kau betah sekali berada di masa lalu. Ternyata, kau sedang menjalani kehidupan yang berbeda seratus delapan puluh derajat di sana,” Grace menambahkan komentar seusai memberi decakkan singkat. Pembahasan panjang kali lebar, menjadi penyerta perjalanan mereka menuju ke sekolah. ****** Kini, mobil mewah berwarna putih milik keluarga Cropper, baru saja tiba di depan gerbang sekolah menengah atas. Grace dan Leonardo bergegas turun dari dalam mobil. Kali itu, Grace meminta agar sang sopir tak perlu membuka pintu mobil untuknya. Pada saat bersamaan, Tin! Sebuah klakson kendaraan roda dua, berbunyi. Mengalihkan titik pandangan dua orang murid berbeda jenis kelamin. Kendaraan berjenis sport tersebut, tak lain adalah motor milik Alexander; teman sekelas mereka. “Rupanya, pasangan beauty and the beast di sekolah kita, kembali berangkat bersama,” Alexander berujar. Sedikit bernada menyindir seorang perempuan yang dahulu sempat ia taksir. Grace mencibir. Kemudian, beralih meninggalkan bebauan harum dari aroma parfum berharga mahal. Murid perempuan tersebut menuju ruang kelas lebih dulu. Tak menghiraukan sosok Alexander yang sedang berusaha memprovokasi dirinya. Sementara itu, Leonardo terlihat kembali lugu dan polos. Meski sejatinya, Leonardo tak tahan melihat seorang murid, yang kerap merundung ia di sekolah. Sabar, Leonardo. Kau tak boleh gegabah. Leonardo bergumam. Menekan laju emosi di dalam hati. Suara kendaraan roda dua terdengar melengking di telinga. Seakan, Alexander sengaja membuat indera pendengaran Leonardo, mendengar kebisingan akibat ulah yang ia perbuat. Seandainya, ilmu sihir yang Leonardo miliki; terbawa hingga ke masa depan. Mungkin, Leonardo akan menengadahkan tangan kanan. Membuat roda pada sisi depan motor Alexander menjadi terselip. Hingga, menyebabkan pengendara motor tersebut oleng; terperosok jatuh dari atas kendaraan. Hanya saja, masa lalu akan tetap menjadi masa lalu. Dan, setiap berkah itu tak dapat Leonardo rasakan selain sedang menjelajah waktu. ****** Tring! Bel sekolah terus berbunyi pada setiap pergantian jam pelajaran. Materi demi materi ajar, telah terselesaikan. Tak terasa, waktu yang menunjuk jam pulang sekolah kembali tiba. “Leonardo, guru matematika memintamu untuk menjumpai beliau di ruang guru,” Salah seorang teman perempuan berkata. Menginformasikan. Leonardo beranjak dari duduk. Namun, tangan seorang teman terlihat mencekal pergerakan Leonardo saat itu. “Ada apa, Grace?” Leonardo bertanya. Benar saja. Hari itu, Leonardo telah kembali ke tempat duduk semula. Semenjak kejadian di restoran mewah, Alexander tak berniat untuk dekat-dekat dengan Grace. Sehingga, Leonardo dan Grace dapat kembali duduk pada bangku bersebelahan. “Fighting! Kau pasti bisa memenangkan olimpiade matematika itu lagi,” Grace berujar. Mengepalkan tangan kanan. Memasang mimik wajah mendukung sang teman. Sumbulan senyum menjadi sahutan singkat Leonardo. Sebelum pada akhirnya, remaja tersebut benar-benar beralih pergi. Menjumpai Bu Siska; sang guru matematika. ****** Di ruang guru. “Leonardo?” Seorang guru wanita berpakaian formal, memanggil nama salah satu murid yang sedari tadi ia tunggu. Tak lupa dengan gerak sedikit melambaikan tangan. Leonardo bergegas menjumpai sosok berparas elok tersebut. “Iya, Bu?” “Kau duduklah. Ibu akan menjelaskan perihal olimpiade matematika yang akan kau ikuti pada esok hari,” Siska berujar. Menjelaskan. “E-esok hari? A-apa Ibu tak salah berbicara?” Leonardo menyahut. Tergagap setengah mati. Merasa tak percaya akan kalimat yang baru saja ia dengar tadi. Sang guru menyipitkan mata. Bukankah, seorang murid terpintar di kelas. Bahkan, terpandai seangkatan seperti Leonardo, tak perlu terkejut seperti itu? Mengingat, tanpa belajar pun, Leonardo dapat mengerjakan soal-soal berbau kalkulus tersebut dengan mudah. “Kau ini, masih saja merendahkan diri di depan Ibu. Sudahlah, kau duduk saja. Sampai kapan kau berdiri sembari ternganga seperti itu?” Siska menjawab. Membuyarkan ekspresi terperanjat sang murid. Leonardo menjejalkan p****t pada sebuah kursi berwarna hitam. Kursi lipat yang selalu diperuntukkan bagi para murid di sana. Siska menyodorkan beberapa lembar kertas. Lembaran A4 itu berisi kisi-kisi materi. Tentu, semua materi tersebut adalah materi yang sudah dipelajari oleh Leonardo semasa bersekolah. Satu menit Dua menit Dan, lima menit kemudian. “Besok, kau datanglah ke sekolah pukul tujuh. Pihak sekolah telah menyediakan transportasi untuk kalian,” Siska menambahkan penjelasan. Seperti biasa, setiap olimpiade diadakan, maka pihak sekolah harus menyediakan fasilitas dan layanan yang memadai untuk seluruh murid yang berkaitan. Tak terkecuali, untuk Alexander yang notabene-nya sudah pasti bisa berangkat menggunakan kendaraan pribadi. “Tapi, Bu—” “Tapi apa lagi, Leonardo?” “Apa tak sebaiknya, jika Ibu mengirim seseorang selain saya?” “Apa yang sedang kau katakan, Leonardo?” Siska terperangah. Tak biasa, murid terpintar tersebut menolak tawaran untuk mengikuti ajang olimpiade secara tiba-tiba. “Bu-bukankah, Alexander juga memenuhi kriteria untuk menjadi salah satu dari kami, Bu?” Leonardo berujar pelan. Merasa sedikit sungkan. Sungguh, Leonardo amat menyukai dan menghargai tawaran yang diberikan oleh Siska. Lagi pula, selama menduduki bangku sekolah menengah atas, Leonardo selalu menjadi perwakilan sekolah. Hanya saja— Aku tak yakin, jika esok hari aku dapat kembali ke masa depan dengan tepat waktu. Yah! Itulah yang sedang dicemaskan oleh Leonardo. Mengingat, ia berniat melakukan penjelajahan waktu seusai pulang dari sekolah pada hari itu. Hening sesaat. Siska terlihat berbicara dengan salah seorang guru di ruang yang sama. Tak lain, adalah sosok Rubi; sang guru fisika. Kemudian, “Maafkan Ibu, Leonardo. Bu Rubi berkata, jika ia sudah mengirim Alexander menjadi perwakilan untuk olimpiade fisika. Jadi, Ibu harap kau tak mundur dari olimpiade ini. Kau jangan membuat Ibu menjadi kecewa. Lagi pula, apa alasanmu sampai-sampai mendadak mengurungkan diri seperti ini?” Siska berujar. Sedikit dengan gurat bersedih. Tak henti menatap lekat seorang murid laki-laki. Berharap, Leonardo tak benar-benar berniat untuk mengundurkan diri. Hhh! Helaan napas tipis menjadi penyerta. Leonardo memilin jari telunjuk dengan ibu jemari sisi kanan. Berpikir dalam-dalam. Berusaha menimang-nimang. Bagaimana pun, dua kehidupan berbeda yang ia jalani, sama-sama berarti baginya. Sehingga, membuat keputusan dengan jalan teradil takkan menjadi keputusan yang mudah. Pada akhirnya, “Baik, Bu Siska. Besok, pukul tujuh saya akan datang ke sekolah. Saya akan mempersiapkan diri dengan baik. Saya tidak akan mengecewakan Bu Siska. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mengharumkan nama sekolah,” Leonardo menyahut. Penuh kemantapan. Siska spontan menghela napas lega. Menepuk sisi tubuh bagian depan yang menutup tulang rusuk. “Terima kasih, Leonardo. Terima kasih sudah menghormati dan menghargai keputusan Ibu ini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN