Benda-benda berbahan dasar kaca, terus menjadi barang pecah belah. Hancur, bahkan berkeping-keping. Tak berupa, usai berubah menjadi serpihan demi serpihan yang teramat kecil.
Issh!
Aku ini payah sekali. Leonardo mengeram. Menyugar puncak kepala sebagai pelampiasan.
Dengan segenap pertimbangan, Leonardo memutuskan untuk menghabiskan malam dengan berlatih ilmu sihir. Bagaimana pun, usai kembali dari masa depan nanti, Leonardo harus berhasil menangkap seorang Jack Rumondor. Ia tak boleh meloloskan pemuda tersebut untuk kali kedua.
******
Keesokan harinya.
Mentari bahkan belum menampakkan sinar. Hanya embun pagi yang mulai berhembus lirih. Menyapa setiap insan yang mengerjap mata pada pagi-pagi buta.
Leonardo menyudahi aktivitas berlatih. Mengembalikan buku sihir ke tempat semula. Beralih keluar dari dalam kamar. Menjumpai seorang wanita, yang sudah pasti masih memenjamkan kedua kelopak mata.
Ceklek!
Bunyi ganggang pintu yang terbuka, terdengar. Leonardo tak berniat membangunkan Priscilla. Ia hanya sekedar ingin melihat paras cantik itu, sebelum beranjak pergi.
Tak lama kemudian,
Daun pintu utama menjadi titik tujuan. Leonardo berlaga seperti seorang petualang, yang tak sabar melakukan perjalanan.
Kriet!
Pintu gerbang yang menjulang, baru saja melebar. Dibuka oleh beberapa pengawal yang berjaga dua puluh empat jam.
“Tuan? Tuan hendak pergi ke mana?” Salah seorang pengawal bertanya.
“Aku akan melakukan perjalanan,” Leonardo menyahut. Menoleh ke arah belakang. Menatap Moe Gayo, yang tak ia bawa serta.
“Aku akan berjalan kaki saja. Dan, aku minta tolong pada kalian untuk sampaikan pesanku pada Duncan. Katakan, jika aku telah memutuskan untuk melakukan perjalanan panjang. Duncan pasti tahu perihal maksudku itu. Jadi, kalian sampaikan saja demikan.”
“Baik, Tuan. Kami akan menyampaikan pesan Tuan Muda. Kami juga akan senantiasa berjaga ketat untuk Nona Priscilla,” Salah seorang pengawal mewakili perkataan. Segera paham dengan perintah yang sering Leonardo tujukan.
“Baiklah, kalau begitu aku pamit dahulu.”
Bayangan Leonardo tak lagi tertampak. Bersamaan dengan pintu gerbang yang tertutup rapat. Menyisahkan gambaran para pengawal, yang dengan sigap berjaga di area sekeliling hunian megah.
******
Beberapa saat setelah menempuh perjalanan.
“Hei? Kau Leonardo, bukan?” Seorang pria menyapa. Tak lain, adalah sang kepala desa.
“Benar, Pak Kepala Desa. Ada apa?”
“Bagaimana rencana pembangunan lembaga pendidikanmu itu? Apa semua berjalan dengan lancar?”
Huh!
Leonardo mendengus singkat. Kemudian menjawab, “Semua akan berjalan lancar, jika tak ada seseorang yang menghalangi jalan kami dalam meneruskan pembangunan.”
Sontak, Pak Kepala Desa menyengir. Sedikit menutupi-nutupi seringai licik di wajah. Meski begitu, Leonardo takkan terpengaruh dengan provokasi kalimat yang dilontarkan oleh sang pemimpin pedesaan.
“Lantas, kau hendak pergi ke mana? Sepertinya, kau tak sedang berniat menuju lahan yang sudah kau beli waktu itu?” Sang Kepala Desa bertanya. Sedikit mengubah alur pembicaraan.
Hembusan napas keluar bersama dengan senyum yang menyumbul. Leonardo hanya membalas dengan seutas ekspresi di wajah. Menganggukkan sedikit kepala. Lalu, kembali melanjutkan langkah tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Issh! Dasar pemuda dingin dan belagu. Pak Kepala Desa membatin. Berseru di dalam hati. Berkacak pinggang. Menatap punggung seorang pemuda, yang kian lama tak lagi menunjukkan bayangan.
******
Tak terasa, pijakan kaki Leonardo terhenti. Ia tercengang. Mesin waktu yang Leonardo cari, tak ada di tempat semula. Hanya ada dua kemungkinan. Yakni, jikalau Gerson tak lupa. Maka, kemungkinan kedua adalah mesin waktu telah tiba di titik area yang berbeda. Mengingat, mesin itu kembali muncul tanpa seorang penjelajah di dalamnya. Sehingga, bisa jadi mesin waktu takkan berpijak di titik lokasi yang tepat.
Leonardo sontak menghentak sebelah tungkai. Membuat beberapa tanah memercikkan debu, hingga beterbangan.
Kemudian, beralih menatap sistem navigasi yang selalu ia bawa. Berharap, Gerson sedang berada di dalam ruang kerja; melihat titik navigasi yang sama, sesuai dengan keberadaan mesin waktu sebelum menghilang.
Titt – titt – titt !
Beruntung, satu menit setelah itu, mesin waktu kembali muncul. Menampakkan ruang besi berbentuk persegi pada sebuah arah. Sungguh, Gerson adalah seorang pengembang IT yang cerdas. Ia mampu mengembalikan media perantara tersebut pada lokasi yang sama persis.
Hhh!
Helaan napas terdengar lega. Begitu terhembus panjang, seolah Leonardo merasakan kelegaan yang tak terhingga.
Tanpa banyak berpikir, pemuda tersebut segera menghampiri mesin waktu. Menatap sekilas manik kecil pada CCTV yang terpasang. Beralih mengarahkan jari telunjuk sisi kanan pada layar.
Klik!
*Fingerprint has detected*
Setelah itu, berganti memasukkan pindaian mata.
Dan,
*Eye sensor has detected*
Spontan, beragam rumus rumit sedang berputar acak. Leonardo sedang bersiap memecahkan rumus hingga mendapati jawaban yang tepat.
*You have to enter the new passcode on the screen*
Limit waktu terdeteksi. Leonardo harus menuntaskan jawaban dalam kurun waktu enam puluh detik.
Lima
Empat
Tiga
Dua
Sa—
Titt! Ceklek!
Sontak, Leonardo melompat girang. Lagi-lagi, ia dapat memecahkan rumus rumit tersebut dengan waktu yang tepat.
Pintu berbahan dasar besi, baru saja terbuka. Leonardo segera masuk ke dalam ruang para penjelajah.
Bum!
Ceklek!
Pintu pada mesin waktu tertutup. Sesaat usai Leonardo melakukan hal yang sama; seperti halnya sewaktu ia hendak membuka pintu pada mesin waktu.
Perjalanan waktu baru saja ditempuh.
******
Setibanya di masa depan.
Dua orang kakak beradik sedang berkacak pinggang. Terlebih lagi, sosok perempuan; sebaya usia dengan Leonardo.
Ah!
“Kalian itu mengagetkanku saja,” Leonardo memekikkan suara. Sesaat usai menjumpai Gerson dan Grace menampakkan diri dari balik pintu mesin waktu yang terbuka.
“Harusnya, kami yang berkata demikian,” Grace menyahut. Masih berkacak pinggang. Tak lupa dengan wajah merengut. Nada bicara yang bersunggut-sunggut.
“Kami kira, terjadi suatu hal padamu di sana. Lihatlah,” Grace kembali mengeluarkan suara. Mengalihkan pandang pada jam dinding yang terpasang di dinding bercat putih.
*Pukul setengah tujuh pagi*
“A-apa aku tak salah melihat, Grace?” Leonardo tergagap. Kemudian, menatap kembali sosok teman sekelas yang sedang berdiri di sampingnya.
Benar saja, pagi itu Grace telah bersiap dengan seragam sekolah. Bahkan, beberapa menit setelah itu, ia sudah beralih pergi ke sekolah. Sementara, Leonardo? Jangan ditanya. Remaja tersebut telah menghabiskan waktu dengan menjelajah semalaman. Entahlah, berapa hari sudah, ia berada di masa lalu. Yang jelas, kepulangannya hari itu adalah kali pertama dalam kurun waktu yang lama.
“Kau itu bandel sekali! Kau tak hanya membuatku khawatir. Lihatlah Kak Gerson, dia hampir berangkat menyusulmu. Dia cemas sekali, jikalau kau tak dapat kembali lagi ke masa depan,” Grace mengoceh. Memberengutkan wajah. Tak berniat memberi kelonggaran akan sikap seenaknya yang diperbuat oleh sang teman.
“Sudah, sudah Grace. Yang terpenting, Leonardo sudah kembali. Dan sekarang ini, ada yang lebih penting. Yaitu, kalian harus bergegas ke sekolah. Jangan sampai kalian datang terlambat,” Gerson menimpali. Memotong ceramah panjang sang adik perempuan.
“Awas saja kau, Leonardo. Nanti, aku akan melanjutkan ocehanku saat tak ada Kak Gerson,” Grace berujar lirih. Berkomat-kamit pada sosok Leonardo.
******
Kini, dua murid SMA tersebut baru saja meninggalkan ruang kerja Gerson. Sementara Grace sedang menuju halaman depan, Leonardo berpamitan menuju ke dalam toilet. Membersihkan wajah dan merapikan seragam yang ia kenakan.
Benar, keberangkatan Leonardo ke masa lalu, masih dengan berpakaian seragam. Sehingga, saat ia kembali ke masa depan, pakaian itulah yang juga ia kenakan.
******
Di dalam perjalanan.
Grace seraya sedang menahan rasa mual. Bagaimana tidak, seragam yang Leonardo kenakan adalah pakaian yang sama; seperti halnya yang digunakan oleh Leonardo kemarin malam.
Melihat Leonardo tak sempat berganti pakaian, karena sibuk melakukan penjelajahan waktu, Grace spontan kembali mengoceh dengan panjang lebar.
“Seharusnya, kau itu tahu waktu, Leonardo. Kakakku mengijinkanmu pergi menggunakan teknologi yang ia ciptakan, bukan untuk kepentingan pribadimu. Jadi, sebaiknya lain kali kau harus kembali dengan kurun waktu yang lebih cepat. Rasanya, aku ingin menonjokmu. Aku kesal sekali saat melihat Kak Gerson mengkhawatirkan dirimu. Lagi pula, lihatlah. Kau bahkan tak sempat pulang ke rumah; untuk berganti pakaian sebelum berangkat ke sekolah bersamaku. Dan juga, sebenarnya apa yang kau lakukan saat menjelajah ke masa lalu? Kau hingga lupa waktu seperti itu.”
Mendengar ucapan Grace yang menggebu-gebu, Leonardo spontan merasa bersalah. Bagaimana pun, ia telah melupakan orang-orang yang sedang menunggu dirinya di masa depan. Salah satunya, Gerson; selaku pencipta mesin waktu.
“Ma-maafkan aku, Grace. Lain kali, aku akan berpamitan dengan lebih jelas. Aku berjanji takkan membuat Kak Gerson khawatir lagi.”
Huh!
Dengusan kesal, masih memenuhi ekspresi wajah seorang Grace Harriet Cropper. Kemudian, “Lantas, apa kau tak berniat untuk menceritakan petualanganmu saat berada di masa lalu, huh?”
Leonardo meringis. Lalu, mulai menceritakan satu per satu; perihal kejadian-kejadian unik yang ia alami selagi menjelajah waktu.