OBSTACLES

1057 Kata
Alih-alih memberi jawaban, Kyteler justru terus merekahkan tawa yang menakutkan. Menyebabkan suasana penjara bawah tanah menjadi mencekam. Menyeramkan. *** Tiba-tiba, Dom! Suara menggelegar, seolah baru saja merasuk ke dalam indera pendengaran Leonardo. Benar saja, suara itu bertepatan dengan seorang penyihir yang baru saja mendapati peningkatan pada ilmu sihir yang ia punya. Walau pun, peningkatan itu belum cukup; untuk menaikkan level sihir milik sang penyihir wanita. Sontak, Leonardo menolehkan kepala. Menatap sela terbuka yang beberapa menit lalu ia tembus dengan mudah. Apa ada yang sedang terjadi di dunia magis? Leonardo membatin. Merasakan hawa berbeda pada permukaan telapak tangan sebelah kanan. Meski begitu, Leonardo tak memiliki waktu untuk memastikan. Bagaimana pun, ia harus kembali ke rumah dengan segera. Selain, malam hari telah tiba. Leonardo juga tak ingin membuat Priscilla dan para pengawal khawatir, terhadap kepulangan dirinya ke rumah. Dengan langkah cepat, Leonardo berjalan menyusur jalanan bertanah. Melawan hembusan angin malam yang kian mendingin. Sungguh, kali itu Leonardo tak lagi merasakan menggigil. Ia benar-benar telah sembuh dari kondisi sakit; akibat penyesuaian level sihir di dalam tubuh. ****** Satu jam kemudian. Hunian megah mulai tertampak di dalam bayangan retina. Leonardo bergegas menuju hunian megah. “Tuan Muda?” Salah seorang pengawal menyapa. Tak lupa menginstruksi para pengawal lain, yang juga sedang berjaga; untuk membuka pintu gerbang di sana. “Terima kasih,” Leonardo berujar. Melanjutkan pijakan ke dalam area pelataran. Hiakh! akh! Refleks, Moe Gayo meringkik. Ia bak seekor anjing yang baru saja mencium bau sang pemilik; segera merespon kepulangan seorang tuan muda. Sontak, Duncan berlari ke arah sang tuan. Bernapas lega, seusai merasa cemas karena Leonardo tak kunjung tiba di rumah. “Tuan? Apa Tuan Muda seharian tadi tersesat?” Duncan bertanya. Tentu saja, setelah melawan para begundal; anak buah Jack Rumondor, Duncan dan segerombol pengawal beralih mencari keberadaan sang majikan. Hanya saja, sisiran jalan yang mereka tempuh, tak membuat manik mata tertuju para objek yang mereka cari. Yah! Dua jam menelisik lokasi sang tuan, Duncan tak kunjung menemukan Leonardo. Rasa frustasi menghinggapi diri. Duncan hingga tak mampu berkata-kata, usai kembali menjumpai Priscilla. “Kau tenang saja, Duncan. Aku tak kesasar. Aku hanya sedikit melakukan perjalanan,” Leonardo menyahut. Menepuk singkat pundak sang pengawal. ****** Kini, Leonardo telah menapaki anak tangga terakhir. Menampakkan diri di depan ambang pintu utama. Tok-tok! Priscilla memunculkan wajah dari balik pintu yang terbuka. “Leonardo?” Sang wanita memekikkan suara. Sontak, memeluk erat seorang pemuda yang sedari tadi ia tunggu-tunggu. “Kau dari mana saja, huh? Duncan berkata, jika mereka berhasil meloloskanmu dari kejaran anak buah Jack. Tapi, mengapa kau terlambat pulang seperti ini? Aku khawatir sekali padamu,” Priscilla mencerca Leonardo dengan beragam kalimat tanya. Masih dengan gerak tubuh yang tak ingin terlepas dari dekapan. Leonardo terdiam. Sebelum pada akhirnya, “Sebaiknya, kita masuk dulu saja,” Leonardo mengarahkan. Melepas dekapan. Dua orang muda mudi tersebut, beralih duduk pada kursi di ruang tengah. Priscilla tak henti menatap lekat sang pemuda. Memastikan, tak ada luka lebam mau pun percikan darah di bagian tubuh Leonardo. Dan, benar saja. Mendapati kondisi badan Leonardo yang baik-baik saja, Priscilla bernapas lega. “Seharusnya, waktu itu kau segera membawa pergi Jack Rumondor. Dia benar-benar pemuda yang tak bisa diberi ampun,” Priscilla mengoceh. Sedikit kesal karena begundal itu berhasil melarikan diri pada beberapa waktu yang lalu. Leonardo mengangguk. “Aku akan memastikan untuk menangkap Jack lagi. Aku juga akan memenjarakan dia. Tapi, sebelum aku melakukan hal itu. Ada hal yang harus kupastikan lebih dahulu,” Leonardo menjeda kalimat. “Memastikan perihal apa?” Sang pria beralih mendekat ke arah Priscilla. Berbisik lirih agar tak ada seorang pun yang mendengar perbincangan mereka. “Sepertinya, ada sedikit kendala pada media yang kutumpangi saat menuju masamu ini. Dan, esok hari; pagi-pagi sekali, aku akan pergi. Aku akan memastikan jika media pembawaku itu, sudah kembali ke tempat semula. Dan, di saat itu—” Hening untuk sepersekian detik. “Di saat itu, aku akan memutuskan untuk kembali ke tempat asalku. Jadi, jikalau esok kau tak menjumpaiku. Aku berharap, kau dapat bertahan untuk beberapa waktu. Aku pasti akan kembali menjumpaimu ke mari.” Mendengar bisikan panjang lebar dari Leonardo, Priscilla spontan menurunkan sudut bibir. Memberingsutkan punggung pada sandaran kursi. Mendecap bibir. Berpikir. Meski begitu, tak ada alasan bagi Priscilla; untuk menghalangi kepergian Leonardo ke tempat asal. Yakni, menuju masa depan. Kemudian, “Leonardo, apa tak bisa jikalau aku ikut denganmu saja?” Priscilla bertanya. GLEK! Leonardo menelan ludah. Raut di wajah memucat pasi begitu saja. Mengingat, sedari awal; Gerson telah mengatakan, jika mesin waktu yang ia ciptakan hanya untuk digunakan oleh para penjelajah dari masa depan. Setiap orang di masa lalu atau pun masa yang penjelajah tuju, tak boleh turut serta melakukan perjalanan. Selain tak memungkinkan, hal tersebut juga bisa menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. “Ma-maafkan aku, Prisc. Permintaanmu itu terlalu sulit untuk kukabulkan. Aku tak bisa membawamu turut serta. Jadi, mengertilah,” Leonardo menyahut. Menyentuh tangan kanan seorang wanita. Menautkan jemari tangan. Sembari sesekali menepuk genggaman tangan tersebut dengan tangan sisi sebelah. “Huh? Kau dapat memahami keadaanku, bukan?” Leonardo berujar. Memandang dengan gurat memohon pengertian. Hhh! “Baiklah.” Sahutan singkat Priscilla, dibarengi dengan kepergian sang wanita. Bagaimana tidak, usai mengiyakan, Priscilla bergegas beranjak dari duduk. Meninggalkan Leonardo seorang diri. Berperilaku seperti seorang wanita yang sedang merajuk. ****** Sepeninggal Priscilla, Leonardo beralih menuju sebuah ruang. Membuka pintu penyimpanan. Mengeluarkan buku sihir. Kembali mempelajari mantra demi mantra yang tertulis pada ratusan lembar kertas di sana. Aku harus mempersiapkan diri sebelum menangkap Jack Rumondor. Aku harus bisa menemukan cara untuk mengontrol kemampuan yang kupunya. Leonardo bertekad. Tak henti membuka lembar demi lembar kertas berwarna cokelat muda di sana. Dari sekian mantra yang ada, ada sebuah mantra yang menjadi titik perhatian sang pria. Yakni, satuan dari beberapa suku kata berisi mantra baik. Tanpa banyak berpikir, Leonardo segera menghafal mantra tersebut. Tentu, setiap penyihir tak bisa mencontek mantra milik penyihir lain. Paling tidak, mantra itu dapat ia gunakan sebagai acuan dalam menciptakan mantra baru. Setelah itu, Leonardo mencoba untuk menggunakan kemampuan bela diri miliknya. Ia tak henti bergerak lincah di dalam ruang berukuran besar. Sesekali, dengan gerak hempasan dan pukulan tangan, yang ia kontrol sedemikian rupa; agar tak memunculkan kemampuan sihir ketika sedang menengadahkan tangan sisi kanan. Namun, Kyaa! Pyar! Dalam beberapa percobaan, Leonardo terus saja menyasar benda-benda di dalam kamar. Kabut putih yang mencuat keluar, tak henti melesat dan mengenai objek di depan pandangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN