THEIR FEAR

1157 Kata
Leonardo berlari secepat mungkin. Bahkan, langkah kaki pria tersebut melesat seperti kilat. Tak lupa, disertai dengan indera pendengar yang terus aktif memusatkan titik suara berisik. Titt – titt – titt ! *ACCESS DENIED* Bunyi perintah atas penolakan kode akses, mulai menjadi bidik sasaran. Leonardo menghentikan langkah. Melongo dari kejauhan. Bagaimana tidak, baru saja mesin waktu menghilang. Melenyap akibat ulah beberapa pemuda penghuni desa. Mereka berlari usai melihat hal ganjil di dalam netra. Sedangkan, Leonardo sedang menelan ludah dengan susah. Haish! Pemuda tersebut mengeram. Berdesis sembari menghempas puncak kepala dengan kasar. Gurat di wajah terlihat amat kesal. Bagaimana ini? Leonardo bergumam cemas. Meski begitu, tak ada pilihan lain. Selain, ia harus menunggu kedatangan mesin waktu di lain hari. Leonardo berharap Gerson tak lupa mengembalikan benda berteknologi canggih tersebut ke masa yang sedang dituju oleh sang penjelajah waktu. ****** Kini, dengan langkah gontai, Leonardo kembali memijakkan tungkai ke atas tanah. Berjalan berputar arah. Menuju arah pemandian air panas yang terletak pada salah satu sudut desa. Tak terasa, langkah lebar milik seorang pria muda telah sampai pada tujuan yang sedang ia kehendaki. Leonardo segera menembus sela terbuka. Menuju ke belahan dunia berbeda. Blush! Sela terbuka tertembus. Leonardo mendapati gambaran teduh di sana. Bayangan indah perihal kehidupan dunia magis, tertampak di dalam netra teruntuk kali pertama. Beberapa kabut-kabut berwarna putih melesat bergantian. Mengalun bak sebuah melodi lagu yang menenangkan gendang telinga. Leonardo terus menyisir jalanan lebar berwarna putih. Melihat ke kanan dan kiri. Menyaksikan beberapa penyihir baik sedang bercengkrama. Tertawa bersama. Memainkan mantra seolah sedang menari-nari di sana. Tiba-tiba, “Apa yang sedang kau lakukan di sini, Leonardo?” Suara Kyteler terdengar. Bayangan yang semula pemuda itu lihat, telah berubah. Menjadi sepi, seolah hanya dihuni seorang penyihir wanita. “Kulihat kau datang seorang diri. Jadi, kau tak sedang berniat membawa salah satu muda mudi dari desa?” Kyteler melanjutkan ucapan dengan kalimat tanya. Leonardo memasukkan kedua tangan pada saku celana. Menelengkan kepala sejenak. “Ini belum satu pekan sejak kali terakhir aku membawakanmu seorang pemuda, Kyteler,” Leonardo menyahut. Sesaat usai mengingat waktu perihal ia datang bersama pria muda lain ke sana. Kyteler mengangguk. Kemudian, menjejalkan p****t pada sebuah kursi. Yakni, kursi kebesaran yang sering diduduki sang penyihir. “Aku ke mari sengaja untuk menjumpaimu,” Leonardo melanjutkan ucapan. Kemudian, “Bisakah kau menjelaskan padaku, perihal suaramu yang kudengar baru saja.” “Baru saja?” Kyteler berpura-pura lupa. “Yah, saat aku baru saja melawan para penyihir jahat. Mengapa ucapanmu begitu terdengar menyindirku? Apa kau tak suka dengan kemampuan sihir yang kupunya? Apa kau sedang merasa terancam padaku? Sehingga, kau berusaha membuatku melepas kemampuan ini secara perlahan?” Ck! Kyteler berdecik, “Apa yang sedang kau katakan, Leonardo? Aku tak mengerti titik fokus ucapanmu itu.” “Kau jangan berpura-pura, Kyteler. Aku tahu, kemampuan sihir yang kupunya berada pada level delapan. Dan, aku juga tahu kemampuan unik apa yang kudapat saat menduduki level magis itu,” Leonardo berujar. Memberi skak mat. Raut wajah Kyteler berubah drastis. Sialan! Bagaimana bisa, Leonardo tahu perihal level magis yang ia punya? Sontak, Kyteler mengepalkan tangan. Berusaha menutupi gurat harap-harap cemas di wajah. “Jika, kau sudah tahu. Apa kedatanganmu ke mari hanya untuk pamer kepadaku?” Kyteler mengeluarkan suara. Sesaat usai berhasil menyembunyikan kekhawatiran yang ia punya. “Tidak. Aku ke mari untuk memintamu menjadi lawan tandingku dalam berlatih ilmu sihir.” Whoa? Kyteler melebarkan bola mata, “Apa kau sedang bercanda?” “Tidak! Aku benar-benar berkata demikian. Di dunia magis ini, hanya kau yang kukenal. Dan, sebagai rekan, bukankah sebaiknya kita kembali menjalin hubungan saling menguntungkan?” Issh! Aku rasa, aku sudah tak waras saat memutuskan untuk bersepakat dengan pemuda ini. Kyteler membatin. Menyesali perkenalan dan kesepakatan yang pernah mereka lakukan pada saat kali pertama. Hening sesaat. Leonardo sengaja mengijinkan Kyteler untuk berpikir sejenak. Lalu, “Kurasa, aku tak bisa menjadi teman berlatihmu,” Kyteler memutuskan. “Mengapa?” Hhm! “I-itu karena—” Leonardo menyipitkan mata. Penasaran akan alasan yang hendak dilontarkan oleh sang lawan bicara. “Itu karena dalam berlatih, aku bisa saja memusnahkanmu.” Spontan, cengiran di wajah tersumbul keluar dari paras tampan seorang pria. “Apa karena level sihirmu berada di atas level yang kupunya?” Leonardo bertanya. Berusaha memancing seorang penyihir wanita. Bagaimana pun, Leonardo juga penasaran dengan level sihir yang dimiliki oleh Kyteler. “Tentu saja.” Mendengar pengakuan Kyteler, Leonardo mengangguk mengerti. Kemudian, berpamitan pergi dari dunia magis. Menyebalkan sekali. Permintaan pemuda itu seakan sedang mengetesku. Kyteler membatin. Mengeram kesal sesaat usai melihat Leonardo menembus keluar sela terbuka. Mengingat, level sihir Kyteler berada jauh lebih rendah dari yang Leonardo punya. Dan, semua ucapan Kyteler, sungguh tertolak belakang. Dalam berlatih, bukannya Leonardo yang akan musnah. Melainkan, Kyteler yang akan melenyap. Sesaat usai tak bisa melawan kemampuan level sihir tingkat delapan milik sang lawan. Sehingga, Kyteler tak mungkin mengambil keputusan dengan resiko yang fatal. Brak! Hantaman keras baru saja menyasar sebuah meja kecil di samping tempat duduk Kyteler. Penyihir wanita itu benar-benar sedang dalam keadaan terancam. Tanpa berpikir panjang, penyihir wanita tersebut menuju penjara bawah tanah. Ia menghampiri tiga orang tawanan yang Leonardo bawa. Seketika, hawa dingin menusuk kulit. Membuat ketiga orang pemuda; berada di dalam sel yang berbeda, menjadi ketakutan. “Kau? Mengapa kau ke mari lagi?” Salah seorang pemuda berujar panik. Memundurkan langkah hingga menubruk dinding sebuah penjara yang mengurung dirinya. Pemuda itu, tak lain adalah pria yang dibawa Leonardo untuk kali pertama. “Apa kau setakut itu padaku?” Kyteler menyahut. Menyeringai pada seorang pemuda. Mendekatkan wajah di sela jeruji besi yang ada. Melebarkan bola mata. Lalu, tertawa terbahak. Membahana hingga menimbulkan suasana menakutkan yang berlebihan. Haha! “Kau tenang saja. Kali ini, aku menghampiri sejawatmu. Lagi pula, kau sudah terlalu lemah, tua dan renta. Cih! Aku tak lagi menyukaimu,” Kyteler bergidik, enggan melihat seorang pemuda di dalam sel pertama. Kemudian, langkah kaki sang penyihir wanita mulai berjalan menuju sel kedua. “Ah! Jadi, pemudaku yang kali ini memiliki kondisi jauh lebih buruk dari sebelumnya,” Kyteler berkata. Menyipitkan mata. Melihat dengan seringai mengejek. Bagaimana tidak, pemuda kedua adalah pemuda yang dibawa Leonardo dengan riwayat melakukan pencurian hewan ternak. Seorang pemuda yang kurus nan ceking. Bahkan, sedari awal Kyteler sudah enggan menjadikan pemuda tersebut sebagai mangsa. Dia terlalu lemah dan tak banyak menguntungkan. Sudah pasti, itulah yang ada di dalam benak sang penyihir wanita; saat mengurung sang pemuda di dalam penjara bawah tanah. Pada akhirnya, Pemuda ketiga; seorang pria yang dahulu berprofesi sebagai pengawal hunian megah, menjadi titik tujuan sang penyihir wanita. Yah! Pemuda itu adalah mantan pengawal yang berani membelot pada sang tuan muda. “HEI! Kau? Apa yang sudah kau lakukan pada pemuda-pemuda itu? Mengapa setiap malam mereka meringik menakutkan. Suara mereka juga berubah menjadi parau. Menyeramkan. Dan, apa yang akan kau lakukan padaku? Kau tak berniat melakukan hal yang sama; seperti yang kau perbuat pada mereka, bukan?” Pemuda bertubuh kekar itu berujar. Kelabakan. Masih dengan gurat ketakutan. Tak henti memukul-mukul jeruji besi. Menimbulkan suara berisik setengah mati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN