Leonardo baru saja menghentikan langkah pada jalanan setapak. Yah! Jalanan itu adalah dataran kecil yang berada di tengah-tengah sawah. Entahlah, Leonardo tak paham dengan jalanan yang sedari tadi menjadi tempat ia berlari.
Menyusur jalanan bertanah; tak beraspal. Semakin mengecil dan mulai memasuki area persawahan. Seolah, anak buah Jack Rumondor membawa Leonardo jauh dari pusat desa.
Kini, sang pemuda sedang memberhentikan diri pada sebuah dangau di sana. Ia terduduk sembari menghapus peluh di dahi. Tak berapa lama kemudian, ia mulai menengadahkan tangan kanan. Mengarahkan tangan sedikit ke arah wajah. Memejamkan mata. Lalu, hembusan hawa dingin mulai terasa. Berkeliling pada paras tampan milik sang pria. Kabut putih bergerak perlahan. Menghapus seluruh bekas pukulan. Menghilangkan percikan darah, luka lebam, rasa nyeri dan perih pada salah satu sudut bibir serta beberapa anggota tubuh. Leonardo baru saja memulihkan kondisi diri yang semula babak belur.
Hhh!
Helaan napas terhembus dengan panjang. Leonardo merasa lega karena berhasil kabur dari Jack Rumondor. Sejatinya, ia bisa melakukan hal itu sedari awal. Hanya saja, hal tersebut bisa menimbulkan beragam kecurigaan. Dan, Leonardo takkan bertindak gegabah. Ia takkan membiarkan satu orang pun mengetahui kemampuan yang ia punya. Sekali pun, dia adalah Priscilla.
******
Melihat hamparan sawah yang luas; berkisar ratusan hektar, Leonardo menyadari jika ia telah berlari sejauh berpuluh-puluh kilometer.
Issh!
Begundal-begundal itu berhasil membawaku pergi jauh ke anta berantah. Menyebalkan sekali mereka. Leonardo bergumam kesal.
Pria tersebut memang diberkahi dengan ilmu sihir. Namun, tetap saja. Leonardo bukan seorang aladin yang memiliki karpet terbang. Sehingga, untuk kembali menuju rumah, Leonardo tetap membutuhkan tumpangan.
Meski begitu, tak terlihat seorang pun di sana. Sekali pun, di luar perbatasan sawah, Leonardo tak menjumpai satu dua orang menyisir jalanan itu.
Terpaksa, Leonardo kembali melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Tak lupa memperhatikan arah angin sebagai petunjuk arah. Beruntung, Leonardo selalu membawa serta alat navigasi yang Gerson beri. Sehingga, alat berbentuk kecil; disertai teknologi canggih itu, juga bisa memberikan kegunaan sebagai kompas.
Satu jam
Dua jam, usai melakukan perjalanan panjang.
Leonardo mulai melihat beberapa pemukiman. Sebuah jalanan yang tak asing di dalam tangkapan layar retina.
Jadi, mereka membawaku pergi hingga melewati desa si kakek tua? Pantas saja, sedari tadi aku tak menjumpai seorang pun. Mereka sudah pasti berada di dalam rumah masing-masing, karena pandemi yang masih melanda.
Dengan segenap ketangguhan, Leonardo kembali melanjutkan perjalanan. Benar-benar dengan berjalan kaki seorang diri. Tak ada Moe Gayo mau pun pengawal yang setia menemani.
******
Tak terasa, mentari mulai beranjak pergi. Digantikan dengan keindahan senja yang menyejukkan manik mata, hati dan pikiran.
Tiba-tiba,
Suara reyot dari putaran roda bersama komponen lain dari sebuah sepeda, mulai terdengar. Berdecit lirih usai si pengendara roda dua tersebut menghentikan gerak mengayuh.
“Wahai anak muda, kau sedang apa di sini?” Suara pria paruh baya merasuk ke dalam gendang telinga.
Leonardo menoleh pada sumber suara.
“Kakek?”
Sang pria beruban mengangguk. Menuruni sepeda. Beralih berjalan bersama seorang pemuda. Tak lupa sembari menuntun kendaraan roda dua, yang tak kalah tua.
“Biar aku saja, Kek,” Leonardo menawarkan. Menggantikan posisi sang kakek untuk menuntun sepeda.
Kriet! Kriet!
Suara reyot menjadi latar belakang keheningan.
Sebelum pada akhirnya,
“Kek, apa putramu itu bukan putra kandung Kakek?” Leonardo memecah suasana senyap diantara mereka.
“Kau benar, anak muda. Dia adalah seorang bayi laki-laki yang kutemukan sewaktu berkeliling di desa sebelah. Waktu itu, dia tampak seperti calon pemuda yang tampan, pemberani, tangguh dan baik hati sepertimu. Tapi—” Sang kakek menghentikan cerita.
Leonardo segera memahami potongan kalimat yang belum sempat ia dengar.
“Kakek kesal sekali pada dia. Meski, Kakek telah menganggap dia seperti anak kandung Kakek sendiri. Tapi, dia telah berani melukai istri beserta kedua putri Kakek yang lain. Lalu, pekerjaannya sebagai pemimpin bandit di desa, membuat Kakek tak mampu berkata apa-apa. Dia terlalu meresahkan masyarakat. Sejatinya, Kakek ingin menghukum dia. Namun, Kakek tetaplah seorang pria tua. Yang tentu saja akan kalah saat melawan dia.”
Mendengar cerita pilu dengan durasi yang cukup panjang, sontak membuat Leonardo menjadi bersimpati.
Bagaimana pun caranya, aku harus menangkap Jack Rumondor dan para begundal itu.
******
Setibanya di gubuk tua.
“Kek, kau masuklah. Aku akan segera kembali ke rumahku,” Leonardo berujar.
Sang kakek mengiyakan. Berniat meminjamkan kendaraan yang setiap hari ia gunakan untuk membawa barang bawaan sol sepatu.
Leonardo bergerak refleks menengadahkan tangan kanan. Berniat memberi penolakan. Hanya saja, kabut putih mulai mencuat dari tengah tangan miliknya.
Wussh!
Bola mata si kakek melebar dari pada ukuran semula. Begitu pula, yang Leonardo ekspresikan di wajah. Sontak, Leonardo mengepalkan tangan. Menyembunyikan tangan kanan pada sisi belakang tubuh yang kekar.
“Kek, aku pamit dahulu ya,” Leonardo berpamitan. Bergegas mengalihkan sebuah hal yang mereka lihat bersamaan.
“I-iya—” Sang kakek menyahut. Terbata. Masih dengan gurat heran yang tak terhingga.
Sementara itu, Leonardo berjalan cepat. Berusaha melangkah dengan lebar untuk menghilangkan bayangan dirinya di dalam netra sang paruh baya.
Issh!
Aku ini bodoh sekali. Mengapa aku bisa lupa seperti itu? Leonardo berdesis. Mengoceh pada dirinya sendiri.
******
Leonardo baru saja meninggalkan desa yang dilanda oleh wabah.
Di sela berjalan, Leonardo merasakan hawa dingin yang menggerayangi kulit. Benar saja, usai memfokuskan pandangan, beberapa kabut berwarna hitam terlihat berkeliling di dekat tubuh miliknya.
Leonardo spontan berlari. Menuju sebuah arah yang ia rasa cukup sepi; tak berdekatan dengan pemukiman penduduk di sana.
Kemudian,
Tengadah tangan kanan dan beberapa bacaan mantra menjadi penyerta. Leonardo berusaha menggunakan kemampuan yang ia miliki, untuk melawan para penyihir jahat.
Wussh!
Wussh!
Hempasan kabut saling beradu. Melesat cepat. Menimbulkan gambaran penuh di dalam manik mata. Leonardo terus berusaha melawan penyihir-penyihir itu. Segenap kemampuan telah ia kerahkan. Leonardo seakan tak peduli dengan keselamatan sang lawan. Mengingat, para penyihir jahat yang memiliki sihir hitam memang harus dimusnahkan.
Blush!
Baru saja, bayangan kabut itu menghilang. Menyisahkan jejak samar-samar.
Huk!
Sontak, Leonardo terbatuk. Seakan, ia sedang mengeluarkan sebuah benda asing yang berada di dalam tubuh. Benar saja, kepulan kabut hitam baru saja keluar melewati indera pengecapan. Leonardo menyipitkan mata, tak percaya. Kemudian, beralih menyugar puncak kepala. Melunturkan segenap rasa frustasi dari dalam benak pikiran.
“Kau kira, menjadi seorang anak manusia yang memiliki berkah sihir itu mudah?” Suara Kyteler terdengar hingga ke dalam gendang telinga.
Leonardo terperangah. Bergerak ke sana ke mari. Mencoba menemukan seorang penyihir wanita. Namun, nihil. Kyteler tak menampakkan diri.
Hal tersebut membuat Leonardo tak berniat kembali ke rumah. Melainkan, justru melanjutkan perjalanan ke dunia magis.
Namun,
Titt – titt – titt !
Tak diduga, suara berisik terdengar. Nyaring di dalam gendang telinga. Leonardo baru saja mendapati suara khas yang membawa ia menjelajah ke belahan waktu berbeda.
Astaga! Itu adalah suara mesin waktu milik Kak Gerson. Leonardo berseru. Seketika, perasaan cemas akan adanya seorang pembobol mesin, merasuk ke dalam batin.
Sebelum menjumpai Kyteler, aku harus menghampiri mesin waktu itu dulu.