Sejujurnya, Leonardo tak sabar untuk melawan. Hanya saja, banyak hal yang sedang berada di dalam benak pikiran. Meski, begundal-begundal itu meresahkan. Namun, tak semestinya Leonardo menyalah gunakan kemampuan yang ia punya. Mengingat, ilmu bela diri ditambah dengan kemampuan sihir di dalam tubuh; dapat mengakibatkan hal fatal, jikalau Leonardo tak dapat mengendalikan berkah berlebih itu.
“Kalian akan membawaku ke mana?” Leonardo bertanya. Tak ada gerakan meronta. Sekali pun, begundal-begundal itu menyeret ia dengan paksa.
“Tentu saja. Kami akan membawamu kepada Tuan Jack Rumondor. Setelah itu, kemungkinan besar kita akan bertemu di alam baka. Haha! Tapi, hal itu baru terjadi nanti; sepeninggal aku dari dunia ini,” Pria tersebut menyahut. Tak lupa merekahkan tawa membahana.
******
Kini, beberapa bandit berwajah sangar sedang berada di dalam perjalanan. Masih dengan seorang sandera yang terikat dengan tali tampar. Mereka juga tak lupa memberikan penutup kepala berwarna hitam.
Tiba-tiba,
Pria-pria tersebut menghentikan perjalanan. Menyapa seorang kepala desa di sana.
“HEI! Pak Kepala Desa?”
“Ada apa? Siapa yang sedang kalian bawa?” Kepala Desa tersebut bertanya. Mengira-ngira sosok pria dibalik penutup kepala.
Ck!
“Masa kau tak tahu siapa dia, wahai Pak Kepala Desa?” Pria itu menyahut. Melepas penutup kepala yang digunakan oleh Leonardo dengan kasar.
“Ah! Jadi, si pemuda menyebalkan ini,” Kepala Desa menyengir senang.
Cih!
Leonardo berdecik. Membuang sedikit ludah sebagai pelampiasan rasa kesal. Geram akan persekongkolan begundal tersebut dengan seorang pemimpin masyarakat di pedesaan.
Plak!
Pada saat bersamaan, salah satu pria spontan memukul sisi belakang kepala Leonardo. Berkata, “Kau itu tak sopan sekali pada pria yang lebih tua.”
Hhh!
Helaan napas terdengar kasar, “Seharusnya, aku memenjarakan kalian semua pada waktu itu.”
Haha!
Gelak tawa terdengar riuh. Seluruh pria di sana sedang menertawakan ancaman yang Leonardo berikan.
“Memenjarakan? Penjara? Apa kau bermimpi, hah?” Pria di samping sang pemuda berujar. Menyeringai penuh makna.
Leonardo mendengus. Membatin, jika ia takkan melepaskan begundal-begundal itu lagi. Tentu, setelah ia berhasil melarikan diri nanti.
“Sudahlah, kalian bawa saja pemuda ini secepatnya. Aku sudah muak melihat dia berlaga di desa. Dia kira, dia siapa?” Pak Kepala Desa berujar. Menyiratkan agar begundal-begundal itu melanjutkan perjalanan.
Tapakan kaki kuda kembali terdengar. Gemerincing kereta penumpang baru saja meninggalkan bayangan di dalam pandangan si kepala desa.
“Kalian semua itu, sama saja!” Leonardo menyampaikan keluh kesa yang terpendam.
Alih-alih menjawab. Pria yang sedang bergerak; kembali menutupkan penutup kepala pada Leonardo, justru tertawa senang. Tak mempedulikan ucapan sang tawanan.
******
Tak terasa, mereka telah tiba pada sebuah hamparan kosong yang luas. Sepi. Seolah, hanya mereka yang mengetahui lokasi tersebut.
“HEI! Leonardo? Akhirnya, kita berjumpa kembali. Tapi, kini kau sedang berada di tempat yang tepat. Yakni, sebagai seorang sandera,” Suara khas milik Jack Rumondor terdengar. Pemuda itu berujar, sesaat sebelum memantikkan pemantik api pada cerutu yang ia pegang.
“Bersenang-senanglah selagi kau bisa Jack. Karena, keadaan ini akan segera berbalik,” Leonardo menyahut. Bertekad penuh.
Haish!
Usai mendesis. Sebuah pukulan melayang.
BUG!
Sengaja didaratkan oleh Jack pada sisi sebelah wajah sang sandera.
“Kau itu, masih saja berlaga. Apa kau tak sadar, saat ini kau takkan bisa lepas dari kami, hah?” Jack berujar. Menyudahi aktivitas menghisap cerutu berwarna cokelat. Mengarahkan cerutu itu menuju salah satu lutut Leonardo, yang sedang berposisi siku-siku; dalam keadaan duduk.
Sh!
Bara kecil dari cerutu yang semula terbakar, baru saja menempel lekat pada sisi atas lutut sebelah kanan. Leonardo mendesis lirih. Namun, ia tak cemas sama sekali. Mengingat, luka kecil seperti itu, sudah jelas akan kembali pulih dengan mudah.
“Kudengar, kau sempat berjumpa dengan ayahku? Ah! Tidak. Maksudku, kakek tua yang dahulu memungutku,” Jack berujar. Memulai perbincangan.
Kini, beberapa pria lain beralih pergi. Mengijinkan sang bos besar bercakap empat mata dengan seorang tawanan.
“Jadi, kau bukan anak kandung si kakek?”
“Tentu saja. Mana mungkin, aku memiliki orang tua setua dia?” Jack menyahut.
“Baguslah kalau begitu. Karena, kau memang tak pantas menjadi darah daging seorang pria sebaik dia,” Leonardo menimpali. Menyertai kalimat dengan seringai mengejek.
Cuih!
Jack membuang ludah.
“Sudahlah, kau katakan saja. Letak kau menyimpan benda berharga, yang telah lama disembunyikan oleh si kakek tua itu? Aku tahu, dia telah memberikan benda itu kepadamu.”
Leonardo sontak mengerutkan dahi. Benda berharga?
Issh!
“Kau jangan pura-pura tak paham, Leonardo. Kau pasti telah mendapatkan kunci harta karun yang disimpan kakek itu, kan?”
Mendengar ucapan Jack, Leonardo menjadi paham. Jika, perihal yang sedang pemuda tersebut maksud adalah kunci pemberian si kakek kepadanya.
“Tidak. Aku tak memiliki kunci itu,” Leonardo menyahut. Berbohong.
Haish!
Jack mengeram kesal. Tanpa banyak berpikir, ia kembali menghujam tubuh Leonardo dengan pukulan.
Satu buah
Dua buah
Dan, beberapa buah bogem mendarat tepat di wajah Leonardo. Bergantian antara sisi kiri serta kanan.
Sontak, darah memercik keluar. Menjadi hiasan pada sudut bibir Leonardo yang terkena pukulan.
Hh! Hh!
Dengusan napas terdengar. Leonardo merasa kewalahan. Meski begitu, ia tak bisa melawan Jack. Mengingat, Leonardo belum berlatih untuk mengendalikan kemampuan yang ia punya.
Pada saat bersamaan, beberapa pria bertubuh gempal kembali menghampiri posisi Leonardo dan Jack. Mereka mencekal lengan Leonardo yang terikat tali tampar pada sisi belakang. Membawa pemuda itu beranjak dari posisi duduk. Memaksa Leonardo untuk berjalan menuju sebuah arah.
“Cepat jalan!”
******
Sesampainya di bawah batang pohon berukuran besar.
Pria-pria tersebut memaksa Leonardo untuk membalikkan badan. Membuat pemuda tersebut bersandar pada sebuah pohon. Dan, mereka mengikat erat tubuh Leonardo pada batang kokoh di sana. Melakukan hal yang sama, seperti yang Leonardo lakukan saat menyandera Jack Rumondor.
“Sebaiknya, setelah ini kita apakan dia, Tuan?” Seorang pria bertanya. Menujukan kalimat pada pemimpin mereka.
Tiba-tiba,
Ikatan tali terlepas. Leonardo baru saja berhasil melepaskan diri dari ikatan tali tampar. Tentu, dengan satu kali gerak tengadah tangan kanan.
Whoa!
Para pria tersebut berseru. Memelotot tajam. Bagaimana bisa dia melepaskan diri?
“HEI, kalian tunggu apa lagi? Cepat tangkap dia!” Jack memekikkan suara. Memberi perintah.
Namun, kali itu tatapan mata Leonardo terlihat menyeramkan. Seolah, bersiap untuk menerkam lawan. Membuat pria-pria tersebut menjadi ragu. Mengingat, pukulan Leonardo cukup menyesakkan jalan napas. Merontokkan tulang belulang. Dan, menimbulkan rasa nyeri yang teramat dalam.
Belum sempat anak buah Jack bergerak, Leonardo telah melaju pesat. Ia berlari dengan seribu gerak langkah yang cepat. Begundal-begundal itu tak tinggal diam. Beralih mengejar seorang sandera yang semula mereka tangkap dengan mudah.
Pijakan kaki terus terdengar. Leonardo masih berlari kencang.
Sebelum pada akhirnya,
“Duncan?”
“Tuan, apa Tuan Muda baik-baik saja?” Duncan menyahut. Memperhatikan sang majikan.
Leonardo mengangguk. Ternyata, Duncan sengaja mencari sang tuan bersama para pengawal lain. Tak menunggu lama, dua kubu terlihat saling berhadapan. Duncan bergegas memberi isyarat untuk melawan begundal-begundal yang membawa paksa seorang majikan.
Sontak, baku hantam terjadi. Bedanya, kali itu Leonardo tak turut serta di dalam adegan pertikaian.